Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 32 - Selamat Tahun Baru



Seika menatap dirinya di dalam cermin, ini kedua kalinya ia merasa takjub dengan perubahan dirinya yang dramatis. Saat ini Seika memakai kimono merah bermotif burung merak, rambutnya digulung dan disematkan tusuk konde bermotif sama, burung merak. Wajahnya diberi riasan yang sedikit tebal dan bibir merah yang menjadi pusat perhatian.


Hari ini ia akan menghadiri acara perjamuan teh di ruangan besar washitsu, perjamuan teh ini diadakan setiap awal tahun.


Kenichi mengatakan kepadanya kalau acara tersebut akan di hadiri oleh para pemimpin klan di bawah naungan Kenichi sehingga saat ini seluruh rumah penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang menyiapkan acara tersebut. Baik dalam hal konsumsi, dekorasi atau hal yang lainnya.


Dua orang perempuan yang menghias Seika tersenyum melihat betapa cantiknya gadis dihadapannya. Badan Seika yang ideal sangat pas dalam balutan kimono apalagi rambut hitamnya membuat pesona Seika semakin bertambah.


“Anata wa kirei desu, Aiko-san (anda sangat cantik)” puji kedua wanita tersebut.


Seika tersenyum senang.


“Arigato” ujar Seika.


Kenichi masuk ke dalam ruangan dan menaikkan alisnya sambil tersenyum. Seika yang menoleh ke arah Kenichi tersenyum malu.


“Seperti biasanya, kau sangat cantik Seika” ujar Kenichi pelan.


Kedua wanita tersebut membungkukkan badan mereka dan pamit keluar ruangan.


Kenichi menghampiri Seika dan memeluknya dengan sepenuh hatinya. Seika hanya diam dengan pelukan Kenichi, sudah setengah tahun mereka bersama namun ia tetap belum terbiasa dengan sikap intim yang Kenichi tunjukkan.


“Kau sudah siap?” tanya Kenichi.


Seika mengganggukkan kepalanya.


Mereka pun keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruangan washitsu, disana mereka sudah ditunggu oleh pemimpin klan (Shatei) di bawah naungan Yamaguchi-gumi serta Akira, Michio dan beberapa anak buah kepercayaan Kenichi. Semuanya memakai yukata dan kimono.


“KAMI BERSUMPAH SETIA KEPADA YAMAGUCHI-GUMI” ujar mereka membungkuk rendah badan mereka kepada Kenichi.


Seika sedikit terkejut dengan sumpah mendadak tersebut.


Kenichi menganggukkan kepalanya dan duduk di tengah ruangan washitsu yang terletak meja kecil di depannya, Seika juga melakukan hal yang sama. Ia menggenggam kimono bawahnya dengan erat, saat ini ia sangat gugup karena suasana yang terlihat sangat sakral tersebut.


“Shinnen omedetou gozaimasu (selamat tahun baru)” ujar Kenichi kepada orang yang hadir dalam ruangan tersebut sambil membungkukkan sedikit badannya.


“Sakunenchuu wa iro-iro osewa ni narimashita (terimakasih atas kebaikan yang diberikan tahun lalu)” jawab mereka.


“Hinnen mo douzo yoroshiku onegai moshiagemasu(tahun ini aku mengharapkan hal yang sama) ” ujar Kenichi.


“Haii kumicho” jawab mereka.


Beberapa saat kemudian beberapa geisha yang Kenichi sewa masuk ke dalam ruangan washitsui sambil membawa meja kecil berisi kue dango dan teh hijau dalam mangkuk yang terbuat dari tanah liat.


Upacara minum teh beraliran urasenke pun dimulai, para wanita yang memakai riasan tebal tersebut meletakkan satu persatu meja kecil di hadapan Kenichi dan pemimpin klan lainnya.


Berikutnya, pemimpin klan akan memakai kue dango tersebut sampai habis dan setelah itu Kenichi dan Seika mengangkat mangkuk berisi teh hijau ke arah para pemimpin klan.


“Untuk kejayaan Yamaguchi-gumi” ujar Kenichi.


“Untuk kejayaan Yamaguchi-gumi” ujar mereka serentak.


Kenichi dan Seika meminum habis teh hijau pahit tersebut dalam sekali tegukan, diikuti dengan pemimpin klan, Akira, Michio dan anak buah Kenichi.


Kini upacara minum teh diganti dengan acara minum sake, Kenichi menuangkan sake ke gelas kecil lalu meminumnya, yang lain melakukan hal yang sama, sedangkan Seika hanya duduk diam dan melihat Kenichi yang meminum minuman yang mengandung alkohol 16% tersebut dengan tenang.


Kenichi yang menyadari tatapan Seika menoleh kepada gadis itu dan tersenyum yang juga dibalas Seika dengan senyuman.


Ia melihat pemimpin klan lainnya dan tersenyum jika bertemu pandang dengan mereka sejenak, ia baru menyadari betapa berkuasanya Kenichi di Jepang, tidak hanya itu Seika merasa bahwa Kenichi sangat tampan dalam balutan yukata hitam yang disampir kain hiori di bahunya, walaupun laki-laki itu sudah sering memakainya.


Seika menggenggam kimononya mencoba menahan rasa ingin memeluk laki-laki itu saat ini juga.


Astaga, mengapa aku jadi seperti ini, gerutu Seika dalam hati.


Seika memenjam matanya sejenak, mencoba meredam keinginannya yang terus melonjak dalam hati.


Demu tuhan Seika. Tenanglah, mengapa kau menjadi gila seperti ini, gerutu Seika dalam hati.


Tangannya semakin mencengkeram erat kimononya. Wajahnya mulai memerah karena menahan rasa ingin memeluk Kenichi yang menggebu-gebu dalam hatinya.


Seika ingin membalas senyuman Kenichi namun mual yang tiba-tiba membuat Seika menutup mulutnya dengan terkejut. Ia berusaha agar tidak mengeluarkan suara dan menyebabkan kekacauan pada acara sakral ini.


“Kau tidak apa-apa Seika?” tanya Kenichi pelan. Ia membelai pipi Seika yang memerah.


Seika terkejut dan berdeham, bernapas pelan beberapa kali untuk meredakan mualnya lalu tersenyum lembut kepada Kenichi


“Aku tidak apa-apa” jawab Seika.


“Shinoda anee-san” panggil seorang wanita berpenampilan mencolok karena bibir merah darahnya. Panggilan wanita tersebut mengalihkan perhatian Seika dan Kenichi.


“Perkenalkan namaku Ayame dari klan Aomori-kai” ujar perempuan bernama Ayame sambil membungkukkan badannya.


“Namaku Seika Aiko” ujar Seika juga membungkukkan badannya.


Ayame dan pemimpin klan yang ada di ruang washitsu menatap satu sama lain kemudian menatap Seika dengan heran.


Seika menoleh kepada Kenichi meminta penjelasan tentang raut wajah bingung anak buahnya.


“Namamu Seika Shinoda” ujar Kenichi berbisik.


“Maksudku namaku Seika Shinoda, maaf aku belum terbiasa dengan nama keluarga baruku” jelas Seika gugup, walaupun ia tidak mengerti mengapa nama keluarganya tiba-tiba berubah padahal ia belum menikah dengan Kenichi.


“Perkenalkan namaku Kimiko dari klan Kagoshima-kai” ujar perempuan yang tampak lebih muda.


Seika menganggukkan kepalanya.


“Namaku Ayuomi dari klan Shizioka-kai” ujar seorang wanita yang memakai kacamata.


Satu persatu istri dan kekasih dari pemimpin klan memperkenalkan nama mereka di hadapan Seika. ia hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.


“Namaku Akane dari klan Yamagi-kai” ujar perempuan berambut panjang.


Seika kembali menganggukkan kepalanya dan upacara penyambutan tahun baru tersebut berakhir.


Seika kembali ke kamarnya lalu menghela napas panjang. Ia merasa sangat kelelahan padahal sepanjang acara ia hanya duduk diam namun ketika menghadapi istri istri pemimpin klan yang berada di bawah naungan Kenichi membuat Seika menjadi lelah.


“Kau lelah?” tanya Kenichi.


Seika menoleh dan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


“Upacaranya menyenangkan” jawab Seika.


Seika menghampiri Kenichi dan memeluk lelaki yang sangat ia cintai.


“Hei, Kau begitu merindukanku ya?” tanya Kenichi tersenyum miring, mencoba menggoda Seika.


Seika mengganggukkan kepalanya.


“Aku sangat merindukanmu. Kau sangat tampan hari ini Kenichi, aku bahkan menahan sekuat tenaga untuk tidak memelukmu di acara minum teh tadi. Aku baru sadar ternyata kau sangat tampan, Ken. Tidak hanya tampan tapi kau ju...”


“Tunggu dulu” ujar Kenichi melepaskan pelukannya.


Kenichi menutup mulutnya sambil memandang ke arah lainnya.


“Mengapa kau menyerangku bertubi-tubi, aku bahkan tidak sempat membalasnya” ujar Kenichi pelan.


Seika memandang bingung ke arah Kenichi.


Apa maksudnya menyerang bertubi-tubi?, tanya Seika dalam hati.


“Aku hanya berkata jujur” ujar Seika.


Kenichi kembali memeluk Seika.


“Kenapa kau sangat manis sayangku?” gumam Kenichi.


Seika terdiam mendengar nada frustasi Kenichi, tidak ingin mempertanyakan lebih lanjut Seika memilih untuk membalas pelukan Kenichi.


“Aku sangat ingin membawamu ke ranjang dan membuatmu berantakan disana sekarang juga” ujar Kenichi sambil mengerang pelan.


“Ken” ucap Seika terkejut.


“Tenang saja, aku tidak akan melakukannya karena kita akan pergi ke kuil, semuanya sudah menunggu” ujar Kenichi.


Seika mengangangguk senang.


“Setelah pulang nanti, persiapkan dirimu Seika” bisik Kenichi.


Seika memukul lengan Kenichi menahan rasa malunya.


Mereka keluar kamar dan melangkah menuju keluar rumah yang sudah ditunggu oleh Michio, Akira dan anak buah Kenichi lainnya.


Pemandangan putih salju langsung terpampang di hadapan Seika, tahun baru tentu saja terjadi pada musim dingin.


Seika merapatkan hiorinya untuk menghalau angin dingin masuk ke dalam badannya. Kenichi memeluk Seika dengan sebelah tangannya.


“Anne-san sangat cantik hari ini” ujar Michio.


Seika tersenyum manis. “Terima kasih”


“Ayo kita pergi” ujar Kenichi.


Mereka berjalan keluar pagar menuju ke kuil terdekat, jalan setapak di penuhi oleh pasangan atau keluarga yang juga ingin mengunjungi kuil. Rombongan Kenichi langsung mendapat perhatian dari orang orang yang mereka lewati.


“Shinnen omedetou gozaimasu Kenichi-san” ujar orang orang yang melewati mereka.


Kenichi tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia berjalan dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam yukata lapisan luar.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di kuil, Seika melangkah maju. Tidak sulit baginya berjalan dan berdiri paling depan kuil karena masyarakat setempat langsung mempersilahkan Kenichi lebih dulu untuk berdoa.


Seika melempar koin ke dalam kotak persembahan dan menepuk tangannya dua kali sambil memenjam matanya.


‘Terima kasih untuk tahun luar biasa yang telah kau berikan padaku, semoga tahun berikutnya kau juga memberkahiku dan tolong jaga Kenichi apapun yang terjadi. aku mohon’ doa Seika dalam hati.


“Kau sudah selesai?” tanya Kenichi.


Seika menganggukkan kepalanya, ia mengambil kertas ramalan lalu membukanya dan tersenyum melihat keberuntungan yang tertulis di kertas tersebut. Sedangkan Kenichi mendapat kertas yang berisi kesialan. Laki-laki itu tersenyum kecut. Seika hanya tertawa pelan.


Michio, Akira dan para anak buah Kenichi juga sudah selesai berdoa, mereka pun melangkah pulang.