Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 24 - Bertengkar



"Tentu saja kau akan tidur disini malam ini" ujar Kenichi.


"Aku tidak mau" bantah Seika lalu berjalan keluar kamar Kenichi.


Kenichi segera menangkap tangan Seika dan menariknya untuk mendekat ke arahnya. Kenichi menatap mata Seika namun gadis di hadapannya memalingkan wajahnya menghindari tatapannya, jarak wajah mereka begitu dekat hingga Seika bisa merasakan napas hangat Kenichi di wajahnya. Jantungnya berdetak tidak karuan, ia bahkan bisa memastikan bahwa pipinya sekarang sedang memerah.


"Aku tidak ingin mendengar kata tidak malam ini" ujar Kenichi berbisik sambil terus memperpendek jarak diantara mereka.


"Ak.. aku sudah bilang tidak mau" ujar Seika gugup, ia masih memalingkan wajahnya membuat Kenichi menyenderkan kepalanya di leher Seika.


"Hei, kau terlalu dekat" ujar Seika tidak nyaman mendorong badan Kenichi untuk menjauh darinya. Wajahnya semakin merona karena napas lelaki itu mengenai lehernya yang sensitif.


Kenichi tidak memperdulikan perkataan panik Seika. Ia menghirup aroma harum yang memabukkan dari leher Seika.


"Ken.. Kenichi" panggil Seika semakin panik. Jantungnya sangat berisik sampai ia sendiri bisa mendengarnya.


"Aku mencintaimu Seika" bisik Kenichi dengan suara yang berubah serak.


Kau curang Ken, mengatakan itu pada momen seperti ini.


Kenichi memegang lembut wajah Seika, menyuruhnya untuk menatap wajahnya. Wajah Seika menghadap Kenichi dengan mata terpenjam. Ia begitu gugup untuk melihat Kenichi.


perlahan-lahan Kenichi mendekatkan bibirnya ke bibir Seika, kehangatan bibir Kenichi membuat Seika tersengat, napas hangat mereka menerpa satu sama lain. Kenichi mulai mengecup lembut bibir ranum Seika, mereka berciuman untuk waktu yang lama. Perlahan-lahan kecupan berubah menjadi cumbuan yang sarat akan hasrat.


Kenichi mengeluarkan lidahnya menjilati bibir Seika yang tertutup rapat karena pani,k menyuruh sang pemilik bibir untuk membukakan mulutnya, jilatan lembut membuat Seika terbuai dan tanpa sadar membuka mulutnya mengizinkan lidah Kenichi untuk masuk dan mengeskplorasi mulutnya.


Kenichi mengeratkan pelukannya, ciuman mereka semakin intim dan intens. Kenichi memangut bibir Seika dengan lapar. Manisnya bibir gadis itu membuat Kenichi mengerang disela-sela pangutannya.


Seika tersentak dan tersadar ketika merasakan tangan Kenichi yang mulai masuk ke dalam kemeja belakangnya.


"Kenichi" teriak Seika melepaskan ciuman sekuat tenaganya.


Wajah Seika memerah karena kenikmatan cumbuan yang Kenichi berikan, napasnya naik turun dengan cepat. Jantungnya sudah tidak mampu ia jabarkan lagi saking hebatnya detakan jantungnya.


"Kenapa?" tanya Kenichi serak. Matanya mengabur karena hasratnya yang menggebu-gebu.


"Ak.. aku belum siap" jawab Seika. Ia memeluk lengannya sedikit ketakutan dengan apa yang barusan mereka lakukan. Ini pertama kalinya ia berciuman seintim itu.


Kenichi menatap Seika yang bergetar pelan sambil memeluk dirinya sendiri, seperti mencoba melindunginya dari sesuatu yang buruk. Kenichi tidak pernah menghadapi gadis perawan sebelumnya, jadi ia tidak tahu harus melakukan apa. Namun melihat tubuh Seika yang bergetar pelan membuatnya menghela napas panjang.


"Baiklah. Sebaiknya kau membersihkan dirimu. Aku akan menunggumu disini" ujar Kenichi beranjak ke arah futon dan mulai menggelarnya.


"Ta..tapi" ujar Seika menolak secara halus ajakan tidur Kenichi.


Kenichi tersenyum lembut.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Kita hanya akan tidur saja. Aku berjanji padamu" ujar Kenichi berjanji.


Seika menatap Kenichi sejenak dan lalu kembali memalingkan pandangannya, ia menganggukkan kepalanya.


Di dalam kamar mandi, Seika yang sedang berendam air panas tidak henti-hentinya menghirup napas dalam-dalam dan mengerluarkannya dengan perlahan untuk menenangkan hatinya yang gugup.


Seika menggeser pintu kamar Kenichi dengan gerakan pelan, ia menelan ludah dengan raut wajah gugup dan mendapati Kenichi sudah tidur membelakanginya, perlahan Seika berjalan menghampiri Kenichi dan mulai ikut membaringkan tubuhnya membelakangi Kenichi.


Seika terkejut ketika merasakan Kenichi yang bergerak menghadapnya dan memeluknya dari belakang.


"Apa yang membuatmu begitu lama?" tanya Kenichi. Rupanya ia belum tertidur.


"Ak.. Aku tidak lama, itu hanya perasaanmu saja" jawab Seika gugup. Wajahnya kembali memerah.


Kenichi tidak mempertanyakannya lebih lanjut, tangan kuatnya memeluk posesif tubuh Seika lalu menghirup aroma wangi sabun yang menguar dari tubuhnya.


"Tubuhmu begitu harum dan hangat" ujar Kenichi memecah kesunyian.


"Oyasumi uchi no yume (Selamat tidur sayang)" ujar Kenichi pelan.


Tidak ada pergerakan yang berarti dari Kenichi membuat Seika sedikit mengubah posisi tidurnya dan menatap Kenichi yang terlelap. Seika menutup mukanya yang memerah dengan sebelah tangan. Laki-laki ini begitu tampan walaupun sedang tertidur.


...&&&...


Kenichi memasuki salah satu hotel di daerah Roppongi bersama dengan Arata dan Akira di sisi kiri dan kanannya serta beberapa anak buah Kenichi yang berjalan mengikutinya dari belakang.


"Selamat siang Kenichi. Aku begitu senang kau ingin bertemu denganku" ujar Mark yang langsung berdiri menyambut Kenichi.


Kenichi tersenyum samar lalu duduk ditempat yang Mark persilahkan


"Jadi apa yang kau ingin bicarakan Kenichi?" tanya Mark langsung ke inti pembicaraan. Ia gugup ketika mendengar bahwa Kenichi ingin menemuinya.


"Aku mendengar sepak terjangmu di Seoul, perkembanganmu membuatku sangat terkejut" ujar Kenichi mengapresiasi namun tatapan dinginnya mengatakan sebaliknya.


Senyuman Mark menjadi kaku.


"Kedatanganku kemari karena aku ingin memberitahumu agar jangan lagi menyentuh Yundae Corporation" ujar Kenichi to the point.


"Apa hubunganmu dengan perusahaan Yundae?" tanya Mark terkejut.


Ia sudah memastikan bahwa tidak ada kaitan antara Yundae Corporation dengan kelompok Yamaguchi-gumi sebelum mulai melakukan aksinya. Lalu mengapa Kenichi memintanya untuk menjauhi perusahaan tersebut, tanya Mark dalam hati.


"Pemilik Yundae Sorporation sudah aku anggap sebagai pamanku, jadi jauhi perusahaan itu jika kau masih ingin menjalin kerjasamamu denganku" ujar Kenichi.


Mark terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya dengan tidak rela.


Para anak buah Mark terkejut dan segera mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkannya ke arah Kenichi. Arata dan Akira juga melakukan hal sama menodongkan pistol mereka ke arah para anak buah Mark.


"Santailah, aku hanya ingin mengatakan sesuatu" ujar Kenichi lalu menyeringai tajam.


"Jangan berpikir kau dapat menikamku dari belakang" bisik Kenichi dengan nada mendesis.


Mark diam terpaku dan ia menelan ludah dengan susah payah.


Kenichi keluar dari kamar hotel di ikuti oleh Akira dan Arata, meninggalkan Mark yang mengepalkan tangannya dan rahangnya yang mengeras karena emosi yang tidak dapat ia keluarkan.


Mark tau bahwa akhir-akhir ini fokus Kenichi berpusat kepada kelompok Sumiyoshi-kai karena wanitanya di culik oleh pemimpin kelompok tersebut, dan itu membuat Mark mulai melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil di distrik Roppongi dan Kabukicho seperti menambah jumlah obat terlarang diluar kesepatan, menarik sebagian pelanggan Kenichi kepadanya dan pelanggaran lainnya karena ia yakin aksinya tidak akan ketahuan.


Namun sepertinya ia meremehkan pemimpin besar yakuza itu.


Mark mengeluarkan telepon genggamnya dan menekan beberapa nomor.


"Ryan, kau harus terus mengawasi apapun gerak-gerik Kenichi. Laporkan apapun yang kau ketahui kepadaku. Kau mengerti?" tanya Mark.


Mark memutuskan teleponnya dan menatap tajam penuh emosi.


...&&&...


"Kerja bagus. Kalian pulang duluan saja. aku masih ada beberapa urusan lagi" ujar Kenichi ketika sudah berada di pintu depan hotel.


"Otsukaresama deshita kumicho (Kerja bagus pemimpin)" ucap Arata dan Akira.


"Otsukaresama" jawab Kenichi.


Kenichi masuk kedalam mobil merdeces benz lalu melaju di jalan raya Kobe. Beberapa saat kemudian mobil Kenichi berhenti di parkiran di depan klinik Seika.


"Ada yang bisa saya ban..."


Aoi yang sedang membereskan barang-barangnya terkejut akan kedatangan Kenichi. Laki-laki itu melepaskan kacamata hitamnya dan tersenyum ke arahnya.


"Apa Aiko sensei masih di ruangannya?" tanya Kenichi.


Aoi menganggukkan kepalanya.


"Dozo" ujar Aoi mempersilahkan Kenichi masuk.


Gerakan tangan Kenichi yang ingin membuka pintu terhenti ketika mendengar suara tawa Seika dan Shigeo. Dengan cepat ia membuka pintu ruang kerja Seika dengan kesal.


Baik Seika dan Shigeo menoleh ke arah pintu, melihat Kenichi yang bermuka masam.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Kenichi kesal.


"Aku ingin bertemu dengan Seika" jawab Shigeo tenang.


Kenichi semakin meradang lalu menghampiri Shigeo dan meninju sahabatnya itu dengan keras.


"Kenichi" bentak Seika.


Ia menghampiri Shigeo yang terjatuh dilantai.


"Kau selalu temperamental teman" ujar Shigeo sambil mengelap darah di sudut bibirnya.


Kenichi kembali ingin mendaratkan pukulannya ke wajah Shigeo.


"Sudah hentikan Kenichi" ujar Seika sedikit menaikkanya suaranya.


Kenichi terkejut dengan bentakan Seika.


"Mengapa kau jadi membelanya?" tanya Kenichi tidak percaya.


"Tentu saja karena kau yang salah, mengapa kau memukul Nishiguchi-san tanpa alasan?" tanya Seika.


"Karena aku tidak ingin kau dekat-dekat dengannya" ujar Kenishi.


"Apa hakmu melarangku untuk bertemu dengan Nishiguchi-san?" tanya Seika tidak mengerti.


Kenichi mengerang kesal. Ia tidak menyukai sifat Seika yang suka berubah-ubah. Mereka sedang sedang berpacaran dan gadis itu mengatakan bahwa ia tidak punya hak untuk melarangnya bertemu dengan musuhnya.


"Baiklah, lakukan apa yang kau mau aku tidak akan melarangmu lagi" ujar Kenichi.


Kenichi keluar dari ruang kerja Seika sambil membanting pintu dengan keras.


"Ada apa dengannya? Apa dia sedang ada masalah?" tanya Seika kepada dirinya sendiri.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Seika menatap cemas ke arah Shigeo.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, kau tidak apa-apa ditinggal Kenichi seperti itu?" tanya Shigeo.


Seika menghela napas. Tentu saja ia tidak baik-baik saja. Kemarahan Kenichi sangat tidak baik baginya, namun ia harus bagaimana? Laki-laki itu yang salah karena seenaknya memukul temannya sendiri. Seika kembali menghela napas.


"Aku tidak apa apa" jawab Seika.


"Duduklah, aku akan mengobati lukamu" ujar Seika.