Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 41 - Mencari tau tentang Kenichi



Kenichi memeriksa berkas-berkas di ruang kerjanya, matanya memang memandang berkas tersebut namun tidak dengan fokusnya, pikirannya masih tersita dengan pertemuannya dengan Seika.


Kenichi sangat senang bertemu dengan Seika hari ini, dapat berbicara dengan gadis yang sangat ia cintai dan rasa senangnya di iringi oleh rasa kesedihan.


Tentu saja ia sedih jika gadis yang paling ia puja tidak mengingatnya. Namun walaupun begitu ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Seika.


“Kumicho” panggil Daiki.


Lamunan Kenichi buyar, ia menoleh ke arah Daiki.


“Ada apa?” tanya Kenichi.


Daiki bertingkah serba salah, raut wajahnya ingin mengatakan sesuatu namun pikirannya mencoba menahannya sekuat tenaga.


“Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja” ujar Kenichi memberi pengertian.


“Itu.. berkasnya” ujar Daiki pelan, suaranya seperti mencicit.


Kenichi menaikkan alisnya lalu menatap berkas yang berada di tangannya. Berkas tersebut terbalik dan sialnya ia tidak menyadari hal tersebut.


“Sial” ujar Kenichi lalu menutup sebagian wajahnya.


Dalam hati ia merutuki kebodohannya.


“Ma..maafkan aku kumicho” ujar Daiki berlutut. Ia merasa bersalah karena secara tidak langsung ia lah yang membuat Kenichi malu.


“Tidak apa-apa. Ini salahku” ujar Kenichi mengerti.


Akira hanya diam saja, jika dalam keadaan normal ia mungkin akan tersenyum geli melihat kesalahan pemimpinnya namun dalam keadaan seperti ini, ia mengerti akan perasaan kalut Kenichi.


“Biar aku saja yang mengerjakannya kumicho” ujar Akira mengajukan dirinya.


“Tidak perlu. Bisakah kalian meninggalkanku sendirian. Aku butuh ruang untuk berpikir jernih” ujar Kenichi.


“Baik kumicho” ujar Akira dan Daiki membungkukkan badan mereka dan berjalan keluar.


...&&&...


“Tidak ada masalah apapun dengan jaringan otak anda Aiko-san” ujar dokter yang memakai kacamata.


“Benarkah? Tapi kenapa akhir-akhir ini aku sering berhalusinasi?” tanya Seika tidak mengerti.


“Anda yakin kalau itu halusinasi?” dokter berbalik.


Seika berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya.


“Menurut saya, halusinasi yang anda katakan bisa jadi itu ingatan anda yang hilang, beberapa pasien juga mengalami hal yang seperti anda rasakan, mereka melihat suatu kejadian atau merasakan de javu dan menyimpulkan itu sebagai halunisasi mereka” jelas dokter tersebut.


“Jadi nama Ken dan suara yang aku dengar adalah bagian dari ingatan masa lalu ku?” tanya Seika memastikan.


“Kemungkinan besar seperti itu Aiko-san” jawab dokter laki-laki tersebut.


Seika berpikir sejenak. Tidak mungkin ia pernah berhubungan dengan Kenichi, ia menggelengkan kepalanya. Pemikirannya sangat tidak masuk akal.


Bahkan laki-laki itu sendiri bersikap seperti ia tidak pernah bertemu dengannya. Bagaimana mungkin ia berpikir bahwa Kenichi adalah bagian dari masa lalunya. Ia tersenyum bodoh.


Seika tersenyum dan pamit undur diri. Sepanjang koridor rumah sakit ia terus memikirkan Kenichi. Ia kembali menggelengkan kepalanya, lalu menepuk kedua pipinya untuk mengenyahkan pemikiran yang semakin tidak masuk akal.


Berhenti memikirkan pemimpin yakuza itu Seika, tidak mungkin dia adalah masa lalumu, ucap Seika dalam hati.


...&&&...


“Selamat datang onee-san” ujar Michio yang sedang duduk santai di ruang tamu.


“Aku pulang Michio” ujar Seika seraya duduk di samping adiknya.


“Bagaimana dengan pemeriksaannya?” tanya Michio.


Seika menoleh dan menggelengkan kepalanya.


“Dokter bilang tidak ada masalah dengan kondisiku” jelas Seika.


Michio mengangguk mengerti.


“Michio” panggil Seika, ia menyandarkan badannya di sofa sambil menatap ke langit atap ruang tamu.


Michio terdiam sejenak membuat Seika menoleh kepada pemuda itu.


“Tidak, kenapa onee-san?” tanya Michio.


“Sebelumnya aku pernah bertanya apa aku mengenal orang yang bernama Ken bukan?” tanya Seika.


Michio mengangguk pelan.


“Dua minggu yang lalu aku bertemu dengan Kenichi di restoran yang tidak jauh dari klinik dan entah kenapa aku mengejarnya dan berteriak memanggil Ken tanpa sadar, kau yakin Ken yang aku maksud bukan Kenichi Shinoda, kumicho mu?” tanya Seika kembali.


Michio terkejut, itu informasi baru untuknya.


“Bukan onee-san, kau baru kemarin bertemu dengan kumicho-san bukan?” Michio berbalik tanya.


Seika menghela napas panjang lalu mengangguk beberapa kali.


“Kelompok apa yang kau ikuti Michio? Aku tidak melarangmu untuk bergaul dengan para yakuza, kau bebas menjalani hidupmu asalkan kau menjaga keselamatanmu sendiri. Aku hanya ingin tahu saja” jelas Seika.


“Yamaguchi-gumi” jawab Michio.


Seika membulatkan matanya.


“Maksudmu Kenichi pemimpin Yamaguchi-gumi yang terkenal itu?” tanya Seika tidak percaya lalu tertawa bodoh. Mana mungkin ia tidak tahu kelompok terbesar yakuza yang bermarkas pusat di Kobe tersebut.


Michio menganggukkan kepalanya. Seika kembali menyandarkan punggungnya di sofa, pikirannya kembali mengingat pertemuannya dengan Kenichi dan memanggil nama Ken tanpa ia sadar.


“Aku sangat ingin ingatanku kembali secepatnya” komentar Seika pelan, ia sangat ingin mengetahui siapa sebenarnya Ken yang ia maksud.


“Kau yakin onee-san?” tanya Michio.


Seika kembali menganggukkan kepalanya.


“Walaupun ingatan onee-san berisi masa lalu yang mengerikan?” tanya Michio kembali dengan tatapan serius.


Seika menyerngitkan keningnya.


“Apa masa laluku mengerikan Michio?” jawab Seika dengan pertanyaan.


“Tidak, aku hanya berkata seumpamanya” ujar Michio.


Seika berpikir sejenak lalu menganggukkan lagi kepalanya.


“Aku rasa ingatanku berisi masa lalu yang sangat penting untukku, jadi jika ingatan itu cukup berharga aku tidak masalah kalau ingatan tersebut membuatku ketakutan” jelas Seika.


Michio tersenyum lembut.


“Aku sangat bangga mempunyai kakak yang sangat kuat sepertimu onee-san” komentar Michio.


“Kau adik yang manis Michi-chan” ujar Seika tersenyum sambil memeluk Michio dengan gemas.


Michio tertawa pelan. “Kumicho-san juga mengatakan hal yang sama” ujar Michio tanpa sadar.


“Kenichi? Dia juga mengatakan hal yang sama?” tanya Seika.


“Tidak. Maksudku.. onee-san apa kau ingin makan kue buatanku. Aku mencoba resep baru” ujar Michio mengalihkan topik pembicaraan.


“Tapi kau belum menja...”


“Aku akan mengambilnya untuk onee-san” ujar Michio lalu melangkah ke dapur dengan cepat.


Seika memayunkan bibirnya, ia semakin yakin kalau Kenichi adalah bagian masa lalunya. Ia sangat yakin melihat reaksi dari Michio yang tidak ingin ia membahas laki-laki itu. Ia akan mencari tahunya sendiri.


...&&&...


Seika duduk di bangku salah satu klub malam yang berada di daerah Ikuta Road, salah satu tempat hiburan malam yang terkenal di Kobe. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan malam.


Ia melihat sekelilingnya, mencari sosok Kenichi diantara puluhan orang yang datang ke bar tersebut.


Seika menopang keningnya sambil merutuki dirinya sendiri.


“Hanya karena aku melihatnya di Kabukicho bukan berarti Kenichi akan datang ke setiap bar kan. Watashi wa baka desuka?” gerutu Seika.


Ia kembali melihat sekelilingnya, orang-orang meneguk minuman sambil berbincang-bincang atau pun hanya minum sendirian. Ia memutuskan untuk menunggu beberapa saat lagi.