
“Ohayo gozaimasu Aiko sensei” sapa Aio tersenyum manis.
“Ohayo” jawab Seika datar. Rasa kesal belum menghilang dari hatinya.
“Kau kenapa Aiko sensei?” tanya Aoi penasaran.
Seika mengisyaratkan dengan wajahnya ke arah pintu luar. Penasaran Aoi berjalan ke pintu dan terkejut dengan keempat laki-laki bersetelan jas berdiri dengan tegak di depan pintu klinik.
“Mengapa mereka menjadi banyak?” tanya Aoi sedikit takut.
“Aku juga tidak tau” ujar Seika menghela napas kembali.
Aoi semakin bingung, sedangkan Seika menahan kesalnya dalam hati lalu berjalan ke ruang kerjanya. Aoi juga melakukan hal yang sama.
Beberapa jam berlalu, Seika dan Aoi masih menunggu pasien yang datang, namun tidak ada satupun yang masuk ke dalam klinik mereka.
Seika menggigit bibirnya, sekuat tenaga menjaga ketenangannya untuk tidak mengamuk kepada keempat anak buah Kenichi. Bagaimana pun mereka hanya melakukan tugas dari Kenichi. Namun melihat keadaan klinik yang masih kosong sampai waktu makan siang membuat Seika tidak dapat lagi menahan kekesalannya.
Seika berjalan keluar klinik dan melihat beberapa pasiennya yang ingin melangkah menuju klinik menjadi merasa takut dan membalikkan badan mereka menjauh.
“Kalian berdua. Siapa nama kalian?” tanya Seika kesal.
“Eiji anee-san” jawab laki-laki yang bertubuh kurus.
“Gurou anee-san” jawab laki-laki yang bertubuh lebih besar.
“Eiji dan Gorou. Kalian boleh pulang” ujar Seika tersenyum selembut mungkin.
Kenzo dan Botan hanya melirik dengan ujung mata mereka sambil terus berdiri tegak.
“Tapi kumicho bilang kalau kita akan menjaga anee-san apapun yang terjadi” ujar Eiji.
Seika semakin meradang di dalam hatinya.
“Kalian anak buah Kenichi yang bertugas menjagaku kan?” tanya Seika.
Mereka menganggukkan kepalanya.
“Jadi sekarang secara tidak langsung kalian menjadi anak buahku, benarkan?” tanya Seika lagi.
Mereka kembali menganggukkan kepala.
“Aku perintahkan kalian untuk pulang. Kalian bukan anak buah pembangkang kan?” tanya Seika tajam.
Mereka merasa takut dan merasa dilema. Jika pulang maka kumicho lah yang akan mereka hadapi namun jika menuruti kumicho maka mereka sudah membangkang kepada Seika.
Setelah berpikir sejenak. Mereka berdua akhirnya lebih menuruti perintah Kenichi karena mereka lebih takut kepada laki-laki itu.
“Maafkan kami anee-san. Kami tidak bisa menuruti perintahmu” ujar Gurou sambil membungkukkan rendah badannya meminta maaf. Eiji juga melakukannya hal yang sama.
Seika semakin mengeratkan giginya, menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak menjerit kesal.
“Baiklah, lakukan semau kalian” ujar Seika lalu masuk kembali ke dalam kliniknya.
Anak buah Kenichi membungkukkan badan mereka memberi hormat ke arah Seika yang menghilang di balik pintu lalu kembali berdiri dengan tegak.
...&&&...
Seika berjalan cepat dengan menghentakkan kakinya dengan kuat, ingin rasanya ia menendang apa saja yang ada di hadapannya namun ia memilih pikiran tersebut tetap berada dalam otaknya.
Kenichi bersandar di pintu, sudah memakai yukata. Ia heran melihat Seika yang berjalan emosi ke arahnya.
“Ada apa Sei..."
“Minggir” potong Seika kesal.
Kenichi terpengarah dengan sikap Seika. Gadis itu bahkan tidak tersenyum kepadanya.
“Hei. Ada apa denganmu? Mengapa kau begitu emosi?” tanya Kenichi tidak mengerti.
“Itu semua karena kau” ujar Seika kesal. Ia berjalan masuk ke dalam rumah.
“Jelaskan padaku, mengapa ini menjadi salahku?” tanya Kenichi sambil memegang tangan Seika.
“Aku tidak mendapatkan satu pasien pun hari ini. Ini semua karena kau menyuruh anak buahmu untuk berdiri di depan klinikku” jelas Seika kesal.
“Aku melakukannya untukmu Seika” ujar Kenichi.
“Untukku? Kau hanya ingin membuatku kehilangan pekerjaan kan?” tuduh Seika.
“Seika. Kau tau bukan itu maksudku” ujar Kenichi merendahkan suaranya. Tampak tidak suka dengan tuduhan Seika.
Seika menghela napas panjang. Ia sadar akan perkataan kasarnya.
“Aku tidak ingin kau diculik lagi jadi aku menambahkan pengawalmu” jelas Kenichi.
“Tapi mereka membuat pasienku jadi kabur semuanya” keluh Seika pelan.
Kenichi memeluk Seika.
“Mau bagaimana lagi. Ini semuanya demi dirimu. Kau tidak ingin di culik lagi kan?” tanya Kenichi.
Seika menggelengkan kepalanya.
“Lebih baik aku mengundurkan diri saja kalau seperti ini terus” ujar Seika frustasi.
“Hm.. ya itu lebih baik” ujar Kencihi mendukung.
Seika melepaskan pelukan Kenichi dengan kesal.
“Jadi benar, kau memang ingin membuatku kehilangan pekerjaan” tuduh Seika yakin.
Kenichi tersenyum.
“Tidak. Mengapa kau berpikiran picik seperti itu. Maksudku kau akan semakin aman jika berada di rumah sepanjang hari” ujar Kenichi.
“Aku sudah bilang padamu aku tidak tahan berada di rumah terus tanpa melakukan sesuatu” ujar Seika kesal.
“Kita bisa melakukan olahraga ranjang sepanjang hari. Tenang saja aku punya stamina yang cukup untuk melakukannya” ujar Kenichi serius.
“Kenichi. Aku sedang berbicara serius” ujar Seika menatap datar ke arah Kenichi.
Kenichi tertawa pelan lalu memeluk Seika kembali.
“Baiklah. Bagaimana kalau mereka menjauh selama kau berada di dalam klinik. Selebihnya mereka akan terus disampingmu kemana pun kau pergi” usul Kenichi.
Seika berpikir sejenak.
“Tidak. Akan beresiko kalau kau makan siang sendirian” ujar Kenichi menolak.
Seika menengadah dan menatap Kenichi dan menatap kesal kepada laki-laki itu.
“Aku tidak bisa makan dengan tenang jika mereka berdiri di belakangku” ujar Seika protes.
“Tidak Seika. Pilihlah, mereka akan menempel padamu sepanjang hari atau mereka menjauh selama kau berada di klinik?” tanya Kenichi.
Seika mencibir tidak bersuara.
“Aku memilih opsi kedua” ujar Seika pelan.
“Smart girl” ujar Kenichi tersenyum.
“Okaeri nasai anee-san” ujar Michio yang baru keluar dari kamarnya.
“Tadaima Michio” ujar Seika senang lalu berlari dan memeluk Michio.
“Tidak pakai pelukan” ujar Kenichi memisahkan Seika dari Michio dengan raut wajah datar. Seika mencibir.
“Ada apa anee-san?” tanya Michio bingung dengan pelukan mendadak Seika.
“Kenichi membully-ku” lapor Seika kembali ingin memeluk Michio namun gerakannya tertahan karena cekalan tangan Kenichi.
Michio semakin bingung lalu menatap Kenichi meminta penjelasan.
“Aku hanya menambahkan anggota untuk mengawasi Seika” jelas Kenichi.
Michio menganggukkan kepalanya mengerti.
“Mengapa kau setuju dengan Kenichi?” tanya Seika tidak percaya.
“Ini demi kebaikan anee-san sendiri” ujar Michio memberi pengertian.
“Tapi aku akan kehilangan pekerjaanku kalau mereka terus berdiri di depan klinik” ujar Seika masih mempertahan opininya.
Michio tertawa pelan melihat raut wajah Seika yang tampak seperti anak kecil yang memohon untuk dibelikan mainan.
“Bukankah itu jadi lebih baik?” tanya Michio.
Kenichi tertawa mendengar pertanyaan Michio lalu mengangkat sebelah tangan dan berhigh five dengan adiknya.
“Tsk. Aku lupa kalau kalian kakak beradik” ujar Seika pelan.
Seika berlalu dengan langkah gontai ke kamarnya. Michio yang masih belum mengerti menatap Kenichi yang masih tertawa geli, meminta penjelasan dari kakaknya.
“Kau adik yang pintar” komentar Kenichi tersenyum dan mengacak gemas rambut Michio lalu berlalu menuju kamarnya bersama Seika, meninggalkan Michio yang senang dengan perhatian Kenichi walaupun masih belum juga mengerti dengan raut wajah kesal Seika dan raut wajah senangnya Kenichi.
...&&&...
Seika masuk ke dalam kliniknya, Aoi yang juga baru sampai tersenyum ke arah Seika.
“Ohayo Aoi” sapa Seika.
“Ohayo gozaimsu Aiko sensei” jawab Aoi lalu menatap ke luar pintu dan bingung ketika tidak mendapati keberadaan empat laki-laki yang kemarin berdiri di depan klinik.
“Mereka mengawasiku dari jauh” ujar Seika.
“Mengapa mereka kembali mengawasimu sensei?” tanya Aoi.
“Cukup panggil Seika saja kalau kita lagi berdua” ujar Seika.
“Aku sudah terbiasa memanggilmu dengan Aiko sensei” jelas Aoi.
Seika mengangguk mengerti.
“Jadi mengapa mereka kembali mengawasimu?” tanya Aoi kembali.
“Ada beberapa masalah yang terjadi, jadi Kenichi hanya mengantipasi jika ada musuhnya yang mencoba menculikku” jelas Seika.
“Sepertinya ini berat bagimu Aiko sensei” ujar Aoi.
“Tidak juga. Aku senang berada disana. Aku jadi mempunyai keluarga yang besar disana” jelas Seika tersenyum.
Aoi juga tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
“Waktu berlalu dengan cepat” komentar Aoi.
Seika menatap ke depannya lalu tersenyum. “Ya. Waktu berlalu dengan cepat” ujarnya.
...&&&...
“Terima kasih sudah berkunjung” ujar Seika membungkukkan badannya kepada laki-laki paruh baya.
“Anda dokter yang kompeten sensei” ujar kakek tersebut.
Seika hanya tersenyum.
“Sensei, saya boleh bertanya sesuatu?” tanya kakek tersebut.
“Silahkan” jawab Seika.
“Kemarin saya lihat ada empat laki-laki berpenampilan seperti yakuza di depan klinik. Apa mereka mengganggu sensei?” tanya kakek itu.
Seika tersenyum.
“Tidak. Mereka keluargaku” jawab Seika tenang.
“Keluarga? Sensei berasal dari keluarga yakuza?” tanya kakek itu kembali.
Seika menggelengkan kepalanya.
“Aku bukan berasal dari keluarga yakuza, ceritanya panjang ojii-san” ujar Seika.
Kakek tersebut mengerti. Lalu berpamitan kepada Seika. Ia kembali membungkukkan badannya.
Hari sudah menjelang sore, hari ini Seika mendapat banyak pasien karena kemarin mereka tidak berani berkunjung ketika melihat anak buah Kenichi yang berdiri di depan pintu.
Seika menghela napasnya, sejenak menggerakkan badannya yang kaku.
“Selanjutnya” ujar Seika kepada Aoi yang berada di luar.
Seorang nenek yang dipandu oleh cucu perempuannya menghampiri Seika.
“Ada yang bisa saya bantu obaa-san?” tanya Seika tersenyum.