
Seika terkejut mendengar pintu di geser dari luar, ia belum siap bertatap muka dengan Kenichi, wajahnya pasti memerah, ia meringkuk diatas tatami berwarna hijau sambil mengeratkan selimutnya.
"Seika" panggil Kenichi.
Seika diam tidak menjawab.
"Seika. Lihat aku" ujar Kenichi kembali.
Seika tetap tidak bergeming. Kenichi mengangkat tubuh Seika lalu mendudukkan gadis itu menghadapnya. Tubuh Seika tersengat ketika merasakan tubuh berpidah posisi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Seika mengeluarkan wajahnya dari balik selimut dan menatap waspada kepada Kenichi.
Kenichi tersenyum. "Akhirnya kau mau menatapku juga".
Seika kembali ingin menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut tebal namun gerakannya ditahan oleh Kenichi.
"Lepaskan Kenichi" ujar Seika dengan wajah memerah. Ia sangat malu bertatap muka dengan kekasihnya.
"Kenapa? Apa kau marah?" tanya Kenichi.
"Tidak. Aku tidak marah. Sekarang lepaskan tanganku" ujar Seika menundukkan wajahnya.
Tangan kiri Kenichi yang bebas memegang dagu Seika dan mengangkatnya untuk menatapnya.
"Terus mengapa kau melarikan diri?" tanya Kenichi penasaran.
Seika hanya diam, tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia sungguh malu dengan perkataan anak buah Kenichi. Tidak akan. Pasti Kenichi akan semakin menganggunya.
"Apa kau tidak mau punya anak dariku?" tanya Kenichi pelan. Nadanya sedikit kecewa.
Seika segera menatap Kenichi.
"Tentu saja aku mau" ujar Seika cepat.
"Terus kenapa kau melarikan diri?" tanya Kenichi masih penasaran.
"Aku... aku" ujar Seika terbata bata.
"Aku apa?" tanya Kenichi tidak sabar.
"Aku hanya malu" ujar Seika berbisik. Wajahnya semakin memerah. Jangan tanya bagaimana jantungnya, karena tentu saja jantungnya berdegub kencang seperti genderang mau perang, begitu keras dan cepat.
"Apa?" tanya Kenichi memastikan.
"Aku hanya malu baka, mengapa kau memaksaku untuk mengatakannya dengan jelas" ujar Seika menaikkan volume suaranya. Rasa malu yang sudah tidak bisa ia tanggung membuat Seika menjadi kesal.
Bukannya marah di katakan 'bodoh' oleh Seika, Kenichi malah tertawa senang lalu memeluk kekasihnya.
"Mengapa kau tertawa?" tanya Seika kesal.
"Kau semakin mirip anee-san Seika" ujar Kenichi masih terkekeh.
Seika berdecak kesal.
"Itu tidak lucu" ujar Seika masih kesal.
Kenichi masih tertawa.
"Apa benar kita akan mempunyai anak?" tanya Kenichi sarat akan bahagia.
Seika berpikir sejenak.
"Sepertinya ia, mengingat ini masih masa suburku" ujar Seika pelan.
"Terima kasih Seika. Aku akan sangat senang kalau kita benar-benar punya anak nantinya" ujar Kenichi pelan.
Seika tersenyum senang.
"Terima kasih sudah mencintaiku, aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya hidup sebelum bertemu denganmu Seika" ujar Kenichi memeluk erat Seika, gadis ini adalah segalanya baginya.
Seika tersenyum tersipu, ia sendiri masih bingung dan heran bagaimana ia bisa mulai mencintai Kenichi, demi tuhan, Kenichi adalah pria yang paling ingin ia jauhi dalam hidupnya, ia bahkan selalu berdoa setiap hari agar terhindar dari orang-orang yakuza. Namun sekarang ia malah bergantung kepada laki-laki itu.
Seika sangat mencintai Kenichi, mencintai sisi baik dan buruknya bahkan ia sampai bisa menerima masa lalu Kenichi yang masuk ke dalam pikirannya, memang sulit untuk menyesuaikannya namun hal sulit itu tidak membuat Seika menjauhi Kenichi. perlahan-lahan ia juga mulai mencintai masa lalu Kenichi. Mencintai masa lalu yang paling kelam. Loved the Darkest Past, sangat tidak masuk akal memang.
Namun bukankah cinta membuat hal yang tidak masuk akal menjadi bisa dimengerti? Seseorang bahkan rela membunuh demi membela kekasih atau orang yang sangat ia cintai bukan?, Seika merasakannya sekarang. Cinta membuatnya mencintai hal yang tidak masuk akal. Mencintai sejarah kelam Kenichi.
Mengingat masa lalu Kenichi membuat Seika mau tidak mau memikirkan kebersamaan Kenichi dengan banyak wanita.
"Kau sengaja tidak memakai pengaman kan?" tuduh Seika.
"Well, tidak juga. Aku terbawa suasana hingga lupa dengan satu hal itu" jawab Kenchi.
"Kau pasti seperti itu juga dengan perempuan lain" tuduh Seika cemburu.
Kenichi menatap tajam kepada Seika.
"Jangan mulai Seika. Kau sangat tau bahwa aku sudah tidak melakukannya lagi" ujar Kenichi tidak suka.
Seika mengeratkan giginya, beberapa kejadian tentang Kenichi bersama wanita lain kembali terbayang di otaknya, membuat hatinya semakin berdenyut sakit.
Shit, mengapa aku jadi mengingat semua itu, gerutu Seika dalam hati.
Ia tahu bahwa itu semua adalah masa lalu Kenichi namun tetap saja membuatnya cemburu. Seika mendecak kesal. Ia sangat tidak menyukai sisi kekanakannya.
Kenichi melihat wajah Seika yang seakan ingin menangis membuat kekesalannya menguap. ia kembali memeluk Seika.
"Kau tahu kan kalau aku sudah tidak bermain lagi dengan perempuan-perempuan itu, aku bahkan tidak mengunjungi klub malam kalau bukan untuk bisnis" jelas Kenichi.
Seika menatap Kenichi tepat dimatanya, berbagai kejadian yang baru saja Kenichi alami masuk ke dalam pikirannya. Seika tersenyum bodoh. Ia menjadi sangat kekanakan saat ini.
"Satu hal yang harus kau tau, kalau kau adalah cinta pertamaku. Aku belum jatuh cinta sebelumnya" ujar Kenichi menatap dalam Seika. Mencoba meyakinkannya.
Mata Seika membulat mendengar kalimat Kenichi.
Kenichi tersenyum lembut. "So throw away unnecessary things from your beautiful head"
Seika menatap senang kepada Kenichi, perlahan airmatanya mulai mengenang di pelupuk matanya, ia dengan cepat memeluk Kenichi. Bagaimana bisa ia melewatkan hal yang penting itu, bahwa ia adalah cinta pertama Kenichi.
Seika menggerutu dalam hatinya, lagi-lagi ia melupakan hal yang penting. Seika semakin mengeratkan pelukannya. Mereka berpelukan untuk waktu yang lama.
...&&&...
Seika berjalan menyebrangi jalan khusus untuk pejalan kaki, ia akan makan siang di restoran yang biasa ia datangi.
Hari ini orang-orang banyak yang memilih untuk berjalan kaki entah untuk sekedar berjalan-jalan menghabiskan waktu luang, bekerja atau kegiatan lainnya yang membuat jalan setapak lebih ramai dari sebelumnya.
Seika sedikit menundukkan wajahnya ketika berjalan, ia tidak ingin membuat harinya menjadi buruk karena memori masa lalu yang bukan miliknya memaksa masuk ke dalam kepalanya.
Beberapa kali ia bertabrakan dengan orang yang melewatinya, mereka menatap kesal Seika yang meminta maaf sambil menundukkan pandangannya. Terlihat tidak sopan dimata mereka, orang-orang itu mencibir pelan lalu meneruskan jalannya.
Seika menghela napas panjang, ia mempercepat langkahnya agar dapat segera sampai ke restoran kesukaannya namun ia kembali bertabrakan cukup keras dengan seseorang.
“Ma.. Maafkan aku” ujar Seika tersenyum risih dan sedikit kesal dengan dirinya sendiri.
“Kau yang di festival kembang api itu kan?” tanya seorang laki-laki.
Seika menatap laki-laki yang mengajaknya berbicara, ia terkejut.
“Kau...” ucap Seika sambil berpikir sejenak.
“Si mind reader” sambung Seika tidak percaya.
Ia bertemu lagi dengan orang yang mempunyai kemampuan khusus sepertinya.
Laki-laki itu tersenyum senang.
“Kenalkan namaku Ryan” ujar ryan mengulurkan tangannya.
“Seika Aiko” ujar Seika berjabat tangan.
Seseorang wanita kembali menabrak Seika dan menatap terganggu dengan kehadiran Seika di tengah jalan setapak.
Akhirnya Seika dan Ryan berpindah ke restoran kesukaan Seika.
“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi” ujar Ryan.
“Aku juga” jawab Seika tersenyum.
Seika sangat senang bertemu dengan Ryan, ia merasa ia tidak sendirian di dunia ini yang mempunyai kemampuan khusus.
“Apa yang sedang kau lakukan di daerah ini?” tanya Ryan membuka percakapan.
“Aku bekerja di klinik tidak jauh disini, bagaimana denganmu?” jawab Seika.
“Aku hanya lewat disini” jawab Ryan.
Makanan pesanan mereka tiba, dengan senang hati Seika menyantap makan siangnya dengan lahap.
“Jadi bagaimana rasanya bisa membaca pikiran orang lain?” tanya Seika antusias.
Ryan tersenyum. “Kadang menyenangkan kadang juga menyusahkan. Kau mengerti maksudku kan?” tanya Ryan.
Seika menganggukkan kepalanya. Secara harfiah kemampuan Ryan tidak berbeda jauh darinya. Laki-laki itu bisa membaca pikiran orang lain dan secara tidak langsung juga mengetahui tentang masa lalu orang lain.
Sama seperti Seika, yang membedakannya adalah Seika mendapatkan gambaran langsung tentang masa lalu itu sendiri sedangkan Ryan hanya dapat mendapat gambaran jika lawannya sedang memikirkan itu.
Oleh karena itu kemampuan Seika lebih kompleks dari kemampuan Ryan.
“Lalu bagaimana caramu membaca pikiran orang lain?” tanya Seika kembali.
Ryan berpikir sejenak.
“Lewat mata. Kalau kau bagaimana?” tanya Ryan tertarik.
“Aku lewat mata dan tangan. Jika berkontak langsung maka aku dapat melihat masa lalu lawanku” jawab Seika.
“Semuanya?” tanya Ryan.
“Bahkan orang yang hilang ingatan sekalipun?” tanya Ryan kembali.
Seika mengerutkan keningnya berpikir ragu.
“Aku tidak tahu, aku belum pernah mengalaminya” ujar Seika mengangkat bahunya.
“Terus apa kau bisa melihat masa lalu dari benda mati?” tanya Ryan kembali, tatapannya sangat fokus kepada Seika.
“Seika” panggil Shigeo yang baru saja berjalan masuk ke dalam restoran.
Ryan membelalakkan matanya.
Shit, aku lengah, gerutunya dalam hati.