
“Undangan kencan untukmu lagi, kau akan kembali menolaknya?” tanya Kenichi sambil membaca berkas.
“Ya kumicho, Aku senang dengan keadaanku sekarang”.
Kenichi meliriknya sejenak. “Apa yang membuatmu bahagia?”.
“Aku senang bisa menjajakan hidupku dengan melayani mu dan kelompok ini” Jawab Akira sembari menundukkan kepalanya.
“Ada kalanya kau juga harus memikirkan dirimu sendiri” nasehat Kenichi menghela napas panjang.
Akira hanya diam membisu.
&&&
“Hei Akira, ini sudah undangan ke sepuluh kalinya yang aku dapatkan, kali ini kau harus bertemu gadis yang ada undangan itu” Perintah Kenichi kesal.
Akira terdiam sejenak. “Baik kumicho, aku akan menemuinya dan menolak langsung ajakan kencan tersebut”.
Kenichi mengangguk. “Datang dan temuilah Hanna Fujikawa dari Klan Hirasaki-kai”.
Akira membungkukkan badan. “Baik kumicho”.
&&&
Akira berjalan di taman kota yang terkenal sebagai tempat pertemuan kencan, ia mengingat bahwa gadis itu memakai dress putih dan sepatu hitam.
Kenichi berdecak kesal dan memarahinya ketika melihat pakaian yang ia pakai sebelumnya. Ia memakai setelan jas seperti yang ia kenakan setiap hari. Akira tidak akan membuang waktunya, ia akan menolak ajakan kencan tersebut dan balik ke markas.
Seorang wanita berdiri menunggu seseorang, pakaian dan sepatunya sama persis yang Kenichi jabarkan namun melihat wajah gadis itu yang tampak begitu muda. Akira menerka usia gadis itu pasti masih belasan tahun.
“Terlalu muda” komentar Akira tidak berminat.
“Hanna ojou-sama?” tanya Akira memastikan.
Sang gadis menoleh dan memekik girang lalu memeluk Akira dengan cepat.
“Kamisama arigato gozaimasu (terimakasih Tuhan), akhirnya aku bisa juga bertemu dengan Akira-san”.
“Sebenarnya kedatanganku kemari un…”.
“Ayo kita akan berkeliling mengunjungi tempat yang bagus” potong Hanna menarik lengan Akira untuk mengikutinya.
Akira terkejut dan memperbaiki letak kacamatanya. “Hanna ojou-sama, kita akan kemana?”.
“Kata Kenichi-sama aku boleh memilikimu satu hari ini, jadi kita akan pergi kencan” Ucap Hanna tertawa senang.
Akira berhenti lalu menghela napas panjang. Pantas saja Kenichi marah melihat pakaian, bosnya telah menentukan kencan rahasia untuknya.
Baiklah, kalau ini perintah maka ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Akira tersenyum kepada Hanna yang membuat gadis itu menahan napas sembari menutup mulutnya, tampak begitu terpukau dengan senyuman yang jarang ia perlihatkan. “Sebentar Hanna ojou-sama”.
Akira melepaskan dasi dan kacamatanya lalu mengacak pelan rambut agar tidak terlihat formal lalu tersenyum. Hanna memekik riang dan kembali memeluk Akira ketika melihat betapa tampannya laki-laki itu.
“Jadi kita akan kemana?” tanya Akira.
“Pertama ayo kita nonton film” Hanna menggamit lengan Akira untuk berjalan bersamanya.
Mereka masuk ke bioskop dan Hanna memilih film kategori romantis. Gadis itu menonton film tersebut dengan penuh semangat, sudah lama ia ingin nonton film ini bersama dengan Akira sedangkan laki-laki itu hanya duduk dengan tegap, matanya memang menonton film tersebut namun pikirannya tersita di markas. Ia sangat ingin mengakhiri kencan singkat ini dan segera balik ke markas.
“Wah filmnya bagus, aku tidak akan menyangka akhirnya akan seperti itu” komentat Hanna yang berjalan keluar dari bioskop.
Akira hanya tersenyum mendengarkan. Setelah menonton bioskop mereka memilih untuk mengganjal perut mereka.
“Makanan disini enak” komentar Hanna, rambutnya panjang ia selipkan di belakang telinga.
Lagi-lagi Akira hanya tersenyum menanggapi setiap perkataan Hanna.
“Bicaralah Akira-san, katakan sesuatu” Ucap Hanna memutar bola matanya.
“Setelah ini kita akan kemana? Aku ingin segera mengakhiri kencan ini” Ucap Akira tersenyum.
Senyuman Hanna menghilang ketika mendengar ujaran Akira. Ia bertemu dengan Akira sekitar tiga tahun yang lalu ketika rapat besar Yamaguchi-gumi diadakan, ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Akira. Setelah itu ia hanya mendengar atau menyuruh anak buahnya untuk mengambil foto setiap kegiatan Akira, walaupun sering ketahuan.
Akhirnya ia memberanikan diri untuk mengajukan undangan kencan melalui Kenichi, walaupun ia ketakutan ketika melihat pemimpin tertinggi kelompoknya, namun rasa sukanya kepada Akira membuatnya menelan ludah dan memberanikan diri untuk mengajukan undangan kencan tersebut. Ia menghela napas dan tersenyum.
“Setelah ini kita akan langsung pulang, tidak ada gunanya berkencan jika Akira-san tidak menikmatinya” Ucap Hanna kecewa.
“Aku minta maaf” Ucap Akira membungkuk hormat. Seolah membenarkan perkataan Hanna.
Hanna menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa, bertemu dengan Akira-san hari ini sudah cukup membuatku bahagia. Ayo kita habiskan makanannya”.
“Kau tahu Akira-san, aku sudah menyukaimu dari tiga tahun yang lalu. Awalnya aku tidak percaya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi ketika bertemu dengan Akira-san, aku jadi mempercayainya” Ucap Hanna tiba-tiba sambil berjalan.
Akira hanya diam mendengarkan.
“Setelah itu aku menstalker Akira-san melalui anak buahku, tapi sering ketahuan jadi aku tidak mendapat banyak gambaran tentang kehidupanmu” Lanjut Hanna lalu tertawa pelan kemudian diam sesaat.
“Mungkin usahaku belum maksimal sampai Akira masih tidak berminat denganku” Hanna menghela napas panjang.
“Tujuan hidupku sekarang adalah untuk melayani kumicho dan Yamaguchi-gumi, aku tidak tertarik dengan masalah percintaan jadi bukan karena usahamu yang belum maksimal” hibur Akira.
Hanna hanya tersenyum nanar.
“Kalau begitu aku ak…”
Ucapan Hanna terputus ketika bertabrakan dengan seorang pria bertubuh besar yang menyeringai kepadanya.
“Warui (maaf) , aku tidak sengaja” Ucap laki-laki itu tersenyum miring.
Akira menatap tajam, namun laki-laki itu hanya menyeringai meremehkannya.
“Tidak apa-apa” Hanna memegang tangan Akira untuk menjauh dari situasi tidak menyenangkan tersebut.
“Hei ojou-chan, ini milikmu bukan?” tanya laki-laki itu.
Hanna menoleh dan tersenyum ketika melihat tas kecilnya, ia hampir melupakan hal tersebut.
“Terima kas…” Ucapan Hanna terputus ketika ia ingin mengambil tas kecilnya, laki-laki itu malah menjauhkannya.
Akira maju ingin memberi peringatan dan pelajaran kepada laki-laki itu namun tangan Hanna mencegahnya. Gadis itu tersenyum.
“Kousso ossan (paman sialan) , Kau ingin bermain denganku?” tanya Hanna tersenyum.
Laki-laki itu tersenyum menyeringai. “Kau cepat paham, tinggalkan kekasihmu yang kaku itu. Aku lebih bisa memuaskanmu”.
Hanna tersenyum dan mengedarkan matanya mencari tempat yang aman.
“Bagaimana dengan lorong itu, aku tidak nyaman dengan keramaian kousso ossan” Hanna menunjuk sebuah lorong sempit diantara dua gedung.
Laki-laki itu sebenarnya tidak suka dengan panggilan Hanna kepadanya namun ketika melihat persetujuan gadis itu ia hanya menganggap itu sebagai lelucon semata.
Akira melangkah dan berdiri di depan Hanna, menyembunyikan gadis itu. “Maaf tuan, kami sedang buru-buru” Akira menggamit tangan Hanna dan melangkah menjauh.
Sebelah tangan Hanna di cekal oleh laki-laki itu membuat gigi Hanna gemeretuk menahan kesal namun ia masih berusaha untuk tersenyum. Ia tidak akan memperlihatkan wajah marahnya di depan Akira.
“Kau benar-benar ingin bermain denganku ya. Sebentar” Hanna tersenyum manis lalu menoleh ke arah Akira.
“Akira-san bisa tunggu disini sebentar? Aku tidak akan lama” pinta Hanna.
Akira ragu ingin setuju namun ketika melihat raut wajah santai Hanna, ia menghela napas dan menganggukkan kepalanya.
Hanna tersenyum dan melangkah ke lorong kecil diantara gedung bangunan, pria berusia tiga puluhan tersebut mengikutinya. Laki-laki itu dengan senang hati menyusul dan menatap remeh ke arah Akira. Akira hanya menghela napas panjang.
Sudah sepuluh menit berlalu namun Hanna belum kembali membuat Akira memutuskan untuk menyusul gadis itu.
“Beraninya kau mengganggu kencan berhargaku” Ucap Hanna sambil memukul wajah laki-laki yang sudah babak belur tersebut.
"Ma.. Maafkan aku nona” Ucap laki-laki meminta ampun.
“Aku berusaha sabar, tapi kau memaksaku sampai batas kesabaranku. Kau ingin mati kussou ossan?” tanya Hanna terus memukul laki-laki itu.
“Hanna ojou-sama, sudah cukup”
Suara Akira membuat Hanna berhenti dan segera membersihkan buku jarinya dari darah laki-laki itu dengan baju yang laki-laki itu pakai. Hanna berdiri dan menutupi tubuh lemah laki-laki itu dengan jaket yang laki-laki itu letakkan tidak jauh darinya. Ia mengambil jaket itu dengan kakinya.
Hanna berbalik dan tersenyum dan menghampiri Akira.
“Kau tidak membunuhnya kan?” tanya Akira sambil berjalan.
Hanna terkejut dan tersenyum.
“Aku ketakutan Akira-san” Hanna mempercepat langkahnya. Ia jadi lupa dengan kehadiran Akira karena kesalnya yang menyentuh batas, sehingga ia terus memukul laki-laki itu dengan senang.
Akira menoleh ke belakang, melihat laki-laki yang terbatuk-batuk kesakitan.
“Semanis apapun Hanna, anak yakuza tetap anak yakuza huh?” gumam Akira kepada dirinya.
“Ayo Akira-san, paman-pamanku sudah menunggu” Hanna tersenyum manis.
Akira tersenyum samar dan kembali melangkah, ketika melihat betapa santainya Hanna menghadapi masalah mungkin ia akan memikirkan kembali tentang kehidupan pribadinya. Akira berpikir mungkin hidupnya semakin lengkap dengan kehadiran Hanna yang menarik perhatiannya.