Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Lari dari kenyataan



“Kenapa Kenichi? Mengapa wajahmu tiba-tiba pucat?” tanya Seika cemas.


Terjatuh sudah airmata Kenichi, ini ketiga kalinya ia menangis dalam hidupnya. Tubuh Kenichi bergetar pelan, berbagai kemungkinan terburuk menyusup dalam kepalanya. 


Tidak, ia sungguh tidak ingin lagi melihat Seika menjadi gila.


“Maafkan aku Seika” Bisik Kenichi memeluk Seika.


“Ken. Kau kenapa?” tanya Seika semakin cemas mendengar nada sedih Kenichi.


“Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu, menjaga bayi kita” gumam Kenichi sambil terus mengeratkan pelukannya – lebih tepatnya – menopang tubuhnya kepada Seika.


“Apa maksudmu Ken?” tanya Seika, suaranya tercekat.


Ia baru tersadar bahwa penculikan dirinya terjadi setahun yang lalu dan itu terjadi saat dia sedang mengandung janin Kenichi.  Ia tidak bisa bernapas secara benar ketika kenyataan demi kenyataan memasuki kepalanya.


“Ken.. bayi kita, bayi ku…” Suara Seika terputus, tidak bisa melanjutkan perkataannya, suaranya tercekat di tenggorokan, air matanya kembali mengalir. Ia sangat terkejut dan syok dengan kenyataan yang menamparnya begitu kuat.


Baik Seika maupun Kenichi sama sama terlambat mengetahui tentang keguguran janin hasil cinta mereka. Masa depan untuk melihat wajah bayi mereka, rasa ingin tahu bayi mereka akan mirip dengan siapa atau pun melihat bayi tersebut tumbuh dengan rasa kasih sayang yang besar lenyap begitu saja. Harapan indah itu hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik.


“Bayiku... bayiku yang malang!!” Tubuh Seika terguncang hebat. Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan beban yang menusuk ulu hati. Kenichi mengeratkan pelukannya, mencoba menguatkan Seika walaupun sebenarnya ia juga perlu di kuatkan. Mimpi buruk mereka berakhir dan dimulai kembali dalam waktu bersamaan.


&&&


Seika duduk termenung di kamarnya, karena kondisinya baik baik saja akhirnya dokter memperbolehkannya untuk pulang. 


Seika memilih untuk kembali ke rumahnya daripada rumah Kenichi, ia butuh waktu sendiri walaupun ia tahu bahwa hal itu tidak berguna. Ia menatap bangunan rumah yang tersusun rapi dari balkon kamarnya yang menghadap jalan dengan tatapan nanar. Sudah beberapa hari ia tidak bekerja bahkan tidak keluar kamar dan mengabaikan panggilan Michio dan Kenichi.


Seika membayangkan kehidupan masa depannya yang telah di karunia anak yang cantik sepertinya atau pun tampan seperti Kenichi. Mereka akan sarapan, makan siang atau makan malam bersama kemudian jika anaknya perempuan maka Seika akan mengajari anaknya tentang memasak, menyulam atau pun pekerjaan yang biasa wanita lakukan.Jika itu anak laki-laki, maka tentu saja ia akan mengajari anaknya beladiri dan bagaimana menjadi pemimpin berikutnya Yamaguchi-gumi seperti ayahnya. Kenichi.


Seika menghela napas panjang, walaupun pikirannya terus membangun dunia khayalannya sendiri namun hatinya tetap mengatakan bahwa itu tidak akan terjadi karena Seika sudah kehilangan janinnya. Kenyataan tersebut membuat airmata Seika kembali mengalir, matanya memerah dan membengkak. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk menyendiri dan menangis seperti itu. Namun ia tetap ingin melakukan hal yang tidak berguna tersebut.


Michio menghela napas ketika melihat kakaknya hanya mengurung dirinya. Ia menatap Kenichi yang duduk termenung, kondisi laki-laki tidak jauh berbeda. Michio mengepal tangan kuat, kelompok kecil yang menculik Seika adalah di bawah naungan klan Yamagi yang secara langsung berada di bawah tanggung jawabnya membuatnya juga ikut merasa bersalah. Ia bahkan tidak bisa menghibur Seika karena rasa bersalahnya. 


Kenichi duduk termenung. Ia paham, keguguran akan membuat Seika syok dan tidak mau menerima kenyataan yang sudah setahun berlalu. Bagaimana pun Seika adalah ibu dari janin yang dikandungnya. Jadi rasa kehilangan akan bayi mereka jauh lebih mempengaruhi Seika. 


&&&


Michio terkejut melihat Seika berdiri di depan pintu kamar seraya tersenyum kepadanya.


“Anee-san, kau baik-baik saja?” Tanya Michio bernapas lega.


Seika mengangguk. Ia melangkah keluar tanpa mengatakan apapun membuat Michio segera menggenggam tangan Seika.


“Kau mau kemana anee-san?” tanya  Michio tersenyum. 


“Aku? Aku ingin mencari bayiku” Jawab Seika tersenyum.


“Anee-san” panggil pemuda itu dengan nada memohon. Ingin sebenarnya ia berteriak kepada Seika bahwa janin itu sudah keguguran jadi tidak ada seorang anak pun yang Seika punya, namun melihat tatapan rapuh yang kakaknya perlihatkan membuatnya tidak mampu mengatakan semua itu. 


Michio mengeratkan giginya karena amarah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga kakaknya. Jika ia berteriak melepaskan semua beban di hatinya pasti Seika bisa jadi gila lagi karena ketika mental seseorang sudah terganggu sebelumnya akan beresiko dan menyebabkan mental tersebut akan mudah terganggu selanjutnya. 


Seika menepis kasar tangan Michio.


“Masa lalu-mu menyebalkan” Seika melihat memori tentang Michio mendengarkan penjelasan Kenichi tentangnya dan bayinya yang sudah keguguran. 


Seika membuka pintu rumahnya dan berhadapan dengan Kenichi yang menatap terkejut padanya.


“Kau mau kemana Seika?” tanya Kenichi heran.


Karena masa lalu milik Michio tersebut, Seika menjadi tidak menyukai Kenichi yang mengatakan bayinya sudah meninggal.


“Aku akan mencari bayiku, minggir” Seika mendorong tubuh Kenichi agar tidak menghalangi jalannya.


Kenichi memegang tangan Seika dengan kesal. Cukup sudah. Ia sudah terlalu lelah dengan situasinya saat ini.


“Ikut aku” Kenichi menarik Seika yang memberontak untuk masuk ke dalam kamar. Kenichi mengunci pintu kamar Seika.


“Kau ingin bayi kan? Kita akan membuatnya” Kenichi melepaskan jas dan membuka kancing bajunya. 


“Apa yang kau lakukan?” tanya Seika mulai takut.


“Kau bilang ingin bayi kan. Kita akan membuatnya Seika” Kenichi mengulangi perkataannya. Ia kembali membuka kancing kemejanya satu persatu.


“Aku tidak mau, aku mau bayi asli ku!!” Ucap Seika setengah berteriak, ia melangkah menuju pintu kamarnya.


“SEIKA!!” bentak keras Kenichi sambil memegang kedua bahu Seika.


Suara keras membuat tubuh Seika mematung, air matanya mengalir pelan. Ia begitu terkejut dan takut dengan suara marah Kenichi.


Pegangan di bahu Seika melembut, Kenichi menarik Seika ke dalam pelukannya. “Aku mohon Seika, jangan seperti ini. Apa kau tidak kasihan kepadaku? Kau masih mempunyai aku, Michio, Akira dan anggota lainnya. Mengapa kau jadi seperti ini untuk hal yang sudah terjadi setahun yang lalu” Tubuh laki-laki bergetar pelan.


“Aku bisa gila jika melihatmu seperti ini terus, aku mohon Seika berhenti menyiksa mentalmu sendiri, mimpi buruk itu sudah terjadi setahun yang lalu. Tidak ada gunanya kau seperti ini” Sambung Kenichi.


Tubuh Seika mulai terguncang lemah, ia terisak. Ia tahu bahwa memang tidak ada gunanya menangisi apa yang sudah terjadi namun hatinya, hatinya sangat susah menerima kenyataan pahit tentang kehilangan calon bayinya.


“Bayiku.. Arrgghh!! bayiku sangat malang Ken” Seika menangis keras. 


“Kau masih bisa hamil Seika, tuhan akan menggantikannya dengan lebih baik. Percayalah padaku” Ucap Kenichi menghibur sembari membelai rambut Seika. 


Seika terus menangis dalam pelukan Kenichi sampai ia tertidur namun air matanya tetap mengalir dengan pelan.