Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 19 - Rencana Kabur



Seika menoleh ke arah pintu kamar ketika pintu dibuka dari luar, Shigeo tersenyum kepada Seika.


"Dinner time" ujar Shigeo menyuruh Seika untuk bergabung ke ruang makan.


"Aku makan dikamar saja ya, kepalaku se..."


"Jangan mencari alasan, kita akan makan malam hanya berdua jadi kau tidak perlu khawatir" ujar Shigeo memotong ucapan Seika.


Seika mencibir dalam diamnya.


"Aku tunggu di ruang makan" ujar Shigeo lalu keluar dari kamar Seika.


Seika mengikuti Shigeo sambil memayunkan bibirnya karena kesal.


"Kita makan sushi?" tanya Seika menatap ke arah meja makan yang dipenuhi oleh sushi berbagai jenis.


"Kenapa kau tidak suka?" tanya Shigeo


Seika menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia suka, siapa yang tidak suka dengan sushi, dengan senang Seika mengambil tempat duduknya kemudian memenjamkan matanya seraya mengucapkan 'ittadakimasu' dan mulai melahap sushi di hadapannya.


"Ini enak" komentar Seika dengan mulutnya yang penuh.


"Telan dulu makananmu baru berbicara" ujar Shigeo tersenyum melihat cara makan Seika.


Seika hanya tersenyum menyengir lalu kembali memasukkan nigri sushi ke dalam mulutnya namun beberapa saat kemudian gadis itu mengerutkan keningnya dan menutup mulut dan hidungnya menahan betapa pedasnya sushi tersebut.


"Aku tidak suka wasabi" komentar Seika mengibaskan mulutnya dengan tangannya lalu meraih gelas berisi air putih dan meminumnya dengan cepat.


"Pelan-pelan kau bisa tersedak jika minum seperti itu" ujar Shigeo menasehati.


"Kenichi selalu memesan sushi tanpa wasabi, karena kebiasaan aku jadi tidak memperhatikannya" ujar Seika di sela meringis karena pedas.


Gerakan tangan Shigeo yang ingin memakan sushi terhenti di udara sejenak lalu tersenyum kecut dan memakan sushi dalam diam.


"Apa Kenichi pernah menceritakanku kepadamu?" tanya Shigeo


Seika menggelengkan kepalanya.


"aku hanya mendengar pernah kalau kau adalah pemimpin kelompok Sumiyoshi-kai" jawab Seika.


"Jadi kau tidak tahu bahwa dulu aku pernah menjadi sahabatnya Kenichi?" tanya Shigeo.


Seika membuka mulutnya karena terkejut dengan pertanyaan yang seperti pernyataan dari mulut Shigeo.


Shigeo sahabatnya Kenichi?!


"Aku sahabatnya Kenichi. Dulunya" ujar Shigeo kembali.


Seika mengerjap mata tidak percaya.


"Terus mengapa kalian sekarang bermusuhan?" tanya Seika tidak mengerti.


"Semasa SMA aku bersekolah di daerah Kobe dan bertemu dengan Kenichi, banyak teman sekolah Kenichi yang memilih menjauhinya karena tau bahwa dia adalah anak pemimpin terbesar yakuza"


Seika tau bagaimana rasanya sendirian di sekolah, karena ia juga tidak mempunyai teman sebelum bertemu dengan Kenichi.


"Tapi tidak denganku karena aku juga seorang anak pemimpin yakuza, akhirnya kami berjalin persahabatan dengan erat, membolos sekolah atau bertarung dengan sekolah lain bersama selama dua tahun tanpa mengetahui bahwa kelompok kami saling bermusuhan namun semenjak kematian oyaji, kami baru tau menyadari bahwa aku dan Kenichi tidak ditakdirkan untuk berteman namun bermusuhan karena masalah kelompok yang semakin memanas"


Seika menyimak penjelasan Shigeo dengan tatapan sendu. ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kenichi dan Shigeo saat itu.


"Dua tahun yang lalu adalah puncak pertikaian kelompok, kami berdua bahkan hampir terbunuh saat itu" jelas Shigeo


Seika menoleh dan menatap nanar ke arah piring sushi lalu menatap Shigeo sesaat. Ia sungguh tidak tau jika Shigeo dan Kenichi pernah berteman dimasa lalu. Tidak ada yang mengatakan kepadanya, Seika tidak bisa membayangkan apa saja yang sudah Kenichi korbankan demi kelompoknya. begitu besar beban yang harus di pikul Kenichi dalam menjalankan kelompoknya.


Kenichi meninggalkan semua hal tentang kehidupan pribadinya dan berjalan di dunia gelap tersebut sendirian, tanpa ada orang yang bisa dan mau menemaninya ataupun orang yang bisa ia jadikan tempat keluh kesah, bahkan teman satu-satunya dalam hidup Kenichi berubah menjadi musuh karena masalah organisasi.


Seika menghela napas, saat ini ia sangat ingin memeluk Kenichi dan mengatakan bahwa masih ada dirinya yang bisa ia jadikan tempat untuk menjadi diri sendiri tanpa memikirkan masalah kelompok yang melelahkan.


Tanpa sadar airmata Seika mengalir pelan.


"Mengapa kau menangis?" tanya Shigeo bingung.


Airmata Seika kembali menangis, ia mulai terisak pelan sambil menutup mulutnya menahan suara isakan, tubuh terguncang pelan.


"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Shigeo cemas.


Shigeo mematung mendengar gumaman Seika.


...&&&...


Shigeo masuk ke dalam kamar Seika dan melihat gadis itu sedang tertidur lelap. Ia duduk di samping tempat tidur seraya terus memandang ke arah wajah Seika. Ia tersenyum sedih ketika melihat jejak airmata yang tampak di pipi gadis itu.


"Mengapa kau sangat mencintainya Seika?" tanya Shigeo pelan.


Shigeo membelai rambut Seika dengan pelan, namun tetap membuat Seika terganggu dan berpindah posisi tidurnya membuat jejak airmata Seika semakin terlihat.


"Ken.." ujar Seika dalam tidurnya. Airmatanya kembali mengalir pelan.


Shigeo tersenyum nanar.


"Kau akan segera bertemu dengan Kenichi. Jadi tolong jangan menangis lagi" pinta Shigeo dengan nada pahit.


Entah kenapa setelah Shigeo mengatakan hal tersebut, airmata Seika berhenti.


"Aku akan membebaskanmu tapi aku akan meminta sedikit imbalan darimu" ujar Shigeo lalu mendekatkan wajahnya mengecup pelan Seika dengan sangat lembut dan beranjak keluar kamar.


...&&&...


Shigeo menekan beberapa nomor kemudian mulai menempelkan telepon tersebut di telinganya.


"Apa kabar Michio?" tanya Shigeo tenang.


"Seika baik-baik saja. Jangan khawatir" jawab Shigeo setelah mendengar telepon dari lawan bicaranya.


"Hahaha, tidak ada gunanya kau marah-marah kepadaku Michi-chan" ujar Shigeo bercanda.


"Tunggu, jangan di tutup. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" ujar Shigeo tenang.


"Aku ingin meminta bantuanmu, hanya kau yang bisa membantuku dan tolong jangan beritahu Kenichi" ujar Shigeo serius.


...&&&...


Seika terkejut melihat Michio yang duduk di ruang tamu rumah Shigeo sambil tersenyum manis kepadanya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Seika panik.


"Aku ingin bertemu denganmu anee-san" jawab Michio dengan tenang.


Seika melirik ke arah dua orang laki laki yang berdiri di ujung pembatas ruang tamu dengan ruangan lainnya yang bertugas mengawasinya selama ia berada di rumah Shigeo.


Seika semakin panik. Bagaimana jika mereka menyakiti Michio?, tanyanya dalam hati.


"Tidak apa-apa anee-san" ujar Michio menjawab keresahan Seika.


Seika menghela napasnya, walaupun Michio mengatakan tidak apa-apa tapi Seika tetap saja cemas.


"Kumicho-san sangat menderita karena tidak ada anee-san disana" ujar Michio mengadu.


Seika melirik Michio sesaat lalu menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa untuk perkataan Michio. Karena ia juga menderita disini.


"Ah.. Aku membawakan bento buatanku, cobalah. Anee-san pasti merindukan masakanku kan?" tanya Michio mengalihkan pembicaraan sambil menyodorkan sebuah kotak makan siang ke arah Seika.


Seika tersenyum sumringah, mencoba melupakan kesedihannya lalu membuka kotak makan siang, tapi beberapa saat menutupnya kembali dengan panik dan menatap Michio yang tersenyum ke arahnya.


Di dalam kotak yang berisi nasi tersebut terdapat kata '7 malam melarikan diri' dalam huruf kanji yang dibentuk dari rumput laut kering. Ia menatap Michio dengan panik sedangkan pemuda tersebut hanya tersenyum lebar.


Seika menarik napasnya dalam-dalam lalu menghela napasnya berlahan kemudian membuka kembali tutup kotak makan dan mengaduk nasi putih dengan panik, mencoba menghilangkan huruf kanji yang terdapat diatasnya, Michio hanya tersenyum melihatnya. Ia bersikap santai walaupun ia sedang berada di kawasan musuh kakaknya.


"Apakah enak anee-san?" tanya Michio.


Seika menganggukkan kepalanya,


"Terima kasih Michio, ini sangat lezat" ujar Seika tersenyum manis.


Seika kesusahan dalam menelan makanannya karena takut dan panik yang ia dera bersamaan. Ia akan melarikan diri dari sini dan bertemu dengan Kenichi. laki-laki yang sangat ia rindukan selama ini. baru kali ini Seika merasakan rindu yang dalam kepada orang lain.


Michio tersenyum samar melihat Seika tersenyum seperti mengingat sesuatu, ia pamit pulang setelah kakak perempuannya menghabiskan makan siang buatannya.