
Satu tahun yang lalu.
China.
Ryan memegang tangan Seika dan meletakkannya di atas meja. Mark mengambil pisau dan menjilati pisau tersebut dengan penuh gairah.
“Kau tidak ingin kehilangan jari jemarimu bukan?” Ancam Mark.
Seika tersentak kuat, beberapa kejadian masa lalu Ryan masuk ke dalam pikirannya ditambah dengan ancaman Mark dan pisau yang terlihat sangat tajam. Seika menggelengkan kepala dengan kuat.
Mark menyeringai lebar. “Kalau begitu katakan apa yang kau lihat ketika menyentuh laki-laki ini”.
Seika kembali menggelengkan kepalanya, ia tahu kesaksiaannya akan membuat banyak orang terbunuh dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Kau wanita keras kepala!!” bentak Mark lalu menancapkan pisau di antara jari jemari Seika yang terbuka lebar.
Seika tersentak hebat, sisi tajam pisau menggores ruas jarinya perlahan ditambahkan dengan masa lalu Ryan yang semakin lama semakin mengerikan yang masuk ke dalam kepalanya, beberapa saat kemudian Seika tidak sadarkan diri. Tidak kuat menahan siksaan mental terhadapnya.
“Tsk, dasar tidak berguna” gerutu Mark sambil menodongkan jari telunjuknya ke kepala Seika dengan kuat.
“Sekarang bagaimana bos?” Tanya Ryan.
“Kau tau kan aku bukan tipe orang yang sabar menunggu” celetuk Shao yang duduk di kursi empuknya.
Mark menghela napas kesal. “Ambil obat itu”.
Ryan mengambil sebuah botol obat dari dalam tas yang ia bawa, sebenarnya ia tidak ingin memberikan obat keras ini kepada Seika karena kemungkinan besar wanita itu akan menjadi gila karena pengaruh obat. Namun perintah tetap perintah, ia harus menjalankan apapun perintah atasannya.
Ryan mengambil seembar kecil berisi air dan menyiramkannya ke arah Seika yang tidak sadarkan dirinya, wanita itu tersentak dan terbatuk-batuk pelan karena air yang masuk ke dalam hidung dan mulutnya, tubuhnya menjadi basah kuyup.
Mark mencengkeram wajah Seika membuat wanita itu membuka mulutnya kemudian menyumpalnya obat tablet dan menutup hidung Seika agar obat tersebut tertelan. Waita itu membulatkan matanya karana rasa pahit di mulut, ia tidak bisa bernapas membuatnya kembali terbatuk ketika Mark melepaskan tangannya dari hidungnya.
Seika menjadi bingung dengan pandangan yang mulai mengabur dan pikirannya yang mulai melemah. ia mulai membuka mulut dan mengatakan apa yang ia lihat sekarang.
“Keadaan menjadi gelap, aku tidak bisa melihat apapun” Ucap Seika lalu mengerjab matanya mencoba menghilang efek obat namun nihil. Obat tersebut bekerja dengan keras.
Tangan Ryan kembali mengambil tangan Seika dan meletakkannya di kepala laki-laki yang terduduk lemah.
“Apa yang kau lihat Seika?” Tanya Mark pelan.
“Dia berjalan ke sebuah gedung, memasuki gedung itu dan bertemu dengan seorang pria tua. ‘Maaf aku terlambat bos’, sang pria tua itu hanya menyeringai dan berdiri di depan sebuah brangkas” jelas Seika mengatakan apapun yang ada di pikirannya.
Shao duduk dengan tegak ketika mendengar penjelasan Seika, ia mulai tertarik.
“Nomor berangkasnya 0301009910, sang pria mengambil sebuah berkas dan memberikannya kepada laki-laki itu, ‘simpan ini di tempat yang hanya kau tahu. Kau harus menjaganya dengan nyawamu’ laki-laki itu membungkuk badannya sebelum pergi ke suatu tempat” Sambung Seika kembali.
Mark menaikkan alisnya. “Dimana?”.
“Sebuah lokasi yang terdapat beberapa bangunan tua, laki-laki itu masuk ke dalam hutan di pinggiran kota dan masuk ke dalam sebuah rumah kecil dan mulai mengeluarkan berkas itu dari amplop. Tulisan di berkas itu adalah ‘Kepemilikan property geng Naga’ lalu menyimpan berkas itu di tanah yang sudah di gali” Jawab Seika.
Matanya menatap ke depan tanpa berkedip sekali pun.
&&&
Seika membuka matanya dan menatap langit-langit ruangan tempat ia di sekap dengan pandangan nanar. Efek obat yang Mark berikan membuatnya tidak bisa membedakan mana masa lalu miliknya dan mana masa lalu milik orang lain. Ia terus menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
Gambaran tentang wajah Kenichi mulai mengabur di pikiran Seika, tubuhnya seperti mati rasa ia bahkan tidak merasakan gerakan kakinya, tangannya meraba-raba di samping kanan, hanya sebuah botol obat kecil yang sudah kosong yang terletak di atas meja. Ia membuang benda tidak berguna tersebut.
Seika mencoba bangun dari rebahannya dengan susah payah, ia duduk dan menatap kakinya yang kaku. Sekelebat tentang masa lalu laki-laki yang terakhir ia sentuh menyerbak di pikirannya membuat wanita itu menjerit ketakutan, ia memukul kepalanya mencoba menghentikan masa lalu mengerikan tersebut.
Seika menggerakkan kakinya sekuat tenaganya lalu terjatuh di lantai samping tempat tidur, wanita itu semakin menjerit ketika melihat memori siksaan yang di dapat oleh laki-laki itu. Begitu mengerikan seakan Seika lah yang mengalami hal tersebut.
Mark dan Ryan masuk ke dalam kamar penyekapan Seika dan memegang tangan wanita itu mencoba menenangkan Seika.
“JANGAN MENYENTUHKU, PERGI DARI HADAPANKU. PERGI!!” teriak Seika memberontak.
Mark menjadi geram dan kesal, ia menampar wajah Seika dengan kuat membuat wanita itu kembali pingsan.
“Bawa dia keluar, kita akan melanjutkan investigasi kita” perintah Mark.
Ryan membopong tubuh tidak sadarkan diri Seika dan keluar dari kamar tersebut, mereka pun melanjutkan kegiatan mereka. Membangunkan wanita itu dengan menyiram air lalu meminumkannya obat pripradol dan meletakkan tangan Seika di kepala seorang laki-laki target mereka berikutnya.
Seika kembali berbicara panjang lebar, menjelaskan tentang apa saja yang laki-laki ia sentuh lakukan. Tidak ada yang terlewatkan olehnya, ia menjelaskan tentang berkas yang ia lihat maupun dengan siapa laki-laki berbicara dan apa saja yang ia bicarakan.
Setelah selesai, Seika kembali di bopong ke kamar penyekapannya, wanita itu mulai berhalunisasi dan tertawa sendiri.
“Efek obatnya lebih mengerikan dari dugaanku” gumam Ryan tidak percaya.
Ryan meletakkan Seika yang tertawa sendiri di atas tempat tidur, namun beberapa saat ia terkejut dengan melihat bagian bawah Seika yang basah oleh darah.
“Bos, Seika berdarah! ” lapor Ryan.
Mark menatap ke arah paha Seika yang basah oleh merahnya darah. Sebuah pemikiran masuk ke dalam kepala Mark.
“Hei, dia tidak hamil dan sekarang keguguran kan?” Tanya Mark ketakutan. Ia berpikir Seika hanya pelacur Kenichi dan tidak mungkin Kenichi membiarkan seorang pelacur mengandung anaknya namun sekarang...
Ryan menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu bos”.
“Shit, cepat bersihkan darahnya. Jangan sampai Shao Shen tau kalau dia hamil, dia akan mencurigai kita karena telah berbohong” Perintag Mark. Ia hanya mengatakan kepada Shao Shen bahwa Seika hanyalah salah satu pelacur Kenichi yang tidak berharga. Jadi tidak akan ada apa-apa jika mereka menggunakan wanita itu. Namun kenyataan bahwa Seika hamil dan keguguran akan membuat Shao Shen menjadi ragu dan mulai mencurigainya.
Ryan membuka celana panjang Seika dan ****** ***** wanita itu dan mulai membersihkan paha Seika yang penuh dengan darah. Nafsunya mulai bangkit melihat betapa putih dan mulus paha Seika namun ia tidak bisa berbuat apapun karena perintah Mark.
&&&
Mark berjalan masuk ke ruangan Seika disekap dengan langkah panik, ia melihat wanita itu pingsan dengan tangan terikat di kepala tempat tidur. Seika selalu berteriak dan memberontak membuat Ryan memilih mengikat wanita itu.
“Ada apa bos?” Tanya Ryan yang duduk di ujung ruangan.
“Ayo kita pergi dari sini, Kenichi mulai tahu kalau kita bekerjasama dengan Shao Shen” Ucap Mark ketakutan.
Ia melangkah cepat meninggalkan Seika dan Ryan. Pikirannya mulai kalut, ia berpikir bagaimana cara agar kabur dari Kenichi, tangannya mulai bergetar pelan menunjukkan betapa takutnya jika ia bertemu dengan pemimpin besar yakuza itu.