Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 27 - Omedeto



"Ohayo gosaimasu Aiko sensei (Selamat pagi)" sapa Aoi.


"Ohayo gosaimasu Aoi" sapa Seika ceria.


Aoi menaikkan alisnya ketika melihat raut wajah Seika yang tampak lebih ceria dari biasanya.


"Sepertinya Aiko sensei sedang bahagia ya?" tanya Aoi penasaran.


Senyuman Seika menghilang di ganti dengan wajah gugup yang berusaha ia tutupi.


"Tidak. Aku seperti biasanya" ujar Seika sedikit gugup.


"Ya. Kau terlihat bahagia sensei" ujar Aoi yakin. Ia tersenyum nakal.


"Apa yang kau bicarakan? Sudah. Ayo mulai bekerja" ujar Seika mengalihkan perhatian.


Aoi tertawa pelan melihat tingkah gugup Seika. Seika masuk ke dalam ruang kerjanya lalu memegang wajahnya yang memanas.


"Apa sejelas itu raut wajah senangku?" tanya Seika kepada dirinya.


Seika menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan fokusnya. Ia beranjak ke kursi kerja untuk memulai kegiatan kesehariannya.


...&&&...


Seika sedang duduk di roka sambil memandang bulan purnama di temani oleh tsukimi dango, kue beras yang biasanya dinikmati seraya memandang bulan purnama, tradisi memandang bulan purnama dikenal dengan sebutan tsukimi.


Seika memakai yukata santai berwarna biru tua dengan motif burung merak yang cantik, sudah hampir tiga bulan Seika tinggal di rumah Kenichi, berbagai hal sudah ia lewati bersama laki-laki itu maupun dengan lainnya.


Seika tersenyum lembut memandang bulan purnama yang bersinar sangat indah. Sebuah pelukan dari belakang membuat Seika tersentak dan menoleh ke arah Kenichi yang tersenyum lembut kepadanya.


"Dimana Michio dan Akira? Mereka tidak ikut bergabung?" tanya Seika melirik ke arah pintu.


"Untuk apa? Aku hanya ingin berdua saja denganmu" jawab Kenichi.


Seika tertawa pelan lalu kembali memandang bulan purnama. Kenichi duduk disamping Seika lalu menuangkan sake ke gelas kecil dan menikmatinya sembari memandang bulan.


"Sangat indah bukan?" tanya Seika.


Kenichi menganggukkan kepalanya.


"Dulu aku selalu memandanginya sendirian, ternyata sangat menyenangkan jika melihatnya bersama dengan orang yang kita sayangi" ujar Seika tanpa melepaskan pandangannya dari bulan.


Kenichi menoleh ke arah Seika lalu sebelah tangannya memeluk bahu Seika, menyuruh gadis itu untuk menyandarkan kepalanya ke bahunya.


"Aku sangat senang bertemu denganmu Kenichi" ujar Seika pelan.


"Dulu aku paling anti dengan orang sepertimu, karena takut aku akan melihat masa lalu paling mengerikan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya" lanjut Seika.


Kenichi hanya diam mendengar perkataan Seika, matanya menatap gadis di hadapannya dengan tatapan penuh cinta.


"Tapi sekarang aku bersyukur bisa bertemu denganmu, baru-baru ini aku berpikir kalau kau tidak menyekapku di rumah ini mungkin sekarang ini aku masih memandangi bulan sendirian" ujar Seika dengan airmata mengenang di pelupuk matanya.


"Makasih sudah mencintai gadis aneh sepertiku" ujar Seika dengan nada bergetar.


Kenichi memegang pipi Seika dengan lembut kemudian mencium gadis itu dengan penuh kasih. Seharusnya dialah yang harus berterima kasih dan bersyukur karena gadis sebaik Seika hadir dalam hidupnya yang penuh dengan warna kelam. Gadis itu adalah keajaiban yang nyata dalam hidup Kenichi.


Mereka terus berciuman, menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada satu sama lain. Beberapa saat kemudian Kenichi melepaskan ciuman tersebut dan mengusap lembut bibir Seika yang memerah dengan ibu jarinya. Matanya menunjukkan hasrat yang memanas di dalam tubuhnya.


"I want you tonight, can I?" pinta Kenichi dengan suara serak.


Pandangan Seika mengabur karena kenikmatan ciuman yang Kenichi berikan, pikirannya seperti berawan, tidak bisa memikirkan apapun.


Seika menganggukkan kepalanya. Ia juga menginginkan Kenichi malam ini.


Kenichi memeluk dan mengangkat tubuh Seika ala bridal style, mereka masuk ke dalam kamar dan meletakkan Seika di atas futon, Kenichi memandangi Seika dengan penuh cinta lalu mulai menghujani Seika dengan kecupan kecupan lembut. Mereka pun bercinta, menyalurkan rasa sayang dan cinta mereka sepanjang malam ditemani oleh suasana romantis yang bertabur cahaya bulan purnama yang indah.


...&&&...


Kenichi menatap lembut Seika yang sedang tertidur didalam pelukannya, gadis itu sangat manis bahkan ketika memenjam matanya, bulu mata yang lentik dan cara tidurnya yang lucu karena selalu memegang bibir dengan tangan kanannya membuat Kenichi susah payah menahan keinginan untuk mengecup bibir ranum itu.


Kenichi teringat dengan adegan bercinta mereka tadi malam, ia menutup sebagian wajahnya dengan tangan, Kenichi tidak menyangka bahwa bercinta dengan Seika yang ia sayangi akan sangat beda rasanya dengan perempuan-perempuan yang selama ini ia tiduri. Ia tidak bisa menjabarkan betapa indah dan bahagianya ia sekarang ini.


Seika menggeliat pelan, lalu membuka matanya dan menatap Kenichi yang juga sedang menatapnya tepat di mata laki-laki itu, memori bercinta mereka tadi malam masuk ke dalam pikiran Seika membuat wajahnya memerah seketika. Ia bahkan menyembunyikan dirinya di dalam selimut untuk menutupi rasa malunya.


Kenichi tertawa terbahak-bahak ketika melihat sikap salah tingkah Seika yang terlihat sangat manis dimatanya, hari ini sungguh hari yang paling indah untuknya.


...&&&...


Akira, Michio dan anak buah Kenichi melirik satu sama lain, heran melihat Seika yang duduk menjauh dari Kenichi, ini baru pertama terjadi dan yang lebih mengherankan adalah Kenichi tidak mempermasalahkannya, malah tersenyum senang.


Namun mereka hanya melirik dan menyikut satu sama lain sambil menanyakan dengan isyarat mata tanpa bisa bertanya kepada Seika maupun Kenichi.


Seika duduk dengan tidak nyaman, ia sedang menyantap sarapan pagi bersama seperti yang biasa mereka lakukan, namun pagi ini Seika yang malu duduk di samping Kenichi karena adegan bercinta mereka yang terus tergiang di kepalanya, ia memilih duduk di ujung bersama dengan Michio. Ia dapat merasakan tatapan para anak buah Kenichi yang heran dengan tingkahnya.


"Anee-san" panggil Michio.


"Ya" jawab Seika spontan.


"Mengapa anee-san duduk di sampingku? Bukankah biasanya anee-san duduk di samping kumicho-san?" tanya Michio.


Seika tersedak, ia sudah menduga Michio akan bertanya mengenai sikap anehnya namun ketika pemuda itu benar-benar menanyakannya membuat jantung Seika berdegup kencang seperti ketahuan mengambil apa yang bukan miliknya.


"Itu karena... karena aku ingin duduk bersamamu Michio, sudah lama kita tidak mengobrol bersama bukan?" jawab Seika gugup.


Michio menatap Seika lama, ia tidak yakin dengan jawaban kakaknya.


"Benarkah?" tanya Michio memastikan. Tidak ada niat Michio untuk menganggu Seika namun entah mengapa ia begitu penasaran dengan tingkah Seika pagi ini.


"Mengapa kau tidak mempercayainya? Aku berka..."


"Seika malu karena kami baru saja menghabiskan malam yang indah bersama" potong Kenichi tenang.


"Kenichi" bentak Seika pelan. Wajahnya kembali memerah.


Beberapa anak buah Kenichi tersedak ketika mendengar ucapan tenang bos mereka, kemudian menatap Seika dengan pandangan kagum.


"OMEDETO ANEE-SAN (Selamat kakak)" ujar mereka serempak sambil membungkukkan badan mereka.


Seika tidak mampu lagi menahan rasa malunya, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasa panas di pipinya melebihi orang yang sedang terkena demam.


"Omedete anee-san" ujar Michio tersenyum lebar.


Mereka sudah tau bahwa Seika dan Kenichi mulai tidur bersama namun tidak menyangka bahwa malam indah yang harusnya mereka lewati jauh hari baru terlaksana tadi malam, itu hal yang mengejutkan bagi mereka.


Akira menghadap ke arah Kumicho dengan wajah serius dan membungkukkan dalam badannya.


"Omedeto kumicho. Sepertinya akan ada seorang waka ke depannya" ujar Akira bersungguh-sungguh.


Kenichi dan Seika terkejut dengan penuturan tidak terduga dari Akira lalu menatap satu sama lain. Seika ingat bahwa tadi malam Kenichi tidak memakai pengaman apapun, gadis itu menutup mulutnya dengan matanya membulat menatap kepada Kenichi.


Seika berdiri dan berlari ke kamarnya. Ia begitu terkejut dan malu dengan penuturan Akira. Ia melupakan hal yang satu itu, bahwa ada kemungkinan akan hamil karena percintaan mereka.


Kenichi menatap kepergiaan dan menghela napas.


Damn it, ini akan berakhir dengan perdebatan dan pertengkaran lagi, ujar Kenichi dalam hati.


Akira yang menangkap siratan dari helaan napas Kenichi segera kembali membungkukkan dalam badannya.


"Maafkan aku kumicho, sepertinya aku telah melakukan kesalahan" ujar Akira sedikit takut.


Kenichi mengangkat tangannya untuk menyuruh Akira untuk duduk kembali.


"Tidak. Ini bukan salahmu, jangan khawatir" ujar Kenichi.


Kenichi berdiri dan menyusul Seika.


"GANBATTE KUMICHO, ANDA PASTI BISA MELAKUKANNYA" ujar dua orang anak buah Kenichi dengan raut wajah serius.


"FIGHTO OH KUMICHO" ujar yang lainnya memberi semangat.


Kenichi menghela napas jengah mendengar perkataan anak buahnya, ia merasa seperti sedang memasuki ke tempat perang. ia menggelengkan kepala menanggapi respon bodoh anak buahnya.


Michio hanya tersenyum.