
"Kapan kau kembali ke Jakarta Dit ?" tanya Dylan.
"Kemungkinan hari Rabu. " jawab Raditya melalui panggilan telepon.
"Lama juga ya, itu lamaran atau sekalian nikahan nya? " tanya Dylan.
"Lamaran dulu lah. " jawab Raditya.
"Untuk sementara waktu kau urus dulu kerjaan nya." ucap Raditya.
"Hhmmm... Yang penting gaji ku jangan di kurangi. " ucap Dylan.
"Tergantung dari hasil kinerja mu. " ucap Raditya.
"Mika, apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu? " tanya ibu Mika.
"Sudah bu. " jawab Mika.
Seperti biasa, Alvaro, mika dan ibu nya berada dalam satu kamar.
"Apakah kamu di paksa menikah oleh tuan Raditya? " tanya ibu nya lagi.
"Tidak kok bu. " jawab nya lagi.
"Hhhmmm.... Baik lah. " jawab ibu nya sambil menganggukkan kepala nya.
Alvaro sudah tertidur di tengah-tengah mereka.
"Nak Raditya, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian? " tanya Ayah Mika di ruang tamu.
"Saya mau nya akhir bulan ini yah. " ucap Raditya.
"Wow... Kenapa cepat sekali? " tanya ayah Mika.
"Anak saya belum kenapa-kenapa kan? " tanya Ayah Mika.
"Tidak yah, justru kenapa saya mau cepat-cepat menikahi nya sebelum terjadi kenapa-kenapa dengan Mika, hehehehe. " ucap Raditya.
"Hahahahahahaha..... " tawa ayah Mika.
Mereka berdua tertawa bersama-sama.
"Apa nak Raditya sudah membicarakan nya dengan keluarga Raditya? " tanya Ayah Mika.
"Belum, tapi nanti akan saya beritahukan secepat nya." jawab nya.
"Bagaimana kalau mereka tidak setuju?" tanya ayah Mika.
"Bagaimana kalau mereka tidak menyukai Mika? " tanya nya lagi.
"Tidak mungkin yah, orang tua saya sangat baik, mereka pasti setuju kok. " jawab Raditya yakin.
Esok hari nya...
"Nenek, Valo mau ikut ke ladang, mau ambil singkong lagi. " pinta Alvaro.
"Yakin Valo mau ikut? " tanya ibu Mika.
"Iya, Valo yakin. " jawab Alvaro.
"Ya udah ayo. " ajak ibu Mika.
"Asiikk..... " ucap Alvaro senang.
"Kalian mau kemana? " tanya Raditya.
"Pa, Valo sama nenek mau ke ladang, mau ambil singkong. " ucap Alvaro.
"Papa boleh ikut gak? " tanya Raditya.
"Nenek, papa boleh ikut gak? " tanya Alvaro.
"Boleh aja, hehehehe. " ucap ibu Mika.
Akhir nya ibu Mika, Alvaro dan Raditya pergi ke ladang. Sementara Mika di rumah menyiapkan makanan buat keluarga nya.
"Bu, siapa tuh? " tanya tetangga Mika mengarah ke Raditya.
"Oh.. Ini... Ini adalah calon suami Mika. " jawab Ibu Mika.
"Wah... Berarti Mika udah mau menikah ya. " ucap tetangga itu.
"Iya. " jawab ibu Mika.
"Loh... Itu bukan nya majikan nya Mika di Jakarta? " tanya rekan tetangga yang paling suka bergosip di desa itu.
"Iya. " jawab ibu Mika.
"Wah... Kok bisa majikan nya mau menikah dengan pelayan nya, hebat donk. " ucap tetangga itu.
"Maklum lah, si Mika kan cantik, siapa sih yang gak menyukai Mika. " ucap rekan nya lagi.
"Tapi hebat si Mika, majikan nya bisa sampai kepincut gitu, hahahahah. " tawa rekan nya lagi.
Tetangga yang kepo itu masih tertawa menyindir. Ibu Mika hanya menggelengkan kepala nya.
"Nenek, mana singkong nya? " tanya Alvaro penasaran.
"Ini, di dalam tanah singkong nya" ucap ibu Mika sambil menunjukkan pohon singkong yang masih belum di cabut.
Alvaro kaget.
"Di dalam tanah? terus bagaimana mengambil nya nek? " tanya Alvaro.
"Begini nih cara nya. " ucap ibu Mika.
Ibu Mika pun menarik batang singkong, menarik agar singkong nya keluar dari tanah.
Kkkkrrreeeeeaaaakkkkkk.....
"Wah nek, ini singkong nya? " ucap Alvaro senang melihat singkong yang keluar dari tanah.
Singkong-singkong itu pun di tarik Alvaro, memasukkan nya ke dalam ember berukuran sedang.
"Alvaro, awas pakaian kamu jangan sampai kotor. " ucap ibu Mika.
"Nek, Valo mau juga donk cabut singkong nya. " pinta Alvaro.
"Emang nya Valo kuat? " tanya ibu Mika.
"Kuat lah nek, kalau misalnya Valo gak bisa, kan ada papa nanti yang bantu, hehehehe" ucap Alvaro senang.
"Ya udah, ini Valo aja yang tarik " ucap ibu Mika.
Alvaro langsung mencoba menarik batang singkong sekuat tenaga nya. Tapi masih belum bisa tercabut. Raditya hanya menatap senyum melihat usaha anak nya.
"Papa, bantuin Valo donk, hehehehehe. " pinta Alvaro.
"Sini biar papa bantu, papa pikir Valo bisa menarik nya sendiri. " ucap Raditya.
Raditya dan Alvaro menarik satu batang singkong bersama-sama.
Kkkkrreeaaaakkkkk.....
"Yyyeeaahahhh.... singkong nya sudah keluar. " ucap Alvaro girang.
"Masukkin ke ember nya ya, nanti Valo yang bawa ember nya, hehehehehe. " ucap Raditya bercanda.
"Papa, Valo mana kuat, Valo kan masih kecil, papa aja yang bawa. " jawab Alvaro.
"Oh... papa pikir Valo kuat" ucap Raditya.
Setelah mereka mencabut beberapa pohon singkong, mereka pun pergi menuju rumah.
"Nek, ini apa? " tanya Alvaro menunjuk padi yang sudah mulai kuning.
"Ini nama nya padi, nanti di giling supaya gabah nya lepas, lalu jadi lah beras, di masak dan jadi nasi yang biasa kita makan. " jelas ibu Mika.
"Ooouuhh... jadi nasi yang Valo makan itu sepelti ini awal nya? " ucap Alvaro.
"Betul sekali Valo. " ucap ibu Mika.
Sementara Mika menyiapkan makanan di rumah. Beres-beres membersihkan rumah.
"Mika, ayah mau bicara sama kamu. " panggil ayah Mika.
"Iya yah, ada apa?" tanya Mika menghampiri ayah nya duduk di teras.
"Nak, kamu memang benar-benar setuju menikah dengan Raditya? " tanya ayah Mika sambil minum kopi nya.
"Iya yah, Mika udah yakin." jawab nya.
"Tapi kamu tahu kan kalau Raditya memiliki anak dari ister sebelum nya? " tanya ayah Mika.
"Iya yah, Mika tahu. Mika sudah sayang sama Alvaro yah, Mika udah anggap Alvaro anak kandung sendiri. " jawab Mika.
"Hhhmmm... ayah dan ibu tidak bisa melarang keinginan kamu nak, yang pasti kami sebagai orang tua menginginkan kamu bahagia dengan pernikahan kamu kelak. " ucap ayah nya.
"Pernikahan itu bukan buat main-main, atau buat percobaan, jangan nanti kamu mengalami penyesalan. " nasehat ayah nya.
"Kamu adalah puteri ayah satu-satu nya, walaupun kita adalah keluarga petani yang sederhana, tapi kita juga memiliki harga diri dan martabat. " ucap Ayah Mika.
"Iya ayah, Mika sangat tahu itu, Mika juga melihat kalau Raditya serius ingin menikah dengan Mika. Mika yakin, kalau Raditya orang yang sangat baik. " ucap Mika membela Raditya.
"Kalau kamu sudah yakin, ya tidak apa-apa. Tapi kalau nanti kamu ada masalah, kamu jangan sungkan berbicara pada kami, orang tua mu. " ucap ayah Mika.
"Iya yah, hehehehe. " ucap Mika.
"Nanti kalau kalian sudah menikah, tetap sering-sering datang kemari ya. " pinta ayah nya.
"Pasti donk yah.... " jawab Mika.
Sementara Raditya, Alvaro dan ibu Mika baru pulang dari ladang. Raditya membawa ember yang berisi singkong yang di cabut.
Mereka tampak sangat kotor, apalagi Alvaro, walaupun begitu, mereka tetap tampak bahagia.