MIKA, I LOVE YOU

MIKA, I LOVE YOU
EPISODE 34



"Apa kamu bilang Dit? Clara datang ke rumah mu? " Ucap Dylan.


"Iya, hhhmmm... malah dia merebut paksa Alvaro dari pelukan Mika". Ucap Raditya.


"Kau harus hati hati Dit, Clara itu licik". Ucap Dylan.


"Aku tahu itu". Jawab nya.


"Terus apa rencana mu sekarang? ". Tanya Dylan.


"Entah lah, aku juga bingung". Jawab Raditya.


"mmm... Bagaimana dengan Mika? ". Tanya Dylan.


"Maksud mu, kenapa kau bertanya tentang nya? ". Tanya Raditya curiga.


"Apa kau tidak ada niat untuk mendekati Mika? " Tanya Dylan.


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau maksud, tolong jangan membuat ku semakin bingung". ucap Raditya.


"Gini loh Dit, kalau kau tidak menyukai Mika, ijinkan aku untuk mendekati nya". Ucap nya.


"apa?? apa kau menyukai nya? ". Tanya Radit.


"mmm... iya, tapi kalau kau menyukai nya aku akan mengalah pada mu, jadi aku bisa menghilangkan perasaan ku pada nya". Ucap Dylan.


Raditya masih terdiam, dia tidak tahu apa kah yang di ucap kan Dylan ini serius atau tidak.


"Radit, bagaimana, kau menyukai nya atau tidak? ". Tanya Dylan lagi.


"A.. a.. aku..


"Iya,,, bagaimana? ". Tanya Dylan lebih dekat.


"Aku.. seperti nya aku menyukai nya".Jawab nya.


"hahaha... sudah ku duga itu akan terjadi". ucap Dylan.


"Ya sudah lah, aku mengalah saja, tapi apakah Mika tahu dengan perasaan mu ini, apakah dia menyukaimu juga? ". Tanya Dylan.


"Aku tidak tahu tentang perasaan nya, aku tidak pernah tanya". Ucap nya.


"Coba kau tanyakan lah, kau harus lebih banyak berbicara berdua dengan nya". ucap sahabat nya.


Raditya diam, memang benar yang di katakan Dylan, dia harus berbicara lebih dekat dengan Mika.


************************


"Bi Sri". Mika menghampiri bi Sri yang sedang sibuk di dapur.


"Iya nona Mika, ada apa? ". Tanya bi Sri.


" Bi, apakah bibi kenal dengan nona Clara?". Tanya Mika.


"Kenal non". Jawab nya.


"Apakah itu adalah mama kandung den Alvaro? ". Tanya Mika serius.


"Iya non, nyonya Clara adalah mama kandung den Alvaro, dan mantan isteri tuan Raditya". ucap nya.


"Lalu mengapa mereka berpisah? ". Tanya Mika penasaran.


"Itu karena nyonya Clara seorang model, dan nyonya lebih mementingkan pekerjaan nya, dia meninggalkan den Alvaro dan tuan Raditya". jelas bi Sri.


"Sudah berapa lama mereka berpisah bi? ". tanya Mika lagi.


"Hampir lima tahun non, setelah melahirkan den Alvaro lima hari, nyonya Clara pergi meninggalkan rumah". ucap nya.


"oohhh... jadi begitu ya". ucap Mika dengan suara pelan nya.


"Mama... Valo mau es krim rasa cokelat strowbery". Alvaro menghampiri Mika.


"Sebentar mama ambilin ya". Mika berjalan ke arah lemari es dan mengambil es krim yang berukuran kecil.


"Tapi makan es krim nya jangan banyak banyak ya sayang, biar gak sakit gigi". ucap nya.


"Iya ma". jawab Alvaro tersenyum manis.


"Den Alvaro lebih menyukai nona Mika, dan dia lebih dekat dengan nona Mika". Gumam bi Sri yang melihatnya.


Sesekali, Alvaro menyuapi es krim ke mulut Mika.


*****************************


"Dylan, kau mewakili ku mengawasi di kota Surabaya, kalau ada kesulitan, segera kabari aku, dan kau bawa dua orang bersama mu". Ucap Raditya.


"Baik tuan". jawab Dylan.


"Diana, kau ikut aku ke Bandung, untuk membicarakan proyek dengan tuan Santoso". ucap Raditya.


Baik tuan". Jawab Diana.


"Kau siapkan semua nya, dua hari lagi kita akan berangkat ke Bandung, pastikan materi dan laporan laporan nya tidak ada yang ketinggalan". ucap Raditya lagi.


"Baik tuan". Jawab Diana lagi.


"Untuk pak Heri, kau wakilkan aku di sini, jangan melakukan kesalahan yang beresiko". Perintah nya.


"Baik tuan". jawab Pak Heri.


"Perusahaan kita saat ini sedang memiliki banyak proyek yang menguntungkan, banyak perusahaan perusahaan yang menginginkan bekerja sama dengan kita, jadi kita harus menyelesaikan nya dengan baik, kalau kita bisa menyelesaikan nya, aku berjanji perusahaan ini akan memberikan bonus buat semua karyawan R. H. ". ucap Raditya.


Semua karyawan sangat senang mendengar kan kata bonus. Bagi mereka, itu adalah kata kata mutiara yang indah.


"Baik lah meeting hari ini selesai, segera kembali keruangan nya dan lakukan tugas nya masing masing". ucap Raditya mengakhiri meeting.


Semua karyawan membereskan meja masing masing dan keluar ruangan meeting.


Dylan menyusul Raditya. Dia mengikuti bos nya masuk ke ruangan Presdir, tempat Raditya bekerja.


"Ada apa Dylan, seperti nya ada yang mau kau bicarakan? ". Tanya Raditya yang mengetahui apa yang di pikirkan sahabat nya itu.


"Hahahaha... kau tahu juga bos". Ucap Dylan sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ada apa, apa yang mau kau bicarakan". Tanya bos nya lagi.


"Aku mau tanya, kalau kau pergi ke Bandung, siapa yang akan menjaga Alvaro dan Mika? ". Tanya Dylan.


"Aku hanya pergi untuk tiga atau empat hari, aku rasa itu tidak ada masalah kan? ". ucap Raditya menatap laptop nya.


"Tapi kan kau tahu, kalau Clara baru saja mencoba merebut Alvaro di rumah mu". ucap Dylan.


Raditya terdiam, seperti nya memikirkan sesuatu.


"Aku akan memperketat penjaga". jawab nya.


"Aku yakin, Clara tidak akan melakukan sesuatu dengan jarak yang dekat kan? ". ucap nya.


"mmm.... tapi, biar bagaimana pun kau tidak bisa meninggalkan mereka kan? ". tanya Dylan.


"Jadi maksud mu apa aku harus membawa mereka bersama ku? ". tanya Radity.


"Bukan seperti itu maksud ku, apa tidak sebaik nya biar orang lain saja yang mewakili mu pergi ke Bandung? ". Tanya Dylan.


"Aku tidak bisa Dylan, lagi pula siapa yang mau aku percayai lagi? aku hanya mempercayai mu, Diana dan Heri, siapa lagi? ". ucap Raditya.


"Kau benar juga". ucap Dylan.


"Kau tenang lah, tidak akan terjadi apa apa dengan Mika". ucap Radity kembali menatap laptop nya.


"Tapi tunggu dulu... kenapa kau yang lebih khawatir dengan Alvaro dan Mika ku? ". tanya Raditya curiga.


"Apa, Mika mu?, hhhmmm... kau sudah menyatakan hak milik nih maksud nya? ". tanya Dylan.


"Hahahaha, aku tidak sadar". ucap Raditya salah tingkah.


"Tapi kau jangan mengalihkan topik pembicaraan, katakan, kenapa kau yang lebih khawatir dengan mereka? ". tanya Raditya.


"Itu karena aku perduli dengan mereka, biar bagaimana pun Alvaro itu kan keponakan ku, dan Mika... Mika hanyalah sebagai teman, hahahaha". ucap Dylan.


"Aku harap apa yang kau ucapkan itu benar ya, awas saja kalau kau menikung ku dari belakang". ancam Raditya.


"Tapi kalau seandai nya Mika yang memiliki perasaan pada ku bagaimana?". tanya Dylan.


Raditya menatap Dylan dengan tatapan tajam nya.


"Hahahahahaha... aku hanya bercanda... santai... santai.. ". ucap Dylan.


"Kalau begitu aku keluar dulu, kau pulang lah, mungkin mereka sedang menunggu kepulangan mu". ucap Dylan keluar dari ruangan itu.


"Dasar Dylan, ckckckck.. ". gumam Raditya.


Dia melirik jam tangan nya, sudah hampir menunjukkan jam pulang kerja. Dia merapikan meja kerja nya. Bersiap siap pulang.