
Alvaro dan Mika naik dalam satu bom bom car nya, sementara Raditya naik sendiri, mereka saling menabrakkan kendaraan nya. Suasana nya penuh dengan tawa riang.
Setelah mereka selesai dengan permainan itu, mereka beralih dengan komedi putar. Masih sama, Alvaro ikut dengan Mika.
****************************
"hhhmmmm.... ". Clara yang bangun dari tidur nya.
"Kau sudah bangun". Ucap Andien.
"Kau yang menjemputku tadi malam? ". Tanya Clara sambil memegang kepala nya yang masih pusing.
"Iya, kau yang menghubungi ku". Jawab Andien.
"Oohh". Jawab Clara.
"Ada apa?". Tanya Andien.
"Tidak ada apa apa, aku cuma.. Aku cuma.. ". Ucap Clara.
"Cuma apa Ra? ". Tanya Andien lagi.
"Aku cuma merasa sedih aja". Jawab nya.
"Sudah lah, jangan kau pikirkan lagi, toh kamu yang milih jalan seperti ini". Ucap teman nya.
"Tapi, aku merasa sakit sekali saat mereka memperlakukan ku seperti itu, apalagi anak ku". Ucap Clara sedikit menangis.
"Clara, aku sudah bilang pada mu untuk berpikir dulu, tapi kau selalu mengabaikan ku, dan kau.....
"Cukup Ndien, aku gak perlu nasehat mu, aku mau merebut apa yang harus menjadi milik ku". Ucap Clara.
"Apa maksud mu? ". Tanya Andien.
"Kau jangan gila Clara". Ucap Andien.
"Kita lihat saja nanti". Ucap Clara turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Sementara Andien geleng kepala melihat tingkah sahabat nya.
*****************************
"Sudah waktu nya den Alvaro makan siang, sini makan dulu". Ajak Mika.
"Mika, kita makan di restoran itu aja". Tunjuk Raditya.
"Tapi tuan.. ". Ucap Mika.
"Tidak ada tapi tapi an.. ". Ucap Raditya sambil berjalan menuju restoran.
Mika pun mengikuti nya sambil menggenggam tangan Alvaro. Raditya membantu membawa tas bawaan bekal yang di sediakan Mika dari rumah.
"Silahkan masuk tuan, silahkan di pesan makanan nya ya tuan". Ucap salah satu pelayan di situ.
"Mika, kamu pilih makanan mu". Suruh Raditya.
"Saya nasi goreng aja tuan". Jawab Mika.
"Minum nya? ". Tanya nya lagi.
"Air jeruk dingin". Jawab nya.
Raditya sudah selesai memesan makanan mereka. Mika masih menyuapi Alvaro makan roti cokelat keju yang dia bawa.
Kemudian Mika membuat susu panas buat anak asuh nya. Raditya hanya melihati nya saja.
"Mika". Ucap Raditya.
"Ya tuan? ". Jawab Mika.
"Apa.. Apa kamu.. Sudah punya pacar? ". Tanya Raditya gugup.
"Tidak ada tuan". Jawab Mika polos masih menyuapi Alvaro.
"Oooohh... Terus, apa kamu sedang menyukai seorang pria? ". Tanya nya lagi.
"Tidak juga tuan". Jawab Mika singkat.
Karena dia memang sedang tidak memiliki perasaan apa pun pada seseorang.
"mmm.. Kalau seandai nya.. Ada yang mengajak mu menikah, apa kamu mau? ". Tanya Raditya serius.
"Papa kenapa bertanya seperti itu, apa papa mau menjodohkan mama Mika ya". Ucap Alvaro tidak senang.
"Bukan begitu sayang, papa cuma bertanya aja". Ucap nya.
"Bagaimana Mika? ". Tanya Raditya lagi.
"Mika gak tahu tuan, hehehehe". Ucap Mika yang bingung.
"Kok gak tahu". Tanya Raditya yang merasa tidak puas dengan jawaban Mika.
"Karena sampai saat ini belum ada yang pernah melamar Mika, jadi belum tahu gimana perasaan nya". Ucap Mika.
"Oohh.. ". Jawab Raditya menganggukkan kepala nya.
"Tuan.. Ini makanan nya, silahkan di makan". Ucap Pelayan yang sudah datang sambil membawa pesanan nya.
"Sama sama nyonya". Jawab pelayan.
Kemudian pelayan itu meninggalkan mereka.
"Kamu makan aja dulu Mika". Ucap Raditya.
"Baik tuan". Jawab Mika.
Alvaro dan Mika saling menyuapi makanan, sementara Raditya sedang memikirkan sesuatu.
"Papa, makan donk, jangan lihatin mama Mika seperti itu, hehehe". Ledek Alvaro.
"hahaha.. Iya sayang". Jawab nya.
"Ma, Valo mau pipis". Ucap Alvaro.
"Ayo sayang". Jawab Mika.
"Tuan, saya bawa den Alvaro ke toilet dulu". Ucap Mika sambil menggandeng tangan Alvaro.
"Iya". Jawab nya.
Saat Mika dan Alvaro pergi, Raditya sedang berpikir.
"Apa aku ajak Mika nikah saja ya? Tapi kalau dia gak mau? Aku yang malu? Terus kalau dia jadi risih dan malu pada ku, bisa bisa dia minta berhenti lagi dari kerjaan nya, hhhmmm.. Gimana ya". Gumam Raditya.
"Apa aku coba aja?.... Aku akan coba kalau ada waktu". Gumam nya lagi.
"Mama, Valo sudah selesai". Ucap Alvaro.
"Udah sayang, sini mama bantu Valo pakai celana nya". Ucap Mika.
"Wah mba.. Anak nya cakep banget, pasti suami nya juga cakep ya". Ucap seorang ibu yang berada di dalam toilet itu.
"Iya, papa nya memang tampan sekali bu, hehehe". Jawab Mika.
"Mau donk punya anak seperti anak nya". Goda ibu itu.
"hahahahaa". Mika hanya tertawa kecil, karena dia tidak tahu harus jawab apa.
"Sayang, sudah selesai kan, kita kembali ke tempat papa nya ya". Ajak Mika.
"Iya ma". Jawab nya.
"Permisi bu". Ucap Mika.
Ibu itu hanya melihat Mika dan Alvaro. Sesekali dia tersenyum.
Akhir nya pukul 17.00 sore Raditya mengajak mereka pulang. Karena besok Radity harus kembali bekerja lagi.
"Udah ya main nya hari ini, sekarang kita pulang dulu, nanti kalau ada waktu lagi kita main main lagi". Ucap Raditya.
"Iya pa, Valo juga ngantuk". Jawab Alvaro yang kelelahan.
Mereka berjalan ke parkiran, seperti biasa, Mika memangku Alvaro dan duduk di depan samping Raditya.
Sepanjang perjalanan, Mika dan Alvaro hanya tertidur. Saat seperti itu lah Raditya memandangi gadis yang ada di samping nya.
"Aku harus menikahi mu, harus itu Mika! ". Gumam Raditya.
Setelah beberap jam perjalanan mereka sampai juga di rumah.
"Mika, sudah sampai, bangun lah". Raditya membangun kan Mika.
"Ooh.. sudah sampai ya tuan". Jawab Mika.
"Sini, biar aku saja yang gendong Alvaro nya". pinta Raditya.
Raditya mengambil alih menggendong Alvaro, tapi Alvaro erat sekali memeluk Mika.
"Hahaha... kamu berlari sambil menggendong Alvaro juga gak akan bisa jatuh, pelukan Alvaro nya erat sekali". ucap Raditya yang menyerah menarik Alvaro.
"Ya udah tuan, biar saya saja yang antar ke kamar nya, tanggung juga". ucap Mika.
"mmm... ok.. kamu juga beristirahat saja". ucap Raditya.
Beberapa pelayan keluar menyambut kedatangan majikan nya. Ada yang membawa tas bekal dan beberapa boneka hasil dari lomba yang mereka mainkan.
"Bi, Sri". Panggil Raditya.
"Ya tuan". jawab bi Sri sedikit berlari dari dapur nya.
"Bi, nanti tolong antar kan kopi ke ruangan ku". Suruh nya.
"Baik tuan".Ucap bi Sri.
Raditya pun naik ke kamar nya, dia juga sangat kelelahan.
Saat dia duduk di sofa kamar nya, dia sesekali tersenyum kecil.
"Aku belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini, bahkan ketika pacaran atau menikah dengan Clara". Gumam nya.
"Baru merasakan dengan Mika saja, ternyata begini rasa nya". gumam Raditya tersenyum.