
Seika membuka pelan matanya dan mengerjap beberapa kali mencoba menyesuaikan cahaya yang terdapat di dalam ruangan tersebut. Ketika ia ingin menggerakkan badannya, tubuhnya tertahan oleh seikat tali yang mengikat badan dan kedua tangannya.
Mata Seika membulat dan ia menatap ke arah depan, terdapat beberapa laki-laki dalam ruangan tersebut, salah satunya adalah laki-laki yang bertengkar dengannya di jalan setapak restoran.
“Kau sudah bangun kawaii onee-san?” Tanya sang laki-laki yang pernah bertengkar dengan Seika. Teman-temannya tertawa mendengar pertanyaan lucu laki-laki itu.
Seika tidak mendengar pertanyaan laki-laki itu, pikirannya di penuhi oleh sekelebat kejadian yang ia tidak tahu kenapa. Matanya mengerjab beberapa kali untuk mengusir bayangan tersebut, napasnya mulai tercekat.
Seika bernapas kasar dari mulutnya, keringat dingin mulai bermunculan di kening membuat wajahnya terlihat pucat pasi.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya melihat Seika yang kesusahan dalam bernapas. Ia memang tidak berniat membunuh wanita ini, ia hanya ingin memberi Seika pelajaran karena telah berani mempermalukannya. Namun jika sesuatu terjadi pada sang wanita, pasti ia akan terjerat masalah.
“Kau kenapa onee-san?” Tanya laki-laki itu mulai khawatir.
“Jangan menyentuhku, aku mohon jangan menyentuhku” gumam Seika pelan, napasnya semakin berat.
“Hei onee-san. Kau tidak apa-apa kan?” Tanya laki-laki itu melangkah mendekati Seika.
“Arrrghhhh!!!” Seketika Seika menjerit kuat. Air matanya mengalir cepat, sekelebat tentang masa lalunya mulai menyerang kepalanya bertubi-tubi.
Laki-laki yang ada di depannya maupun yang berada di ujung ruangan terkejut dengan teriakan Seika
“Aku mencintaimu Seika, apapun yang terjadi jangan meninggalkanku, aku mohon” Ucap Kenichi sambil memeluk Seika, suara laki-laki itu terdengar bergetar.
“Kau sangat cantik seperti biasanya, aku semakin mencintaimu Seika” Ucap Kenichi ketika melihat Seika dalam balutan kimono formal.
“Jangan dengarkan mereka anee-san, tinggalkan saja kami disini, kami akan baik-baik saja” Ujar Eiji sambil menahan sakit akibat peluru yang bersarang di kakinya.
Seika memberontak kuat karena ingatan demi ingatan mulai masuk ke dalam kepalanya, wanita itu terjatuh dengan kursi yang menimpa tubuhnya karena terlalu kuat memberontak, napasnya semakin tercekat.
“Kenapa dengan wanita itu? Apa dia sudah gila?” Tanya salah satu dari teman laki-laki itu waspada.
Sang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari Seika juga ikut kebingungan, ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Taka cepat bungkam mulutnya. Kau tidak ingin kita ketahuan menculik seorang perempuan kan?” Perintah salah seorang laki-laki.
Taka tersadar dan segera menghampiri Seika yang bergumam tidak jelas dengan napas yang berat. Ia memegang bahu Seika.
“Onee-san kau tidak apa-apa?” Tanya Taka dengan nada takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu dan ia masuk penjara?.
Seika tersentak ketika tangan Taka menyentuh bahunya, perlahan-lahan kesadaran menghilang, wanita itu pingsan tidak sadarkan diri.
&&&
Kenichi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mendengar kabar dari anak buahnya bahwa Seika kembali di culik tanpa berpikir panjang ia langsung masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi, ia bahkan tidak memperdulikan teriakan Akira yang berusaha mencegahnya. Tangannya mencengkeram setir mobil dengan kuat.
“Kumohon jangan lagi… jangan lagi membuatnya gila. Kumohon!!” Teriak Kenichi dengan nada bergetar.
Tangannya ikut bergetar, pikiran yang di penuhi oleh Seika yang berteriak gila seakan menampar nya bertubi-tubi. Demi tuhan, Kenichi tidak ingin melihat hal mengerikan itu terjadi lagi.
“Ku mohon lindungi Seika sampai aku sampai disana” Gumam Kenichi beberapa kali. Ia menambahkan kecepatan mobilnya.
&&&
Satu tahun yang lalu.
Kobe, Jepang
Seika duduk diapit oleh dua orang laki-laki, tangannya di borgol dan sepanjang jalan ia menggigit bibirnya, mencegahnya untuk tidak menangis ataupun terisak. Beberapa saat kemudian mobil berhenti di ujung pelabuhan Kobe. Mark, Ryan dan pria berambut panjang sudah menunggu di sana.
“Kami yakin bos” Jawab salah satu laki-laki yang menarik Seika paksa untuk berjalan.
Shao Shen menatap Seika sesaat lalu berbalik badan dan menaiki sebuah kapal fery yang sudah ia siapkan. Sedangkan Mark dan Ryan hanya tersenyum menyeringai.
Seika terkejut ketika melihat Ryan, ia mengerti sekarang bahwa Ryan adalah salah satu musuh Kenichi. Ia merutuki kebodohannya yang dengan mudah mempercayai orang lain dan mengumbar kemampuannya. Wanita itu yakin bahwa Ryan akan memanfaatkan kemampuan yang ia miliki untuk kepentingan jahat, seperti yang telah kakeknya katakan sewaktu ia kecil.
Dua orang laki-laki di sisi kanan dan kiri Seika segera menarik wanita itu untuk naik ke kapal fery dan beberapa saat kemudian kapal tersebut meninggalkan kota Kobe, Seika menatap kota Kobe yang semakin menjauh.
Kenichi, panggil Seika ketakutan dalam hati.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di pelabuhan China dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di dermaga lalu melaju dengan kecepatan sedang.
Seika mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba memfokuskan penglihatannya, perjalanan yang panjang membuat kepalanya menjadi pusing. Mobil berhenti di sebuah gedung bertingkat lima.
Seika kembali di tarik paksa untuk berjalan memasuki gedung tersebut, ia masuk ke dalam lift bersama dengan Mark, Ryan dan Shao Shen serta beberapa anak buah Shao dan Mark.
Lift berdenting dan terbuka, mereka berjalan ke sebuah kamar yang tampak kosong tidak ada peralatan apapun selain kursi dan meja.
Seika di dudukkan di sebuah kursi di depan sebuah meja. Wanita itu mengeratkan giginya menahan airmata yang mulai mengenang di pelupuk mata.
“Kau ingin segera memulainya?” Tanya Shao Shen yang duduk di kursi sambil menopang dagunya dengan tangan yang ia letakkan di sandaran kursi sisi kanan.
Ia sebenarnya tidak percaya dengan perkataan Mark yang mengatakan bahwa wanita di depannya dapat melihat masa lalu orang lain. Hanya shaman atau dukun yang dapat melakukan itu dan itu pun tidak sembarang dukun. Dan sekarang Mark berkata bahwa wanita ini bisa melakukannya dengan mudah?, Tanya Shao Shen ragu.
“Tentu saja. Kau ingin bukti kan?” Mark menatap Ryan, anak buahnya langsung mengerti.
Ryan memegang sebelah tangan Seika dan membuka sarung tangan yang gadis itu pakai.
“Ryan, apa yang kau lakukan?” Tanya Seika takut, air matanya akhirnya mengalir tanpa bisa ia cegah.
Laki-laki itu hanya tersenyum menyeringai. “Bawakan orang yang ingin kau ketahui rahasianya” Ucap Mark kepada Shao Shen.
Shao Shen menghela napas jengah lalu menatap anak buahnya. Kedua laki-laki yang ada disampingnya membungkuk sesaat sebelum melangkah keluar. Beberapa saat kemudian mereka kembali sambil menyeret seorang pria yang penuh dengan luka lebam, melemparnya ke samping Seika.
Ryan mencengkeram wajah laki-laki itu dan menatap tepat di matanya. Tidak ada pikiran apapun yang masuk ke dalam kepalanya. Ia mengambil tangan kanan Seika dan menempelkan di kepala laki-laki yang sedang sekarat tersebut.
Beberapa kejadian tentang laki-laki itu membunuh dan menyiksa orang lain masuk ke dalam pikiran Seika, tidak hanya itu, ia juga melihat beberapa transaksi yang di lakukan pria itu dengan beberapa laki-laki.
Rasa mual membuat Seika memuntah isi perutnya ke samping kiri, beberapa muntahan memercik ke celana Mark dan Ryan.
Mark berdecak kesal. “Katakan apa yang kau lihat?”.
Seika tidak mendengar perkataan Mark, ia terbatuk-batuk menahan sakit karena mual dan pikirannya yang kalut. Mark menjadi tidak sabar, ia mencengkeram kuat wajah Seika membuat wanita itu mendongak namun Seika hanya menatap hidung Mark.
“Aku bilang katakan apa yang kau lihat” Perintah Mark dengan suara rendah.
Seika menggigit lidahnya, ia tidak akan membiarkan Mark atau siapa pun memanfaatkan kemampuannya untuk kepentingan jahat mereka.
Mark semakin kesal, ia menampar kuat wajah Seika sampai membuat wajah wanita itu berpaling ke kanan dengan air mata yang terus mengalir, Seika semakin menggigit lidahnya agar tidak berteriak sakit.
“Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu, Ryan pegang tangannya” perintah Mark.
Ryan memegang tangan Seika dan meletakkannya di atas meja. Mark mengambil pisau dan menjilati pisau tersebut dengan penuh gairah.
“Kau tidak ingin kehilangan jari jemarimu bukan?” Ancam Mark.