
Seika tersenyum kepada seorang pria paruh baya yang masuk ke dalam ruangannya.
“Ada yang bisa saya bantu ojii-san?” tanya Seika tersenyum ramah.
“Sudah dua hari ini saya mengalami gangguan percernaan sensei” ujar kakek tersebut.
Seika masih mendengarkan penjelasan dari sang kakek.
“Saya susah buang air besar dan kadang kadang susah bernapas, detakan jantung saya pun kadang berdetak kuat, tolong periksa kondisi saya sensei” ujar kakek tersebut.
Seika mengangguk mengerti lalu melepaskan sarung tangannya untuk memeriksa nadi sang kakek.
Sebelum melakukannya ia menghela napasnya seraya mempersiapkan mentalnya untuk kejadian yang akan masuk ke dalam kepalanya.
Seika mulai menekan daerah yang berdekatan dengan ibu jari untuk merasakan denyut nadi sang kakeknya, beberapa detik kemudian ia mengerutkan keningnya lalu menatap sang kakek yang juga menatapnya.
Tidak ada satu bayangan masa lalu pun yang masuk ke dalam pikirannya membuat Seika kembali memegang tangan sang kakek untuk memastikan namun tidak ada satu sekelebat pun masa lalu yang masuk ke kepalanya.
“Ada apa sensei?” tanya kakek tersebut ketika melihat raut wajah bingung Seika.
Seika tersadar lalu menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lalu mulai menghitung denyut nadi sang kakek, setelah itu Seika memasang stetoskop ke telinga dan mulai memeriksa jantung pasiennya.
“Anda hanya kekurangan cairan ojii-san, saya kira anda mengalami kontraksi jantung lemah karena denyut nadi anda begitu lemah namun perkiraan saya salah. Saya sarankan anda minum air putih lebih banyak dari biasanya dan makan makanan berserat tinggi seperti sayuran. Saya akan memberikan vitamin untuk anda” ujar Seika sambil tersenyum.
Sang kakek menganggukkan kepalanya lalu berterima kasih dan berpamitan kepada Seika, gadis itu membungkukkan badannya.
Sepeninggal sang kakek, Seika melihat tangannya yang tidak memakai sarung tangan, keningnya berkerut kembali.
“Kenapa tidak ada masa lalu yang masuk ke kepalaku?” gumam Seika.
“Apa karena kecelakaan itu?” tanyanya kembali kepada dirinya sendiri.
Seika menatap jam tangannya, sudah waktunya ia pulang kerja. Teringat Shigeo, senyuman Seika terkembang, ia mengambil telepon dan menekan angka dua.
“Moshi moshi Shigeo-kun” ujar Seika senang.
“Ada apa Seika?” tanya Shigeo di seberang telepon.
Seika terdiam dan merutuki dirinya, ia langsung menghubungi Shigeo tanpa pikir panjang.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya menelpon karena beberapa hari ini kau tidak ke klinik” jelas Seika dengan gugup.
“Kenapa? Kau merindukanku?” tanya Shigeo dengan nada bercanda.
“Sedikit” jawab Seika dengan muka memanas.
Shigeo terdiam sejenak.
“Seika, apa kau penasaran dengan masa lalumu?” tanya Shigeo mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja. Memangnya kenapa?” tanya Seika tidak mengerti.
“Akan sangat baik kalau kau bisa mengingat masa lalu mu” ujar Shigeo pelan.
“Aku tidak mengerti apa mak...”
“Aku tutup teleponnya ya. Ada sesuatu yang harus aku urus. Sayonara Seika” potong Shigeo lalu mematikan telepon.
“Tunggu dulu. Shigeo-kun?” panggil Seika namun yang terdengar hanya suara monoton yang panjang.
Seika menurunkan telepon genggamnya dan menghela napas, ia begitu penasaran dengan perkataan Shigeo.
Mengapa Shigeo berkata seperti ia mengetahui semua masa laluku, pikirnya.
...&&&...
“Aku pulang” ujar Seika sambil melepaskan sepatunya.
“Selamat datang. Makan malam sudah siap, apa onee-san ingin mandi dulu atau langsung makan?” tanya Michio yang keluar dari kamarnya.
Seika tidak menjawab, ia menghampiri Michio lalu melepaskan sarung tangannya dan memegang tangan Michio.
“Onee-san. apa yang kau lakukan?” tanya Michio panik.
Ia segera melepaskan tangan Seika karena sudah mengetahui bahwa kakaknya memiliki kemampuan bisa melihat masa lalu jika berkontak fisik dengan tangan dan mata. Ia tidak ingin masa lalu yang notabene selalu berhubungan dengan Kenichi masuk ke dalam pikiran Seika.
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu” ujar Seika seraya mencoba meraih lengan Michio.
Pemuda itu menghindar dan menjauh dari Seika.
Michio menganggukkan kepalanya.
“Aku tidak mau kau melihat masa laluku onee-san” ujar Michio sedikit memohon.
Seika menatap Michio yang menghindari tatapan darinya.
“Aku hanya memastikan apa aku masih memiliki kemampuan itu atau tidak. Di klinik tadi aku menyentuh seorang pasien tapi tidak ada hal apapun yang masuk ke dalam pikiranku” jelas Seika.
Michio terkejut.
“Tidak ada masa lalu apapun yang masuk ke dalam pikiran onee-san?” tanya Michio memastikan.
“Ya. Aku bahkan memegang lama tangan pasien itu untuk memeriksa denyut nadinya. Tapi tidak ada apapun yang masuk ke dalam kepalaku” jelas Seika kembali.
Michio masih belum memahami penjelasan Seika.
“Apa karena kecelakaan mobil yang aku alami menyebabkan kemampuanku menghilang?” tanya Seika berpikir.
Michio hanya terdiam. Ia tidak harus harus menjawab apa.
“Maka dari itu aku ingin memastikannya lagi, kemarikan tanganmu” ujar Seika sambil mengulurkan tangannya.
Michio tidak bergeming. Ia masih belum percaya dengan apa yang Seika katakanya.
Tidak. Terlalu beresiko kalau apa yang anee-san bilang tidak terbukti, pikir Michio.
“Aku berjanji jika ada masa lalumu yang masuk ke pikiranku, aku akan segera melepaskan tanganmu” bujuk Seika meyakinkan Michio.
Michio menghela napas panjang lalu menghampiri Seika berlahan, dengan ragu ia menyerahkan tangannya.
Seika langsung menggenggam tangan Michio, menunggu beberapa detik dan menit namun tidak ada bayangan apapun yang masuk ke pikirannya.
“Aku tidak bisa melihat apapun” ujar Seika lalu melepaskan tangan Michio.
“Benarkah?” tanya Michio.
Seika mengganggukkan kepalanya lalu menghela napasnya.
“Aku akan mandi dulu” ujar Seika dan melangkah masuk ke kamarnya.
Michio menatap kepergian Seika dengan tatapan bingung dan sedih. Sekarang ia yakin, bahwa hubungan Seika dangan Kenichi benar-benar berakhir walaupun ia takut jika kakak perempuannya dapat melihat masa lalunya namun jauh di lubuk hati, ia ingin Seika bisa melihat masa lalunya. Masa lalu yang penuh dengan kenangan mereka bersama dengan Kenichi.
...&&&...
Seika keluar dari kamar sambil merapikan rambut panjangnya dengan jari jemarinya, ia melangkah ke dapur menyusul Michio.
“Aku sangat yakin kumicho-san”.
Suara Michio di dalam kamarnya membuat Seika menghentikan langkahnya.
Kumicho? Apa Michio anggota dari suatu kelompok?, tanya Seika dalam hati.
“Kemampuan anee-san menghilang karena kejadian itu, tidak mungkin anee-san tidak terkejut kalau dia bisa melihat masa lalu ku” ujar Michio di telepon genggamnya.
Lagi-lagi dia memanggilku anee-san.
Seika semakin menajamkan pendengarannya, ia yakin Michio sedang membicarakan dirinya dengan orang yang ia tidak kenal.
“Baiklah, aku akan menemui kumicho-san di Kabukicho besok” ujar Michio.
Seika melangkah ke dapur dengan cepat, ia tidak ingin Michio sadar kalau ia sedang mendengarkan pembicaraan pemuda itu.
“Kau sudah selesai mandi onee-san?” tanya Michio terkejut dengan keberadaan Seika di dapur.
Seika tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita makan malam” ajak Seika lalu mengkatubkan kedua tangannya seraya memenjamkan matanya.
“Ittadakimasu” ujar Seika.
Michio juga melakukan hal yang sama, mereka makan malam dengan tenang. Ia menatap Seika memastikan apa kakaknya mendengarkan pembicaraannya di telepon atau tidak, Seika hanya tersenyum membalas tatapan Michio.
Syukurlah dia tidak mendengarnya, simpul Michio dalam hati.
Seika memikirkan pembicaan Michio yang membuatnya penasaran dan jika ia bertanya langsung kepada adiknya pasti Michio tidak akan menjawab dan kembali mengalihkan pembicaraan maka dari itu ia memutuskan untuk mencarinya sendiri.