
“OKAERI NASAI KUMICHO, ANEE-SAN!!” Ucap serentak seluruh anak buah yang berjaga di depan rumah Kenichi.
Seika tersenyum senang, sudah lama ia tidak merasakan penyambutan seperti ini, ia menatap ke Kenichi yang tersenyum kepadanya lalu melangkah masuk.
“Tadaima minna-san (aku pulang semuanya)” Balas Seika tersenyum.
Kenichi menggenggam tangan Seika lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
“Okaerin nasai kumicho-san, anee-san” Michio sedang berjalan di koridor rumah.
Mata Seika membulat ketika melihat Michio, sudah hampir sebulan ia tidak bertemu dengan adiknya karena masalah klan Yamagi yang Kenichi bubarkan.
“Tadaima Michio” Balas Seika melepaskan tangan Kenichi lalu melangkah ingin memeluk Michio. Ia sangat merindukan adiknya yang selalu ada di saat ia membutuhkan seseorang.
Namun langkahnya tertahan karena Kenichi menahan lengan Seika.
“Sudah ku bilang tidak pakai pelukan” Ucap Kenichi dengan wajah datar.
Michio membungkukkan badannya ke arah Kenichi dengan wajah bersalah, pemimpin Yamaguchi-gumi tersebut menghampiri dan mengacak pelan rambut adiknya.
“Selamat datang kembali di Yamaguchi-gumi Michio, kau sudah bekerja dengan keras” ujar Kenichi tersenyum pelan.
Michio kembali membungkukkan kepalanya, setelah insiden penculikan Seika oleh salah satu kelompok kecil di bawah naungan klan Yamagi. Ia memohon kepada Kenichi supaya ia ikut bertanggung jawab atas insiden tersebut karena ia juga tidak bisa menjaga Seika dengan baik dan lagipula klan Yamagi juga berada di bawah tanggung jawabnya.
Selama hampir sebulan Michio mendatangi seluruh markas yang di domisili oleh klan Yamagi dan kelompok kecil di bawah klan tersebut untuk memberitahukan tentang pembubaran klan Yamagi.
Seluruh anak buah yang berada di bawah klan Yamagi terkejut namun tidak berani membantah perintah langsung Kenichi, apalagi setelah mengetahui bahwa salah satu anggota mereka berani menculik perempuan milik pemimpin besar mereka, Yamaguchi-gumi. Mereka akhirnya menerima dengan terpaksa. Sebagian dari mereka di alokasikan ke klan Kagoshima-kai, Shizioka-kai dan beberapa klan lainnya yang tersebar di seluruh Kobe.
Seika menatap Michio yang menundukkan pandangannya, masih merasa bersalah dan ikut bertanggung jawab atas penculikan tersebut.
Wanita itu melepaskan cekal tangan Kenichi dan tersenyum kepada laki-laki itu.
Seika melangkah dan segera memeluk Michio sambil membelai lembut kepala adiknya. “Kau tidak bersalah Michio, mengapa kau menyiksa dirimu sendiri”.
Michio hanya diam. Ia tahu Seika dan Kenichi tidak akan menyalahkannya namun karena kepercayaan yang besar itulah membuatnya semakin merasa bersalah.
“Kau adikku dan Kenichi, mengapa aku merasa kau seperti orang asing karena rasa bersalah mu itu”.
“Kalau saja aku bisa menjaga anee-san lebih baik lagi mungkin anee-san tidak mengalami lagi hal yang mengerikan itu” Ucap Michio pelan. Tangannya terkepal kuat di kedua sisi pahanya.
“Hm. Sebenarnya aku berterima kasih atas penculikan tersebut...”
“Anee-san” Sela Michio dengan nada memohon.
Seika melepaskan pelukan dan menatap Michio dengan senyum senang.
“Kalau aku tidak di culik mungkin sampai sekarang aku masih belum bisa berada di samping Kenichi dan satu hal yang penting kalau tidak ada Michio di sampingku, aku tidak tahu bagaimana aku melewatkan satu tahun itu. Sudah tidak perlu merasa bersalah, semua sudah berlalu” Seika menoleh ke arah Kenichi sambil tersenyum.
“Baka (bodoh), kau memikirkan hal yang tidak perlu” ujar Kenichi sambil memeluk dengan sebelah tangannya.
Airmata Michio mengalir, ia tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar betapa pengertiannya Seika dan Kenichi, merekalah alasan Michio untuk hidup.
Michio dan Seika tersenyum lalu melangkah ke ruang washitsu, mulai menyiapkan makan malam.
&&&
Seika menatap Kenichi yang membelai rambutnya, mereka tidur dengan posisi saling berhadapan.
“Ada apa Seika?” tanya Kenichi penasaran dengan tatapan Seika, ia terus membelai rambut wanita itu sambil tersenyum lembut.
“Haruskah kau bubarkan klan Yamagi-kai?” tanya Seika.
Senyuman Kenichi menghilang. “Aku tidak ingin membahas itu lagi, semua sudah berakhir Seika”.
“Tapi bukan klan Yamagi-kai yang menculik ku kan? Kenapa kau juga ikut membubarkan klan di bawah perintah Michio? Michio jadi ikut merasa bertanggung jawab” Jelas Seika memberi pengertian.
“Seika, dengarkan aku. Aku harus mengambil keputusan itu agar dapat menjadi pelajaran untuk klan lainnya, jadi kita tidak perlu membahasnya lagi” Bantah Kenichi.
“Tapi..” Ucap Seika masih belum puas dengan penjelasan Kenichi.
Kenichi membelai pipi Seika lalu mencium sekilas bibir merah wanita itu.
“Seika, kau tidak tahu bagaimana ketakutannya aku ketika mendengar kau kembali di culik. Aku bahkan sangat sulit untuk sekedar bernapas. Aku tidak mau mengalami hal itu lagi. Jadi ini adalah keputusan final dariku” jelas Kenichi untuk kesekian kalinya.
Seika menatap sedih. “Maafkan aku” hanya itu yang dapat ia katakan.
Kenichi kembali mencium Seika. “Tidak apa-apa, semua sudah berakhir”.
Seika menganggukkan kepala. “Ya semua sudah berakhir”.
“Hei, kau ingin bermain keringat denganku?” tanya Kenichi dengan alis terangkat naik dan tersenyum seksi.
“Dalam mimpimu” Seika memutar bola matanya dan mendorong dada Kenichi lalu mencoba untuk duduk.
Kenichi menarik lengan Seika untuk kembali tertidur. Ia mulai memegang kedua tangan Seika dan meletakkan di atas kepala gadis itu sambil menahannya dengan sebelah tangan, bibirnya mulai mengekplorasi tubuh Seika. Mulai dari kening, hidung, bibir dan turun ke leher wanita itu.
“Yameru hentai (hentikan mesum) ” Seika kesal karena raut wajah senang Kenichi yang terlihat mesum di matanya. Walaupun napasnya mulai memanas.
“Tapi kau suka si mesum ini kan?” tanya Kenichi menggoda.
Wajah Seika memerah, ia memalingkan wajahnya ke samping.
“Aishiteru uchi no yume” bisik Kenichi dengan suara lembut.
Wajah Seika semakin memerah. “Kau tidak adil mengatakan itu saat seperti ini”.
Kenichi tersenyum. “Mana jawabanmu?” laki-laki itu memindahkan tubuhnya ke atas tubuh Seika.
Seika tersenyum dengan air mata yang mulai mengalir. “Aishiteru Ken”. Ia memeluk Kenichi dan mereka memulai kegiatan cinta mereka.