Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Side Story Michio (1)



Michio berjalan di lorong kecil di daerah Ikuta Road pada siang hari. Sebagian toko masih tutup karena daerah Ikuta Road hanya ramai saat malam hari, hari ini ia akan mengelilingi untuk mengawasi toko-toko yang telah membayar uang keamanan kepada Yamaguchi-gumi dari gangguan para yankee, menjaga dan melihat apakah akan kendala yang terjadi selama ia tidak bertugas.


Karena masalah penculikan Seika yang dilakukan oleh anak buah di bawah naungan klan Yamagi-kai yang juga di bawah tanggung jawabnya membuatnya juga ikut merasa bersalah, ia sendiri yang membubarkan klan Yamagi-kai dan membereskan segala masalah yang datang karena pembubaran klan tersebut.


Namun semua yang ia lakukan belum cukup membuatnya merasa bertanggung jawab. Akhirnya Michio mengambil tanggung jawab klan kecil yang memiliki kekuasaan di Ikuta Road. Dan disinilah ia, berjalan sendiri karena tidak ingin membuat masyarakat yang tinggal atau pun yang mencari nafkah di Ikuta Road takut akan sekumpulan laki-laki berpakaian preman dan bergaya arogan.


Michio menatap toko ramen yang memang buka dari siang sampai malam hari, laki-laki itu tersenyum karena keinginan untuk mencoba mie yang terkenal di daerah tersebut.


“Irasshaimase (selamat datang)” Ucap seorang gadis yang memakai celemek dan memeluk nampan di dadanya. Gadis itu membungkukkan badannya pelan sembari tersenyum cerah.


Michio hanya tersenyum dan duduk di meja paling depan yang menghadap dapur.


“Anda ingin memesan apa tuan?” tanya gadis itu tersebut.


“Ramen saja” jawab Michio tersenyum.


“Oji-san. Ramennya satu mangkuk” Teriak gadis itu kepada seorang laki-laki yang berada di dalam dapur.


“Baik Ayu-chan”.


“Berhentilah memanggilku Ayu-chan” Ucap gadis itu sambil memanyunkan bibirnya, tampak tidak suka dengan panggilan manis pamannya.


Michio  tersenyum samar mendengar nama yang memang terdengar manis.


“Shou shou omachi kudasai (silahkan menunggu)” Ucap gadis yang bernama ayumi tersebut.


Michio mengangguk, beberapa saat kemudian, pesanan ramen Michio pun datang, mie yang terlihat lezat mengepul di dalam sebuah mangkuk berukuran sedang.


“Omatase shimashita (terimakasih sudah menunggu)” Ayumi meletakkan semangkuk ramen di hadapan Michio.


“Silahkan menikmati” Ayumi membungkukkan badan sebelum melangkah ke dapur kembali. 


“Terima kasih” Michio pun menyantap mie tersebut dengan lahap.


“Ayumi, kau tidak melihat para yakuza berkeliaran hari ini kan?” tanya paman gadis itu. Michio menghentikan makannya sejenak, tampak tertarik dengan pertanyaan tersebut.


Ayumi menghela napas panjang. “Aku belum melihatnya hari ini. Sampah masyarakat itu, sampai kapan mereka akan menjadi parasit di sini”


Michio menaikkan alisnya, cukup terkejut dengan perkataan blak-blakan Ayumi.


“Shh, kau tidak boleh mengatakan itu. Kalau mereka mendengarnya, toko kita akan kena dampaknya” paman memukul pelan lengan keponakannya.


“Aku tidak peduli apakah mereka mendengarnya atau tidak. Bahkan lebih baik jika mereka mendengarnya, aku sudah muak dengan tingkah laku mereka” omel Ayumi emosi.


Michio mengunyah ramen dengan pelan, sambil terus menajamkan pendengarannya. Beberapa saat kemudian beberapa pria masuk ke dalam toko, pakaiannya menunjukkan bahwa mereka lah yang Ayumi bicarakan sedari tadi.


“Oi ojou (nona), aku ingin semangkuk ramen dengan banyak dagingnya” Ucap salah satu laki-laki itu dengan nada perintah. Teman-temannya mulai menduduki kursi di pojokan.


Ayumi mengepalkan kuat tangannya lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan berlahan. Ia menghampiri para laki-laki yang duduk di sudut ruangan.


“Maaf oji-san, aku tidak meladeni orang yang tidak mampu membayar” Ayumi dengan tangan terkepal, mencoba menguatkan hatinya akan respon yang akan ia terima. 


Ketiga laki-laki itu menatap tajam ke arah Ayumi.


“Kau tidak mendengar kata-kataku, aku bilang aku mau semangkuk ramen!” Bentak laki-laki yang memakai tindik di telinga.


“Ayumi” Panggil paman yang mulai cemas dengan keadaan keponakannya.


Nyali Ayumi sedikit menciut ketika mendengar nada rendah tersebut, ia mengeratkan giginya mencoba mengenyahkan rasa takutnya.


“Aku tidak mau karena kalian tidak akan membayarnya bukan?” tanya Ayumi menantang.


“Omaee!!(kau)” ujar laki-laki yang bertubuh besar. Ia berdiri dari kursinya.


Michio membanting gelas minumannya di atas meja dengan kuat, membuat suara yang menarik perhatian. Para yakuza tersebut dan Ayumi serentak menoleh ke arah Michio.


“Kenapa kalian sangat berisik di siang hari. Aku bahkan tidak bisa menelan ramenku” Ucap Michio berdiri dan melangkah menghampiri tempat para laki-laki itu.


“Oi oji-san, kalau kau tidak mampu membayar jangan memesan. Itu adalah pengetahuan dasar. Anak kecil pun tahu akan hal itu”


Namun Michio menangkapnya dengan mudah, ia mulai meremas kepala tangan laki-laki itu dengan kuat dan menekannya ke depan, membuat pergelangan tangan laki-laki itu menjadi sakit karena tangannya yang melengkung.


Ayumi terkejut melihat adegan yang terjadi di depannya, ia tidak akan menyangka Michio yang tidak mempunyai wajah menakutkan mampu membuat seorang yakuza kesakitan. Beberapa saat kemudian Michio melepaskan tangannya.


“Kalau kau masih merasa urusan kita belum selesai, temui aku di luar” bisik Michio dengan nada rendah, sarat akan kecaman.


“Brengsek” Ucap laki-laki bertubuh besar. Ketiga laki-laki itu dan menggeser meja yang menghalangi jalan mereka dengan kasar, seperti sedang menunjukkan kuasa.


Beberapa orang yang berjalan di jalan kecil tersebut Nampak tertarik dengan keributan yang ketiga laki-laki itu ciptakan, mereka berdiri agak jauh sambil menunggu apa yang akan terjadi, sebagian lainnya memilih untuk tidak melihat kejadian itu karena takut akan terlibat, perkelahian memang kerap terjadi di Ikuta Road, namun tetap saja membuat orang orang yang tinggal di sana merasa ketakutan.


“Kau akan mati hari ini bocah” Laki-laki bertubuh pendek segera menyerang Michio, mengayunkan tinjunya ke arah wajah Michio namun bisa di hindari, Michio segera menikung sikunya ke pelipis laki-laki itu dan seketika tersungkur di jalan sambil memegang pelipisnya yang berdarah.


“Bajingan!!” teriak laki-laki yang bertubuh besar.


Kedua temannya laki-laki bertubuh pendek mengepung Michio dan mulai menyerang dengan membabi buta namun dengan lihai Michio bisa menghindari serangan tersebut dan membalas dengan meninju dan menendang jika ada kesempatan.


Beberapa menit kemudian kedua laki-laki itu jatuh sambil memegang anggota tubuh mereka yang terkena pukulan atau pun tendangan Michio.


Michio menghela napas sejenak, mencoba menenangkan napasnya yang tersengal-sengal beberapa saat lalu menghampiri ketiga laki-laki yang masih terduduk di jalan aspal.


“Ossan, kau dari kelompok mana?” tanya Michio.


Ketiga laki-laki saling menatap satu sama lain. “Kau anggota yakuza bocah?” tanya laki-laki bertubuh besar.


Michio terdiam sejenak lalu kembali tersenyum.


“Itu bukan pertanyaanku, aku tanya kalian dari kelompok mana?” tanya Michio dengan suara rendah.


“Ka.. kami dari kelompok Ayakashi-Kai” jawab laki-laki bertindik.


Mereka menelan ludah dengan susah payah dengan tatapan tajam yang Michio perlihatkan. Laki-laki itu berpikir sejenak, sepertinya mereka adalah anak buah Kagamakashi-kai yang berada di bawah tanggung jawabnya. 


Michio kembali menghela napas. “Aku tidak ingin melihat kalian berkeliaran di sini lagi, jangan mencari masalah. Kalian mengerti?”. 


Ketiga laki-laki itu terdiam.


“Aku bilang apa kalian mengerti?” tanya Michio dengan penuh penekanan.


“Ka.. kami mengerti”.


Michio menoleh ke arah Ayumi yang sedari tadi tegang melihat perkelahiannya, laki-laki itu tersenyum manis.


“Maaf, membuat kekacauan disini” Ucap Michio membungkuk pelan badannya lalu melangkah pergi.


“Tunggu dulu” teriak Ayumi memanggil.


Michio menoleh, ayumi masuk ke dalam toko ramen dengan cepat dan beberapa saat kemudian kembali keluar menjinjing plastik berisi mangkuk ramen.


“Ini terima lah, sebagai rasa terima kasihku” ujar Ayumi dengan gugup.


“Aku tidak membantu banyak, aku hanya kesal karena mereka sangat berisik” ujar Michio menolak pemberian tersebut.


“Tidak, bagaimana kau sudah menolongku hari ini, jadi terima lah” ujar Ayumi kembali mengulurkan plastik berisi mangkuk ramen tersebut.


Michio tersenyum pelan lalu mengambil pemberian tersebut. “Terima kasih”.


“Cho… chotto mate kudasai (tunggu sebentar)” ujar Ayumi panik.


Michio lagi-lagi membalikkan badannya.


“ano… o namae wa nan desu ka? (Itu.. Siapa namamu?)” tanya Ayumi gugup, wajahnya mulai memanas.


“Michio desu, mata aishita Ayu-chan” ujar Michio tersenyum geli lalu melangkah pergi.


Ayumi menutup wajahnya yang memerah karena gurauan Michio akan namanya. Ia sangat senang berjumpa dengan pria tampan dan baik hati seperti Michio. Seorang pria yang sangat jarang ia temui. Ayumi tersadar akan lamunannya lalu menampar pelan kedua pipinya untuk mengenyahkan perasaan yang mulai tumbuh di hatinya, ia melangkah masuk ke dalam toko.