Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Extra Part



“OKAERI NASAI KUMICHO, WAKA” Ucap anak buah Kenichi serentak membungkukkan badan mereka, menyambut kepulangan Kenichi yang baru saja menjemput Kyou pulang sekolah.


“Tadaima minna-san” Balas Kyou yang berusia sepuluh tahun.


Kenichi melihat ke teras rumah dan tidak menemukan Seika yang biasanya selalu menunggunya pulang. “Seika dimana?”.


“Anee-san sepertinya ada di kamar kumicho” Jawab salah seorang anak buah Kenichi.


Kenichi mengangguk mengerti.


“Otou-san (ayah)” panggil Kyou.


“Ada apa Kyou?”.


“Aku akan ke dojo untuk berlatih” Kyou melambaikan tangannya lalu melangkah menuju tempat berlatih beladiri. 


Kenichi mengacak rambut anaknya lalu mengangguk. Ia melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamarnya namun Seika juga tidak ada di dalam ruangan tersebut. Ia melangkah keluar menuju ruang washitsu dan mendapat hal yang sama. 


“Seika” Panggil Kenichi yang mulai panik. Ia mencari ke halaman samping rumahnya namun lagi lagi Seika tidak dapat ia temukan, perasaan Kenichi semakin kacau.


“Seika!!” Panggil Kenichi setengah berteriak. Kenichi kembali mencari di halaman depan.


“Ada apa kumicho?” tanya salah seorang anak buahnya.


“Seika tidak ada dimana pun” jawab Kenichi dengan suara pelan.


Tanpa menunggu reaksi anak buahnya, Kenichi berjalan cepat ke belakang rumah, hanya tempat itu yang belum ia periksa. Matanya membulat ketika melihat Seika yang sedang menyiram bunga di halaman belakang dengan tenang.


Kenichi segera menghampiri Seika dan memeluk wanita itu dari belakang, Seika tersentak pelan oleh pelukan yang tiba tiba lalu menoleh ke arah Kenichi.


Seika tersenyum. “Kau sudah pulang Ken”.


Kenichi tidak menjawab, ia terus memeluk istrinya dengan erat. Seika terkejut merasakan tubuh Kenichi yang bergetar pelan, mimpi buruk tentang dirinya diculik dan menjadi gila masih menjadi trauma untuk suaminya. Kenichi memeluk erat Seika dengan penuh ketakutan akan kehilangan jika tidak mendapati wanita itu dalam jangkauannya.


“Aku ada disini Ken. Tidak akan menghilang lagi” Ucap Seika menenangkan suaminya.


Kenichi mengeratkan pelukan di tubuh Seika, mencoba meyakinkan dirinya bahwa mimpi buruk yang mengerikan itu benar benar sudah berakhir.


“Aku tidak akan kemana-mana. Mimpi buruk itu tidak akan lagi terjadi” Ucap Seika kembali.


Kenichi melepaskan pelukan lalu menatap mata Seika dengan penuh kelembutan, ia tersenyum pelan. 


Seika memegang wajah Kenichi dengan tangan kanannya sembari tersenyum menenangkan. “Okaeri nasai Ken”.


Kenichi tersenyum. “Tadaima”.


Seika menatap ke belakang Kenichi, mencari keberadaan Kyou. “Kyou dimana?”.


“Dia ada di dojo, berlatih Judo” jawab Kenichi.


Seika menggeleng sembari tersenyum mengetahui kebiasaan anaknya, selalu berlatih di dojo setiap pulang dari sekolah. “Kyou sangat bersemangat untuk bisa meneruskan kelompok mu nantinya”.


Kenichi mengangkat bahunya. “Kyou adalah anakku jadi wajar saja ia bersemangat mewarisi kepemimpinan ku”.


“Ayo kita lihat latihannya” Ajak Seika.


Kenichi tersenyum dan memegang tangan Seika yang memakai sarung tangan berwarna putih, mereka melangkah menuju dojo yang terletak di samping rumah.


“Kumicho, anee-san” sapa dua orang laki-laki yang berdiri di luar dojo.


Kenichi menganggukkan kepalanya sedangkan Seika hanya tersenyum. Mereka masuk ke dalam dojo dan melihat buah hati mereka yang sedang berlatih dengan Michio.


“Hari ini aku akan mengalahkan mu Michi-nii” Ucap Kyou bersemangat.


Michio tersenyum dan menggerakkan jari telunjuknya kepada Kyou, menyuruh anak laki-laki itu untuk maju. Kyou mulai menyerang, karena tubuh kecilnya, Kyou hanya dapat menyerang kaki dan perut Michio. Serangannya bisa diatasi dengan mudah oleh Michio.


“Hanya itu yang kau punya?” tanya Michio tersenyum.


Kyou menjadi kesal, ia kembali menyerang pamannya namun kali ini sasarannya adalah pinggang Michio. Ia mengarahkan tinjunya ke pinggang Michio namun kepalan tangannya di tangkap oleh Michio. Tidak kehabisan cara, ia segera menyerang kembali dengan kakinya, kepalan tangannya yang di tahan Michio membuat pamannya tidak dapat menangkis serangan kakinya.


Anak laki-laki itu mengarahkan kakinya ke lutut Michio, membuat pamannya jatuh terduduk karena serangan tersebut. Kyou tersenyum menang.


“Kau menjadi lebih kuat Kyou” Puji Michio.


“Semuanya berkat Michi-nii” balas Kyou merendah.


Seika dan Kenichi melihat latihan tersebut hanya tersenyum. 


Kyou menoleh dan menyadari keberadaan kedua orangnya. “Otou-san, oka-san” Kyou berlari menghampiri Seika dan Kenichi. Ayahnya mengangkat tubuh kecilnya dan menggendongnya.


“Kau sangat hebat, bagaimana bisa kau mengalahkan Michio?” tanya Kenichi heran. 


“Aku harus menjadi hebat kalau mau meneruskan kepimpinan otou-san dengan menjadi hebat aku bisa melindungi semuanya” ujar Kyou menggebu-gebu.


“Kau sangat bangga menjadi yakuza ya?” tanya Seika tidak habis pikir.


“Tentu saja oka-san. walaupun teman-temanku tidak begitu menyukaiku karena mempunyai ayah seorang yakuza tapi aku tetap bangga dengan ayah. Aku akan memperlihatkan kepada mereka, yakuza bukan parasit yang selama ini mereka pikirkan” jelas Kyou.


Seika terkejut dengan penjelasan Kyou. Anaknya sudah besar dan pintar karena begitu memahami kehidupan ayahnya. Ya. Hidup menjadi yakuza tidak akan pernah menjadi mudah karena pandangan negatif para masyarakat akan dunia tersebut.


“Dari mana kau mendengar kata-kata hebat itu?” tanya Seika terharu.


Kyou menatap Kenichi sambil tersenyum misterius, ia berhigh five dengan ayahnya. Seika yang mengerti bahwa Kyou mendengar dari ayahnya.


“Sudah waktunya makan siang, ayo Kyou” Ajak Seika.


“Ittadakimasu” Ucap Kenichi. 


Semua yang hadir di ruangan washitsu mengikuti ucapan Kenichi, mereka pun mulai menyantap makanan dalam diam.


“Otou-san, Akira ji-san dimana?” tanya Kyou tidak mendapati Akira yang biasa duduk di samping Kenichi.


“Dia ada urusan di Kabukicho” Jawab Kenichi.


Kyou menghela napas panjang. “Aku ingin mempelajari Judo lebih dalam dari Akira ji-san”.


Kenichi menatap heran kepada anaknya lalu menatap Michio yang hanya tersenyum sambil mengunyah makanannya.


“Michi-nii juga bisa mengajarimu” usul Kenichi.


Kyou melirik Michio sejenak lalu menggelengkan kepala. “Michi-nii terlalu lembut dalam mengajariku. Aku jadi tidak mempelajari apapun dari Michi-nii”.


“Itu karena kau masih kecil Kyou-kun” Balas Michio.


“Aku sudah besar, aku bahkan mengalahkan temanku yang bertubuh lebih besar dariku” Bantah Kyou tidak terima.


Suasana mendadak hening, Kyou yang menyadari kata-katanya yang terdengar salah segera menutup mulutnya.


“Kau berkelahi lagi dengan temanmu Kyou?” tanya Seika dengan suara rendah.


“Tidak oka-san. Mereka lebih dulu mencari masalah denganku” jelas Kyou.


“Tapi tetap saja kau berkelahi dengan temanmu bukan? Sudah berapa kali ibu bilang jangan meladeni temanmu hanya karena kau tidak suka mereka mengejek mu” nasehat Seika.


Kyou berdecak kesal dengan suara pelan lalu menundukkan wajahnya, ia paling tidak bisa membantah perkataan ibunya.


“Tidak masalah jika mereka mengatai ku tapi aku tidak terima kalau mereka menghina oka-san” gumam Kyou.


“Mereka menghina Seika ku?” tanya Kenichi memastikan, suara laki-laki itu tampak berbahaya. 


Para anak buah Kenichi mendelik akan perkataan Kenichi.


“SIAPA YANG BERANI MENGHINA ANEE-SAN!!” teriak salah satu dari mereka. Laki-laki itu berdiri dengan gerakan marah.


“Omaera!! (Kalian!!)” Ucap Seika menghalangi. Ia menatap tajam kepada anak buah Kenichi.


Laki-laki itu langsung duduk dan membungkukkan kepalanya kepada Seika, tampak takut dengan tatapan tajam istri pemimpinnya. 


Seika menghela napas pelan lalu menoleh kepada Kyou. “Jadi katakan apa yang terjadi sebenarnya?”.


“Mereka mengatakan bahwa aku mempunyai ibu yang jahat maka karena itu oka-san tidak pernah pergi ke sekolah untuk menjemput ku, oka-san tidak jahat. Mereka tidak tahu apa-apa jadi aku memberi sedikit pelajaran kepada mereka kalau oka-san tidak jahat” jelas Kyou.


Seika melirik Kenichi yang menghela napas. Memang benar, Seika tidak pernah pergi ke sekolah Kyou karena Kenichi melarang keras ia bepergian keluar rumah. Sepuluh tahun ini Seika sangat jarang keluar rumah kecuali jika Kenichi yang menemaninya.


“Kau ingin oka-san pergi ke sekolahmu Kyou?” tanya Seika.


Kyou terdiam sesaat, ia sangat menginginkan ibunya pergi ke sekolah untuk menunjukkan kepada teman-temannya bahwa ibunya adalah ibu terbaik yang pernah ia punya. Namun Michio pernah menceritakan bahwa ibunya pernah diculik karena masalah kelompok, oleh karena itu Kyou sedikit mengerti jika ibunya tidak pernah berkunjung ke sekolah.


Dan karena itu juga Kyou berlatih beladiri dengan keras agar dapat melindungi ibu dan anggota kelompok yang ia sukai.


Kyou menggeleng keras. “Tidak oka-san. Oka-san di rumah saja”.


Seika memeluk anaknya dengan lembut.


“Kalau kau mau oka-san pergi ke sekolah. Oka-san bisa pergi”. 


Anaknya mendongak dengan tatapan berbinar. “Benarkah?” tanya Kyou penuh semangat.


“Ya. Hm haruskah oka-san berdandan cantik biar semua teman-temanmu menjadi iri?” tanya Seika tersenyum miring.


Kyou menggelengkan kepalanya.


“Tidak oka-san, dengan datang saja ke sekolah sudah cukup membuat Kyou senang. Kalau oka-san berdandan nanti otou-san bisa cemburu” Kyou berkata dengan wajah serius.


Kenichi tersedak sake ketika mendengar kalimat anaknya, Michio dan anak buah laki-laki itu tertawa pelan.


“Aku tidak sangat cemburu itu Kyou” bantah Kenichi.


“Otou-san bahkan melarang ku untuk tidur bersama dengan oka-san. itu menunjukkan bahwa otou-san sangat pencemburu” jelas Kyou. 


Ayahnya berdecak pelan. “Itu karena...”


Kenichi tidak bisa melanjutkan kata-katanya, jika ia mengatakan bahwa Seika adalah istrinya maka Kyou juga bisa beralasan bahwa dia adalah anaknya Seika. Istrinya tertawa geli melihatnya yang kehabisan kata-kata dengan anaknya sendiri.


“Kau benar Kyou. Otou-san sangat pencemburu” Ucap Seika memanasi.


Kenichi semakin kesal melihat kekompakan ibu dan anak tersebut, apalagi setelah melihat raut wajah menyeringai milik keduanya.


“Ya ya. Aku memang pencemburu. Kalian puas?”.


Kyou dan Seika berhigh five ria, jika mereka sudah bersatu untuk menggoda Kenichi maka kemungkinan besar mereka akan menang melawan orang yang mereka sayangi tersebut. 


Michio dan para anak buah Kenichi yang berada di ruangan washitsu tertawa tertahan. Sumpit mereka bergetar pelan karena mencoba menahan tawa sekuat tenaga. Kenichi semakin kesal melihat pemandangan yang menjatuhkan harga dirinya.


“Apa yang kalian tertawa kan? Duduk tegak!” teriak Kenichi dengan tegas.


Seketika anak buah Kenichi dan juga Michio duduk dengan tegak walaupun raut menahan tawa masih terlihat di wajah mereka.


Seika tersenyum. Saat-saat bahagia yang tidak pernah ia pikirkan akhirnya terjadi dalam hidupnya, ia menoleh kepada Kyou dan membelai rambut anaknya dengan penuh rasa kasih sayang. Anaknya lah yang membuat Seika sangat bahagia. Kyou adalah anak yang membawa kebahagiaan dan juga kelengkapan dalam hidup Kenichi dan Seika.