Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Side story Akira (2)



27 tahun yang lalu


Kobe, Jepang. 


Dari kecil Akira sudah hidup melarat bersama dengan ayahnya. Anak laki-laki itu mempunyai ayah seorang pemabuk dan suka memukulnya, ayahnya bahkan pernah menyuruh anaknya untuk melompat dari lantai dua rumah hanya untuk bersenang-senang melihat anaknya yang begitu ketakutan dengan ketinggian, setelah puas melihat tubuhnya bergetar. Ayahnya akan pergi ke klub malam dan menghabiskan waktunya disana.


“Otou-san, aku lapar” Ucap Akira kepada ayahnya yang sedang menyantap makan malam.


Ayah Akira yang bernama Kurosuke menatap tajam anaknya lalu mulai tersenyum miring, ia mengambil nasi sesendok penuh lalu menumpahkannya ke lantai. “Makanlah”.


Akira terkejut dengan perlakuan ayahnya namun rasa lapar yang tak tertahankan membuatnya melangkah mendekati nasi tumpah tersebut dan memakannya dengan air mata yang berjatuhan.


Kejadian tersebut terjadi berulang kali selama beberapa beberapa tahun. Ketika bosan Kurosuke akan menyuruh Akira melompat dari lantai dua atau ketika Akira yang tidak punya uang terpaksa meminta makanan kepada ayahnya karena rasa lapar yang tidak sanggup ia tahan lagi. Karena mereka hanya punya satu kursi makan. Ayahnya selalu menumpahkan segumpal nasi di lantai untuk Akira makan. 


Sampai Akira berumur delapan tahun, ayahnya meninggal ketika berurusan dengan kelompok yakuza.


Itu pertama kalinya Akira tersenyum senang selama hidupnya. Senang karena ayahnya telah mati. Setelah kematian ayahnya, Akira menjadi pesuruh kelompok kecil yakuza sebelum akhirnya di campakkan karena melakukan suatu kesalahan kecil.


Para anggota yakuza memukulnya sampai babak belur dan meninggalkannya di samping tempat sampah sebuah lorong kecil yang ada di jajaran gedung kota Kobe.


Akira yang penuh luka terbaring diantara sampah sambil menatap ke langit lalu tersenyum, beberapa saat kemudian berubah menjadi tertawa pelan.


“Begini lebih baik, walaupun aku mati tidak akan ada yang menyadarinya karena aku bukan seorang manusia” gumam Akira sambil tersenyum nanar, air mata mulai mengalir ke telinganya.


“Oi bocah. Kau masih hidup?” tanya seorang pria yang berdiri tidak jauh dari laki-laki itu. 


Akira menoleh dan menyipitkan matanya karena cahaya lampu yang terdapat diatas kepala pria tua tersebut.


“Bangunlah, aku akan memberimu rumah untuk kau tinggali, kau tidak punya hobi tinggal di tempat sampah kan?” tanya laki-laki tua itu.


Akira bangun dan menatap laki-laki yang berjalan meninggalkannya, ia tersenyum nanar kembali lalu berjalan mengikuti laki-laki yang di kawal oleh beberapa orang tersebut. Tidak masalah jika ia hanya akan dimanfaatkan oleh pria tua itu.


&&&


Akira menatap ke sekeliling halaman rumah yang luas tersebut. Ia tidak akan menyangka bahwa ia masuk ke dalam markas Yamaguchi-gumi. Sebuah kelompok yakuza terbesar di Jepang. Ia semakin terkejut ketika mendengar orang-orang memanggil pria tua itu dengan sebutan kumicho. Berarti laki-laki itu adalah Makoto Shinoda. Pemimpin Yamaguchi-gumi. Ia menelan ludah ketakutan.


“Apa yang kau lihat? Masuklah. Aku akan memperkenalkan mu kepada anakku” Titah Makoto. 


Akira membungkukkan badannya lalu masuk ke dalam rumah mengikuti Makoto. 


“Kenichi, kemarilah” Panggil Makoto.


“Ada apa oyaji?” tanya Kenichi sembari membaca buku. Ia akan mengikuti ujian kenaikan kelas jadi ia butuh belajar tambahan. 


Kenichi tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke arah Akira. Laki-laki itu terkejut dengan perlakuan ramah yang ia dapatkan. Tidak ada yang memperlakukannya seramah ini sebelumnya.


“Namaku Kenichi. Kau anggota yang di rekrut oleh oyaji?” tanya Kenichi.


Akira menyambut uluran tangan Kenichi. “Namaku Akira waka. Aku bukan anggota. Aku hanya pesuruh”.


Kenichi mengernyitkan kening lalu menoleh ke arah ayahnya. “Oyaji, kau tidak merekrutnya? Kau selalu mengatakan akan memberikan rumah ke setiap anggota yang kau rekrut bukan?”. 


“Tentu saja aku mengatakannya” bantah Makoto. Baik Kenichi dan Makoto menoleh ke arah Akira meminta persetujuan.


“Benarkah?” tanya Akira tidak percaya.


Kenichi tersenyum lalu menepuk pundak Akira dua kali. “Senang berkenalan denganmu. Semoga kita menjadi teman akrab” Kenichi beranjak menuju kamarnya.


Akira menatap Kenichi yang sedang berjalan sambil membaca sebuah buku dengan pandangan yang sulit diartikan, dia adalah teman pertama yang ia miliki. 


“Waka!!” teriak Akira.


Kenichi berhenti dan menoleh. Akira berlutut dan meletakkan kepalanya sejajar dengan lantai.


“Aku bersumpah aku menghabiskan hidupku untuk melayani mu dan kelompok Yamaguchi-gumi” Ucap Akira sepenuh hati. Ya. Dia telah menetapkan hatinya.


Kenichi tertawa pelan. “Baka, seorang teman tidak berlutut kepada temannya. Kau hanya harus mengucapkan terima kasih. Tidurlah di kamarku sampai kau punya kamar sendiri” Kenichi kembali berjalan sambil membaca buku di tangannya. 


Setelah malam itu Akira mengurus kelompok Yamaguchi-gumi dengan sungguh-sungguh, mengerjakan tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin. Ia tidak ingin membuat Kenichi kecewa dengan dirinya.


&&&


“Undangan kencan untukmu lagi, kau akan kembali menolaknya?” tanya Kenichi sambil membaca berkas.


“Ya kumicho, Aku senang dengan keadaanku sekarang”.


Kenichi meliriknya sejenak. “Apa yang membuatmu bahagia?”.


“Aku senang bisa menjajakan hidupku dengan melayani mu dan kelompok ini” Jawab Akira sembari menundukkan kepalanya. 


“Ada kalanya kau juga harus memikirkan dirimu sendiri” nasehat Kenichi menghela napas panjang. 


Akira hanya diam membisu.