Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 7 - New Life



Kenichi berjalan masuk ke gedung Sands Macau, kasino terbesar yang ada di Macau, China. Ia didampingi oleh Akira yang berada di samping kanannya dan Tendo yang memakai beberapa tindik di telinga dan berambut jingkrak berwarna kuning keemasan disamping kirinya.


Mereka mengelilingi meja-meja poker sambil sesekali Tendo menjelaskan kepada Kenichi mengenai bisnis mereka. Baik laki-laki maupun perempuan duduk di meja poker dengan chip chip dihadapan mereka.


Akira menjawab telepon lalu berbisik kepada Kenichi.


"Biarkan saja, aku akan memberinya kebebasan untuk terakhir kalinya, cukup awasi saja dia" instruksi Kenichi.


Akira mengangguk kepalanya tanda mengerti lalu mulai menekan beberapa nomor dan menjauh dari Kenichi dan Tendo untuk mengintruksikan perintah pimpinannya.


...&&&...


Seika membuka mata dan tersenyum senang menatap langit-langit apartemen barunya, ini adalah kehidupan baru untuk Seika. Ia memilih untuk menetap di Hokkaido setelah melarikan diri dari Kenichi. Seika bangun dan berjalan ke arah jendela, menyibak gorden lusuh dan membuka jendela sembari menghirup dalam-dalam udara pagi yang segar, senyumnya semakin merekah, bersinar seperti mentari pagi yang sangat cerah.


"Cuaca yang cerah" gumamnya lalu kembali menghirup udara dalam-dalam dan menghela dengan perlahan sambil tersenyum.


"Alright, first day of my new life. Lets hunting job" ujar Seika sambil mengangkat kepalan tangannya penuh semangat.


Seika melepaskan pajamanya lalu melenggang ke kamar mandi sambil bernyanyi dengan suara kecil.


...&&&...


Kenichi membuka mata ketika Akira memasuki kamar hotelnya . Di samping kiri dan kanan terdapat dua orang perempuan yang masih tertidur pulas, Kenichi bangun dan duduk bersandar di dashboard tempat tidur.


"Sarapan sudah siap kumicho" ujar Akira tanpa terganggu dengan kehadiran kedua perempuan yang setengah telanjang.


"Hm. Kau boleh pergi" ujar Kenichi sambil mengurut keningnya yang pusing sisa-sisa mabuk semalam.


Ia berdiri dan melangkah ke kamar mandi, beberapa menit kemudian setelah selesai membersihkan diri, Kenichi keluar kamar menuju ruang depan yang luas dan megah untuk memulai sarapan.


"Apa kegiatanku hari ini?" tanya Kenichi lalu meneguk air putih perlahan.


"Anda akan bertemu dengan tuan Wang Xuemin, setelah itu mengunjungi MCG Grand Macau dan malamnya mengadakan rapat dengan para pengelola kasino" jelas Akira lalu menundukkan kepala.


Kenichi mengunyah makanan dengan berlahan.


"Kau tidak harus bersikap seformal itu ketika kita berdua" ujar Kenichi tiba-tiba.


"Bagaimana pun saya adalah anak buah anda kumicho" ujar Akira merendah.


"Kau sudah aku anggap bagian dari keluargaku, kau dan Michio adalah orang yang sangat aku percayai" bantah Kenichi tidak menyetujui pendapat Akira.


"Jangan lupakan tentang anee-san juga" ujar Akira dengan nada bergurau. bibirnya tersenyum samar.


Kenichi mengangkat gelas panjang ke arah Akira menyetujui perkataan bawahannya sambil tersenyum lembut.


...&&&...


"Jadi mulai besok kau sudah bisa bekerja disini" ucap seorang pria paruh baya sambil menjabat tangan Seika sembari tersenyum lebar.


"Arigato gozaimasu Tanaka sensei (terima kasih dokter Tanaka) " ujar Seika membungkukkan badannya.


Dokter Tanaka hanya mengangguk dengan senang.


"Nilai akedemik dan prestasimu sangat mengangumkan, mengapa kau melamar kerja di klinik kecil seperti ini?" tanya dokter Tanaka penasaran.


Seika hanya tersenyum merespon pertanyaan dari dokter Tanaka.


...&&&...


Kenichi masuk ke dalam restoran tradisional China yang terkesan sederhana namun elegan dengan lampion berwarna merah di sisi kiri dan kanan restoran.


"Hen gaoxing renshi ni Wang Xuemin (Senang bertemu dengan anda) " ujar Kenichi tersenyum lebar sambil menjabat tangan Wang Xuemin, seorang pria paruh baya yang memakai setelan jas warna coklat kemerahan yang memegang tongkat kayu untuk membantunya berjalan.


"Ye hen gaoxing renshi ni Kenichi (Senang juga bertemu dengan anda) " balas Wang Xuemin lalu mempersilahkan Kenichi untuk duduk.


"Aku sangat senang bertemu denganmu hari ini Kenichi" ujar Wang Xuemin


Kenichi tersenyum merespon.


"Aku akan mempanjang kerjasama kita karena kau sangat handal dan cepat tanggap dalam bisnis ini" ujar Wang Xuemin kembali.


"Suatu kehormatan bagi saya bisa kembali menjalin kerjasama dengan anda tuan Wang" ujar Kenichi sedikit membungkukkan badannya.


Wang Xuemin tertawa menanggapi ujaran Kenichi.


...&&&...


"Konichiwa ona-chan" balas sang nenek tersenyum lembut.


Seika melambai tangan sembari tersenyum senang ke arah anak laki-laki yang berumur 6 tahun namun sang anak malah berlindung di balik kaki neneknya. Seika hanya tersenyum melihat tingkah sang anak lalu membungkuk berpamitan kepada sang nenek. Ia berjalan dengan tas kerja yang diayun-ayunkannya dengan riang.


...&&&...


Hari menjelang malam, Seika meletakkan semangkuk ramen yang ia buat di atas meja kecil lalu duduk dengan cepat dan mengkatubkan kedua tangan sembari memenjamkan mata.


"Ittadakimasu (selamat makan) " ujarnya


Seika menikmati makan malam dengan lahap.


...&&&...


Kenichi duduk di kursi tengah meja berbentuk persegi panjang sambil menatap satu persatu bawahannya yang mengelola kasino dan tempat prostitusi yang berada di Macau.


"Bagaimana perkembangan usaha kita?" tanya Kenichi memulai rapat.


"Usaha kita yang berada di Sands Macau berjalan dengan lancar, bahkan keuntungan bulan ini meningkat 20% dari bulan lalu kumicho" jawab seorang laki-laki yang memakai kacamata hitam bulat lalu menyerahkan berkas daftar penjualan selama sebulan berjalan.


"Usaha kita di MGM Grand Macau juga tidak ada masalah kumicho, hanya beberapa pelanggan yang mengacau namun berhasil kita atasi" jelas seorang laki-laki yang berbaju kemeja lengan pendek bergambar pemandangan pantai.


"Bagaimana dengan penjualannya?" tanya Kenichi.


Pria itu menyerahkan sebuah buku penjualan selama sebulan berjalan.


"Penjualannya berjalan stabil namun belum ada kenaikan keuntungan selama satu bulan ini" jelasnya dengan tegas.


Kenichi membolak-balik lembaran kertas beberapa dan mata menyipit menatap tajam.


"Persentase penjualan meningkat sebesar 10% dan kau mengatakan tidak ada kenaikan keuntungan?" tanya Kenichi dengan suara rendah menyelidik.


Pria itu menelan ludah dengan susah payah.


"Itu karena ada beberapa pelanggan yang tidak bisa membayar hutang mereka kumicho" jelas pria sambil menundukkan kepalanya.


Kenichi menatap tajam.


"Bawa mereka ke hadapanku" Perintahnya.


Laki-laki itu memberikan aba-aba kepada anak buahnya, beberapa saat kemudian anak buah sang lelaki menyeret lima orang pria yang hanya memakai boxer. Kelima pria itu diikat dengan tangan ke belakang dan mulut yang di sumpal kain putih, wajah mereka babak belur dengan luka lebam di daerah mata dan tulang pipi.


Kenichi menatap satu persatu kelima pria yang berlutut dan menghela napas bosan


"Periksa kesehatan mereka lalu ambil organ tubuh apapun yang berguna sebagai bayaran hutang mereka" ujar Kenichi tenang namun tidak dengan perintahnya. Kata yang terucap dari mulutnya bagaikan pisau tajam yang menghujam kelima pria tersebut.


Kelima laki-laki itu di seret keluar tidak memperdulikan kata memohon maaf yang keluar dari bibir mereka, seketika ruangan kembali senyap.


"Kalian boleh bubar" perintah Kenichi.


Para anak buahnya berdiri dan membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan rapat.


...&&&...


Seika membuka mata perlahan lalu tersenyum sembari menatap langit-langit apartemen kecilnya. Kegiatan yang ia sukai akhir-akhir ini.


"Wonderful day" ujar Seika riang. Ia tidak menyangka bahwa hidup yang ia kira membosankan sebelum ia dipaksa tinggal di rumah yakuza begitu menyenangkan dan berarti dalam hidupnya. Sungguh hidup tenang yang sangat ia dambakan.


Seika menghela napas senang lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk memulai aktivitas kesehariannya.


Sieka memegang lutut yang berdarah seorang anak laki-laki yang berumur 7 tahun tanpa sarung tangan, ia mengambil alkohol dan menuangkan sedikit ke dalam kapas putih lalu mulai membersihkan luka goresan dengan penuh kelembutan, sang anak kecil itu meringis menahan sakit.


"Daijoubu (tidak apa-apa), sakitnya akan segera hilang" ujar Seika dengan nada menenangkan. Anak kecil itu menganggukkan kepalanya.


Setelah membersihkan luka, Seika pun memperban luka sang anak lalu tersenyum


"Selesai dan ini untukmu" ujar Seika sambil menyerahkan permen lolipop warna warni kepada anak pemberani tersebut.


"Terima kasih onee-chan" ujar anak laki-laki sambil tersenyum senang akan pemberian Seika.


"Panggil Aiko sensei Daichi" sang mama yang berdiri disamping Seika memperingatkan anaknya.


"Tidak apa apa, Dai-chan bisa memanggilku onee-chan, bukan begitu Dai-chan?" tanya Seika


Daichi menganggukkan kepalanya dengan senang.