
Aku pulang" ujar Seika melangkah memasuki rumah.
"Selamat datang anee-san" jawab Michio yang mengintip dari balik ruang dapur.
"Wah, keliatannya enak" ujar Seika sambil menatap nasi goreng yang baru saja di letakkan di piring besar oleh Michio.
"Sebentar lagi makan malamnya akan siap" ujar Michio.
Seika tersenyum dan mengangguk lalu keluar dari dapur menuju kamarnya dan meletakkan tas kerjanya di gantungan tas.
Teringat perdebatannya dengan Kenichi, Seika memutuskan untuk pergi ke kamar Kenichi.
"Masuk" ujar Kenichi dari dalam.
Seika menggeserkan pintu dan menatap Kenichi yang sedang membaca buku.
"Sebentar lagi makan malam Kenichi" ujar Seika. Ia tidak tahu harus berkata apa ketika melihat Kenichi yang hanya diam saja. Biasanya laki laki itu segera menghampiri dan memeluknya.
"Hm" jawab Kenichi tanpa melepaskan pandangan dari bacaannya.
Seika masih berdiri di depan pintu menatap Kenichi yang sangat acuh kepadanya.
"Kau masih marah?" tanya Seika pelan.
"Tidak" ujar Kenichi datar.
Seika menghela napas lalu berbalik badan meninggalkan Kenichi dengan raut wajah kecewa.
Sepeninggal Seika, Kenichi menutup buku dan juga menghela napas.
...&&&...
"Ini benar-benar enak Michio" ujar Seika memandang takjub.
Mereka sedang menikmati makan malam bersama seperti biasanya.
"Terima kasih anee-san, tidak sia-sia kerja kerasku selama ini" jawab Michio menanggapi.
Seika menoleh ke arah Kenichi yang makan dalam diam. Senyumannya langsung menghilang. Lagi-lagi ia menghela napas pasrah lalu kembali melanjutkan makan malamnya.
"Akira-san kemana Michio?" tanya Seika.
"Tidak tau, kemana Akira kumicho-san?" tanya Michio.
"Dia sedang di Osaka mengurus beberapa hal" jawab Kenichi.
Seika menatap Kenichi yang kembali fokus dengan makanannya. Matanya sendiri dan ia tersenyum sedih.
...&&&...
Seika melambaikan tangannya ke arah Shigeo sambil tersenyum, dia sedang berada di cafe, tempat biasanya ia menghabiskan waktunya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Shigeo.
"Tidak" jawab Seika.
Mereka mulai memesan makanan kepada pelayan.
"Jadi kapan kau akan berbicara kepada Kenichi?" tanya Seika memulai percakapan.
"Kau tidak bosan-bosannya ya mencoba menyatukanku dengan Kenichi" ujar Shigeo heran.
"Karena aku ingin melihat kalian berteman lagi" ujar Seika menyengir.
"Kenichi sangat keras kepala makanya aku membujukmu" lanjut Seika kembali.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Shigeo menantang.
"Ayolah, jangan seperti anak kecil. Kalau kalian berbaikan, bukannya itu akan bagus untuk kelompok kalian. Sudah lama kalian bermusuhan. Jadi sudah waktunya untuk berteman kembali" ujar Seika.
Shigeo tertawa terkekeh.
"Kau sangat persisten Seika" ujar Shigeo.
"Ini demi kalian juga" ujar Seika masih tidak mau mengalah.
"Baiklah baiklah. Aku akan berbicara kepada Kenichi. Kau puas?" tanya Shigeo.
"Sangat" ujar Seika tersenyum riang.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang, mereka menyantapnya dengan lahap sambil sesekali melempar senyuman kepada satu sama lain.
Namun yang mereka tidak tahu, bahwa pertemuan mereka di lihat oleh Kenichi dari kejauhan melalui kaca jendela mobilnya.
"Jalankan mobilnya" ujar Kenichi datar.
Mobil Kenichi melaju menjauhi restoran tempat pertemuan Seika dan Shigeo.
...&&&...
Seika sedang duduk di ruangan washitsu, ia sengaja menunggu Kenichi pulang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun belum ada tanda-tanda Kenichi akan pulang.
"Apa aku tidur saja?" tanya Seika kepada dirinya sendiri.
Sudah beberapa hari ini Kenichi mengacuhkan dirinya. Ia hanya menjawab pertanyaannya sekenanya, selebihnya Kenichi hanya diam bahkan tidak menyapa Seika yang berpapasan dengannya.
"Okaeri nasai kumicho" ujar salah satu anak buah Kenichi.
"Ya. Kalian boleh istirahat" ujar Kenichi
Seika segera melangkah keluar ketika mendengar suara Kenichi.
Langkah Kenichi terhenti ketika melihat Seika sudah berdiri di depannya. Ia berjalan melewati Seika tanpa menoleh sedikitpun
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?" tanya Seika kesal.
Kenichi menghela napas panjang.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kenichi tanpa membalikkan badannya.
"Aku bertanya sampai kapan kau akan mengacuhkanku?" tanya Seika melangkah menghampiri Kenichi.
"Aku tidak mengacuhkanmu" ujar Kenichi.
"Ohya? Kau diam membisu bahkan tidak menyapaku kau bilang tidak mengacuhkanku?" tanya Seika sedikit emosi.
Kenichi menatap Seika dengan tatapan lelah.
"Jadi ingin aku bersikap seperti apa?" tanya Kenichi.
"Bersikaplah seperti biasanya. Aku bahkan tidak mengenalmu yang sekarang" ujar Seika.
"Kau ingin aku bersikap seperti biasanya, tapi tidak ingin aku melarangmu bertemu dengan Shigeo? Huh. Kau egois Seika" ujar Kenichi.
"Mengapa kau malah membawa bawa Nishiguchi-san?" tanya Seika tidak mengerti.
"Kau tanya kenapa?" tanya Kenichi kesal.
"Tentu saja karena aku terganggu melihatmu dekat dengannya. Kau bahkan memanggil Nishiguchi-san tapi tidak memanggilku Kenichi-san" ujar Kenichi melampirkan semua kegusarannya.
Seika membulatkan matanya.
"Apa kau cemburu dengan Nishiguchi-san?" tanya Seika memastikan.
"Tentu saja aku cemburu. Pria mana yang tidak cemburu melihat wanitanya dekat dengan laki-laki lain" jelas Kenichi dengan suara lantang.
Seika terdiam seraya terus menatap Kenichi, beberapa kejadian mengenai Kenichi yang marah-marah tidak jelas di tempat kerjanya terbersit di pikirannya
"Jadi karena itu kau uring-uringan" gumam Seika pelan.
Rasa bahagia membuat Seika tidak bisa menyembunyikan senyumnya, wajahnya mulai memanas karena mengetahui betapa besar Kenichi mencintainya. Ia bahkan menutup sebagian wajahnya dengan tangan untuk menutupi rasa senang.
Kenichi menyipitkan matanya ketika melihat senyuman Seika. Cukup sudah. Ia sudah tidak tahan untuk tidak memeluk Seika.
Kenichi menarik lengan Seika dan memeluk gadis itu dengan erat.
"Mengapa kau selalu mempermainkan perasaanku Seika" ujar Kenichi.
"Aku tidak mempermainkan perasaanmu" ujar Seika dengan jantung yang berdebar keras. Ia terkejut dengan pelukan yang sangat tiba-tiba.
"Kalau kau tidak mau mempermainkan perasaanku, berhentilah bertemu dengan pria lain" ujar Kenichi dengan suara memohon.
Seika tertawa lucu.
"Itu tidak mungkin Kenichi" ujar Seika.
"Kalau begitu aku akan mengacuhkanmu terus" ujar Kenichi mengancam.
Seika tersenyum lebar.
"Baiklah-baiklah, aku akan berhenti bertemu dengan Nishiguchi-san. Tapi kau harus berjanji kepadaku untuk berteman kembali dengan Nishiguchi-san" ujar Seika melepaskan pelukannya.
"Mengapa kau sangat ingin aku dan Shigeo berteman kembali?" tanya Kenichi heran.
Seika tersenyum lembut lalu memegang kedua tangan Kenichi.
"Bukankah akan lebih baik jika kau punya banyak tempat untuk menjadi dirimu sendiri selain aku dan Michio juga Akira?" tanya Seika.
Kenichi diam mendengarkan.
"Aku sangat mencintaimu Kenichi, namun didunia ini kau harus mempunyai banyak orang yang bisa kau percayai agar kau tidak merasa sendirian. Aku sangat ingin melihatmu berteman kembali dengan Nishiguchi-san" ujar Seika lalu memeluk Kenichi yang mematung mendengar penjelasannya.
"Sudah cukup kau mengorbankan kehidupan pribadimu. Kau sudah bekerja sangat keras untuk kelompokmu, sudah saat sekarang kau memikirkan dirimu sendiri" lanjut Seika dengan suara menenangkan.
"Seika" panggil Kenichi sambil mengeratkan pelukannya.
"Ya"
"Kau harus berjanji kepadaku. Apapun yang terjadi kedepannya. Kau tidak boleh sedetikpun meninggalkanku. Berjanjilah" ujar Kenichi pelan.
Seika hampir menangis mendengar nada mohon yang dalam dari mulut Kenichi.
"Aku berjanji. Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu" ujar Seika dengan suara bergetar menahan tangis.
Kenichi menatap mata Seika, mengecup keningnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu Seika" ujar Kenichi.
Mereka berciuman di koridor rumah dalam waktu yang cukup lamanya, mencoba menunjukkan cinta mereka kepada satu sama lain.