
"Ok... Ok..., tapi aku tetap ingat kan sama kamu biar kamu hati hati sama Clara, aku takut dia akan menyakiti orang orang di sekitar mu". Ucap Dylan.
"hhmmm... ". Ucap Raditya sambil mengecek laporan yang di bawa Dylan.
"Oh ya... Bagaimana liburan kalian kemaren? ". Tanya Dylan.
"Buat apa kau tanyakan itu? ". Tanya Raditya tanpa melihat Dylan.
"Gak apa apa sih, cuma kepo aja". Jawab singkat.
"Semenjak kejadian penculikkan itu, Alvaro selalu memanggil Mika dengan sebutan 'Mama'". Ucap Raditya masih fokus pada laporan nya.
"What? ". Ucap Dylan kaget.
"Biasa aja donk, gak usah pake teriak". Jawab Radit sambil menutup telinga nya.
"Hahahaha, itu kode dari anak mu Dit, jangan di abaikan". Ucap Dylan.
Raditya berhenti dari aktifitas nya dan menatap tajam pada sahabat yang duduk di depan nya.
"Kode apa maksud mu? ". Tanya Radit.
"Ya elah pake tanya lagi, kau gak tahu atau pura pura gak tahu? ". Ledek Dylan.
Radit masih tetap melihat ke arah Dylan.
"Alvaro tuh butuh mama baru, hahahaha". Ucap Dylan.
"Tidak perlu terlalu terburu buru". Ucap Radit kembali mengecek laporan nya.
"Jangan lama lama Dit, atau nanti kita bisa jadi saingan". Ucap Dylan menaikkan salah satu alis mata nya.
"Maksud mu?". Tanya Radit melihat Dylan.
"Apa kau menyukai nya? ". Tanya nya lagi.
"Seperti nya, hehehehe". Ucap Dylan santai.
Raditya memandangi terus Dylan, sementara Dylan tersenyum kecil.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk". Ucap Radit.
"Tuan, ini kopi nya". Ucap Usman.
"Letakkan saja di meja nya pak". Suruh Radit.
"Baik tuan". Jawab pak Usman sambil meletakkan kopi di atas meja.
"Apa Mika sudah bangun? ". Tanya Radit.
Dylan melihat Radit.
"Sudah tuan, dan sekarang lagi menyiapkan makanan buat den Alvaro". Ucap pak Usman.
"Baik pak Usman, silahkan keluar". Perintah Raditya.
"Kalau begitu apa aku boleh pulang? ". Tanya Dylan.
"Maksud ku kembali ke kantor? ". Ucap Dylan lagi.
"hhhmm.. ". Jawab Raditya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, sampai jumpa besok di kantor". Ucap nya sambil melangkah ke luar.
Raditya melihat Dylan berjalan keluar, ada tatapan tidak senang nya.
Dylan berjalan menyusuri anak tangga, melihat Mika berada di dapur. Dylan berjalan menghampiri Mika yang masih sibuk.
"Sore Mika". Ucap Dylan yang membuat Mika kaget.
"Eeehh... Sore tuan ". Jawab Mika berbalik melihat arah Dylan.
"Kamu masih ingat dengan ku tidak? ". Tanya Dylan.
"Maaf, tapi aku tidak tahu nama tuan, yang aku tahu kalau tuan ini temen nya tuan Raditya". Jawab Mika pelan.
"Nama ku Dylan". Ucap nya sambil mengulur kan tangan nya. Mika pun menyambut salam dari teman majikan nya.
"Btw, gak usah panggil aku sebutan tuan, panggil aja Dylan, hehehehe". Ucap Dylan.
"Tapi tuan? ". Mika.
"Gak ada tapi tapian, biar akrab gitu, kita kan sama sama punya bos yang nama nya Raditya, hehehehehe". Ucap Dylan.
"Mmm... Baik lah tuan.. Eh... Mm... Dylan". Ucap Mika suara pelan.
"Kamu sedang buat apa? ". Tanya Dylan mendekati Mika.
"Siapin makanan buat den Alvaro Dylan". Ucap Mika tanpa menoleh ke arah Dylan.
""Seperti nya Alvaro menyukai mu ya". kata Dylan.
"hhhmmm.... nama nya juga anak anak tuan... eh.. maksud ku Dylan". ucap Mika gugup.
"Mika, bagaimana penilaian mu tentang Raditya? ". Tanya Dylan.
"Tuan Raditya baik kok Dylan, hehehe". Ucap Mika polos.
"Terus? ". Tanya nya lagi.
"Maksud nya gimana ya? ". Tanya Mika lagi.
"Kamu suka gak sama Raditya? ". Tanya Dylan tanpa basa basi.
"Apa yang kau tanyakan Dylan? ". Tanya Raditya yang muncul dari belakang.
Dylan kaget dan melihat Raditya.
Raditya menghampiri Mika dan Dylan.
"Eh Radit, udah lama di belakang ya? ". Tanya Dylan sambil tersenyum kecil.
"Menurut mu? ". Tanya sinis Radit.
Mika merasa canggung di antara Radit dan Dylan.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, Dylan, mau ke kamar Alvaro dulu". Ucap Mika berjalan menghindari mereka.
Dylan hanya tersenyum, sementara Radit masih melihat Dylan.
"Ada apa sob, kau kenapa muka nya keriting gitu? ". Tanya Dylan meledek.
"Jangan macam macam kau Dylan, jangan membuat Mika jadi canggung". Ucap Raditya.
"Iya iya, sebenar nya? Mika canggung karena kau hadir tiba tiba, hehehehe". Tawa Dylan.
"Sudah cukup, kembali ke kantor, jangan lupa ini masih jam kerja". Ucap Raditya.
"Oce bos,bawel bnget". Ucap Dylan sambil meninggalkan Raditya yang masih terdiam.
"Mika cuma bilang kalau aku ini baik, mmmm... ". Gumam Raditya dalam hati.
Di cafe...
"Clara, apa kau tidak merindukan anak mu? ". Tanya Andien.
"Buat apa? ". Tanya balik Clara cuek.
"Kamu gak takut kalau anak mu jadi benci sama kamu? ". Tanya Andien lagi.
"Bodo amat, aku gak perduli". Jawab Clara sambil minum kopi.
"Kalau aku jadi kau, aku gak akan meninggalkan anak dan suami ku, udah ganteng, kaya lagi". Ucap Andien.
Clara menatap teman nya.
"Jangan bilang kau suka? ". Tanya Clara.
"Ra... Ra.. Siapa sih yang gak suka sama raditya Hermawan, pemilik perusahaan RH, walaupun dia duda punya anak satu, tapi kharisma nya gak bisa di pungkiri". Jawab sahabat nya.
"Aku gak suka sama Raditya yang selalu membatasi kebebasan ku dalam berkarier". Ucap Clara sambil mengeluarkan rokok nya.
"hhhmmm..... Dia selalu bilang aku gak usah ikut model lagi, mau nya dia aku duduk di rumah hanya melayani nya dan mengurus anak nya, siapa yang bisa bertahan seperti itu". Ucap nya.
"Membosan kan, padahal dia tahu kalau aku ingin sekali jadi model terkenal, tapi dia gak pernah mau mendukung ku". Ucap nya lagi.
"Tapi Ra, kalau kau dengan nya, hidup mu sudah terjamin, kau tahu kan, hidup di dunia entertainment itu gak bisa abadi, setiap hari selalu mencari wajah wajah baru yang lebih segar dan menarik, dan karier mu pun perlahan lahan akan memudar juga". Ucap Andien.
"Aku mengatakan seperti ini pada mu agar kau tak menyesal, selagi masih bisa memperbaikinya, segera perbaiki". Ucap Andien sambil mengangkat gelas nya.
"Untuk saat ini aku masih ingin bebas Ndien, belum ada kepikiran buat rujuk sama dia". Ucap Clara.
"Udah lima tahun loh? ". ucap Andien.
Clara hanya diam.
Andien adalah sahabat lama Clara, mereka kenal ketika di Universitas. Andien merasa kasihan pada teman nya itu, demi karier meninggalkan kehidupan yang lebih terjamin. Berulang kali dia mengingat kan teman nya untuk keputusan Clara yang buruk, akan tetapi Clara tetap masih memikirkan ego nya sendiri.
Clara juga selalu berganti pasangan, walaupun tidak ada pernikahan, Clara lebih senang hubungan tanpa menikah. Dia tidak suka terikat. .
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE KOMENT AND VOTE NYA YA