
Seika menoleh ke arah Michio yang menatap ke depan dengan tatapan menerawang.
“Michio?” panggil Seika.
Michio tersadar dari lamunan dan menoleh ke arah Seika.
“Mengapa kau menangis?” tanya Seika sambil memegang wajah Michio yang basah karena aliran airmata.
Michio terkejut lalu memegang wajahnya dan melihat airmata yang ada di tangannya.
“Mataku masuk debu anee-san” jelas Michio seraya menghapus airmata diwajahnya. ia tersenyum menyengir.
“Anee-san?” tanya Seika bingung.
“Mak.. Maksudku onee-san” jelas Michio gugup.
Seika menganggukkan kepalanya walaupun masih penasaran dengan panggilan pemuda itu barusan.
“Kalian sudah lama menungguku?” tanya Shigeo yang berjalan menghampiri Seika dan Michio.
Seika tersenyum senang, dadanya berdegup kencang setiap kali ia melihat laki-laki tampan itu.
“Tidak Shigeo-kun” ujar Seika senang.
Shigeo tersenyum lalu mengacak pelan rambut Seika, gadis itu hanya tersenyum malu dengan wajah merona. Sedangkan Michio hanya diam tidak berkomentar.
“Kalian sudah siap bukan?” tanya Shigeo.
Seika mengangguk senang.
Mereka pun keluar dari rumah sakit dengan mobil milik Shigeo, tanpa mereka ketahui Kenichi juga melihat kepulangan Seika dari kejauhan sambil tersenyum lega dan sedih dalam waktu bersamaan.
“Ayo kita pergi Akira” ujar Kenichi yang sudah memasang wajah serius kembali.
Akira membungkuk hormat lalu menghela napas sejenak sebelum mengikuti Kenichi.
...&&&...
Seika, Michio dan Shigeo sampai di sebuah rumah yang cukup luas yang ada dikawasan Kobe, mereka menurunkan barang-barang Seika dari mobil.
Seika menatap takjub. Ia tidak menyangka bahwa setahun lebih ini ia sudah mempunyai sebuah rumah yang layak huni.
“Ini rumah kita Michio?” tanya Seika memastikan.
Michio tersenyum mengangguk. Seika tersenyum lebar.
“Seika. Maaf aku harus pergi” ujar Shigeo.
“Sekarang?” tanya Seika kecewa.
Shigeo mengangguk pelan. Seika memayunkan bibirnya tampak begitu kecewa lalu mengangguk mengerti.
Shigeo tersenyum geli lalu membelai lembut rambut Seika lalu masuk ke dalam mobilnya. Seika melambaikan tangannya ke arah mobil Shigeo dengan senang.
Shigeo yang menatap Seika melambaikan ke arahnya dari kaca depan menghela napas panjang, raut wajah senangnya berganti dengan tatapan datar. Ia teringat pembicaraan terakhirnya bersama Kenichi.
Beberapa bulan yang lalu
“Bagaimana keadaan Seika?” tanya Shigeo memulai percakapan, mereka bertemu dirumah Shigeo, tepatnya Kenichi yang datang ke rumah Shigeo untuk bertemu secara pribadi dengan laki-laki itu.
“Dia masih dalam perawatan” jawab Kenichi.
“Terus mengapa kau kemari? Bukankah harusnya kau menemaninya?” tanya Shigeo tidak mengerti.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu” ujar Kenichi.
Shigeo menatap wajah serius Kenichi.
“Kau membuatku takut Ken, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” tanya Shigeo.
Kenichi menatap Shigeo sejenak lalu membungkuk rendah badannya.
“Aku mohon jaga Seika untukku” mohon Kenichi.
Shigeo membulatkan matanya.
“Ken, apa yang kau lakukan?” tanya Shigeo tidak suka.
“Tolong jaga Seika untukku, jaga dia dari dunia kita” ujar Kenichi masih menundukkan badannya.
Shigeo terdiam sejenak. Lalu tertawa mencoba mencairkan suasana.
“Ini tidak lucu Ken” ujar Shigeo masih tertawa.
“Aku serius Shigeo, tolong jaga Seika untukku agar dia tidak terlibat dengan dunia kita lagi” pinta Kenichi kembali.
Shigeo terdiam kembali, ia menatap Kenichi yang menundukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh, temannya sedang tidak main-main. Ini pertama kalinya Shigeo melihat Kenichi pernah menundukkan kepalanya kepada orang lain.
“Baiklah, aku mengerti” ujar Shigeo mengalah.
“Tolong pastikan bahwa dia tidak akan mengetahui identitas aslimu” ujar Kenichi.
“Ya ya. Aku mengerti. Berhentilah memohon kepadaku” ujar Shigeo kesal.
Kenichi kembali menegakkan badannya lalu menoleh ke arah Akira. Laki-laki itu memberikan sebuah amplop coklat besar kepadanya.
“Dan ini, berkas kepemilikan saham dan kekuasaan daerah Suminoe dan Taicho” ujar Kenichi.
Shigeo menaikkah alisnya.
“Untuk apa kau memberikannya kepadaku?” tanya Shigeo.
“Aku tahu kau sedang terjepit oleh kelompok Komiyoshi-kai, makanya aku memberikan berkas ini kepadamu” jelas Kenichi.
“Apa kau sedang menukar Seika dengan berkas ini?” tanya Shigeo tajam.
“Tidak. Permohonanku tentang Seika adalah hal pribadi, aku memberikan berkas ini karena ingin kembali menjalin kerjasama dengan Sumiyoshi-kai” jelas Kenichi.
“Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta” ujar Shigeo mantap.
“Dan satu lagi” ujar Kenichi.
“Apa lagi Ken? Jangan memohon lagi padaku. Kau membuatku takut” ujar Shigeo semakin kesal. Dia sangat tidak menyukai sifat lemah Kenichi saat ini.
“Aku minta jangan memegang tangan Seika tanpa halangan, apapun yang terjadi” ujar Kenichi.
Shigeo tersenyum miring.
“Kenapa? kau akan cemburu kalau aku memegang tangannya” ujar Shigeo bercanda.
Kenichi diam sejenak.
“Aku tidak mengerti maksudmu Kenichi” ujar Shigeo.
Apa maksudnya Seika bisa melihat masa lalu orang yang dipegangnya?, tanya Shigeo dalam hati.
“Seika bisa melihat masa lalu orang lain jika kontak fisik dan mata dengannya, dia pernah membantu menemukan berkas ini hanya dengan menyentuh orang yang menculik berkas ini” jelas Kenichi.
Kenichi lalu tersenyum nanar, ia lupa bahwa ia juga pernah memanfaatkan gadis itu, ia tidak ada bedanya dengan Mark. Dia juga lelaki brengsek.
“Jadi OCD nya?” tebak Shigeo tidak percaya.
“OCD hanya alasan supaya masuk akal mengapa dia selalu memakai sarung tangan kemanapun ia pergi” jelas Kenichi.
Shigeo menatap tidak percaya. Informasi tersebut sangat membuatnya kaget.
...&&&...
“Jadi coba katakan bagaimana kau bisa jadi adikku?” tanya Seika yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
Michio yang sedang membuat dua cangkir kopi tersenyum. Ia mengangkat dua cangkir tersebut, menghampiri Seika dan memberikannya secangkir kepada gadis itu.
“Seperti yang ku katakan sebelumnya, onee-san menolongku dan karena aku tidak punya tempat tinggal, onee-san mengajakku untuk tinggal bersama” jelas Michio.
“Aku menolongmu dari masalah apa?” tanya Seika masih penasaran.
“Aku terkena masalah besar waktu itu dan kau datang menolongku onee-san, kalau kenapa aku bisa terkena masalah, itu akan membutuhkan waktu panjang untuk menceritakannya” jelas Michio.
Seika mengangguk mengerti walaupun masih penasaran dengan penuturan Michio.
“Aku tidak percaya, bahwa aku pernah menolongmu setahun yang lalu” ujar Seika tersenyum.
“Onee-san orang kedua yang sangat baik kepadaku” ujar Michio.
“Siapa yang pertama?” tanya Seika.
Michio hanya tersenyum misterius.
...&&&...
“Ohayo gozaimasu Aiko sensei” ujar Aoi memeluk Seika dengan senang.
“Ohayo Aoi, aku sangat senang bertemu denganmu lagi” ujar Seika tersenyum.
“Sensei sudah sembuh dari kecelakaan mobil kan?” tanya Aoi.
Seika mengangguk sambil tersenyum. Ia melangkah masuk ke ruang kerjanya dan menatap ruangan tersebut sambil tersenyum.
Hanya tempat kerjanya yang tidak mengalami perubahan, selebihnya Seika merasa seperti hidup di tempat asing.
Seika memakai jas panjangnya dan duduk di kursi kerjanya.
“Silahkan masuk” ucap Seika memulai pekerjaanya.
Seorang ibu menggendong anaknya masuk ke dalam ruang kerja Seika.
“Ada yang bisa saya bantu onee-san?” tanya Seika tersenyum memulai pekerjaannya.
...&&&...
Seika menghela napas senang, saat ini ia sedang berada di restoran tempat biasanya ia makan siang. Restoran tersebut juga tidak ada perubahan yang berarti dan itu membuat Seika nyaman.
“Seika” panggil Shigeo yang baru masuk.
Seika langsung berdiri dan membungkukkan badannya sekilas.
“Kau sudah lama menunggu?” tanya Shigeo.
“Tidak. Aku baru saja memesan makanan” jawab Seika.
Shigeo tersenyum lalu mengangkat sebelah tangan kepada pelayan dan memesan makan siangnya.
“Urusanmu sudah selesai?” tanya Seika.
“Sudah. maaf. Aku tidak bisa berkunjung ke rumahmu” ujar Shigeo.
Seika menggelengkan kepalanya.
“Tida apa-apa. Aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya bertanya saja” ujar Seika.
Shigeo tersenyum lembut.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Shigeo.
“Pekerjaanku berjalan lancar. Aku sangat senang karena tempat kerjaku masih disini, aku tidak tau harus bersikap bagaimana kalau tempat kerjaku juga berubah” jelas Seika dengan senang. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
“Kau belum menceritakan bagaimana kita bertemu sebelumnya” ujar Seika.
“Aku salah satu pasienmu dan dari situ kita mulai dekat” jelas Shigeo.
“Benarkah? Aku tidak pernah menerima pasien muda sepertimu di klinik” ujar Seika.
Shigeo tersenyum menyeringai.
“Kenapa? Kau mulai jatuh cinta kepadaku?” tanya Shigeo bercanda.
Seika menundukkan kepalanya, wajahnya mulai memerah. Reaksi Seika membuat senyum seringaian Shigeo menghilang.
“Aku.. Aku tidak tahu apa aku menyukaimu atau mengagumimu Shigeo-kun” jelas Seika gelagapan.
Seika menatap Shigeo tepat di hidung laki-laki itu.
Shigeo hanya diam mendengarkan.
“Hanya saja. Setiap kali aku bersamamu aku merasa sangat se...” ujaran Sieka terputus ketika ia melihat seorang laki-laki yang berdiri di luar restoran menatap lembut kepadanya. Laki-laki itu adalah Kenichi.
Tiba-tiba tangan Seika bergetar. Kenichi menyadari mata Seika bertemu pandang dengannya. Ia menjadi panik dan langsung berjalan menjauh dari restoran.
“Ada apa Seika?” tanya Shigeo yang ikut menoleh ke arah tatapan Seika.
“Tu.. tunggu” ujar Seika.
Seika langsung berlari keluar restoran, mengejar Kenichi yang tampak sangat familiar baginya. Ia tidak tahu kenapa akan tetapi dadanya menjadi sangat sakit ketika melihat kepergiaan laki-laki itu.
Seika berlari mengejar Kenichi yang juga berlari menjauh darinya di jalan setapak.
“Berhenti. Tunggu aku. Hei” teriak Seika sambil berlari.
Kenichi semakin menambah kecepatan larinya.
“KEEEENN” teriak Seika frustasi, airmatanya mengalir tanpa bisa cegah