
“Ittadakimasu” ujar Kenichi lalu diikuti oleh anak buahnya.
Kenichi dan anak buahnya makan dengan tenang, suasana di ruangan washitsu lebih sunyi karena tidak ada Michio yang menghangatkan suasana atau pun Seika yang mengajak bicara para anak buah Kenichi yang akhirnya membuat laki-laki itu cemburu dan mereka bertengkar sejenak.
Kenichi teringat dengan suasana ketika Seika masih duduk disampingnya, ia tersenyum pelan. Ia sangat merindukan saat-saat bahagia tersebut.
Akira mengeluarkan handphone dari saku celananya dan membalik badan untuk mengangkat telepon, beberapa saat ia berbicara lalu menutup teleponnya.
“Kumicho-san” panggil Akira.
Kenichi menoleh.
“Anee-san ada di daerah Ikuta Road, sepertinya dia mencari anda” lapor Akira.
Kenichi memenjam matanya sejenak. Ia telah memerintahkan seorang anak buahnya untuk terus mengawasi Seika, ia tidak ingin kejadian di Kabukicho kembali terulang karena kecerobohannya.
“Dasar gadis bodoh” ujar Kenichi lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan washitsu.. Akira segera menyusul Kenichi.
Para anak buah Kenichi menatap pemimpin mereka yang berlalu begitu saja lalu menatap satu sama lain menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
...&&&...
Seika menghela napas panjang, hampir dua jam ia menunggu namun tidak ada tanda-tanda bahwa Kenichi terlihat di bar. Ia berdiri dan melangkah keluar bar dengan berjalan pelan.
Seika berjalan di jalan setapak sambil terus memikirkan Kenichi. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia terus memikirkan laki-laki itu.
“Hei kawaii neko-chan. Kau sendirian saja?” tanya seorang laki-laki yang duduk di bangku panjang di jalan setapak bersama dengan temannya.
Seika tersadar dari lamunannya dan menatap jengah sekumpulan laki-laki itu lalu menghela napas panjang ketika melihat betapa mudanya mereka. Usia mereka mungkin masih belasan tahun.
Seika berbalik badan menuju ke jalan lainnya, lebih baik menghindari dari pada nanti ia akan terkena masalah. Namun baru beberapa langkah, lengannya di cekal oleh salah satu laki-laki itu.
“Onee-san mengapa kau terburu-buru. Ayo main bersama kami, aku jamin kau akan puas” ujar lelaki tanggung tersebut.
Seika kembali menghela napasnya, walaupun ia mulai kesal dengan pemuda di depannya namun ia memilih tersenyum dan melepaskan cekalan dengan cepat.
“Maaf bocah. Aku bukan shotacon” ujar Seika tersenyum manis, berbanding terbalik dengan kata-katanya yang penuh sindiran.
“Apa?” tanya pemuda tersebut tidak percaya.
Seika berbalik badan dan melangkah pergi tanpa memperdulikan pertanyaan dari pria tersebut.
“Hei, aku bilang berhenti dasar pelacur” bentak laki-laki itu.
Pria itu kembali mencekal lengan Seika namun kali ini gadis itu tidak tinggal diam. Ia memegang lengan laki-laki itu dengan kedua tangannya lalu menikung kaki pria tersebut dan membantingnya ke lantai aspal.
Para teman laki-laki itu terkejut melihat keadaan yang berbalik arah, mereka segera mendekati teman mereka yang terbaring di jalan menahan rasa sakit di punggungnya.
Namun sebelum mereka sempat mendekat, Seika berjongkok dan memukul jalan aspal dengan dompet yang ia bawa. Gerakannya sangat mirip dengan anee-san pemimpin suatu grup yakuza. Bedanya ia memegang dompet bukannya pisau.
“Hey bocah. Berhenti mengganggu perempuan, you pervert oedipus complex” ujar Seika seraya memukul kepala pria tersebut dengan geram.
Pemuda tanggung itu semakin meringgis sakit. Ia mengepalkan tangannya karena menahan amarah dan malu pada saat bersamaan.
Seika berdiri dan melihat tajam kepada pemuda lainnya membuat para laki-laki itu bergidik ngeri.
“Apa yang kalian lihat? Enyah dari jalanku” ujar Seika kesal.
Mereka segera memberi jalan kepada Seika. Gadis itu melangkah dengan tenang walaupun sedikit takut dengan tindakan beraninya, entah mengapa setelah mengetahui bahwa ia bisa beladiri Judo, kepercayaan diri Seika meningkat drastis apalagi di tambah kemampuannya untuk melihat masa lalu menghilang membuat ia bebas melihat ke siapapun tanpa takut akan bayang-bayang masa lalu yang bukan miliknya masuk ke dalam pikirannya.
Jauh di ujung jalan, mobil Kenichi terparkir. Ia melihat semua kejadian tersebut, ia menutup mulutnya menahan ketawa, badannya sampai bergetar pelan karena begitu kuatnya ia menahan tawa.
“Mengapa dia begitu hebat, aku semakin jatuh cinta padanya” ujar Kenichi pelan.
Akira hanya tersenyum pelan, setelah sekian lama baru kali ini Kenichi kembali ceria seperti saat Seika masih bersama Kenichi.
“Anee-san memang hebat kumicho” ujar Akira mendukung.
Kenichi tersenyum lembut.
“Ya. Dia perempuan yang sangat hebat” ujar Kenichi.
...&&&...
“Selamat datang onee-san. Kau ingin mandi dulu atau langsung makan malam?” tanya Michio menyambut Seika yang baru saja pulang ke rumah.
Seika menghela napas sejenak.
“Aku akan mandi dulu” ujar Seika.
Ia melangkah melewati Michio lalu mengacak pelan rambut adiknya seraya berlalu. Michio hanya bingung dengan perlakuan Seika.
Beberapa saat kemudian Seika keluar dari kamarnya sambil menggosok pelan rambut panjang dengan handuk kecil, ia melangkah ke dapur dan tersenyum melihat Michio yang sudah menunggunya di meja makan.
Seika duduk dan menghela napasnya.
“Aku tadi pergi ke salah satu bar di Ikuta Road untuk menemui Kenichi tapi malah bertemu dengan yankee yang menyebalkan” jelas Seika.
“Untuk apa onee-san mencari kumicho-san?” tanya Michio.
Seika mengangkat bahunya.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa Kenichi tidak ada hubungannya dengan Ken yang aku maksud waktu itu” ujar Seika.
“Ken yang onee-san maksud memang tidak ada hubungannya dengan kumicho-san” ujar Michio meyakinkan.
“Aku tau Michio. Aku percaya padamu. Aku hanya ingin melepaskan rasa penasaranku. Entahlah. Aku sendiri juga kebingungan dengan pola pikirku sekarang” ujar Seika.
Michio terdiam sejenak.
“Dan bagaimana kalau ternyata kumicho-san berhubungan dengan Ken yang ada di pikiran onee-san. apa yang akan onee-san lakukan?” tanya Michio pelan.
Seika menatap Michio sejenak.
“Memang ada hubungannya dengan Kenichi?” tanya Seika.
“Aku hanya berkata seandainya. Kalau itu terjadi apa yang akan onee-san lakukan?” tanya Michio.
Seika menatap Michio sejenak lalu tersenyum dan mengacak pelan rambut adiknya.
“Baka. Tentu saja aku akan mengejarnya” jawab Seika sambil tertawa pelan.
Namun beberapa detik ia tersadar akan perkataannya yang terdengar salah.
“Mak.. Maksudku aku akan mengejar ingatanku, aku tidak mengatakan akan mengejar Kenichi. Kau mengerti maksudku kan Michio?” tanya Seika sambil memegang kedua bahu Michio berusaha meyakinkan adiknya bahwa ia hanya salah bicara.
Michio tersenyum lebar.
“Aku tidak mengatakan apapun, mengapa wajah onee-san memerah?” tanya Michio menggoda.
Seika memegang wajahnya yang terasa hangat lalu menutupi wajahnya. Dia sungguh tidak mengerti akan dirinya sendiri, baru beberapa minggu yang lalu ia menyukai Shigeo dan sekarang hatinya malah berdetak untuk Kenichi.
Teringat Shigeo, Seika menghela napas panjang lalu memegang jantungnya. Ia tidak merasakan detakan apapun lagi ketika teringat Shigeo, sangat berbeda ketika mengingat Kenichi, entah kenapa hatinya berdetak kencang ketika teringat laki-laki itu.
Seika menggelengkan kepalanya, tidak. Ia tidak menyukai Kenichi. Ia hanya penasaran karena nama Kenichi sama dengan Ken yang ada di pikirannya. Ya. Hanya itu saja.
“Onee-san” ujar Michio.
“Ya”
“Aku sangat bangga mempunyai kakak sepertimu, kau sangat kuat dan mempunyai jiwa yang baik” ucap Michio tiba-tiba.
Seika terkejut dengan perkataan Michio, sedetik kemudian raut wajah Seika seperti ingin menangis karena terharu dengan pujian adiknya, ia sangat jarang mendengar orang lain memujinya. Seika segera memeluk Michio dengan senang.
Tidak pakai pelukan.
Sebuah suara yang ada di kepala Seika membuat gadis itu segera melepaskan pelukannya dari Michio.
“Kenapa onee-san?” tanya Michio.
Seika memegang kepalanya sambil menatap ke lantai. Ia tidak mengenali suara ini, namun entah kenapa suara tersebut berasal dari orang sangat spesial baginya.
“Onee-san” panggil Michio.
Seika tersadar lalu menoleh ke arah Michio dan tersenyum.
“Sepertinya aku mendapat lagi ingatan masa laluku” jelas Seika.
Michio membulatkan matanya.
“Benarkah?” tanya Michio memastikan.
Seika menganggukkan kepalanya.
“Kata sensei, halusinasi yang aku dapat sebenarnya bukan halusinasi tetapi kepingan ingatan masa laluku dan tadi aku seperti mendengar kata ‘tidak pakai pelukan’ aku tidak tau itu suara siapa” jelas Seika.
Michio tersentak, ia mengingat bahwa kata tersebut berasal dari Kenichi ketika Seika ingin memeluknya di depan pintu rumah. Ia tersenyum lembut.
“Tentu saja itu ingatan onee-san” komentar Michio.
Seika hanya diam walaupun tidak mengerti dengan ujaran Michio.
“Onee-san aku bisa membantu mengembalikan ingatanmu” ujar Michio tersenyum misterius.
Seika menatap penasaran akan perkataan adiknya.