
"Apa maksud onee-san?" tanya Michio terkejut.
Seika terdiam sesaat lalu menggelengkan kepala. Aoi yang sedari tadi hanya diam saja mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan perkataan Seika.
Gadis itu tidak tahu bahwa Seika pernah di culik, yang ia tahu Kenichi mengatakan bahwa gadis itu kecelakaan mobil lalu kehilangan ingatan dan berpesan jika suatu saat Seika menanyakan Kenichi maka Aoi hanya menjawab tidak.
"Aku tidak tahu tapi ketika melihat pisau, sekelebat tentang sebuah pisau hampir mengenai tanganku masuk ke dalam pikiranku begitu saja" Seika kembali menggelengkan kepala, ia sendiri sangat bingung dan bahkan tidak tau apakah memori yang ada dalam pikirannya itu adalah sebuah memori miliknya atau hanya halusinasi saja.
"Nanti saja kita bahas. Sekarang onee-san pulang denganku, aku tidak yakin onee-san masih bisa melanjutkan pekerjaan onee-san setelah semua yang terjadi" Ucap Michio.
Aoi mengangguk setuju. "Sensei pulang saja, hari ini kita akan tutup klinik lebih cepat".
Seika menghela napas beberapa kali, mengusir bayangan yang mengusik jiwanya lalu mengangguk pelan. Lebih baik ia menenangkan pikirannya dari pada membuat pasiennya tidak nyaman akan sikap tidak profesional karena terperanguh oleh masalah pribadi.
&&&
"Kau yakin?" Tanya Kenichi dengan raut wajah tegang, ia menggenggam erat telepon miliknya. Laki-laki itu sedang mengadakan rapat dengan anak buahnya di kawasan Kamagasaki yang ada di daerah Osaka. Para pemimpin klan dan para anak buah menatapnya dengan wajah bingung.
"Baiklah. Terus awasi dia. Kalau ada apa-apa segera laporkan kepadaku" perintah Kenichi lalu menutup teleponnya.
"Kumicho, apa sesuatu terjadi?" Tanya Kaede hati-hati.
"Tidak ada apa-apa, jadi bagaimana dengan transaksi terakhir? Apakah berhasil?" Tanya Kenichi mengalihkan pembicaraan.
Kaede menganggukkan kepala. "Semua berjalan dengan lancar".
"Kerja bagus". Kenichi berdiri dan melangkah keluar dari ruang rapat lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia memandang bangunan-bangunan yang dilewati dengan tatapan menerawang.
"Akira" Panggil Kenichi tanpa menoleh.
"Ya kumicho".
"Apa aku harus menambah anggota untuk mengawasi Seika?" Tanya Kenichi, tatapan laki-laki itu sarat akan kekhawatiran.
"Kenapa kumicho? Apa terjadi sesuatu dengan anee-san?" Akira berbalik tanya.
Kenichi menghela napas panjang. "Aku rasa ini salahku, aku hanya ingin Seika tidak lagi menemuiku. Akan sangat susah bagiku untuk melepaskannya jika Seika terus mendatangiku tapi aku malah membuatnya menjadi trauma akan pisau".
Akira terdiam sejenak. "Aku percaya apapun yang anda putuskan adalah hal yang terbaik untuk kami dan anee-san".
Kenichi tersenyum remeh kepada dirinya sendiri. "Kalian terlalu mempercayaiku".
Akira melirik Kenichi dari balik kaca spion lalu kembali fokus menatap ke depan. "Itu karena kami melihat sendiri bagaimana hebatnya anda kumicho, karena anda lah kami mempunyai tempat pulang yang namanya rumah, oleh karena itu aku dan para anak buah anda akan mengabdikan hidup kami hanya untuk anda kumicho".
Kenichi tidak merespon, ia menatap bangunan yang ia lewati dengan pandangan nanar.
Tapi sekarang aku malah membuat wanita satu-satunya yang aku cintai menjadi trauma karenaku, Ucap laki-laki itu dalam hati.
&&&
"Jadi katakan, apa aku pernah di culik sebelumnya?" Tanya Seika to the point ketika mereka sampai di rumah.
Seika menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. "Kau tidak membohongiku kan?".
"Untuk apa aku membohongi mu onee-san, setahuku kau memang tidak pernah di culik. Apa yang onee-san ingat?" jelas Michio sembari tersenyum.
"Entahlah, aku seperti melihat tubuhku di pegang oleh seseorang dan tanganku di letakkan di meja dan tiba tiba..." Napas Seika tercekat, ia menghela napas beberapa kali sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Dan tiba-tiba seseorang menancapkan pisau dengan cepat di antara jari jemariku, setiap kali mengingatnya tubuhku langsung bergetar ketakutan".
Michio hanya diam mendengarkan, rahangnya menjadi keras, ia menjadi sedikit mengerti penyiksaan seperti apa yang kakaknya alami.
"Sudahlah, jangan di ingat lagi, semua itu hanya mimpi buruk onee-san bukan kenyataan" Ucap Michio mencoba menghibur.
Seika hanya diam membisu.
&&&
"Apa kabar Kenichi?" Tanya Shigeo sambil mempersilahkan Kenichi untuk masuk.
Kenichi tersenyum. "Aku baik-baik saja. Kau jarang mengunjungi Kobe sekarang".
Shigeo dan Kenichi duduk di ruang tamu, sedangkan Akira dan dua orang anak buah Shigeo berdiri di sebelah pimpinan mereka.
Shigeo mengangkat bahunya merespon perkataan Kenichi. "Aku sudah bosan dengan Seika".
Kenichi menatap tajam kepada temannya. Walaupun ia tahu temannya hanya bercanda namun ia sangat tidak menyukai kalimat yang keluar dari mulut Shigeo.
"Seika dalam keadaan kosong pun masih memilih laki-laki brengsek sepertimu, mantra apa yang kau masukkan ke dalam pikirannya sampai tergila-gila padamu seperti itu. Gadis yang pikirannya penuh dengan laki-laki lain tidak menyenangkan dan membosankan bagiku" Shigeo mengibaskan tangannya acuh tak acuh.
Kenichi tersenyum miring mendengar gurauan sahabatnya.
"Bagaimana kabar Seika?" Giliran Shigeo yang bertanya.
"Dia baik-baik saja".
"Kau masih menghindarinya?" Tanya Shigeo kembali.
Kenichi terdiam sesaat. "Itu yang terbaik untuk Seika".
Akira menghela napas panjang. "Sampai kapan kau akan lari dari kenyataan?Aku yakin cepat atau lambat ingatan Seika akan kembali dan kalau waktu itu tiba apa yang akan kau lakukan Kenichi?".
Kenichi hanya diam membuat Shigeo menjadi kesal, ia mencengkeram kerah baju temannya dengan gerakan cepat.
"Dasar pengecut, kau bilang ini yang terbaik untuk Seika, huh. Fuzakena (jangan bercanda) . Kau hanya lari dari mimpi burukmu Ken. Kau pikir jika kau melepas Seika maka dia akan aman?!" Tanya Shigeo setengah berteriak.
Kenichi mengeraskan rahangnya. Ia tidak bisa membantah perkataan Shigeo karena semuanya memang benar adanya, ia lari dari kenyataan. Satu hal yang Kenichi alami setelah kejadian yang menimpa Seika. Hampir setiap malam ia bermimpi kalau Seika menjadi gila dan memohon kepadanya untuk diselamatkan dan itu sangat membuatnya frustasi.
Mendapati tidak ada respon dari Kenichi, Shigeo melepaskan kerah baju temannya dengan kesal. Walaupun ia bisa mengerti kalau tidak hanya Seika saja yang trauma dengan penculikan tersebut. Namun ketika melihat Kenichi yang tidak membantah apapun perkataannya membuat laki-laki itu menjadi kesal tanpa bisa di kontrol.
Baik Kenichi dan Shigeo duduk diam dengan pikiran mereka masing-masing.