
Shao Chen memasuki sebuah gedung yang berada di kawasan Macau bersama anak buahnya. Ia menendang pintu sampai terbuka dan membuat orang-orang yang berada didalamnya terkejut.
“Mark, Siapa gadis ini sebenarnya?” tanya Shao sambil menatap Seika yang terduduk lemah di kursi.
Penampilan Seika sangat berantakan, ia masih memakai kemeja yang beberapa hari yang lalu yang ia pakai dan rambut yang acak-acakan. Tatapan Seika seperti tidak mempunyai kehidupan di dalamnya, hanya tatapan kosong yang tidak berarti.
“Apa maksudmu?” tanya Mark tidak mengerti.
“Kau bilang kalau gadis ini hanya pelacurnya Kenichi, lalu kenapa semua pemimpin klan sampai kelompoknya yang berada di Macau sibuk mencari gadis ini?” tanya Shao emosi.
Mark menelan ludah susah payah.
“Dia memang pelacurnya Kenichi” ujar Mark gugup.
“Bos, Seika pingsan” lapor Ryan.
“Bawa dia ke kamar, kalau sudah sadar. Beri dia obat lagi. Kita tidak punya banyak waktu” perintah Mark.
Shao mencengkeram kerah Mark dengan kesal.
“Katakan yang sebenarnya padaku Mark. Siapa gadis itu bagi Kenichi?” tanya Shao bersuara rendah.
“Dia pelacurnya Kenichi. Aku mengatakan yang sebenarnya” ujar Mark mencoba melepaskan cengkeram tangan Shao.
Shao melepaskan cengkeramannya.
“Jika Kenichi sendiri yang menemuiku. Aku juga tidak akan melepaskanmu. Ingat itu Mark” peringatan Shao dan pergi meninggalkan gedung tersebut.
Mark memegang lehernya yang nyeri lalu masuk ke dalam kamar Seika dengan cepat, ia harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.
...&&&...
Shao Chen duduk bersandar di kursi yang memiliki selonjoran di samping jendela kaca, ia menatap gedung-gedung tinggi di hadapannya sambil memegang gelas berisi wine berwarna merah.
Ia sedang memikirkan Seika yang baru ia bawa ke Cina beberapa hari yang lalu, ia sudah memastikan bahwa Seika hanya salah satu wanita Kenichi, tidak ada hubungan khusus antara Seika dan Kenichi karena Kenichi tidak pernah membawa gadis itu ke tempat kerjanya ataupun menghadiri acara-acara kolega bisnisnya.
Tapi kenapa sekarang seluruh kelompok yang berada di bawah sayap Kenichi mencari gadis itu, tanya Shao Chen dalam hati.
Shao menghela napas panjang. Ia mengakui bahwa Seika sangat menguntungkannya, melalui Seika ia bisa tahu rahasia rahasia musuhnya bahkan ia mendapatkan rahasia terbesar dari musuhnya yang berada di Cina.
Namun ketika mengingat ia akan menghadapi mafia terbesar di Jepang itu, ia memilih untuk melepas tangan dari ikut campurnya dalam masalah Seika.
Bagaimana pun kekuatan Kenichi lebih besar dari kelompoknya. Ia bahkan yakin Kenichi bisa menghancurkan kelompoknya jika saja laki-laki itu mau, walaupun sulit tapi masih mempunyai kesempatan untuk menang.
Suara ketukan pintu membuat lamunan Shao buyar.
“Masuk” ujar Shao.
Seorang laki-laki paruh baya bersetelan jas masuk dan membungkukkan badannya.
“Ada apa?” tanya Shao.
“Tuan Kenichi Shinoda ingin bertemu dengan anda” lapor laki-laki tua itu.
Shao terkejut.
“Perbolehkan dia masuk dan perlakukan dia sebaik mungkin” ujar Shao gugup.
Laki-laki tua itu membungkuk hormat lalu melangkah keluar.
Shao menggengam erat gelas wine sampai gelas itu pecah dan pecahan kaca mengenai tangannya, namun ia tidak memperdulikan luka ditangannya. Rahangnya mengeras dengan suara gigi gemerutuk.
“Sialan kau Mark. Kau menipuku” gumam Shao penuh emosi.
...&&&...
“Selamat datang Kenichi, ada apa sampai kau sendiri yang menemuiku” ujar Shao menyambut hangat kehadiran Kenichi.
Akira dan kelima belas anak buah Kenichi yang bertugas di Macau segera menodongkan pistol ke arah Shao tanpa basa-basi. Gerakan mereka membuat anak buah Shao yang berada di ruangan besar terkejut dan reflek melakukan hal yang sama.
Akira tidak bergeming, ia tetap menodongkan pistolnya ke arah Shao sedangkan beberapa anak buah Kenichi mengubah arah pistol mereka ke masing-masing anak buah Shao. Keadaan tiba-tiba berubah memanas.
“Dimana Mark?” tanya Kenichi pelan.
Ia masih berdiri tanpa bergerak seinchi pun, matanya menatap tajam ke arah Shao.
Shao menghela napasnya, mencoba bersikap tenang.
“Kau mencari gadis itu?” Shao berbalik tanya.
Kenichi mengeluarkan pistolnya, Shao juga melakukan hal yang sama. Mereka mengarah pistol kepada satu sama lain.
“Aku tanya sekali lagi, dimana Mark?” tanya Kenichi setengah berteriak.
“Dia berada di salah satu markasku yang berada di Macau, anak buahku akan mengantarmu kesana” jawab Shao.
Kenichi menurunkan pistolnya diikuti oleh Akira dan para anak buah Kenichi, mereka keluar dari rumah Shao.
“Aku minta maaf mengenai gadismu” ujar Shao.
Kenichi berhenti sejenak dan menoleh kepada Shao.
Shao menurunkan pistolnya lalu kembali menghela napas gugup. Ia akan berada dalam keadaan genting sekarang.
...&&&...
Akira dan anak buah Kenichi berjalan lebih dahulu dengan pistol ditangan mereka. Laki-laki berambut cepak yang bertugas mengantar Kenichi ke salah satu markas mereka di kawasan Macau berulang kali menghela napasnya, ia begitu takut saat ini.
Anak buah Shao yang bertugas di depan gedung tersebut mengambil pistol dari balik jas mereka ketika melihat rombongan besar Kenichi berjalan sambil memegang pistol.
Namun laki-laki berambut cepak mengangkat sebelah tangannya, memerintahkan mereka untuk tenang.
Kenichi berjalan masuk ke gedung dengan tenang, namun tidak dengan raut wajahnya. Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal.
Bertahanlah Seika, sebentar lagi kau akan bebas sayangku, ucap Kenichi dalam hati.
Kenichi masuk ke dalam lift ditemani oleh dua anak buahnya dan laki-laki berambut cepak. Mereka menuju lantai tujuh. Tempat Seika di sekap.
Lift berdenting dan terbuka.
Anak buah Shao dan Kenichi bergerak terlebih dahulu.
Door!!
Door!!
Door!!
Terjadi baku tembak dilantai tersebut.
“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya seorang laki-laki.
Anak buah Shao tidak menjawab dan langsung menembak laki-laki di hadapannya dan berjalan maju.
Door!!
Door!!
Kedua anak Kenichi terkapar tertembak oleh seorang laki-laki yang bersembunyi di balik dinding penghubung lorong dengan ruangan lainnya.
Anak buah Shao langsung bersembunyi.
Kenichi berdecak kesal. Ia mengeluarkan pistol dan langsung menembak ke depannya tanpa peduli ia akan tertembak.
Di pikirannya hanya dipenuhi oleh Seika. Semakin ia membuang waktu keselamatan Seika akan semakin terancam.
Laki-laki yang bersembunyi di balik dinding tidak berani membalas tembakan karena Kenichi terus menembak ke arahnya sampai akhirnya ia tertembak tepat di kepala karena Kenichi sudah bergerak maju kepadanya.
Akira dan anak buah Kenichi lainnya baru sampai di lantai tujuh dan langsung berlari ke arah depan Kenichi, melindungi pemimpin mereka.
Akira menendang pintu ruangan tempat Seika di sekap. Beberapa orang yang beberapa dalam ruangan tersebut langsung mengarahkan pistol mereka kepada Kenichi.
Door!!
Door!!
Door!!
Beberapa tembakan mengenai orang-orang tersebut. Kenichi Tidak mendapati Seika di ruangan besar tersebut, ia pun melangkah ke kamar yang terletak di samping kirinya.
Mata Kenichi membulat ketika melihat Seika yang terbaring di tempat tidur dengan tangan terikat dibesi kepala tempat tidur. Ia berlari menghampiri dan membuka ikatan tali tersebut.
“Seika. Seika sayang. Bangun sayang” ujar Kenichi cemas.
Di tepuk tepuk pipi Seika dengan pelan beberapa kali.
“Sayang. Aku mohon bangunlah” ujar Kenichi serak.
Beberapa saat kemudian Seika membuka matanya lalu menatap Kenichi sambil tersenyum, rasa lega membanjiri Kenichi ketika mengetahui bahwa gadisnya baik-baik saja. Namun kelegaan itu hanya bertahan sesaat karena Kenichi menyadari Seika menatapnya seperti menatap ke belakangnya, menembus laki-laki itu. Menatapnya dengan tatapan menerawang.
“Seika” panggil Kenichi takut.
Seika tersenyum lalu tertawa sendiri. Tatapan kosong terlihat dimatanya seperti tidak ada kehidupan.
“Kau kenapa Seika?” tanya Kenichi semakin takut.
Seika tidak menjawab. Gadis itu malah tertawa seperti orang bodoh.
“Kumicho. Mark dan Ryan melarikan diri, beberapa anggota kita sudah mengejarnya” lapor Akira yang masuk ke dalam kamar tersebut.
“Jangan sampai lolos, bawa mereka hidup-hidup ke hadapanku” ujar Kenichi.
“Baik kumicho” ujar Akira.
“Seika. Mengapa kau jadi seperti ini” ujar Kenichi serak.
Airmata yang mengenang di pelupuk mata Kenichi mengalir pelan. Ia terus memeluk Seika yang tertawa tanpa memberontak. Gadis itu seperti mempunyai dunianya sendiri.
Akira terkejut dengan nada serak Kenichi, ini pertama kalinya ia mendengar pemimpinnya menangis. Akira segera menginformasikan kepada anggotanya untuk menangkap Mark dan Ryan hidup hidup.
Kenichi mengangkat tubuh Seika dan melangkah keluar. Akira mengikuti dari belakang, mereka keluar dari gedung menuju rumah sakit yang berada di Macau.