
“Kondisi nona Shinoda sangat memprihatinkan, jiwanya terguncang hebat. Saat ini nona Shinoda bahkan tidak akan mengenal orang di sekelilingnya” jelas Dokter.
“Kami menemukan zat pripradol dari muntahan nona Shinoda” ujar Dokter laki-laki berkacamata tersebut.
Kenichi diam mendengarkan. Giginya gemerutuk menahan emosi yang membara dalam dirinya.
“Pripradol akan membuat penggunanya menjadi banyak berbicara karena korban mengalami dorongan untuk terus berbicara. Tapi efek sampingnya dapat merusak otak” jelas Dokter kembali.
“Apa bisa disembuhkan sensei?” tanya Kenichi dengan tangan terkepal.
“Tentu bisa walaupun membutuhkan waktu yang lama, nona Shinoda tidak terlalu lama mengkomsumsi obat tersebut bukan?” tanya dokter.
Kenichi menganggukkan kepalanya.
“Kita akan berusaha mengobati jaringan otak nona Shinoda supaya dia dapat kembali berpikir normal dan kita juga akan melakukan terapi kejiwaan, tapi anda harus menjauhkannya dari hal yang membuat jiwanya terguncang seperti ini” jelas dokter.
Kenichi tersenyum pelan dan menganggukkan kepalanya.
“Dan Kenichi-san...”
Kenichi kembali menoleh kepada dokter laki-laki tersebut.
“Apa nona Shinoda memakai obat itu karena frustasi kehilangan janinnya?” tanya dokter itu berhati-hati.
Mata Kenichi membulat.
“Ap..apa?” tanya Kenichi tidak percaya.
“Nona Shinoda mengalami keguguran, usia kandungannya hampir 5 minggu” jelas dokter.
Kenichi berdiri dan berjalan keluar dengan langkah gontai. Akira dan Michio yang menunggu di luar ruangan segera menghampirinya ketika ia terjatuh berlutut karena tidak kuat menopang berat badannya.
“Seika hamil dan keguguran tanpa aku tahu” gumam Kenichi tidak percaya. Tangannya bergetar pelan.
Akira dan Michio terkejut dengan gumaman Kenichi. Laki-laki itu menoleh kepada dua orang kepercayaannya.
Aku ingin merayakan sesuatu denganmu.
Kenichi teringat kata-kata Seika kepadanya sebelum gadis itu diculik.
“Seika hamil dan keguguran tanpa sepengetahuanku, Michio” ujar Kenichi pelan menatap kosong.
Michio menangis dalam diam. Akira segera memapahkan Kenichi untuk berdiri.
“Bagaimana keadaan Seika?” tanya Kenichi.
Akira hanya diam.
Kenichi melepaskan pegangan Akira dan menuju ke ruangan Seika. Suara teriakan Seika terdengar ketika ia mendekat ke ruangan tersebut.
Kenichi melihat Seika yang berteriak dan memberontak brutal yang coba di tenangi oleh beberapa suster dan dokter, mereka memegang kuat tangan dan kaki Seika.
Airmata Kenichi kembali mengalir ketika melihat kejadian mengenaskan tersebut, tidak sanggup melihat Seika yang meronta kesakitan, ia berjalan jauh kemudian memukul dinding rumah sakit beberapa kali.
Buku-buku jarinya mengeluarkan darah namun Kenichi tidak memperdulikannya. Ia begitu marah karena secara tidak langsung ialah penyebab mimpi buruk Seika.
“Sejauh mana Mark menyiksanya sampai Seika menjadi seperti ini” gumam Kenichi frustasi.
&&&
Kenichi berjalan cepat ke gudang belakang rumahnya. Dua laki-laki yang berjagase gera membungkuk badan mereka.
Kenichi melangkah masuk dan melihat Mark dan Ryan dalam kondisi mengenaskan. Kedua laki-laki itu berlutut di kursi dengan tangan terikat ke belakang. Jari-jari tangan kanan Mark terpotong, darah terus menetes dari jari tersebut.
Sedangkan Ryan, tangannya bergetar menahan sakit yang sangat menyiksa, ditengah tangan kirinya berlubang karena terkena besi panas. Ia bahkan tidak sanggup lagi berteriak.
“Apa saja yang kau lakukan kepada Seika?” tanya Kenichi penuh dendam.
Mark terbatuk-batuk, matanya mengerjab menahan sakit.
“Seperti yang ku katakan padamu sebelumnya, kami hanya membuatnya berbicara mengenai apa yang ada di pikirannya, kami bahkan tidak menyentuhnya Kenichi” jelas Mark pelan.
“Kau bilang hanya? Seika menjadi gila karena obat yang kau berikan? Kau bilang hanya?” Teriak Kenichi penuh emosi.
Napas Kenichi terengah-engah karena teriakan emosinya. Ia menoleh kepada anak buahnya lalu menggerakkan kepalannya menyuruh anak buahnya untuk melakukan sesuatu.
“Bunuh kami Kenichi. Aku mohon bunuh saja kami, kami sudah tidak sanggup lagi menahan siksaanmu” mohon Mark pelan.
Kenichi hanya diam.
Dua orang anak buah Kenichi mengeluarkan seekor tikus dan mengambil ember kecil yang terbuat dari stainlees.
Mark dan Ryan yang melihat pemandangan mengerikan itu menbuat menggerakkan badan mereka, mencoba melepaskan ikatan pada tubuh mereka. Sangat ketakutan dengan apa yang akan di lakukan oleh anak buah Kenichi.
Kenichi hanya berdiri menyaksikan tanpa mengedipkan matanya.
“KENICHI, BUNUH SAJA AKU. AKU MOHON BUNUH SAJA AKU” ujar Mark yang sangat frustasi melihat tikus tersebut semakin mendekat ke arahnya.
“Ini belum cukup membalas apa yang telah kalian lakukan kepada Seika ku” ujar Kenichi tidak terpengaruh.
“JANGAN, JANGAN LAKUKAN INI, AKU MOHON” teriak Mark sangat frustasi.
Seekor dimasukkkan ke dalam ember dan di letakkan di paha Mark dan Ryan yang memberontak lalu di panasi oleh gas portable kaleng. Rasa panas membuat tikus yang berada di dalam ember stainless mulai menggali kulit paha Mark dan Ryan untuk mencari jalan keluar. Mereka menjerit kuat ketika merasakan kulitnya mulai robek dan tikus tersebut mengorek daging paha mereka.
Kenichi menatap Mark dan Ryan yang sekarat dengan wajah yang penuh darah mengering dan keringat.
“Bereskan mereka” perintah Kenichi tenang lalu keluar dari gudang tersebut.
Kedua anak buah Kenichi mengangguk tegas.
...&&&...
Kenichi memandangi wajah Seika yang tertidur dengan posisi tangan diikat ke badannya dari balik kaca kamar tempat gadis itu dirawat. Ia dapat melihat raut wajah kekasihnya yang sangat tidak nyaman karena kedua tanganya yang terikat.
Kenichi sudah meminta dokter untuk melepaskan ikatan tangan Seika namun dokter mengatakan bahwa mereka melakukan itu karena Seika tidak berhenti memberontak dan menjerit.
Tangan Kenichi terkepal kuat membuat tangannya bergetar dan kukunya memutih, ia begitu menyesal karena telah membuat Seika menjadi seperti ini.
Gadisnya, gadis yang sangat ia cintai mengalami penderitaan seperti ini karena dirinya. Jika saja Kenichi tidak memaksa Seika untuk tinggal bersamanya, jika saja kekasihnya tidak dekat dengannya, jika saja ia tidak menjadi alasan penderitaan Seika.
Kenichi melangkah menjauh karena tidak sanggup melihat keadaan kekasihnya yang sangat menderita dan lebih parahnya ia tidak bisa berbuat apapun untuk menghilangkan penderitaan Seika.
...&&&...
“Anda memanggilku kumicho-san?” tanya Michio berjalan masuk ke dalam kamar Kenichi.
Kenichi tersenyum pelan lalu menganggukkan kepalanya.
“Duduklah” ujar Kenichi.
Michio duduk berlutut di depan Kenichi. Ia menatap nanar karena ekspresi Kenichi terlihat begitu sedih.
“Dengar perintahku Michio, mulai saat ini kau bukan lagi bagian dari Yamaguchi-gumi” ujar Kenichi penuh ketegasan.
Michio membulat matanya mendengar kata-kata tak terbantahkan yang keluar dari mulut pemimpinnya.
...&&&...
10 bulan kemudian
Seika duduk di bangku panjang yang berada di taman depan gedung rumah sakit. Ia melihat daun pohon maple yang mulai berguguran secara bulan oktober adalah puncak musim gugur. Ia tersenyum senang melihat daun maple yang berubah kemerahan jatuh persatu satu.
Seika sedang menunggu dua orang laki-laki yang selama ini terus menemaninya selama ia berada di rumah sakit. Ia tidak mengingat apapun apa yang terjadi selama setahun lebih ini.
Ingatan pertama Seika adalah ketika ia berada di rumah sakit ini, dokter mengatakan bahwa dia mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma berat karena kecelakaan mobil setahun yang lalu.
Seika mencoba mengingat hal terakhir yang ia lakukan sebelum terbangun di rumah sakit namun ingatan terakhir yang dapat ia ingat adalah musim panas tahun lalu ketika ia berjalan menuju ke kliniknya.
“Onee-san, kau sudah lama menunggu?” tanya Michio yang berdiri di belakang Seika.
Seika tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Ayo, kita akan pulang onee-san” ujar Michio lembut.
“Sebentar Michio, Shigeo-kun belum datang” ujar Seika.
Michio tersenyum sedih ketika mendengar nama ‘Shigoe-kun’ dari mulut Seika.
Bukan nama itu yang seharusnya kau ucap anee-san, ucap Michio dalam hati.
Michio memilih untuk ikut duduk disamping Seika dan menunggu Shigeo. pikirannya melayang ke sepuluh bulan yang lalu.
10 bulan yang lalu
“Apa maksud kumicho-san aku keluar dari kelompok Yamaguchi-gumi?” tanya Michio tidak percaya.
Kenichi tersenyum pelan.
“Kau akan aku beri tugas khusus” jawab Kenichi.
Michio diam mendengarkan.
“Mulai saat ini kau harus menjaga kakakmu dan menjauhkannya dari orang-orang yang berhubungan dengan dunia kita. Aku ingin Seika hidup dengan tenang” jelas Kenichi.
“Kumicho-san. Apa kau ingin mengatakan bahwa kau akan menjauhkan Seika dari dirimu sendiri?” tanya Michio.
Kenichi mengangguk pelan.
“Bukankah itu akan menyakitimu kumicho-san?” tanya Michio sedih.
Kenichi tersenyum kembali.
“Bagiku yang terpenting adalah ketenangan Seika, aku tidak bisa memaafkan diriku lagi jika hal yang sama berulang kembali. Kau tahu bukan potensi Seika kembali diculik dan di mamfaatkan sangat besar jika dia berada disampingku?” tanya Kenichi.
Michio terdiam.
“Tapi...” bantah Michio.
“Aku mohon Michio, jaga kakakmu sebaik mungkin. Kau mengerti?” ujar Kenichi membungkukkan badannya.
Airmata Michio mengalir ketika melihat Kenichi membungkukkan badannya kepadanya, ia belum pernah melihat Kenichi membungkuk dalam badannya kepada siapa pun.
Mau tidak mau ia menganggukkan kepalanya dan berjanji akan menjaga Seika dengan nyawanya.