Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 30 - Peringatan kepada Mark



“Bodoh, kenapa sampai ketahuan?” tanya Mark melemparkan gelas wine yang sedang di pegangnya ke arah Ryan. Gelas wine mendarat di kepalanya, membuat dahinya berdarah dan mengalir ke wajahnya.


“Maafkan aku bos” ujar Ryan menundukkan kepalanya.


“Sial, akan semakin sulit menculik gadis itu kalau Shigeo sampai tau” ujar Mark kesal.


“Bukankah Shigeo musuhnya Kenichi bos?” tanya Ryan.


“Ya. Tapi aku juga tidak mengerti mengapa Shigeo dekat dengan perempuannya Kenichi” ujar Mark.


“Anda harus pulang ke Rusia bos” usul Ryan. Ia tidak memperdulikan darah yang terus mengalir dari dahinya.


“Bodoh. Kalau aku tidak punya masalah disana, untuk apa aku bertahan disini?” tanya Mark kesal.


“Maafkan aku bos” ujar Ryan.


“Pokoknya sekarang kau harus lebih hati-hati dalam mengawasi gadis itu” ujar Mark.


“Baik bos” ujar Ryan lalu berlalu dari ruang kerja Mark.


Mark menendang kursi di depannya dengan kesal. Ia harus bersembunyi untuk sementara waktu. Ia tahu Kenichi tidak akan tinggal diam jika tau akan hal ini.


...&&&...


Seika menghela napas panjang, suasana makan malam terasa canggung dan mencekam secara bersamaan. Bagaimana tidak, kehadiran Shigeo di ruangan washitsu membuat anak buah Kenichi menjadi waspada dan menatap tajam kepada laki-laki itu.


“Mengapa kalian menatapku seperti itu? Hei, harusnya kalian memperlakukanku seperti tamu” ujar Shigeo tidak terima dengan tatapan tajam anak buah Kenichi.


“Kenichi, mereka bisa membunuhku jika terus menatap seperti itu” ujar Shigeo dengan raut wajah dibuat seimut mungkin.


Kenichi memutar bola matanya ke arah Shigeo, tidak terpengaruh oleh tatapan merajuk manis yang diperlihatkan oleh Shigeo.


“Cut it out, its creepy and disgusting” ujar Kenichi.


“Heeh~, Not fun” ujar Shigeo tersenyum miring.


Seika tersenyum dengan guraun Shigeo, suasana sedikit mencair karena mulut lebar laki-laki itu. Shigeo yang melihat Seika tersenyum juga ikut tersenyum.


“Kau sangat cantik kalau tersenyum Seika-chan” ujar Shigeo yang terlintas ide menyenangkan lainnya.


Beberapa anak buah Kenichi tersedak mendengar kata-kata berani Shigeo, mereka melotot horor kepada Shigeo yang berani merayu Seika di hadapan Kenichi lalu menatap takut kepada bos mereka yang sekuat tenaga menahan emosi dengan menggenggam erat sumpitnya.


“Shigeo” panggilan peringatan dari Seika.


Ia tahu bahwa Shigeo hanya bercanda namun melihat ekspresi anak buah Kenichi mau tidak mau Seika harus menghentikan gurauan tersebut.


“Ada apa uchi no yume?” tanya Shigeo yang semakin menikmati suasana.


Seika menghela napas panjang.


“Tidak apa-apa, lanjutkan saja makanmu” ujar Seika pasrah.


Satu sifat yang baru ia ketahui dari Shigeo, yaitu laki-laki itu bercanda tanpa melihat suasana dan malah memanfaatkan suasana tersebut menjadi senjatanya.


“Kau sangat peduli padaku sa...”


Ucapan Shigeo terputus ketika melihat sebuah sumpit melewatinya dengan cepat, ia melihat Kenichi yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Di dalam hati ia tertawa keras melihat kecemburuan temannya itu.


Ini sangat menyenangkan, ucap Shigeo dalam hati.


Namun melihat raut wajah Kenichi yang serius membuat Shigeo tidak ingin melanjutkan gurauannya. Anak buah Kenichi semakin menundukkan kepalanya mencoba mengecilkan aura keberadan mereka, bahkan mereka ingin keluar secepatnya dari ruangan washitsu karena suasana dingin yang tercipta oleh Shigeo.


Namun makan malam mereka yang belum sempat mereka habiskan membuat anak buah Kenichi mau tidak mau tetap duduk seraya menelan makan malam dengan susah payah.


Keesokan harinya. Seika tidak melihar Shigeo, Kenichi mengatakan bahwa laki-laki itu ada urusan mendadak dan pagi buta sudah berangkat pulang.


...&&&...


“ITTERASAI ANEE-SAN” ujar anak buah Kenichi yang berbaris mengantar kepergian Seika.


“Ittekimasu” jawab Seika


Alis Seika terangkat melihat dua laki-laki yang berdiri disamping mobil yang berada di belakang mobil Seika yang dikawal oleh Kenzo dan Botan.


“Untuk apa kalian disini?” tanya Seika.


“Kami bertugas mengawal anda anee-san” ujar salah satu dari mereka.


Seika menoleh kepada Kenzo dan Botan sejenak lalu kembali menatap kedua laki-laki yang masih tampak muda tersebut.


“Bukannya sudah ada Kenzo dan Botan?” tanya Seika tidak mengerti.


Mereka saling menatap beberapa saat.


“Kami hanya menjalani tugas anee-san” jawab salah satu dari mereka.


Seika menghela napas kesal. Lagi-lagi Kenichi memutuskan sesuatu tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya.


Di ronggoh telepon di dalam saku blazernya dengan kesal dan menekan lama angka satu lalu menempelkannya ke telinga.


“Moshi moshi, ada apa Seika” ujar Kenichi diseberang telepon.


“Mengapa kau menambahkan lagi pengawalku Ken?” tanya Seika to the point.


“Mulai sekarang aku akan memperketat pengawalanmu karena beberapa hal” jelas Kenichi.


“Kau tidak perlu tahu, pokoknya kau tetap menjalani kegiatanmu seperti biasanya, mereka tidak akan membuatmu terganggu” ujar Kenichi memberi pengertian.


“Aku tidak mau” ujar Seika keras kepala.


“Seika, ini untuk kebaikanmu” ujar Kenichi.


“Tapi ini terlalu banyak, pasienku bisa kabur semuanya jika mereka berdiri di depan klinik. Kau tau itu kan?” ujar Seika masih mempertahankan pendapatnya.


“Pokoknya kau harus dikawal oleh mereka semua. Itu keputusan akhirku” ujar Kencihi lalu memutuskan sambungan teleponnya.


“Ken. Kenichi” panggil Seika kesal.


Ia mencibir pelan, mengumpat apapun yang terlintas dalam pikirannya lalu masuk ke dalam mobilnya.


...&&&...


Kenichi menutup teleponnya lalu melepaskan kacamata hitamnya dan menengadah ke apartemen berlantai sepuluh tersebut.


“Kau yakin dia disini?” tanya Kenichi kepada Akira.


“Ya kumicho” jawab Akira.


Kenichi tersenyum menyeringai lalu mulai melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut.


Beberapa anak buah Kenichi dan Arata berjalan lebih dahulu mengawasi sekeliling dengan pistol di tangan mereka.


Kenichi melangkah tenang, jas panjangnya yang ia sampir di bahu melambai-lambai karena terpaan angin. Sekilas Kenichi tampak begitu tampan dan memesona jika saja tidak ada anak buah yang mengawalnya sambil memegang sepucuk pistol.


Arata dan beberapa anak buah Kenichi berjalan ke pintu darurat sedangkan Kenichi, Akira dan tiga orang anak buahnya memilih masuk lift.


Angka lift terus naik sampai ke angka sembilan, lift berdenting dan terbuka. Dengan tenang Kenichi berjalan di koridor apartemen.


Suasana apartemen tampak begitu sunyi entah karena pemiliknya sedang bekerja atau memang apartemen tersebut sedikit penghuninya.


Akira menembaki setiap kamera CCTV yang mereka lewati dengan pistol yang sudah ia pasang peredam suara, oleh karena itu tidak akan menyebabkan suara yang berarti.


Mark baru saja membuka pintu apartemennya bersama beberapa anak buahnya lalu terkejut melihat Kenichi yang berjalan tidak jauh darinya.


Panik, Mark mengeluarkan pistolnya ingin menembak Kenichi namun Arata yang mengepung dari belakang Mark segera melepaskan tembakan peringatan.


Mark mamatung ditempatnya, tangannya bergetar pelan.


Bagaimana bisa Kenichi tau bahwa aku bersembunyi disini, tanya Mark dalam hati.


Mark melepaskan pistolnya dan mengangkat kedua tangannya, anak buahnya melakukan hal yang sama.


Kenichi berdiri tidak jauh dari Mark dan menatapnya sembari tersenyum menyeringai.


“Mengapa kau sangat ketakutan melihatku? Aku hanya berkunjung kesini. Bukannya ingin membunuhmu” ujar Kenichi tajam.


Mark menelan ludah.


“Melihatmu bersembunyi di apartemen kecil seperti ini, sepertinya kau telah berbuat kesalahan” ujar Kenichi melihat sekeliling gedung lalu menatap Mark tajam.


“Apa yang sedang kau bicarakan Kenichi?” tanya Mark menurunkan kedua tangannya dan mencoba bersikap tenang.


Kenichi tersenyum miring. Ia memutuskan untuk mengikuti sandiwara Mark.


“Aku dengar kalau anak buahmu menemui gadisku beberapa kali. Sepertinya dia cukup gila sampai berani melakukan itu” ujar Kenichi tersenyum menyeringai.


“A.. Anak buahku yang mana Kenichi?” tanya Mark gugup.


Kenichi tertawa. “Jadi kau tidak tau?” tanyanya dengan nada rendah.


“Ak.. Aku benar benar tidak tau” ujar Mark semakin gugup. Keringat dingin mengalir di dahinya.


“Seika bilang namanya Ryan. Kau benar-benar tidak tahu?” tanya Kenichi menyeringai.


“Aku.. Aku benar tidak tau. Ryan sudah menghilang selama seminggu ini” jelas Mark.


“Ah.. Aku mengerti” ujar Kenichi menganggukkan kepalanya.


Kenichi mengambil pistol dari balik jasnya dan menembaki bahu Mark. Anak buah Mark yang terkejut segera mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada Kenichi.


Door!!


Door!!


Salah satu anak buah Mark ambruk di lantai dengan darah yang mengenang membasahi lantai. Dia terkena peluru di dada oleh Akira dan di kepala belakang oleh Arata.


Anak buah Mark lainnya yang melihat tubuh tak bernyawa temannya memilih tidak jadi menodongkan senjata mereka dan berlutut di lantai. Mereka begitu ketakutan.


“Me.. mengapa kau menembakku Kenichi?” tanya Mark sambil menekan bahunya yang terluka. Ia berlutut mencoba menahan sakit yang mendera di bahunya.


“Tadinya aku ingin menembak kepalamu tapi karena sudah lama aku tidak menembak orang. Kemampuanku jadi menurun” jawab Kenichi yang tidak sesuai dengan pertanyaan Mark.


“Itu peringatan untukmu. Kau tidak berpikir aku akan mempercayai dogengmu itu kan?” tanya Kenichi tersenyum miring. Mark hanya terdiam.


Kenichi melangkah beberapa langkah dan berhenti tepat di hadapan Mark lalu menodongkan pistolnya ke kepala laki-laki itu.


“Ini peringatan terakhir Mark. Sedikit saja kau berbuat salah, aku sendiri yang akan memecahkan kepalamu” ujar Kenichi bersuara rendah penuh cekaman.


Mark menelan ludah dengan susah payah.