Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Sekelebat Ingatan Seika



“Biarkan aku memelukmu sekali lagi” Ucap Seika dengan tenang.


Metode kedua untuk memicu ingatan adalah kontak fisik, jika Kenichi adalah masa lalunya, ingatan Seika pasti akan terpengaruh oleh kontak fisik tersebut.


Pelukan terakhir mereka sangat membekas di hati Seika, seperti sudah ia nantikan sekian lama. Oleh karena itu ia akan mencoba metode kontak fisik kembali.


Kenichi terkejut dengan kata tidak terduga dari mulut Seika. “Apa?”. Rahangnya mengeras karena menahan keinginan untuk memeluk wanita di hadapannya. 


Seika tersentak dengan suara yang terdengar seperti ancaman, ia berdeham beberapa kali untuk menenangkan hatinya. “Aku tahu ini egois, tapi aku ingin memastikan kalau kau tidak ada hubungannya dengan masa laluku”.


Kenichi terdiam sejenak. “Apa yang sebenarnya ingin kau pastikan?”.


“Aku ingin memastikan bahwa kau bukan laki-laki yang kutemui di restoran waktu itu”.


“Aku sudah bilang kalau kau salah orang” Bantah Kenichi.


“Berarti kau tidak ada masalah kalau aku memelukmu lagi bukan?” Ujar Seika yang mulai keras kepala.


“Aku tidak nyaman disentuh oleh orang yang tidak aku kenal” Jelas Kenichi mempertahankan pendapatnya.. 


Aku tidak akan terpengaruh oleh kata kata itu Kenichi, ucap Seika dalam hati. 


“Hanya sebentar saja, setelah memastikan bahwa kau bukan laki-laki itu aku akan menjauh dari kehidupanmu” Seika berkata dengan nada memaksa, ia bahkan melangkah maju mendekati Kenichi.


Kenichi merasa terpojok, ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia tidak ingin Seika melihat masa lalunya karena itu akan membuat gadis itu semakin curiga dengannya. Namun ia juga tak ingin di sentuh oleh Seika, apalagi wanita itu menatap lembut tepat ke matanya. Ia sangat yakin akal sehatnya akan menghilang jika Seika benar-benar melakukan hal itu.


Kenichi menatap ke arah Seika sejenak, sebuah ide muncul dalam pikirannya. Laki-laki itu tertawa menyeringai lalu menarik Seika mendekat ke arahnya dengan kasar.


“Kenapa kau sangat ingin menyentuhku? Apa kau menyukaiku Aiko-san?”. Kenichi akan membuat Seika ketakutan akan dirinya dan bisa di pastikan bahwa gadis itu tidak akan mencoba bertemu dengannya lagi.


Seika menatap dalam ke mata Kenichi membuat laki-laki itu memalingkan tatapannya. “Aku sudah bilang aku ingin memastikan kalau laki-laki itu bukan kau Shinoda-san” Suara wanita itu terdengar tenang namun tangan terkepal kuat yang berada di samping pahanya menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.


“Dan kalau aku adalah laki-laki itu. Apa yang ingin kau lakukan?” Tantang Kenichi.


“Tentu saja aku akan terus mengganggumu sampai aku tahu mengapa aku begitu penasaran denganmu” Seika tidak ingin kalah dalam perdebatan tersebut.


Rahang Kenichi semakin mengeras, ia mengcengkeram kuat bahu Seika karena menahan hati yang terus bergejolak lalu beberapa saat melepaskan cengkeramannya. 


Kenichi kembali menyeringai. “Nona, kau sudah dua kali keluar masuk ke markasku, apa kau tidak takut jika musuhku mengira kalau kau adalah kekasihku dan menculikmu?”.


Seika membulatkan matanya, ia melupakan satu hal itu. 


“Kau sangat naif. Kau tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang di duniaku jika menculik perempuan?”. Kenichi mengambil sebuah pisau buah yang terletak di meja kecil tidak jauh darinya lalu menatap tajam ke arah Seika.


“Mereka akan memainkan pisau di wajahmu untuk menakuti mu lalu mereka akan mulai memotong jari jemari mu satu persatu dan lebih serunya mereka akan mengulitimu secara berla...” Ucapan Kenichi terhenti ketika melihat Seika jatuh berlutut. Napas wanita itu tercekat dengan bulir keringat dingin yang mengalir di keningnya. Kenichi terkejut melihat wajah pucat pasi Seika.


Seika memegang dadanya yang susah payah bernapas. Badannya bergetar hebat, air matanya mengalir pelan dalam diam dengan mata terbelalak. Sekelebat tentang kejadian sebuah pisau yang tertancap di antara jemarinya membuatnya semakin susah bernapas.


Kenichi mengeraskan rahangnya lalu melangkah keluar ruang fusuma. “Jika kau takut itu terjadi padamu, berhentilah menemuiku”.


Seika masih berlutut memegang dadanya, ia tahu kalau Kenichi hanya memperingatkannya namun kejadian yang ada di kepalanya membuatnya tidak bisa berpikir jernih dengan tangan bergetar ia memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba melindunginya dari sesuatu yang bahaya.


Di luar ruangan Kenichi berdiri dengan kepalan tangannya yang kuat, ia mencoba menjauhkan Seika dari mimpi buruknya yang mungkin terulang lagi namun satu hal yang ia sadar sekarang, bahwa mimpi buruk Seika adalah dirinya.


&&&


“Onee-san” Panggil Michio sambil mengetuk pelan pintu kamar Seika.


Tidak ada jawaban apapun yang terdengar dari dalam kamar, Michio menghela napas. Awalnya ia kebingungan melihat Seika yang tiba-tiba sampai di rumah dengan wajah penuh air mata namun ketika mendengar penjelasan Kenichi, ia tidak tahu harus menyalahkan siapa.


“Onee-san, Makan malamnya sudah siap. Keluarlah onee-san” Michio kembali mengetuk pintu. 


Lagi-lagi Seika tidak menjawab Michio. Pemuda itu menghela napas panjang. “Aku akan meletakkannya di depan pintu, tolong makanlah sedikit onee-san”.


Seika duduk di atas tempat tidur sambil memeluk dirinya sendiri, bayangan tentang sekelebat masa lalu masih sangat membekas di pikiran Seika, seperti baru saja mengalaminya. Ia tidak tahu siapa yang melakukan hal kejam itu kepadanya namun sebuah tangan yang memegang pisau dan menusuk di antara jari jemarinya semakin nyata di pikiran wanita itu. Seika semakin memeluk erat dirinya.


&&&


Mata Kenichi membulat dan ia segera berlari menghampiri Seika namun semakin ia berlari bukannya semakin dekat langkahnya malah semakin jauh dengan Seika.


“Seika” Teriak Kenichi ketika melihat Seika semakin jauh dan menghilang.


Tiba-tiba suasana berubah menjadi rumah sakit dan didepannya berdiri seorang dokter laki-laki.


“Apa nona Shinoda-san meminum obat itu karena frustasi kehilangan janinnya?”.


Suara Kenichi tercekat, ia bahkan bernapas dengan susah payah. Seorang anak kecil menarik pelan kain celananya.


“Otou-san (ayah) ” Panggil sang anak sambil tersenyum manis.


Kenichi bangun dari tidurnya, keringat dingin membasahi yukata bagian atasnya. Ia bernapas berat lalu mengurut keningnya beberapa kali.


“Kusso (sialan)!” gerutunya pelan. Ia mengambil telepon dan segera menelpon Michio.


“Moshi Moshi Kumicho-san” Terdengar suara Michio di balik telepon.


“Michio, bagaimana keadaan Seika?” Tanya Kenichi di telpon.


“Anee-san masih belum mau memakan apapun dari tadi malam kumicho” Jawab Michio dengan suara sedih. 


Kenichi menghela napas panjang. “Maaf Ini salahku, tolong jaga Seika untukku”.


“Baik kumicho-san”.


Kenichi mematikan teleponnya dan menghela napas berat. Keadaannya semakin rumit, ia tidak akan menyangka bahwa Seika akan ketakutan seperti itu, ia merutuki dirinya sendiri. Ini akan jadi terakhir kalinya ia menyakiti Seika.


Ketukan di pintu membuat Kenichi menoleh. “Masuklah”.


Akira masuk dan membungkukkan badannnya. 


“Ada apa Akira?”.


“Anda tidak apa-apa kumicho?” Akira berbalik tanya. 


Kenichi hanya mengangguk lemah.


&&&


Seika keluar kamar memakai kemeja putih dipadu celana jeans berwarna hitam dan tas kerjanya yang ia jinjing. Semenjak ia tahu bahwa kemampuan retrokognisionnya menghilang, ia tidak lagi memakai sarung tangannya.


Seika menghela napas perlahan. Ia memutuskan untuk mulai bekerja, sudah dua hari ia meminta cuti kerja di klinik karena ketakutan akan bayangan masa lalu yang terus mengusiknya dan lagi pula akhir-akhir ini ia juga sering cuti karena beberapa hal.


“Onee-san” Panggil Michio senang. Akhirnya kakaknya keluar juga dari kamar.


Seika tersenyum pelan seraya menatap Michio sejenak. “Maafkan aku Michio, lagi-lagi aku membuatmu cemas”.


Michio menggeleng pelan sembari tersenyum. “Tidak apa-apa, Aku memahami perasaan onee-san seharusnya aku yang meminta maaf karena memberikan alamat kumicho-san kepada onee-san”.


Seika tersenyum. “Itu bukan salahmu, aku mengurung diri bukan karena peringatan Shinoda-san tapi ...”.


Seika ragu untuk mengatakannya karena ia sendiri juga tidak tau apakah ingatan tentang pisau yang tertancap di antara jari jemarinya hanya halunisasi atau masa lalunya.


“Tapi apa onee-san?” tanya Michio.


Seika tersenyum lalu menggelengkan kepala. “Aku sarapan di klinik saja, aku pergi Michio".


Michio ingin mencekal lengan Seika ketika melihat raut pucat wajah kakaknya namun mengurungkan niatnya. “Baiklah, hati-hati di jalan”.