
Yamagi mendobrak pintu markas geng Nagini yang berada di bawah naungan klan yang ia pimpin, ia sangat marah ketika mengetahui bahwa salah satu anak buahnya berani menculik Seika. Ia mendapat telepon dari Akira dan mengancamnya akan membubarkan Klan Yamagi kalau sampai terjadi sesuatu kepada Seika karena kecerobohan anak buahnya.
Laki-laki yang berada di dalam apartemen yang menjadi markas geng Nagini terkejut dan berdiri kemudian membungkukkan badan mereka kepada Yamagi.
“Ada apa waka (tuan muda) ?” Tanya seorang laki-laki.
Tanpa basa basi Yamagi langsung menghajar satu persatu laki-laki yang ada di dalam apartemen tersebut.
“Waka, kenapa kau memukul kami?” Seorang laki-laki yang berjaket hitam terbatuk kesakitan akibat tendangan Yamagi di perutnya.
“Brengsek!!, kalian sampah tidak berguna. Beraninya kalian menculik Shinoda anee-san!!” Teriak Yamagi dengan beringas. Ia begitu kalut saat ini, ini yang ketiga kalinya Seika di culik oleh karena itu Kenichi pasti tidak akan tinggal diam begitu saja. Klan Yamagi pasti terancam bubar.
“Siapa yang kau maksud waka?” Yanya laki-laki lainnya yang kebingungan.
“Kau tidak tahu Kenichi Shinoda, pemimpin tertinggi kita?!!” tanya Yamagi dengan suara tingga.
Laki-laki itu membulatkan matanya. Tentu saja ia tahu Kenichi Shinoda, seorang laki-laki paling berkuasa di dunia bawah tanah Jepang.
“Maksudmu dia anee-san nya kumicho Yamaguchi-gumi?” tanya laki-laki itu tidak percaya.
Yamagi mencengkeram kerah baju laki-laki itu. “Jangan bilang kau menculik sembarang wanita tanpa memeriksa latar belakangnya?!” Yamagi menatap tajam dan suara rendah yang mencekam.
Laki-laki itu hanya diam membisu. Matanya bergerak frustasi.
Yamagi melepaskan kerah laki-laki itu dengan kasar. “Siapa yang bertanggung jawab dalam menculik Shinoda anee-san?!”.
Semua laki-laki itu terdiam.
“Tidak perlu” Ucap Kenichi masuk ke dalam apartemen tersebut. Ia melangkah sambil mengeluarkan pistolnya dan dengan tenang ia mengarahkan ke lima laki-laki yang masih mengeluh kesakitan akibat pukulan Yamagi.
Door!!
Door!!
Door!!
Door!!
Door!!
Kelima laki-laki tersebut merenggang nyawa beberapa saat sebelum menghembuskan napas terakhir. Tatapan Kenichi menunjukkan seperti ia sedang melihat seekor binatang bukan manusia. Pikirannya menjadi gelap, tidak ada rasa kemanusiaan yang dapat ia rasakan saat ini. Bahkan ia lupa akan keberadaan Seika yang harus ia tolong terlebih dahulu.
Terakhir ia mengarahkan pistol kepada Yamagi, laki-laki berusia tiga puluhan tersebut langsung berlutut dan memohon ampun kepadanya. Namun Kenichi tidak mendengarkan.
Kenichi menembak Yamagi namun tangan Akira memegang tangannya dan mengarahkannya ke atas membuat peluru meleset.
“Kumicho. Kau harus melihat kondisi Seika-san terlebih dahulu” Ucap Akira berbisik di telinga Kenichi.
Seketika Kenichi sadar ketika mendengar nama Seika dan memandang sekeliling ruang apartemen tersebut mencari wanita yang ia cintai. Laki-laki itu masuk ke dalam salah satu kamar dan tersentak kuat ketika melihat keadaan Seika.
Lagi-lagi Seika diikat di kepala tempat tidur dalam keadaan tidak sadarkan diri, kaki Kenichi bergetar pelan.
“Seika” panggil Kenichi dengan suara serak.
Seika tidak bergeming.
“Sayang, jangan membuatku takut. Bangunlah” Mohon Kenichi menepuk pelan pipi Seika.
Wanita itu tetap tidak merespon.
Tubuh Kenichi mulai bergetar, ia menyalahkan dirinya sendiri. Sumber segala malapetaka yang dialami Seika adalah dirinya. Kenichi pembawa bencana untuk Seika.
Tangan Akira memegang bahu Kenichi. “Kumicho. Sepertinya tidak terjadi apa-apa dengan anee-san, anda hanya harus membawanya ke rumah sakit” Saran Akira ketika melihat Kenichi begitu kebingunan dengan keadaan Seika.
Kenichi kembali tersadar dan menganggukkan kepalanya. Ia mulai mengangkat tubuh Seika ala bridal style namun gerakannya tertahan. Ia tidak dapat mengangkat tubuh Seika karena tubuhnya yang bergetar.
“Biar aku saja kumicho” Akira mengambil alih tubuh Seika dan membawanya keluar apartemen.
Kenichi merutuki dirinya sendiri.
Bajingan, kau sungguh tidak berguna!!.
&&&
“Anda yang bernama Kenichi Shinoda-san?”.
Kenichi mengangguk.
“Aiko-san sedari tadi memanggil-manggil nama anda, dia tidak mau mendengarkan orang lain. Sebaiknya anda segera menemuinya” Ucap sang dokter.
Kenichi melangkah masuk dengan cepat dan melihat Seika yang meringkuk di tempat tidur, memeluknya dirinya sendiri seperti berusaha melindungi tubuhnya dari sesuatu hal yang mengerikan.
“Kenichi” gumam Seika sambil terisak.
Kenichi langsung memeluk Seika, membuat gadis itu tersentak kuat dan memberontak.
“Ini aku Kenichi, Seika” bisik Kenichi beberapa kali mencoba menenangkan Seika.
Seika perlahan berhenti memberontak. Ia menatap Kenichi yang tersenyum lembut kepadanya. Ia mengangkat kedua tangan dan memegang wajah Kenichi. Seketika perasaannya menjadi lega.
“Benar, ini Kenichi. Ini Kenichi ku” Ucap Seika sembari terisak pelan, ia memeluk Kenichi dengan kuat.
“Ya. Ini Aku. Kenichi, semua sudah baik-baik saja. Kau tidak akan tersiksa lagi Seika” Kenichi mengeratkan pelukannya.
Seika mengangguk, ia sudah mengingat semuanya namun penyiksaan yang Mark lakukan setahun yang lalu kepadanya seperti baru terjadi hari ini, ia bergetar ketakutan ketika mengingat semua kejadian itu.
Lama Seika menangis dalam pelukan Kenichi. Ia melampiaskan semua ketakutannya di dada kekasihnya. Sedangkan Kenichi hanya diam sembari membelai lembut rambut Seika mencoba menenangkan wanita itu.
Seika melepaskan pelukan dan menatap Kenichi dengan lembut. “Maafkan aku, lagi-lagi aku melupakanmu Ken”.
Kenichi tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, yang terpenting kau sudah mengingatku sekarang”. Ia sangat bersyukur bahwa Seika baik- baik saja dan bahkan mengingat dirinya.
Seika menggelengkan kepala tidak setuju. “Aku pasti sudah banyak melukai perasaanmu selama setahun ini Ken”.
Kenichi mengacak pelan rambut Seika.
“Bodoh, aku yang menyebabkan kau seperti ini, kenapa malah kau yang meminta maaf”.
Seika menyipitkan matanya ketika melihat raut wajah sedih Kenichi. “Kau pasti menyalahkan dirimu sendiri”.
Kenichi tersenyum nanar, secara tidak langsung membenarkan tebakan Seika. Wanita itu memegang wajahnya dan menatap lembut ke dalam matanya.
Seika menangis ketika beberapa kilasan tentang betapa khawatirnya Kenichi terhadap dirinya. Sejauh mana ia menyakiti Kenichi karena keadaannya?.
“Kau kenapa Seika?” tanya Kenichi cemas.
Seika menggelengkan kepala, air matanya kembali mengalir. Kilasan tentang Kenichi membunuh beberapa orang tidak membuat Seika menjadi takut lagi. Mungkin karena ia telah melihat kejadian yang jauh mengerikan sebelumnya sehingga pembunuhan singkat tersebut tidak lagi mempengaruhi psikologinya.
“Semua sudah berakhir, aku baik-baik saja. Jangan menyalahkan dirimu lagi Ken” Ucap Seika menghibur Kenichi.
Kenichi tersenyum dan mengangguk pelan.
Ya, semua sudah berakhir, Seika juga sudah mengingatku. Semua akan berakhir bahagia, benak Kenichi.
“Aku mencintaimu Ken” Seika mengecup pelan bibir Kenichi.
Kenichi memeluk Seika dan mulai memagut bibir yang sangat ia rindukannya, mereka berciuman intim beberapa saat.
Kenichi melepaskan bibir Seika yang nampak kemerahan, napasnya menjadi berat karena hasrat yang menggebu-gebu untuk menyatakan cinta kepada satu sama lain dengan tubuhnya. Namun lokasi mereka saat ini membuat Kenichi memilih untuk mengakhiri ciuman intim tersebut.
Beberapa saat kemudian suasana menjadi canggung, Seika menatap ke samping menghindari tatapan penuh hasrat yang Kenichi perlihatkan. Teringat sesuatu Seika kembali mendongak dan menatap riang kepada Kenichi.
“Kau ingat ketika aku bilang akan merayakan sesuatu denganmu?” tanya Seika senang.
Bagaimana mungkin aku melupakan hal yang sangat penting itu, gerutu Seika dalam hati.
Seketika tangan Kenichi kehilangan kekuatan dan terjatuh ke tempat tidur rumah sakit. Mimpi buruknya ternyata belum berakhir. Napas Kenichi tercekat, ia tidak menduga bahwa Seika tidak sadar bahwa ia telah keguguran.
“Kenapa Kenichi? Mengapa wajahmu tiba-tiba pucat?” tanya Seika cemas.
Terjatuh sudah airmata Kenichi, ini ketiga kalinya ia menangis dalam hidupnya. Tubuh Kenichi bergetar pelan, berbagai kemungkinan terburuk menyusup dalam kepalanya.
Mimpi buruk mereka berakhir dan dimulai kembali dalam waktu bersamaan.