Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Side story Akira (1)



Pukul menunjukkan jam enam pagi. Akira mengeratkan dasi, merapikan jas dan memakai kacamata frame persegi panjang. Sebelum keluar kamar ia melihat kembali jam tangannya dan melangkah menuju kamar Kenichi.


“Selamat pagi kumicho, sebentar lagi waktunya sarapan pagi” Sapa Akira sambil mengetuk pintu fusuma dengan pelan.


Beberapa saat tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar Kenichi. Akira tetap menunggu di depan pintu.


“Baiklah, kau boleh pergi” jawab Kenichi dari balik kamar.


“Ken, lepaskan aku. Ini sudah pagi baka Kenie” Ucapan Seika sambil memberontak dalam pelukan Kenichi.


“Sebentar lagi Seika, biarkan aku memelukmu sebentar lagi” Balas Kenichi mengeratkan pelukannya.


Akira mengulum senyumnya. Hari-hari bahagia sudah tercipta kembali, ia bahkan sempat takut penculikan terakhir bisa berakibat fatal untuk Kenichi namun semuanya berjalan dengan lancar.


“Saya akan tunggu anda di ruang washitsu kumicho” Akira membungkukkan badan ke arah pintu.


“Ken. Akira masih belum pergi gara-gara kau Kenichi” gerutu Seika masih berusaha melepaskan pelukan dari Kenichi. Suaminya berdecak pelan.


“Aku tidak akan terpengaruh oleh raut wajahmu. Akhir-akhir ini kau selalu membuat anak buah mu menunggu. Aku tidak suka itu” Seika beranjak ke kamar mandi. Kenichi hanya tersenyum dan menghela napas. Inilah hari-hari bahagianya.


Akira duduk berlutut di depan sebuah meja kecil, duduk dengan tegap menunggu Kenichi, anak buah Kenichi saling menatap satu sama lain lalu menoleh ke arah Akira.


“Aniki, dimana kumicho?” tanya Michio yang juga ikut penasaran.


“Kumicho bilang sebentar lagi dia akan bergabung, kita harus menunggunya” jawab Akira dengan tenang.


Michio tersenyum mengerti. Beberapa saat kemudian terdengar langkah dan celotehan Seika yang tidak suka dengan perilaku pagi Kenichi.


“Sudah ku bilang aku tidak suka membuat anak buah mu menu…”.


Ujaran Seika terputus ketika melihat tatapan para anak Kenichi yang berpusat kepadanya. Ia berdeham beberapa kali dan mengambil tempat duduknya di samping Michio. Kenichi yang hanya tersenyum tidak bersalah juga mengambil tempat duduknya di tengah barisan antara Seika dan Akira.


“Ittadakimasu” Ucap Kenichi memejamkan matanya dengan sumpit di dalam kedua tangannya.


“Ittadakimasu” Para anak buah Kenichi mengikuti.


Kenichi, Seika, Akira dan Michio serta para anak buah Kenichi mulai menyantap sarapan pagi mereka. Kenichi mengernyit keningnya ketika tidak mendapati Kaede dan Arata.


“Kemana Kaede dan Arata?” tanya Kenichi.


Akira meletakkan mangkuk kecil nasinya dan menghadap ke arah Kenichi.


“Kaede-san sedang berada di Kamagasaki dan Arata-san di Kabukicho” Jawab Akira sambil menundukkan kepalanya. Menunjukkan rasa hormat kepada Kenichi.


“Kau terlalu kaku Akira, tidak perlu kau membungkukkan badanmu setiap kali kau berbicara denganku” Ucap Kenichi tidak suka.


“Saya adalah anak buah anda kumicho. Saya akan selalu bersikap hormat kepada anda” Balas Akira kembali membungkukkan badannya.


“Baiklah baiklah. Terserah kau saja” Ucap Kenichi mengalah. 


Kenichi menoleh ke arah Michio. “Bagaimana dengan keadaan Ikuta Road Michio? Apakah baik-baik saja?”.


Michio tersenyum dan menganggukkan kepala. “Semua berjalan lancar kumicho-sani”.


Kenichi mengangguk mengerti lalu terdiam sesaat. “Kau yakin tidak mau memegang Kabukicho? Aku bisa menyuruh Arata memegang daerah lainnya yang tidak kalah besar dengan Kabukicho”.


“Tidak kumicho-san, aku sudah cukup memegang daerah Ikuta Road” Jelas Michio.


Seika hanya diam, ia tahu bahwa Michio masih merasa bersalah akan penculikan yang dilakukan geng di bawah naungan Yamagi yang secara tidak langsung berada di bawah tanggung jawabnya. Namun Seika juga tidak bisa berbuat lebih jauh, ia sudah mengatakan tidak apa-apa kepada Michio. Ia berpikir mungkin waktu yang bisa menghilang rasa bersalah tersebut seperti dirinya yang mencoba merelakan calon bayinya.


Akira menatap Michio sesaat lalu kembali melanjutkannya sarapannya, sedangkan anak buah Kenichi makan tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya.


“Baiklah kalau kau menginginkan itu” ujar Kenichi mengerti.


Ia menoleh kembali ke arah Akira, sudah sepuluh tahun laki-laki itu mengabdi di dalam kelompok Yamaguchi-gumi namun Kenichi tidak mengetahui apapun hal yang bersifat pribadi Akira. Ia tidak mempermasalah hal pribadi itu namun umur Akira yang sudah cukup matang membuat Kenichi berpikir dua kali. “Akira”.


“Ya kumicho” Jawab Akira membungkukkan badannya.


“Kau tidak ingin menikah?” tanya Kenichi tenang.


Seika, Michio dan para anggota kelompok tersedak ketika mendengar pertanyaannya, sontak mereka langsung menoleh ke arah Akira yang terkejut namun wajahnya datar dan tenang.


“Aku tidak pernah memikirkan hal itu kumicho” jawab Akira.


Seika dan Michio menatap satu sama lain terkejut dengan jawaban Akira namun tidak berani menanyakan hal lebih lanjut.


“Beberapa hari yang lalu ada sebuah undangan yang datang untukmu, bisa dibilang undangan kencan” ujar Kenichi.


Seika, Michio dan para anak buah Kenichi kembali tersedak mendengar informasi langka tersebut. Seika bahkan menatap senang ke arah Michio yang hanya tersenyum.


“Jadi bagaimana menurutmu? Kau akan menerima undangan itu?” tanya Kenichi.


“Maafkan aku kumicho, aku tidak bisa menerima undangan tersebut. Bagiku urusan kelompok lebih penting dari kehidupan pribadiku sendiri” jelas Akira.


“Kau bahkan menjawabnya tanpa berpikir dua kali, setidaknya kau bertanya siapa yang mengirimkan undangan tersebut, dasar pria kaku” ujar Kenichi berdecak kesal.


“Tidak perlu kumicho, saya akan menghabiskan waktuku untuk Yamaguchi-gumi. Aku berpikir aku tidak akan menikah” jelas Akira serius.  Mengurus Kelompok Yamaguchi-gumi lebih penting daripada mengurus kehidupan pribadinya, itulah prinsip yang selalu ia terapkan dalam hidupnya.


“Bagaimana bisa ada pria kejam sepertimu” ujar Seika bercanda, ia jengah dengan keseriusan Akira.


“Aku tidak tahu kalau kau benar-benar gay” ujar Kenichi menanggapi gurauan Seika.


Seika menatap tidak suka dengan gurauan Kenichi, laki-laki itu hanya membuang pandangannya, menghindari tatapan tajam Seika.


Akira hanya diam, ia tidak terpengaruh oleh gurauan tersebut. Ia sudah merasa bahagia hanya dengan tinggal disini, ia bahkan tidak akan menyangka bahwa ia akan mempunyai sebuah tempat yang disebut rumah untuknya. Rumah untuknya pulang.