Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 26 - Tidur bersama



Seika menatap kagum kepada dirinya sendiri di dalam cermin. Ia menjelma begitu cantik dan menawan dalam balutan kimono formal berwarna merah muda dengan motif bunga sakura. Penampilannya disempurnakan oleh rambut yang di gulung ke atas dengan rapi dan diselipkan tusuk konde berwarna perak berbentuk naga sebagai penghiasnya. Wajahnya diberi riasan tipis membuat Seika semakin manis.


Malam ini ia akan merayakan festival akhir musim panas dengan Kenichi di lapangan yang tidak jauh dari rumah.


"Kau sangat cantik anee-san" ujar Michio menatap kagum kepada Seika.


Seika tersenyum malu dengan pujian Michio.


"Makasih Michio, ini juga berkat dirimu" jawab Michio


"Ayo, kumicho sudah menunggu di luar" ucap Michio.


Seika menganggukkan kepalanya. Ia melangkah pelan menuju depan rumah karena sempitnya kimono yang ia pakai. Ia menjinjing tas kecil di tangan kirinya dan memakai zouri, sandal tradisional jepang yang terbuat dari kayu.


Seika melihat Kenichi yang sedang menatap ke arahnya. Laki-laki itu memakai yukata yang dibalut oleh kain hiori berwarna hitam seperti biasanya, wajahnya yang tampan membuatnya terkesan maskulin dan jantan dalam bersamaan.


"Kau sangat cantik malam ini" puji Kenichi dengan tulus.


"Terima kasih" jawab Seika dengan pipi memerah.


"Ayo. Acaranya akan segera dimulai" ujar Kenichi seraya mengulurkan tangannya.


Seika menerima uluran tangan Kenichi dengan senang hati. Mereka berjalan keluar rumah berjalan di jalan setapak dan berbelok ke samping menuju lapangan luas tempat diadakan festival kembang api.


Banyak pasangan muda mudi yang ikut menghadiri acara tersebut dan semua wanita memakai kimono yang sangat cantik, ada yang berjalan dengan kekasih atau dengan teman mereka.


Kenichi menggenggam erat tangan Seika sambil melanjutkan langkah kakinya. Jantung Seika berdetak keras membuat wajah Seika semakin memanas dan memerah.


"Tunggu disini sebentar, aku akan membelikan minuman untukmu" ujar Kenichi.


Seika tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menuju bangku kosong yang tidak jauh dari tempat ia berdiri. Namun seorang laki-laki tidak sengaja menabrak Seika membuatnya itu hampir terjatuh. Laki-laki itu pun menangkap tubuh Seika dengan sigap.


"Maafkan aku, kau tidak apa apa?" tanya sang lelaki.


"Aku tidak apa-apa" ucap Seika yang mencoba berdiri dan tidak sengaja melihat mata laki-laki yang memakai topi di hadapannya.


Beberapa memori masuk ke dalam pikiran Seika membuatnya terkejut. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu mempunyai kemampuan membaca pikiran orang lain.


Laki-laki itu juga terkejut ketika membaca pikiran Seika dan mengetahui bahwa gadis itu tahu kalau ia bisa membaca pikiran orang lain.


"Kau" ujar mereka bersamaan.


"Kau bisa membaca pikiran orang lain?" tanya Seika terlebih dahulu.


"Mengapa kau tau aku bisa membaca pikiran orang lain?" ujar laki laki berjaket hitam itu.


Seika gelagapan ketika mendengar pertanyaan laki laki itu.


"Aku...sebenarnya aku bisa melihat masa lalu orang lain" jelas Seika. Tidak mungkin ia berbohong jika laki-laki itu sudah mengetahui bahwa ia tahu tentang kemampuannya.


"Benarkah? Kau bisa melihat masa lalu orang lain?" tanya laki-laki tidak percaya.


Seika menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak percaya kalau aku bukan satu satunya yang memiliki kemampuan khusus didunia ini" ujar Seika takjub.


"Maaf, aku harus pergi" ujar laki-laki berjaket itu lalu berlalu dari hadapan Seika.


Seika heran ketika tidak mendapati lagi bayangan laki-laki itu.


"Cepat sekali dia menghilang" gumam Seika seraya melihat ke sekelilingnya


"Siapa yang menghilang?" tanya Kenichi di berdiri di belakang Seika sambil memegang minuman hangat ditangannya.


"Tidak ada" ujar Seika tersenyum.


Kenichi akan kembali marah jika ia menceritakan pertemuannya dengan laki-laki misterius itu. Seika tidak ingin malam festival yang sangat jarang ia kunjungi menjadi berantakan hanya karena laki-laki asing yang berpapasan dengannya.


Suara letusan kembang api membuat perhatian Seika dan Kenichi menjadi teralihkan. Mereka tersenyum melihat cahaya kembang api yang bersinar memenuhi langit kota Kobe.


"Sangat indah" gumam Seika.


Kenichi menoleh ke arah Seika.


"Apa kau sering melihat festival kembang api?" tanya Kenichi sembari memberikan gelas minuman kepada Seika.


Seika menggelengkan kepalanya tanpa melepaskan pandangannya dari kembang api. Ia menyisip minuman hangat perlahan-lahan.


"Aku jarang melihat festival karena takut bertemu pandang atau bersentuhan dengan orang lain" jawab Seika sambil tersenyum melihat kembang api berwarna-warni tersebut.


Kenichi memegang wajah Seika dan mengecup bibir gadis itu dengan pelan. Sang gadis membulatkan matanya, terkejut dengan ciuman tiba tiba tersebut namun beberapa detik kemudian terbuai oleh ciuman lembut yang Kenichi berikan.


Mereka berciuman dibawah cahaya kembang api yang berkilau indah.


...&&&...


Mark yang sedang duduk bersama dengan dua orang wanita di sisi kiri dan kanannya, kedua perempuan itu berpakaian sangat minim dan ketat, bahkan bisa dikatakan seperti telanjang. Mereka membelai paha Mark dan menatap laki laki dengan sensual.


Mark tersenyum miring dan memagut salah satu dari wanita itu dengan panas, namun deringan telepon membuat kegiatan Mark jadi terganggu. Laki laki mengumpat pelan dan mengangkat teleponnya.


"Ada apa Ryan? Kau mengganggu kesenanganku" ujar Ryan kesal.


Mark mendengar balasan Ryan, Mark terkejut.


"Jadi dia bisa membaca masa lalu?" tanya Mark memastikan.


"Sial, dia akan berguna jika kita bisa menggunakannya, dia bahkan lebih berguna dari kau, Ryan" ujar Mark tidak percaya dengan pemikirannya.


"Terus awasi gadis itu, aku akan mencari cara bagaimana menculiknya tanpa harus takut dengan Kenichi" ujar Mark menyeringai.


"Kerja bagus Ryan" ujar Mark lalu memutuskan telepon dan tertawa terbahak bahak.


"Akhirnya keberuntungan memihak kepadaku" ujar Mark kepada dirinya sendiri.


"Kira kira siapa yang harus aku ajak kerjasama?" tanya Mark kemudian.


Salah satu wanita itu memeluk Mark dengan gerakan sensual membuat laki laki itu menoleh dan tersenyum miring, Mark menarik wajah perempuan itu dan kembali melanjutkan cumbuan intimnya.


...&&&...


Seika membuka matanya dengan berlahan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah dada Kenichi yang terbuka dari yukata yang ia pakai, tangan laki laki itu memeluk Seika dengan posesif, seperti menyatakan bahwa gadis itu adalah miliknya. Semenjak kesalahpahaman mereka terselesaikan Seika akhirnya tidur di kamar Kenichi, tentu saja itu tidak luput dengan paksaan laki laki itu. Jantung Seika berdebar kencang dan pipinya memanas, ia masih belum juga terbiasa dengan tidur bersama dengan Kenichi.


Seika menggerakkan badannya mencoba melepaskan pelukan tangan Kenichi dengan berlahan. Sangat berlahan karena tidak ingin Kenichi bangun dan melihat wajahnya yang memerah saat ini.


Bukannya malah terlepas dari pelukan Kenichi, laki laki itu malah mengeratkan pelukannya membuat Seika terkejut.


"Hei. Kau sudah bangun kan? Sekarang lepaskan aku" ujar Seika mendadak kesal.


Kenichi membuka matanya dan menatap Seika lalu tersenyum.


"Aku ingin memelukmu sebentar lagi" pinta Kenichi dengan nada manja.


"Lepaskan Ken. Ini sudah pagi. Aku harus bekerja" ujar Seika sambil mendorong dada Kenichi.


"Tsk. Hari ini kau libur saja" ujar Kenichi tidak senang.


Seika mendorong kesal dada Kenichi dan duduk di atas futon.


"Aku bukan NEET sepertimu" ujar Seika menyindir.


"Berhenti memanggilku NEET. Harus berapa kali aku katakan aku punya pekerjaan juga" ujar Kenichi tidak terima.


"Pekerjaan membaca koran" ujar Seika tersenyum menyeringai.


"Kau gadis.. siapa yang mengajarimu untuk menyindirku?" tanya Kenichi kesal.


"Kau yang mengajariku. Sudahlah. Aku harus mandi" ujar Seika berdiri dan melangkah ke kamar mandi.


"Good idea. I want to take a bath t..."


Ujaran Kenichi terputus ketika sarung tangan Seika mendarat mulus ke wajahnya namun ia tidak marah dan malah terkekeh pelan melihat Seika yang mempercepat langkahnya menuju kamar mandi sembari memegang wajahnya yang memerah.


Kenichi tersenyum sendiri mengingat bahwa semalaman mereka tidur sambil berpelukan.


...&&&...


"HATI HATI DI JALAN ANEE-SAN" ujar anak buah Kenichi yang berdiri berbaris di halaman depan rumah.


"Aku berangkat" ujar Seika tersenyum lalu menatap Kenichi yang bersandar di pintu sembari menatap ke arahnya. Ia melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya kota Kobe.


Seika menatap jendela mobil, memandangi bangunan yang bergerak seperti melewatinya, ia tersenyum mengingat festival kembang api yang tadi malam ia kunjungi, itu festival terindah yang pernah ia kunjungi selama hidupnya.


Seika menarik napasnya ketika rasa bahagia yang besar membuatnya susah bernapas.