
Okaeri nasai Michio” ujar Seika yang duduk di ruangan wahistu.
“Tadaima anee-san. Ini untukmu anee-san” Michio memberikan plastik yang di jinjingnya.
“Kore wa nan desu ka (apa ini) ?” tanya Seika antusias.
“Ramen yang aku di berikan oleh anak pemilik toko ramen kepadaku” jelas Michio.
“Tidak apa-apa aku memakannya?” tanya Seika kembali walaupun ia sangat selera ketika mencium bau harum dari ramen tersebut.
“Tidak apa-apa, aku sudah makan tadi” Michio mengangguk.
“Wah, baunya enak” ujar Kenichi yang masuk ke dalam ruang washitsu.
“Michio hanya memberikannya kepadaku” ujar Seika sembari menjauhkan mangkuk ramen dari Kenichi.
“Hidoi, aku juga mau” ujar Kenichi merajuk.
“Maaf kumicho-san, aku hanya membawa pulang satu mangkuk, kalau saja aku tahu kumicho-san juga mau…” ujar Michio merasa bersalah.
“Tidak apa apa Michio. Aku malah senang kau hanya membawa pulang satu mangkuk, jadi aku bisa bermain patahan ramen” ujar Kenichi tersenyum.
Seika menoleh dan menatap datar ke arah Kenichi.
“Apa?” tanya Kenichi bingung.
“Bermainlah dalam mimpimu, aku tidak akan memberikannya kepadamu” ujar Seika tersenyum menantang.
“Bagaimana kalau kita buat permainan yang kalah harus memenuhi permintaan yang menang” tawar Kenichi. Seika menjadi ragu.
“Tidak. Aku tidak mau” Seika segera menolak, pasti ia kalah menantang Kenichi.
Kenichi tersenyum menyeringai. “Ayolah uchi no yume, mengapa kau takut?”.
Michio membungkukkan badan sambil tersenyum melihat sikap mesra kedua kakaknya kemudian melangkah keluar dari ruangan washitsu.
“Terima kasih untuk ramennya Michio” ujar Seika tersadar akan langkah Michio. Adiknya tersenyum dan menghilang dari balik pintu fusuma.
&&&
Michio kembali berjalan di lorong kecil yang seminggu yang lalu ia lewati, anak buah Kagamakashi-kai berulang kali menawarkan Michio untuk di kawal, namun Michio menolak tawaran tersebut karena tidak ingin membuatnya terlihat mencolok.
Michio tersenyum ketika mengingat sikap gugup Ayumi seminggu yang lalu, ia jadi ingin menemui gadis itu lagi, laki-laki itu berjalan menuju toko ramen tempat Ayumi bekerja sambil tersenyum pelan namun senyumannya menghilang ketika melihat Ayumi yang menangis di pelukan pamannya. Michio menatap ke sekeliling ruangan toko yang tampak berantakan dengan tatapan terkejut.
“Kenapa tokonya menjadi berantakan oji-san?” tanya Michio.
“Para yakuza yang berkelahi denganmu datang dan mengobrak-abrik tempat ini” jelas paman Ayumi menghela napas panjang.
Michio ikut menghela napas dan tangannya terkepal kuat, apalagi setelah melihat wajah menangis Ayumi yang entah mengapa tidak ingin ia lihat. Michio mengambil handphone dari saku celananya dan menekan beberapa nomor.
“Bawa laki-laki yang bertugas di Ikuta Road kepadaku sekarang juga” ujar Michio.
“Aku cuma butuh tiga orang yang sering mengawasi daerah ini” ujar Michio.
“Aku menunggu di toko ramen” ujar Michio lalu memutuskan teleponnya.
Michio menoleh ke arah Ayumi yang masih terisak di bangku.
“Kau tidak apa-apa? Mereka tidak melukaimu kan?” tanya Michio.
Ayumi menggelengkan kepala. “Maafkan aku tidak bisa memberikan ramen kepadamu hari ini” ujar Ayumi merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, aku kesini bukan untuk memesan ramen” ujar Michio memaklumi.
“Tapi, aku jadi tidak bisa…” ujaran Ayumi terputus karena terkejut dengan kalimat yang masih tersimpan di pikirannya.
“Kau tidak bisa apa?” tanya Michio.
Aku jadi tidak bisa melihat lama wajahmu hari ini, kalimat itulah yang membuat wajah Ayumi memerah dan ia merasa gugup.
Beberapa laki-laki masuk ke dalam toko ramen termasuk ketiga laki-laki yang Michio temui seminggu yang lalu.
“Ma.. mau apa lagi kalian di toko kami?” tanya Ayumi ketakutan.
Michio menggenggam pelan tangan Ayumi, menenangkan gadis itu. Ia melangkah mendekat ke arah ketiga laki-laki yang menundukkan kepala mereka. Setelah tahu bahwa Michio adalah adiknya Kenichi. Pemimpin Yamaguchi-gumi. Mereka dilanda ketakutan karena telah berani melawan laki-laki itu.
“Kalian yang bertanggung jawab atas berantakan toko ramen ini?” tanya Michio.
Ketiga laki-laki itu hanya diam.
“Apa sekarang kalian menjadi tuli?” tanya Michio.
“Ka.. kami yang bertanggung jawab waka” ujar pria bertindik.
Ayumi membulatkan matanya ketika mendengar panggilan untuk Michio. Ia menoleh ke arah laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta dan menatap terkejut.
Michio menghajar ketiga pria itu dengan kesal. “Perkataan ‘jangan mencari masalah’ yang mana yang tidak kalian pahami huh?”.
Dua orang dari laki-laki itu sudah terjatuh di lantai, sedangkan laki-laki yang bertubuh besar masih berusaha untuk berdiri tegak.
“Jawab aku” teriak Michio.
“Ma.. Maafkan kami waka” Jawab pria bertubuh besar.
“Bukan kepadaku kalian harus meminta maaf” ujar Michio.
Pria besar itu segera membungkukkan rendah badannya ke arah Ayumi dan pamannya. “Maafkan kami ojou-san, ojii-san”.
Ayumi memalingkan wajahnya, ia tidak akan pernah menduga bahwa Michio juga bagian dari dunia yakuza, ia menangis menyadari ia telah jatuh cinta kepada orang yang salah.
“Tolong tinggalkan kami” ujar Ayumi pelan.
“Aku minta maaf ojou-san”
“Aku tidak butuh maafmu, tolong tinggalkan saja kami” teriak Ayumi.
Michio melangkah mendekat ke arah Ayumi.
“Kau juga pergi dari sini” ujar Ayumi.
Michio semakin bingung dengan sikap gadis di depannya. “Aku tidak menyangka bahwa kau adalah pemimpin mereka, apa menyenangkan bagimu mempermainkan kami? Kau bahkan membuatku ja…” Ayumi tidak ingin melanjutkan kata katanya.
“Sepertinya kau salah paham ayu..”
“Jangan memanggil namaku!! Pergi dari sini” teriak Ayumi.
“Ayumi” panggil paman Ayumi mencoba menenangkan keponakannya.
“Aku mohon pergi dari tempat ini” ujar Ayumi dengan suara pelan.
Michio menghela napas panjang lalu melangkah pergi. “Aku akan mengirim uang perbaikan toko ramen, semoga kau baik baik saja”.
Ayumi memeluk pamannya sambil menangis. “Oji-san”.
“Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja” ujar paman Ayumi sambil membelai pelan rambut keponakannya.
Ayumi terus menangis, ia sangat membenci yakuza karena ayahnya meninggal di tangan seorang yakuza hanya karena telat membayar hutang dari tanggal kesepakatan, ia tidak akan pernah melupakan peristiwa mengerikan yang terjadi tepat di depannya tersebut.
Michio berjalan yang di kawal oleh anak buah Kagamakashi-kai disisi kanan dan kirinya. Ia memikirkan mengapa Ayumi menjadi membenci dan tidak mau mendengar penjelasannya.
Pasti ada alasan mengapa dia bersikap histeris seperti itu, simpul Michio dalam hati.
Tapi apapun alasan Ayumi nantinya, Michio tidak akan begitu saja menjauhi dan meninggalkan Ayumi yang membuatnya tertarik, ia akan mencari tahu sebab mengapa Ayumi sangat membenci yakuza. Michio tersenyum heran kepada dirinya sendiri, baru kali ini ia ingin mengenal lebih jauh seorang wanita.