Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 38 - Lubang besar di hati Seika



“KEEEEN” teriak Seika frustasi, airmatanya mengalir tanpa bisa cegah.


Ia sangat bingung dengan suasana hatinya yang sangat berantakan yang ada di pikirannya sekarang ini adalah menangkap laki-laki yang tampak sangat familiar baginya. Seperti orang yang sangat penting dalam kehidupannya.


Kenichi menghentikan larinya sejenak, terkejut dengan panggilan Seika.


Apa Seika mulai mengingatnya? Tidak. Itu tidak akan terjadi. aku tidak ingin Seika kembali menderita karena mengingat penyiksaan yang Mark lakukan kepadanya, ucap Kenichi dalam hati.


Ia kembali berlari kemudian menyeberang jalan setapak, beberapa detik setelah Kenichi menyeberang lampu lalu lintas khusus pejalan kaki berubah menjadi merah.


Seika menghentikan langkahnya, ia terisak pelan. Ia tidak mendapati lagi bayangan Kenichi. Tanpa sadar Seika menangis, ia tidak memperdulikan tatapan bingung orang-orang yang melewatinya.


“Ken...” ujar Seika frustasi.


“Kau tidak apa-apa Seika?” tanya Shigeo yang berhasil menyusul Seika.


“Ken.. Ken apa? Ada apa denganku” gumam Seika sambil menangis.


Shigeo terkejut.


“Kau mengingat sesuatu?” tanya Shigeo memastikan.


Seika menggeleng pelan lalu menoleh kepada Shigeo.


“Apa aku punya seseorang yang dekat denganku atau seseorang yang ku kenal bernama Ken?” Seika berbalik tanya.


Shigeo hanya diam membisu. Ia tidak percaya, bahkan dalam keadaan putih pun Seika masih memilih Kenichi dari pada dirinya. Shigeo tersenyum kecut. Hari ini ia memutuskan untuk menyerah total akan gadis itu.


Seika masih terisak, ia merutuki dirinya. Tentu saja Shigeo tidak tahu. Ia sendiri saja tidak tahu mengapa dia bisa meneriakkan nama Ken dengan frustasi apalagi Shigeo.


Lelah dengan pemikirannya, Seika mencoba berdiri.


“Aku sudah tidak apa-apa. Sepertinya aku belum terlalu sembuh sampai berhalusinasi seperti ini. Nanti aku akan melakukan check up kembali” jelas Seika menghapus airmatanya lalu tersenyum.


“Ayo. Aku lapar Shigeo-kun” ujar Seika berjalan gontai.


Shigeo hanya tersenyum pelan dan mengikuti Seika kembali ke restoran untuk melanjutkan acara makan siang yang sempat tertunda.


Sedangkan Kenichi yang bersembunyi di salah satu gedung, memandang tidak percaya ke depannya.


Apa Seika mulai mengingatnya?, pertanyaan itu membuat Kenichi terbersit rasa harap dan senang.


Namun ketika mengingat kembali penderitaan yang Seika alami. Ia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran dan hatinya yang mulai berharap. Harapan Seika akan mengingat dirinya.


...&&&...


“Selamat datang kumicho” ujar Akira.


Kenichi mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, pikirannya masih melayang memikirkan tentang Seika yang memanggil namanya.


Ia menatap ke beranda kamar dengan pandangan nanar, walaupun tidak ingin Seika mengingat lagi akan dirinya namun jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat senang Seika memanggil namanya.


Kau sangat egois brengsek, gerutu Kenichi dalam hati dengan tangan terkepal kuat.


...&&&...


“Okaeri nasai onee-san” ujar Michio yang sedang mempersiapkan makan malam, ia memakai apron berwarna hitam.


“Tadaima Michio” ujar Seika lemah.


Ia menyeret langkahnya ke ruang tamu dan menjatuhkan badannya di sofa seraya menghela napas panjang.


“Onee-san kenapa?” tanya Michio bingung.


Seika kembali menghela napasnya, perasaannya masih tidak menentu seperti ada yang janggal dalam hatinya dan parahnya ia tidak tahu hal janggal tersebut. Alhasil Seika menjadi uring-uringan, bahkan ia tidak begitu antusias berbicara dengan Shigeo, laki-laki yang ia sukai.


“Sepertinya aku belum sembuh Michio” jawab Seika menatap menerawang.


“Maksudnya?” tanya Michio.


“Hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sangat familiar, Ken. Secara tidak sadar aku berteriak Ken, memanggil laki-laki yang tidak aku kenal. Kau mengenal temanku yang bernama Ken?” tanya Seika menoleh ke arah Michio.


Michio sedikit terkejut dengan penjelasan Seika namun ia mencoba bersikap tenang.


“Kau tidak mengenalnya kan? Aku sudah tau kalau aku hanya berhalusinasi. Aku harus memeriksa kondisi ku kembali” ujar Seika gusar.


Michio tidak merespon apapun.


“Makan malam sudah siap onee-san. ayo, aku akan meletakkannya di meja” ujar Michio mengalihkan pembicaraan.


Ia berjalan ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya.


Seika menatap tidak enak ke arah adiknya.


“Maaf ya. Aku membuatmu terus memasak untukku” ujar Seika.


Michio tersenyum.


“Tidak apa-apa, aku sudah biasa melakukannya. Aku bahkan pernah memasak untuk 50 orang” ujar Michio senang. Lalu tersadar akan perkataannya yang terdengar salah.


“Benarkah? Kau memasak untuk siapa sampai sebanyak itu?” tanya Seika tertarik.


Michio terdiam sesaat lalu tersenyum.


“Makan malam sudah siap. Ayo kita makan onee-san” ujar Michio kembali lalu mulai meletakkan piring di atas meja. Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.


Seika beranjak dan duduk di kursi makan, malam ini menu makan malamnya adalah miso soup dengan ikan goreng.


“Ini enak” ujar Seika tersenyum.


Michio juga tersenyum.


“Michio” panggil Seika sejenak.


Michio menatap kakaknya dengan mata menanyakan ‘ada apa’.


“Bagaimana kehidupan kita sebelum aku hilang ingatan? Maksudku sebelum aku kecelakaan mobil” tanya Seika penasaran.


Raut terkejut terlihat di wajah Michio.


“Tidak ada hal menarik. Onee-san selalu bekerja seperti biasanya dan aku menunggu di rumah, kalau wekeend kita pergi bersama mencari udara segar. Bukankah aku sudah menjelaskan sebelumnya” jelas Michio.


Seika menghela napasnya.


“Entahlah. Aku merasa seperti ada lubang di hatiku, terasa sangat janggal. Seperti ada yang kurang” ujar Seika sambil memegang dadanya.


Michio tersenyum pelan.


“Itu karena onee-san tidak mengingat apapun. Semua orang yang hilang ingatan juga merasakan hal yang sama bukan?” tanya Michio dengan nada menenangkan.


Seika mengangguk setuju walaupun tidak puas dengan penjelasan Michio.


“Aku sangat ingin segera mengingat kembali apa yang telah aku lewati selama setahun ini” ucap Seika pelan.


“Tidak ada hal yang spesial onee-san. keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan kita sekarang. Percaya padaku jadi onee-san tidak perlu mengingatnya kembali” ujar Michio lalu beranjak ke dapur sambil membawa piring kotor.


Kau mengatakan tidak ada yang spesial, namun mengapa kau terlihat sedih saat mengatakan itu Michio?, tanya Seika dalam hati menatap dalam.


“Berapa usiamu Michio?” tanya Seika mengalihkan pembicaraan.


“Tahun ini akan genap 18 tahun, kenapa onee-san?” tanya Michio.


“Aku baru sadar satu hal, kau tidak sekolah? Aku tidak menyekolahkanmu?” tanya Seika bingung.


Michio tersenyum kaku. Tubuh terdiam sejenak.


“Aku memang tidak sekolah karena suatu hal” jawab Michio.


“Karena suatu hal apa?” tanya Seika penasaran.


Aku membantu kumicho-san dan seminimal mungkin untuk tidak membebaninya, jawab Michio dalam hati.


“Aku tidak nyaman membicarakan masa laluku. Mengertilah onee-san” ujar Michio.


Seika tersenyum kecut, ia mengerti penjelasan adiknya walaupun ia masih penasaran. Seika merasa seperti ada tembok besar yang memisahkannya dengan Michio, terlalu banyak teka teki dalam hidup barunya, seperti yang pemuda itu katakan mungkin karena ia kehilangan ingatannya makanya seperti ada jurang dalam dalam hatinya yang membuatnya tidak nyaman.