
Shigeo mendorong tubuh Seika ke dalam sebuah kamar tidur. Seika jatuh berbaring di atas tempat tidur.
Shigeo menghampiri Seika dan mencengkeram wajahnya, menyuruhnya untuk menatap matanya. Namun Seika menundukkan pandangan ke arah lain.
Kau harus berani Seika, jangan menangis. Percuma kau menangis karena tidak ada orang yang menolong sekarang ini, sugesti Seika merapalkan kata-kata tersebut beberapa kali dalam hati, ia mengeratkan giginya supaya tubuhnya tidak terlihat bergetar.
Seika memalingkan wajahnya dengan kasar. Shigeo hanya tertawa terkekeh lalu berdiri dan duduk di kursi tidak jauh.
"Kau berusaha untuk terlihat tidak takut tapi tidak dengan matamu Seika" ujar Shigeo menyeringai.
Nyali Seika menciut mendengar perkataan Shigeo, namun Seika tetap mencoba bersikap kuat dan tenang.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kalau kau berpikir bisa menjebak Kenichi karena mengira aku adalah kekasihnya maka kau salah besar" ujar Seika dengan suara sedikit bergetar.
Seika menghirup napas dalam-dalam, menenangkan debaran jantungnya yang berpacu cepat karena ketakutan.
"Ohya? Jadi kau bukan kekasihnya Kenichi? Hm.. ini malah menjadi semakin menarik" ujar Shigeo.
"Apa hubunganmu sebenarnya dengan Kenichi?" tanya Shigeo menyelidik.
Seika terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan menjebak Shigeo.
"Aku hanya dokter pribadinya" jawab Seika berbohong.
Shigeo terkekeh kembali.
"Kau cukup dekat sampai bisa berkencan dengan Kenichi walaupun kau hanya seorang dokter pribadinya? " tanya Shigeo tetap dengan seringaiannya.
Seika terdiam.
"Apa yang dilihat Kenichi dari gadis sepertimu? Dari dulu dia tidak pernah membawa pulang gadis-gadisnya, secantik apapun dia. Tapi malah membawa pulang perempuan biasa sepertimu? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikirannya" ujar Shigeo sembari matanya menyelusuri setiap lekuk tubuh Seika.
"Sudah kubilang aku tidak punya hubungan apapun dengannya" ujar Seika bersikeras dengan alasannya yang memang kenyataan seperti itu. Walaupun terdengar sangat tidak masuk akal.
"Apa kau hebat di ranjang? Mungkin itu yang membuat Kenichi menyukaimu" ujar Shigeo sambil menyeringai.
Pupil mata Seika membesar mendengar perkataan Shigeo. Shigeo mengangguk mengerti dengan perkataan dirinya sendiri.
"Stay here and be good girl" ujar Shigeo lembut.
"Sekarang mari berbicara dengan teman lamaku" ujar Shigeo yang berbicara kepada dirinya sendiri. Ia keluar dari ruangan meninggalkan Seika yang sekuat tenaga menahan isak tangisnya.
Sepeninggal Shigeo, airmata Seika dengan cepat keluar dan mengenang lalu mengalir pelan, ia menggigit bibirnya supaya isakan tidak keluar dari mulutnya.
Tenang Seika, semua akan baik baik saja, Kenichi pasti langsung bisa membebaskanmu dari sini, ucap Seika dalam hati mencoba menenangkan dirinya.
Seika memeluk tubuhnya sendiri, ia masih menggigit bibirnya mencoba meredam suara isakannya, tanpa bisa ia cegah airmatanya terus mengalir pelan membasahi pipi, tubuhnya bergetar memikirkan bagaimana nasib hidupnya ke depan.
...&&&...
Telepon genggam yang bergetar diatas meja membuat Shigeo menyeringai, belum sampai beberapa menit ia mengirim pesan e-mail kepada Kenichi tapi sepertinya pria itu sudah meradang dengan isi pesannya.
"Halo teman lama" ujar Shigeo bernada gembira.
"Apa yang kau lakukan kepada Seika?" tanya Kenichi setengah berteriak.
"Santai Kenichi, dia baik-baik saja denganku" jawab Shigeo menyeringai senang, ini sungguh menyenangkan.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Seika, aku tidak akan melepaskanmu Shigeo" ujar Kenichi dengan nada mendesis.
Shigeo tertawa terkekeh.
"Wah, kau benar-benar menyukainya" komentar Shigeo terhadap ancaman Kenichi.
Suara telepon terputus membuat Shigeo semakin tertawa keras.
...&&&...
Kenichi menggenggam erat telepon genggamnya dengan kesal, rahangnya mengeras seiring dengan tatapan emosi yang ia perlihatkan.
"Beraninya dia bermain-main denganku" gumam Kenichi emosi.
"Akira, segera siapkan tiket untuk balik ke Tokyo" ujar Kenichi pelan mencoba menenangkan dirinya.
"Tapi kumicho anda masih ada pertemuan dengan tuan Lee" ujar Akira mengingatkan.
"Aku bilang siapkan segera tiketku" teriak Kenichi marah.
"Baik kumicho" ujar Akira mengerti sambil membungkukkan badannya.
Tangan Kenichi terkepal erat, berbagai pikiran buruk sudah menyelinap kedalam pikirannya.
...&&&...
Seika mengangkat wajahnya ketika pintu dibuka dari luar, seorang laki-laki berumur tiga puluhan masuk sambil membawakan sebuah yukata.
"Nona, ini pakaian untuk anda" ujar laki laki itu seraya meletakkan yukata diatas meja disamping tempat tidur.
Seika masih mematung menatap waspada kepada laki-laki tersebut.
"Saya akan menunggu diluar, sebaiknya anda segera berganti dan keluar untuk menemui tuan muda" saran lelakib tersebut lalu meninggalkan ruangan.
Seika menatap yukata berwarna merah muda dengan motif bunga sakura dengan pandangan nanar, beberapa saat kemudian gadis itu menghela napas lelah lalu mengambil yukata tersebut untuk dipakai.
...&&&...
Shigeo tersenyum melihat Seika yang sudah memakai yukata pemberiannya, rambut gadis itu diikat asal ke belakang dan tanpa riasan apapun diwajahnya, walaupun begitu Seika tetap terlihat cantik, namun Shigeo sedikit terganggu dengan sarung tangan yang dipakai Seika.
"Not bad" komentar Shigeo setelah meneluri tubuh Seika yang berbalut yukata dari kepala sampai ke kakinya.
Seika mengeratkan giginya dalam diam, tatapan Shigeo seperti sedang menatap seorang pelacur.
"Kemarilah" ujar Shigeo.
Seika terdiam di depan pintu kamar tidur Shigeo seraya menatap laki-laki itu penuh kebencian.
"Mengapa kau diam saja, aku bilang kemari" ujar Shigeo yang mulai kehilangan kesabarannya.
Seika masih tetap berdiri diam di ambang pintu. Shigeo berdiri dan menarik lengan Seika dengan cepat sampai membuatnya tersentak kaget.
"Sepertinya kau tipe gadis yang suka dengan kekerasan"
Shigeo mendorong Seika sampai terjatuh duduk di atas kursi lalu mencengkeram wajah Seika kemudian mencumbu bibirnya dengan kasar.
Seika membelalakkan matanya mendapatkan cumbuan kasar lalu memegang lengan Shigeo yang mencengkeram wajah dan bahunya kemudian memelintir tangan Shigeo dan menendangkan kaki laki-laki itu sekuat tenaga, pemberontakan Seika membuat cumbuan Shigeo terlepas.
"Kau bisa beladiri rupanya" ujar Shigeo dengan nada sedikit takjub.
Seika melihat ke sekelilingnya dan tatapannya berhenti pada sebuah pisau buah yang terletak tidak jauhnya, dengan tergesa-gesa gadis itu meraih pisau tersebut lalu mengacungkan ke arah Shigeo dengan marah.
"Aku akan membunuhmu kalau kau berani mendekat" ucap Seika dengan nada bergetar.
Pisau yang teracung ke arah Shigeo bergetar pelan, menunjukkan bahwa Seika sedang ketakutan dengan pria dihadapannya.
Shigeo menyeringai, hari ini sungguh hari yang menyenangkan baginya karena tidak hanya membuat pemimpin Yamaguchi-gumi kehilangan ketenangan yang selama ini ia perlihatkan namun menemukan gadis yang seperti kucing liar yang seakan menyuruhnya untuk dijinakkan.
"Kau yakin bisa membunuhku hanya dengan sebuah pisau?" tanya Shigeo remeh.
Seika masih mengacungkan pisau tersebut sambil menatap waspada ke arah Shigeo. Laki-laki dihadapannya kembali tertawa tanpa sebab lalu tiba-tiba memegang pisau ditangannya sambil menyeringai, tidak memperdulikan darah yang keluar dari tangannya.
Seika terkejut dengan tindakan nekad Shigeo lalu reflek melepaskan pegangan pada pisaunya, baru kali ini ada yang terluka karenanya.
"Hanya seperti itu keberanianmu? Seharusnya kau menggunakan kesempatan ini untuk membunuhku" ujar Shigeo dengan nada kecewa yang dibuat-buatnya walaupun dalam hati tertawa akan ketakutan Seika. Ia menjatuhkan pisau ke lantai.
Namun Shigeo terkejut karena bukannya takut Seika malah memegang tangannya seraya menatapnya dengan cemas.
"Kau gila, mengapa menyakiti diri sendiri?" tanya Seika sedikit panik.
Ia menatap ke sekelilingnya dan menemukan sepotong kain panjang warna hitam, tanpa kata gadis itu mengambil kain tersebut lalu membalut telapak tangan Shigeo dengan cepat, naluri dokternya membuat ketakutannya menguap entah kemana, sedangkan Shigeo masih terkejut akan perbuatannya.
"Kau seorang pemimpin, bagaimana kau bisa menjaga anggotamu jika dirimu sendiri tidak bisa kau jaga" ujar Seika memarahi Shigeo lalu terkejut dengan apa yang telah ia lakukan.
"Kau menolongku, tidak peduli dengan apa yang telah aku lakukan padamu?" gumam Shigeo tidak percaya kepada dirinya.
Seika hanya diam karena ia sama bingungnya dengan Shigeo. Seharusnya ia senang melihat orang dibencinya terluka namun ketika melihat darah yang menetes dari tangannya membuat Seika reflek membantu Shigeo.
Lama mereka terdiam sampai Seika berbalik badan dan segera keluar dari kamar Shigeo. Ia meninggalkan Shigeo yang masih termenung sambil menatap tangannya yang dibalut kain hitam yang rencananya akan ia gunakan untuk membekap mulut Seika jika gadis itu memberontak ketika ia ingin menikmati tubuhnya namun sekarang kain tersebut malah dipakainya untuk menutupi lukanya.
"Aku tidak percaya masih ada orang yang tulus di dunia ini" gumam Shigeo.
Sepertinya ia sedikit mengerti mengapa Kenichi jatuh cinta sampai membawa pulang Seika ke rumahnya. Shigeo tersenyum getir ketika jantungnya mulai berpacu cepat dan pikirannya penuh dengan kejadian yang barusan terjadi.
Ia juga telah jatuh cinta kepada Seika.