
Ryan lengah, ia hanya memastikan bahwa Kenichi tidak akan bertemu Seika pada jam seperti ini namun melewatkan Shigeo karena berpikir itu adalah hal yang tidak mungkin, secara laki-laki itu tinggal di Osaka.
Shigeo menatap tajam kepada Ryan, seakan ingin membunuhnya di dalam pikirannya. Ryan semakin gelisah.
“Nishiguchi-san” ujar Seika tersenyum sembari berdiri. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Shigeo.
“Siapa dia?” tanya Shigeo tersenyum lebar menoleh ke arah Ryan.
“Oh, dia orang yang menolongku sewaktu aku hampir jatuh di festival kembang api. Aku baru saja bertemu lagi dengannya” jelas Seika
Tatapan dingin Shigeo membuat Ryan terintimidasi membuat tatapan milik Shigeo semakin curiga, sedangkan Seika memaklumi tatapan gelisah Ryan. Mungkin ia tau bahwa Shigeo adalah pemimpin kelompok Sumiyoshi-kai.
“Kenalkan ini Ryan, ini Nishiguchi-san” ujar Seika memperkenalkan keduanya.
Shigeo tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. Mau tidak mau Ryan berjabat tangan dengan Shigeo.
“Namaku Shigeo Nishiguchi. Pemimpin kelompok Sumiyoshi-kai” ujar Shigeo sambil berjabat kuat tangan Ryan.
“Ak..Namaku Ryan. Se.. senang bertemu anda Nishiguchi-san” ujar Ryan yang menahan sakit lalu mencoba melepaskan jabat tangannya.
“Kau bisa memanggilku Shigeo. semoga kita bisa akrab kedepannya” ujar Shigeo semakin meremas tangan Ryan.
“Hei, kau menyakitinya” ujar Seika melepaskan tangan Ryan dari cengkeraman Shigeo.
“Kalau begitu. Aku permisi. Ada yang harus aku lakukan” ucap Ryan berpamitan, ia segera berjalan keluar dari restoran.
“Bagaimana kau bisa berkenalan dengannya?” tanya Shigeo masih terus mengawasi ke pintu keluar.
“Aku sudah bilang kalau aku bertemu dengannya karena dia membantuku yang hampir terjatuh, memangnya kenapa? ” jelas Seika.
Mengapa Nishiguchi-san sangat terganggu dengan Ryan?, tanya Seika dalam hati.
“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak suka. Aku menyukaimu tapi kau malah bertemu dengan laki-laki lain” ujar Shigeo dengan nada dibuat kesal.
“Itu.. aku”
“Aku tahu, kau mencintai Kenichi. Tidak usah menjawabnya. Membuatku badmood aja” ujar Shigeo.
Seika hanya diam.
Shigeo mengambil tempat duduk di depan Seika.
“haah.. aku lapar” ujar Shigeo mengalihkan pembicaraan. Ia mengangkat sebelah tangannya, memanggil pelayan.
Seika tersenyum lalu kembali duduk dan melanjutkan makannya
...&&&...
Seika tersenyum melihat Kenichi yang berdiri menghadap anak buahnya, ia memakai kemeja putih dibalut dengan rompi berwarna biru tua serta dilengkapi oleh jas panjang yang dibiarkan tidak terkancing.
Anak buah Kenichi yang menyadari kehadiran Seika lalu membungkukkan kepalanya membuat Kenichi berbalik badan dan tersenyum melihat kekasihnya.
“Kau baru pulang Sei...”
Ucapan Kenichi terputus ketika melihat Shigeo yang mengikuti Seika dari belakang. Ia langsung melangkah cepat dan memeluk posesif Seika sembari menatap tajam kepada Shigeo.
“Sudah lama aku tidak kemari” ujar Shigeo sambil memandangi pemandangan di sekelilingnya, tidak memperdulikan tatapan tajam Kenichi.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Kenichi mendesis.
Anak buah Kenichi yang juga menyadari kehadiran Shigeo langsung mengacungkan pistol kepadanya
“Whoa.. clam down. Aku datang dengan damai” ujar Shigeo mengangkat kedua tangannya.
“Aku tanya untuk apa kau datang kemari?” tanya Kenichi penuh penekanan.
Shigeo terkekeh.
“Aku ingin menemuimu secara pribadi, makanya aku tidak membawa anak buahku dan ada yang ingin ku katakan juga padamu” jawab Shigeo.
“Aku tidak ingin bertemu denganmu, jadi keluar dari rumahku” ujar Kenichi tajam.
“Kenichi!” ujar Seika merengut.
“Kau sudah berjanji akan berteman kembali dengan Shigeo” ujar Seika mengingatkan.
Kenichi menatap Seika, mencoba membujuknya. Namun Seika tidak bergeming dan menatap tegas kepadanya, seperti mengatakan ‘no negotiation’.
Kenichi menghela napas lalu menyuruh anak buahnya untuk menurunkan pistol mereka.
“Masuklah” ujar Kenichi datar.
Kenichi menggenggam tangan Seika. Shigeo hanya tersenyum miring melihat sikap posesif yang Kenichi perlihatkan. Sedangkan Seika tidak mengatakan apapun.
“Kau tinggal disini, jangan keluar sebelum Shigeo pulang” ujar Kenichi memberi peringatan.
Seika hanya menganggukkan kepalanya.
“Tapi kau harus berjanji kepadaku, kau akan berbaikan dengan Nishiguchi-san” ujar Seika memastikan.
“Mengapa kau memanggilnya Nishiguchi-san? Kau sangat menghargainya, tapi tidak denganku” protes Kenichi.
“ Kau ingin dipanggil Shinoda-san? Memanggil Shinoda-san membuat hubungan kita seperti tidak dekat” ujar Seika sama persis sewaktu Kenichi berkata kepadanya ketika pertama ia datang ke rumah ini. Ia tersenyum geli.
“Aku lebih suka dengan panggilan Kenichi” ujar Kenichi memeluk Seika.
“Hm.. bagaimana dengan Kenichi-kun?” usul Seika namun wajahnya memerah karena usulannya sendiri.
“Itu lebih bagus” ujar Kenichi langsung menyetujui.
“Tidak. Kenichi lebih nyaman untuk di panggil” bantau Seika.
Kenichi tertawa pelan, ia masih terus memeluk Seika.
“Sudah, kau harus bertemu dengan Nishiguchi-san, dia sudah menunggumu” ujar Seika melepaskan pelukannya.
Kenichi berdecak kesal. Ia sengaja memeluk Seika supaya kekasihnya melupakan Shigeo namun gadis ini masih tetap mengingat teman brengseknya itu.
“Baiklah-baiklah” ujar Kenichi lalu keluar dari kamarnya.
“Jadi apa yang ingin kau katakan?” tanya Kenichi sedikit tidak sabar.
Shigeo tersenyum miring.
“Aku hanya memenuhi janjiku kepada Seika untuk menemui dan berbicara pribadi denganmu” jelas Shigeo.
Kenichi menatap tajam ke arah Shigeo.
“Aku yakin bukan itu saja tujuanmu kemari”
“Kau sangat tahu diriku, hehe” komentar Shigeo terkekeh.
“Aku bertemu Seika di restoran tempat biasanya dia makan, dan dia sedang bertemu dengan seorang laki-laki” lapor Shigeo.
Kenichi menaikkan alisnya, ia tidak tahu bahwa Seika punya kenalan seorang laki-laki selain Shigeo, namun ia memilih diam sampai temannya menyelesaikan ceritanya.
“Katanya laki-laki itu menolongnya di festival kembang api, apa Seika pernah menceritakan hal itu?” tanya Shigeo.
Kenichi berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Seika tidak pernah menyinggung masalah itu dengannya.
Shigeo terkekeh pelan.
“Mungkin ia tidak ingin membuat cemburu pria posesif sepertimu”
Kenichi berdecak pelan karena perkataan Shigeo sangat mengena di hatinya.
Beberapa detik kemudian senyuman miring Shigeo menghilang diganti raut serius.
“Laki-laki itu adalah Ryan, aku yakin kau mengenalnya. Secara bosnya adalah rekan bisnismu” ujar Shigeo serius.
Kenichi terkejut dan menatap Shigeo tajam, memastikan apakah laki-laki itu berkata benar atau tidak. Raut wajah serius Shigeo menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda.
“Kau yakin?” tanya Kenichi.
Shigeo menganggukkan kepalanya.
“Kau terus mengawasi Mark bukan? Mengapa kau tidak tahu akan hal ini?” tanya Shigeo tidak mengerti.
Rahang Kenichi mengeras.
“Brengsek, berani-beraninya dia mencoba bermain dengan Seika” gumam Kenichi penuh emosi.
“Mulai hari ini aku sarankan kau perketat keamanan Seika” usul Shigeo.
Kenichi mengepalkan tangannya dengan kuat.
...&&&...
Alis Seika terangkat ketika melihat Shigeo yang tersenyum kepadanya, laki-laki itu sudah berganti baju dan memakai yukata.
“Kau masih disini Nishiguchi-san?” tanya Seika heran.
“Kenapa? Kau tidak suka aku berada disini?” jawab Shigeo dengan pertanyaan.
“Kau tahu bukan itu maksudku” ujar Seika kesal.
“Shigeo akan bermalam disini, besok pagi dia akan langsung pulang” ujar Kenichi yang berjalan di belakang Shigeo.
Seik tersenyum senang.
“Berarti kalian sudah berteman lagi?” tanya Seika memastikan.
Kenichi mencibir. “Tidak juga” bantahnya.
“Kami sudah berteman lagi, Kenichi hanya malu mengatakannya” jawab Shigeo tersenyum miring.
Kenichi tersenyum sambil menahan kesalnya dan menjitak kepala Shigeo dengan kuat.
“Tentu saja, kami akan berteman baik mulai sekarang” ujar Kenichi penuh penekanan sembari merangkul leher Shigeo dan menepuk-nepuk bahunya dengan kuat.
Shigeo speechless, ia mencoba melepaskan kuncian lengan Kenichi di lehernya.
Seika tersenyum senang melihat keakraban kedua Laki-laki itu.