Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Sequel Yakuza (Shigeo)



Shigeo yang berusia 17 tahun memakai jaket dan turun tangga, ia bersiul pelan. Hari ini ia akan kembali mengunjungi Kenichi karena libur musim panas.


"Waka" Sapa Takeshi membungkukkan badan.


"Bilang sama oyaji, aku akan ke Kobe hari ini" Shigeo melambaikan tangannya.


"Siapa yang memberimu izin?" tanya seorang pria paruh baya.


"Aku bosan tinggal disini, lagipula ini liburan musim panasku jadi terserah aku ingin kemana pun aku mau" Jawab Shigeo sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. 


"Kalau kau bosan, kau bisa mulai menjalani tugas kelompok kita" Titah pria yang memakai yukata hitam itu. 


"Aku tidak mau menjadi yakuza" Shigeo memutar bola matanya.


Pria itu maju dan meninju perut Shigeo dengan kuat membuat anaknya berlutut sambil memegang perutnya yang sakit.


"Kousso oyaji (ayah sialan)" Gerutu Shigeo pelan.


"Bawa dia bersamamu Takeshi, kau harus mengajarkannya bagaimana menjadi pemimpin yang baik" ujar pria tersebut.


"Baik oyabun" ujar Takeshi membungkukkan badan. 


"Waka, kita akan segera pergi".


"Oi oi oyaji, kau yakin tidak punya anak lain selain aku? Mungkin anak dari wanita lain misalnya?" tanya Shigeo.


"Berhenti berbicara omong kosong, segera ikut Takeshi" ujar pemimpin Sumiyoshi-kai tersebut. 


Shigeo hanya berdecak kesal. Ia keluar rumah dan masuk ke dalam mobil mercedes benz yang sudah menunggunya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


&&&


Shigeo menatap tanpa minat ke sebuah apartemen berlantai dua yang sudah terlihat tua, mereka berada di apartemen tersebut karena ada salah satu klien yang tidak bisa membayar hutang yang telah dipinjamnya.


"Ayo waka" ujar Takeshi.


"Tidak bisakah aku menunggu di luar?" tanya Shigeo menghela napas kesal.


"Tidak bisa waka, kata oyabun, anda juga harus ikut biar tahu tentang bisnis apa yang di jalan Sumiyoshi-kai" jelas Takeshi.


Shigeo kembali menghela napas panjang, ia ingin segera menyelesaikan tugas tersebut dan pulang ke rumahnya, dari dulu ia tidak pernah suka menjadi anak yakuza dan maka dari itu Shigeo memilih untuk sekolah di Kobe yang jauh dari kehidupan yakuza walaupun malah bertemu dengan anak pemimpin besar yakuza. Kenichi.


Shigeo menghela napas pasrah "Baiklah".


Mereka menaiki lantai sambil membawa pemukul baseball, karena klien tersebut bukan dari anggota yakuza jadi pemukul baseball sudah cukup untuk mengatasi masalah. Takeshi yang berumur tiga puluhan segera mendobrak pintu ketiga di lantai dua apartemen tersebut.


"Oi oi konoyaru, kau pasti sudah gila karena duduk tenang tanpa memikirkan hutangmu" ujar Takeshi lalu memukul dinding di sampingnya dengan pemukul baseball.


Seorang pria yang sedang bermain judi online terkejut dan segera berlari ke kamarnya namun tidak kalah cepat oleh Takeshi yang melempar pemukul baseball tersebut ke kepala pria tersebut.


"Kau sungguh menyusahkan" Gerutu Takeshi sambil menghela napas panjang.


Ia mulai menghajar pria berumur tiga puluhan tersebut. 


Shigeo menatap ke sekeliling ruangan apartemen yang tidak terurus tersebut, tatapannya berhenti pada seorang gadis kecil yang meringkuk di sudut ruangan.


Laki-laki itu menghampiri gadis kecil tersebut, sang gadis semakin meringkuk sambil memeluk tubuh kecilnya dengan ketakutan. Shigeo ingin menyentuh gadis itu namun sang gadis itu bergerak semakin takut membuat laki laki itu mengurungkan niatnya.


"Kau anaknya laki-laki itu?" tanya Shigeo sambil menunjuk ke arah pria yang sedang dipukuli oleh Takeshi. Sang anak melirik sedikit ke arah ayahnya lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Siapa namamu?" tanya Shigeo kembali.


Gadis itu hanya terdiam sambil terus menempelkan tubuhnya di sudut dinding, berusaha untuk bersembunyi. Shigeo menatap maklum ke arah gadis berusia sepuluh tahun tersebut lalu melepaskan jaketnya dan memakainya kepada sang gadis ketika melihat tubuh yang hanya di tutupi oleh kain putih.


Pria yang sudah babak belur tersebut batuk darah yang mulai keluar dari mulutnya, ia mengangkat sebelah tangannya memohon Takeshi agar tidak memukulnya lagi.


"Sekarang kau mau membayar hutangmu?" tanya Takeshi.


"Ak.. aku berjanji akan segera membayarnya. Berikan beberapa hari. Hanya beberapa hari saja" pinta pria tersebut.


"Aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi pak tua, jika kau tidak bisa membayar hutangmu hari ini, maka kau harus ikut kami" ujar Takeshi.


"Aku.. aku tidak bisa membayar hari ini" ujar pria itu. Ia melirik ke sampingnya dan berniat untuk kabur namun Shigeo langsung menendang pria tersebut dengan kuat.


"Kau cukup gila sampai berani untuk kabur ossan" ujar Shigeo tersenyum menyeringai. 


Giginya gemeretuk karena marah setelah mengetahui bahwa sang gadis telah di tiduri atau di perkosa oleh ayahnya sendiri.


Shigeo memegang kerah baju pria itu dengan kuat dan menariknya, membuat laki laki itu berdiri sambil menatap takut ke arah Shigeo.


"Aku akan membunuhmu jika kau masih memperkosa anakmu sendiri" ujar Shigeo dengan suara rendah, sarat akan kecaman mengerikan.


Pria itu menelan ludah dengan susah payah, ia tidak bisa menyuarakan belaan ketika melihat tatapan tajam Shigeo yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Shigeo melepaskan cengkramannya dengan kasar.


"Bawa dia Takeshi!".


"Baik waka"


Shigeo kembali menghampiri gadis kecil yang masih meringkuk di sudut ruangan lalu berjongkok dan tersenyum ke arah gadis kecil itu. "Tidak apa-apa, aku tidak akan menyakitimu".


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja" ujar Shigeo sambil membelai rambut panjang gadis itu dengan lembut. Hampir setengah jam gadis kecil itu menangis, setelah tangisan mereda Shigeo melepaskan pelukannya.


"Namaku Shigeo Nishiguchi, siapa namamu?" tanya Shigeo lembut.


Gadis menghapus airmatanya, napasnya tersendat sendat karena habis menangis kuat.


"Rein, Rein Takahashi" ujar gadis kecil yang bernama Rein dengan suara pelan.


Shigeo tersenyum. "Hajimemashite Rein-chan" ujar Shigeo mengacak pelan rambut gadis itu.


"Kau punya sanak keluarga? Aku akan mengantarmu kesana" ujar Shigeo. Rein menundukkan wajahnya lalu menggeleng lemah.


"Jadi kau hanya tinggal berdua dengan ayahmu?" tanya Shigeo kembali. Rein menganggukkan kepalanya.


Shigeo berpikir sesaat.


"Bagaimana kalau sekarang kau tinggal di panti asuhan. Aku kenal salah satu pengelolanya, biar aku yang menjaminmu" ujar Shigeo.


Rein memiringkan wajahnya, bingung dengan kebaikan yang di tawarkan oleh Shigeo. "Mengapa onii-san sangat baik kepadaku?".


"Karena kau gadis baik dan juga cantik. Aku tidak keberatan membantu gadis cantik sepertimu" ujar Shigeo dengan suara lucu.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu onii-san?" Rein melihat tubuhnya sejenak.


"Apa kau ingin tubuhku?" tanya Rein.


"Oi oi, aku bukan pedophil. Kata-katamu membuatku terlihat jahat" ujar Shigeo panik ketika melihat Rein melepaskan jaket yang ia berikan.


Gadis kecil didepannya mungkin masih berusia sepuluh tahun. Walaupun usia mereka terpaut 7 tahun, Shigeo tidak cukup gila sampai mengambil kesempatan dari anak kecil. 


"Tidak ada yang baik dan gratis di dunia ini onii-san. obaa-san yang tinggal di sebelah tidak peduli ketika aku menjerit kesakitan" ujar Rein pelan. Ia tidak menangis ketika mengucapkan hal itu.


Shigeo mengepalkan tangannya mendengar perkataan yang terdengar menyayat hati. 


"Bagaimana kalau kau membalasnya setelah besar nanti?" tawar Shigeo.


"Membalasnya setelah besar nanti?" ulang Rein.


"Ya. Jadi kau harus hidup dengan baik dan juga harus punya pekerjaan yang baik pula. Setelah itu baru kau balas apa yang telah aku lakukan hari ini. Bagaimana?" tanya Shigeo.


Rein berpikir sesaat lalu menganggukkan kepala. Shigeo memberi pakaian yang tergeletak di lantai kepada Rein dan keluar apartemen. Sang gadis kecil memakai cepat bajunya lalu melangkah menyusul Shigeo.


Shigeo tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Rein. "Ayo kita pergi dari sini" .


Rein tersenyum dan menerima uluran tangan Shigeo. mereka keluar dari apartemen lusuh tersebut menuju mobil yang terparkir di depan apartemen.


"Waka" panggil Takeshi bingung kehadiran Rein di samping Shigeo.


"Kalian duluan aja, aku akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu" ujar Shigeo.


Takeshi menatap Rein yang mengeratkan genggaman di tangan Shigeo lalu membungkukkan badannya, masuk ke mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Shigeo dan Rein.


Shigeo dan Rein masuk ke station kereta api menuju panti asuhan yang berada di pinggir kota. Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di depan sebuah rumah dengan halaman yang luas.


Shigeo menarik tangan Rein dengan pelan, mengajak gadis kecil itu untuk masuk.


"Nishiguchi-sama. Apa yang membawamu kemari?" tanya seorang wanita paruh baya yang segera menyambut kedatangan Shigeo.


"Aku ingin mengantar Rein, dia tidak punya siapa siapa yang bisa mengurusnya" jelas Shigeo.


Wanita tersebut berjongkok dan tersenyum ke arah Rein. "Senang bertemu denganmu. Panggil aku obaa-san saja. Nama kamu siapa?".


Rein membungkuk rendah badannya, menunjukkan kehormatan kepada wanita tersebut. "Hajimemashite, watashi wa Rein Takahashi desu. Yoroshiku onegaisimasu".


Wanita paruh baya tersebut segera memeluk Rein ketika melihat betapa sopannya gadis kecil itu.


"Baiklah, aku harus segera pergi" ujar Shigeo.


"Kenapa buru-buru Nishiguchi-sama. Mampir untuk minum teh dulu" ajak wanita tersebut.


Shigeo menggeleng kepala sembari mengibaskan tangannya "Maaf, ada yang harus aku kerjakan" ujar Shigeo.


Shigeo membelai lembut wajah Rein sembari tersenyum. "Kau harus hidup dengan baik, kita akan bertemu lagi nanti" Shigeo berdiri dan melangkah keluar dari pekarangan depan rumah tersebut.


Rein menatap wanita pengurus panti asuhan dengan tatapan gelisah, lalu berlari ke arah Shigeo. "Tunggu onii-san!!".


Shigeo membalikkan badannya dan berjongkok di hadapan Rein, dengan ragu gadis kecil itu mencoba memegang wajah Shigeo dengan kedua tangan mungilnya.


"Aku berjanji akan membalas apa yang telah onii-san lakukan hari ini, walaupun butuh waktu yang lama tapi aku pasti akan membalasnya. Aku berjanji" Air mata Rein mulai berlinang di pipinya. 


"Kalau begitu aku akan menunggumu, jadilah gadis yang cantik dan baik" Balas Shigeo tersenyum lembut.


Rein mengangguk kuat, airmata terus mengalir di pipinya. Shigeo menghapus airmata gadis kecil itu dengan ibu jarinya lalu mengacak pelan rambut panjang Rein lalu melangkah pergi. Rein mengepal kuat tangannya.


"Suki desu onii-san. Daisuki!!" teriak Rein sepenuh hati.


Shigeo melambaikan tangannya lalu mulai berjalan dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.