
Malam ini Mika tidak bisa tidur di kamar nya, begitu juga dengan Raditya. Mereka sama-sama memikirkan obrolan yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Apa yang akan menjadi jawaban mu Mika? " gumam Raditya menatap langit-langit kamar nya.
"Jawaban apa yang akan aku berikan pada tuan Raditya ya? " gumam Mika menatap langit-langit kamar nya juga.
Beberapa jam mereka tidak tidur.
Mika teringat dengan kejadian-kejadian yang di alami bersama keluarga Raditya. Rasa sayang nya pada Alvaro. Majikan nya yang sangat baik.
Mika teringat ketika majikan nya menolong nya dari kejaran anak buah tante Ince.
"Tapi aku tidak mencintai tuan Raditya, aku sekedar menghormati nya. " gumam Mika.
"Aduh... Bagaimana ini? " gumam Mika lagi.
"Kalau aku menolak nya, apakah tuan akan memecat ku? Akan memisahkan ku dengan den Alvaro? " gumam Mika lagi.
"Kalau Mika menolak ku, dan minta berhenti, tidak akan aku biarkan. " gumam Raditya.
"Kalau aku menerima pernikahan ini, tapi aku tidak mencintainya." Gumam Mika.
"Kalau dia menerima pernikahan ini, aku akan membuat nya perlahan-lahan jatuh cinta pada ku." gumam Raditya.
"Apakah aku akan bahagia dengan pernikahan ini nanti? " tanya Mika dalam hati.
"Aku akan membuat mu bahagia, selalu. Aku tidak akan membuat mu merasa sedih. " gumam Raditya.
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam hati Mika, dan jawaban-jawaban yang di berikan Raditya.
Sayang nya mereka hanya bisa berbicara di dalam hati mereka dan di dalam kamar mereka masing-masing.
Pagi hari Mika bangun lebih awal, dia sudah mandi membersihkan diri nya. Mika turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat anak asuh nya Alvaro.
Di halaman belakang Mika mendengar suara seseorang.
Mika pergi ke halaman belakang.
"Tuan? " ucap Mika.
Ternyata Raditya yang berada di halaman belakang, dia sedang berolah raga sendiri, lari-lari di tempat, lompat tali, push up dan sit up.
"Mika? " ucap Raditya yang sadar di lihat Mika.
Raditya menghentikan olahraga nya, berjalan ke arah Mika. Mika perlahan berjalan mundur.
Mika gugup, ternyata Raditya sedang mengambil handuk kecil yang berada di belakang Mika.
"Ada apa Mika? " tanya Raditya sambil melap keringat nya.
"Ti.. Tidak apa-apa tuan, tumben tuan sudah bangun pagi-pagi. " Ucap Mika sedikit gugup.
"Aku tidak bisa tidur tadi malam. " jawab nya sambil minum.
"Kenapa kita sama tuan? " ucap Mika.
"Maksud nya? " tanya Raditya duduk di kursi.
"Saya juga tidak bisa tidur, hehehehe. " ucap Mika duduk di samping Raditya.
"Kenapa tidak bisa tidur? " tanya Raditya penasaran.
Mika terdiam, melihat majikan nya.
"Karena... "
"Karena apa... Mmmmm? " tanya Raditya penasaran.
"Karena pertanyaan tuan yang kemarin. " ucap Mika.
"Ooohh.... Terus bagaimana jawaban kamu? "tanya Raditya berusaha untuk tenang.
Mika diam lagi.
"Hhhmmm.... Dia diam lagi. " gumam Raditya.
Raditya kembali berdiri, membuka kaos nya yang sudah basah karena keringat nya.
Mika melihat jelas bagaimana sempurna nya tubuh majikan nya itu. Keringat bercucuran di bagian dada dan perut nya.
Mika melihat nya dengan gugup. Mika pun ikut berdiri. Mencoba pergi meninggalkan tuan nya.
Raditya menarik salah satu tangan Mika. Mika gugup.
"Mika, kamu belum memberikan jawaban nya. " ucap Raditya belum melepaskan tangan Mika.
Mika berbalik badan sehingga berhadapan dengan Raditya.
"Tuan... Apakah tuan serius dengan ucapan tuan? " tanya Mika.
"Tentu, aku serius. " jawab Raditya.
"Anda tahu kan siapa saya? Saya..saya hanya anak seorang petani. " jawab Mika menundukkan wajah nya.
Raditya mengangkat dagu Mika, memegang kedua pipi Mika.
"Aku tidak perduli kau anak petani atau anak pembantu, yang aku mau adalah... Kau.. Menjadi... Isteri ku.. Menjadi... Ibu.. Dari... Anak-anak ku... Ibu... Dari... Alvaro. " ucap Raditya yakin.
"Kau juga sangat sayang dengan Alvaro kan? " tanya Raditya.
Mika menganggukkan kepala nya.
Mika menggigit bibir bawah nya, dengan tatapan sayup melihat wajah tuan nya yang berada dekat di depan nya.
"Bagaimana? " tanya Raditya lagi.
"Apa nya tuan? " tanya Mika polos.
Raditya membuang nafas nya berat. Menggelengkan kepala nya. Memegang kepala nya.
"Tuan, anda tidak apa-apa kan? " tanya Mika polos.
Raditya berbalik melihat wajah Mika yang bertanya polos seperti itu.
"Ayolah Mika, bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan ku kemarin? Kau tahu kan aku seperti apa? Aku tidak bisa mengulang ngulang pertanyaan. " ucap Raditya.
"Baik tuan... Saya bersedia. " ucap Mika dengan yakin dan tersenyum.
Raditya terdiam, bibir nya bergerak tersenyum. Menunjukkan barisan giginya yang putih bersih.
"Apa? Kau... Kau yakin? " tanya Raditya mendekati Mika.
"Tuan, aku tidak suka mengulangi perkataan.
" ucap Mika sambil menunduk sedikit malu.
"Hhhmmm.... Kau balas dendam dengan ku ya. " ucap Raditya.
Mika hanya membalas dengan senyum manis nya.
Raditya memeluk Mika, hanya bertelanjang dada.
Mika kaget. Seumur hidup nya, ini adalah kali pertama nya menyentuh tubuh laki-laki, apalagi di peluk seperti saat ini yang dia alami sekarang.
"Tapi tuan... " tanya Mika.
"Mmmm.... " ucap Raditya yang masih memeluk Mika, tangan nya menekan kepala Mika untuk lebih dekat dengan dada nya yang lebar.
"Bagaimana dengan... Dengan.. Ayah dan Ibu? " tanya Mika.
"Aku akan memberitahukan nya pada mereka. " ucap Raditya.
"Sabtu depan kita akan ke rumah mu, aku akan membicarakan pernikahan kita dengan orang tua mu. " ucap Raditya.
Mika tersenyum malu. Dia seakan tidak percaya kalau dia akan menikah, apalagi menikah dengan majikan nya.
"Tuan... " ucap Mika.
"Ada apa lagi sayang. " ucap Raditya.
"Sayang? " gumam Mika, wajah nya semakin memerah.
"Bisa kah.. Tuan melepaskan pelukkan nya? Saya tidak bisa bernapas. " ucap Mika.
"Ooohh... Maaf.. Maaf.. " ucap Raditya melepaskan pelukkan nya.
Mika salah tingkah, wajah nya berkeringat.
"Oh ya Mika... Mulai sekarang kau jangan memanggilku dengan sebutan ' tuan ' ." ucap Raditya.
"Kenapa tuan? " tanya Mika.
"Karena aku bukan majikan mu lagi. " ucap Raditya.
"Aku adalah calon suami mu, dan kau adalah calon isteriku. " ucap Raditya.
Mika diam lagi.
"Ck... Kamu diam lagi?" ucap Raditya.
"Tapi tuan... "
"Tuh kan... " ucap Raditya.
"Jadi, saya harus panggil anda dengan sebutan apa? " tanya Mika.
"Panggil aku honey, sayang, atau... Radit. " ucap Raditya.
"Aku harap kau memanggilku dengan sebutan Honey atau sayang, hehehehe. " gumam Raditya.
"Mmm.... Baik lah, saya akan panggil dengan nama saja, Ra... Raditya. " ucap Mika malu.
Raditya diam.
"Baik lah... Baiklah.... " ucap Raditya menganggukkan kepala nya.
"Yang penting kau sudah bersedia menikah dengan ku. " gumam Raditya.
"Untuk Alvaro pun kau jangan memanggil nya dengan embel-embel 'Den' ." ucap Raditya.
"Kau harus memanggil Alvaro, atau anak ku, sayang, begitu. " ucap Raditya.
"Baik lah. " ucap Mika menganggukkan kepala nya.