
Seika berdiri dan membungkukkan hormat kepada seorang kakek yang menjadi pasiennya.“Terimakasih sudah datang ke klinik oji-san”.
Sang kakek tersenyum dan juga menunduk hormat. "Terimakasih sudah memeriksa kondisiku sensei".
Seika duduk kembali di tempat kerjanya lalu menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang. Sudah waktunya untuk makan siang, wanita itu melangkah keluar ruangan.
“Aoi, aku akan keluar makan siang sebentar” Lapor Seika tersenyum.
“Sensei, bolehkah aku ikut? Aku tidak membawa bekal hari ini” Aoi menatap memohon kepada Seika.
Seika tertawa pelan. “Tentu saja boleh. Ayo”.
Aoi berseru girang lalu memeluk lengan Seika dengan senang. Mereka pun melangkah ke restoran tempat Seika biasanya menghabiskan waktu istirahat siang. Suasana ramai karena banyak pekerja yang juga keluar kantor untuk makan siang di luar membuat kota menjadi ramai.
“Sensei, kau masih tidak mengingat apapun?” Aoi membuka percakapan dengan berbasa-basi.
Mereka berjalan di jalan setapak, melewati keramaian dengan langkah santai. “Belum, Apa kau tahu tentang masa laluku Aoi? Seperti dengan siapa saja aku berteman misalnya?”.
Aoi terdiam sejenak lalu menggeleng. “Tidak, sensei sangat tertutup untuk masalah pribadi”.
“Benarkah?” Seika berpikir sejenak dan tersenyum mengerti, ia menyadari bahwa ia tidak memiliki teman yang akrab. Sampai ia keluar dari rumah sakit, tidak ada siapapun yang menjenguknya selain Michio dan Shigeo.
Apa-apaan dengan pertanyaan bodoh mu, kau merasa seperti mempunyai banyak teman, gerutu Seika dalam hati.
“Sensei, mengapa kau tidak memakai sarung tangan lagi? Apa kau sudah nyaman bersentuhan dengan orang lain?” Aoi sangat penasaran dengan perubahan Seika, sebelumnya wanita itu akan memakai sarung kemana-mana karena memiliki penyakit OCD.
Seika tersenyum. “Aku sudah mulai nya..” Ucapannya terputus ketika bahunya bertabrakan dengan seorang pemuda, ia menoleh dan melihat pemuda yang memakai baju seragam sekolah.
“Maafkan aku” Ucap Seika lalu berjalan kembali dengan Aoi.
“Hei, onee-san. Kau tidak mengingatku?” Sang pemuda menghentikan langkah Seika dan tersenyum miring.
Seika menatap pemuda berseragam sekolah itu sesaat sembari berpikir dan alisnya terangkat naik, dia adalah laki-laki yang bertemu dengannya di Ikuta Road.
“Ternyata aku benar, kau masih bocah rupanya” Seika melihat ke arah seragam jenjang menengah atas yang dipakai laki-laki itu.
Rahang pemuda itu mulai mengeras, ia menatap Aoi yang memeluk Seika dan menatap takut padanya.
“Kau punya teman yang manis onee-san, dia bahkan lebih manis darimu” Pemuda itu hendak menyentuh wajah Aoi sambil menyeringai.
Seika langsung mencengkeram tangan sang pemuda dan menjauhkannya dari wajah Aoi. Wanita itu menatap tajam. “Apa yang kau inginkan? Urusan kita sudah selesai bukan?”. Ia menyembunyikan Aoi di balik punggungnya.
“Oi oi onee-san. kau merusak kesenanganku” Ucap sang pemuda tidak suka. Ia kembali mencoba meraih tangan Aoi di balik punggung Seika namun wanita itu tidak tinggal diam dan segera menampar wajah laki-laki itu dengan keras.
“Brengsek. Pelacur sepertimu beraninya menamparku” Bentak sang pemuda. Ia mengeluarkan pisau lipat dari balik saku celananya dan mengarahkannya kepada Seika.
Melihat pisau yang berkilat karena terkena cahaya matahari membuat keberanian Seika menghilang seketika, ia bahkan susah payah menopang tubuhnya.
“Heh. Kenapa onee-san? Apa kau takut dengan pisau?” tanya sang pemuda menyeringai, keberanian semakin meningkat, sangat suka melihat wanita yang ketakutan padanya.
Seika tidak menjawab, napasnya tercekat dan sekelebat kejadian mengerikan yang ada di kepalanya membuat wajahnya semakin pucat. Tak sanggup lagi menopang tubuhnya, Seika terjatuh berlutut di jalan setapak.
“Sensei, kau kenapa?” tanya Aoi cemas.
Sang pemuda tertawa terbahak-bahak merasa menang. Ia melangkah mendekati Seika sambil terus mengacungkan pisau. “Aku akan memberimu pelajaran karena telah berani meremehkan ku”.
“Berhenti sampai di situ” Teriak Michio dan memegang tangan pemuda tersebut.
Awalnya Michio hanya mengawasi dari kejauhan karena ia tau Seika punya ilmu beladiri namun ketika melihat kakaknya yang terjatuh dengan wajah pucat, ia langsung berlari menghampiri laki-laki itu.
“Siapa kau? Jangan ikut campur” Bentak sang pemuda.
Michio hanya menatap datar, ia tidak terpengaruh dengan bentakan laki-laki tersebut.
Sang pemuda semakin emosi karena wajah datar Michio, ia berlari dan mengacungkan pisaunya ke arah Michio.
Michio menangkap pisau lipat itu dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang wajah pemuda tersebut dan mendorongnya dengan kuat. Pemuda tersebut jatuh terjerembab di jalan aspal.
“Kyaa!!!. Seseorang tolong telepon polisi” Teriak seorang wanita ketakutah ketika melihat pertarungan tersebut.
Michio mencabut pisau dari tangannya, Darah mengalir pelan dari telapak tangannya, ia menghampiri Seika, menatap cemas pada kakaknya, “Nee-san, kau tidak apa-apa?”.
Seika tidak menjawab, matanya menatap kosong ke jalan aspal sambil memegang dada yang susah bernapas.
“Onee-san. kau tidak apa-apa?” tanya Michio kembali, kali ini ia memegang bahu Seika dengan pelan.
Seika tersentak ketika merasakan tangan orang lain di bahunya, ia menepis kasar tangan Michio lalu memeluk dirinya sendiri.
“Onee-san? kau kenapa?” tanya Michio tidak mengerti dengan ketakutan Seika.
“Tolong jangan menyentuhku, tolong jangan menyentuhku” Gumam Seika dengan suara bergetar.
Michio semakin cemas. Ia ingin menyentuh Seika mencoba mengembalikan fokus gadis itu, namun lagi-lagi Seika menepis dengan kasar tangannya.
Michio menatap ke sekelilingnya mencari laki-laki yang tadi berkelahi dengannya namun pemuda itu sudah tidak ada di antara kerumunan orang-orang. Ia kembali menoleh kepada Seika.
“Onee-san ini aku Michio” Michio berkata lembut mencoba menenangkan Seika.
Seika menggeleng frustasi dengan kuat. Aoi yang berada di sampingnya pun semakin bingung, ia tidak tahu harus berbuat apa melihat Seika yang berjongkok sambil memeluk dirinya dengan ketakutan, kejadian apa sampai membuat tubuh Seika bergetar seperti itu.
“Onee-san, tenanglah. Ini Michio adikmu” Michio memegang paksa bahu kakaknya, agar dapat mengenali siapa sosok yang di hadapan wanita itu.
Seika tersentak dan menatap Michio dengan bingung. “Michio?”.
“Ya. Ini aku Michio” Michio menjawab lega.
Seketika Seika menangis dan memeluk Michio, ia sangat ketakutan ketika melihat pisau di tangan pemuda SMA itu, ia tidak tahu mengapa namun satu hal yang pasti tubuhnya bergetar hebat ketika melihat pisau berkilat tersebut.
“Mi.. Michio” Panggil Seika pelan.
“Ya onee-san”.
“Apa aku pernah di culik sebelumnya?”.
Pertanyaan Seika membuat Michio terdiam membisu, matanya membesar karena tidak menyangka bahwa ingatan kakaknya sudah kembali!.