Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 23 - Mark mencari masalah



Seika keluar dari mobil mercedez benz milik Kenichi, ia diantar oleh salah satu anak buah kekasihnya. Hari ini ia akan bertemu dengan Shigeo di taman Higashi Yuenchi di daerah Sannomiya.


Kenichi tidak membolehkan Shigeo untuk menjemputnya, ia bahkan tidak mau mengantarnya dan memilih untuk keluar rumah terlebih dahulu, walaupun Seika tau hari ini Kenichi akan bertemu dengan partner kerjanya.


Shigeo duduk di kursi panjang yang terdapat di dalam taman, ia memakai shirt santai berwarna putih dibalut dengan blazer hitam dengan bawahan celana jeans berwarna senada, sedangkan Seika tetap dengan penampilan anehnya, memakai kemeja lengan pendek berwarna hijau muda dipadu jeans putih dan tidak lupa dengan sarung tangan mickey mouse-nya.


Shigeo tersenyum ketika melihat Seika yang berjalan menghampirinya.


"Kita akan kemana?" tanya Seika.


Shigeo melihat ke sekitarnya.


"Bagaimana jika mengelilingi taman ini?" usul Shigeo.


Seika mengangguk setuju.


Mereka berjalan menyusuri jalan taman yang diapit oleh pepohonan yang rindang, terasa sangat pas untuk momen berjalan-jalan mereka.


"Apa kau sangat tidak nyaman kalau tidak pakai sarung tangan?" tanya Shigeo penasaran.


Ia sangat terganggu dengan sarung tangan mickey mouse yang Seika pakai. Seika hanya mengangguk.


"Sejak kapan kau mulai mengalami OCD?" tanya Shigeo kembali.


"Dari kecil, aku sudah tidak nyaman jika bersentuhan dengan orang lain" jelas Seika berbohong.


Ia sebenarnya merasa tidak enak membohongi Shigeo, namun ia tidak ingin Shigeo mengetahui bahwa ia memiliki kemampuan khusus. ia takut jika Shigeo tau, ia akan menatapnya dengan tatapan aneh yang biasa diperlihatkan orang-orang yang pernah tau akan kemampuannya dan yang lebih menakutkannya lagi jika Shigeo kembali menculiknya untuk kepentingan kelompoknya.


Ia hanya memberitahukan Kenichi tentang kemampuan khususnya karena awalnya ia terpaksa namun sekarang ia bersyukur bahwa Kenichi mengetahui kemampuannya. Selain kakeknya, hanya Kenichi yang tidak mempermasalahkan kemampuannya dan juga tidak menatapnya dengan tatapan serakah. Seika benar-benar lega akan hal itu.


"Mengapa kau bisa mengalami OCD? pasti ada penyebabnya kan sampai kau mengalami OCD?" tanya Shigeo yang masih penasaran.


Seika menatap Shigeo lalu tersenyum lembut. ia memilih diam. Seika tidak ingin menambah kebohongannya kepada Shigeo.


"Apa kau punya niat ingin berbaikan dengan Kenichi?" tanya Seika mengalihkan pembicaran.


Shigeo tersenyum pelan. Lagi-lagi Kenichi.


Shigeo tau, Seika menerima ajakan kencannya karena Kenichi, di dalam pikiran gadis itu selalu dipenuhi dengan Kenichi, sepertinya tidak ada sedikit pun ruang di hati Seika untuknya.


"Kami tidak bermusuhan karena urusan pribadi" jawab Shigeo.


"Aku tau kalian bermusuhan karena masalah kelompok, tapi kalian bisa berbaikan bukan? dan juga itu dapat membantu kelompok kalian juga" ucap Seika menganalisis.


"Tidak sesederhana itu Seika" jawab Shigeo kembali.


Seika mengerutkan dahinya masih tidak mengerti dengan jawaban Shigeo. bukankah akan semakin gampang berbaikan karena mereka sama-sama pemimpin kelompok? Karena otomatis anak buah mereka akan mengikuti perintah mereka, pikir Seika naif.


"Aku tidak mengerti maksudmu" ujar Seika menyuarakan isi hatinya.


Shigeo tersenyum menatap Seika.


"Kau tidak perlu memikirannya" ujar Shigeo mengacak rambut Seika dengan gemas.


...&&&...


Kenichi berdecak pelan, ia sedang berada mobil ditemani oleh Akira untuk bertemu dengan tuan Lee Yundae. Ia sedang menatap photo Shigeo yang sedang mengacak rambut Seika dengan wajah senang di handphone miliknya.


Ia sengaja menyuruh anak buahnya, Botan dan Kenzo yang bertugas mengawal Seika dari kejauhan untuk melaporkan apa saja yang Shigeo dan Seika lakukan selama mereka berdua.


"Apa-apaan dengan suasana romantis ini? " gerutu Kenichi.


"Anee-san hanya mencintai anda kumicho" ujar Akira menghibur Kenichi.


"Aku tau itu, tapi aku tetap kesal melihat Shigeo brengsek yang seenaknya menyentuh wanitaku" ujar Kenichi kesal.


Akira tersenyum samar.


"Tapi mereka memang terlihat sangat akrab" ujar Akira dengan nada provokasi tanpa sadar.


"Hei!!, siapa yang ingin kau bela sebenarnya?" tanya Kenichi kesal.


Akira tersenyum lebar. Merasa lucu dengan kecemburuan yang tampak begitu besar yang Kenichi perlihatkan.


"Baru kali ini aku melihatmu tersenyum lebar" komentar Kenichi ikut tersenyum.


Mata akira berkedip dan sedetik kemudian ekspresinya berubah datar.


"Apa anda berpikir tuan Mark Bogatyrev akan kembali mencari gara-gara?" tanya Akira kembali serius.


Kenichi tersenyum menyeringai.


"Intuisimu sangat bagus Akira. Kau benar. Dia kembali mengendus kesempatan untuk menyerangku dari belakang, apa dia pikir aku tidak tahu kalau dia menambahkan jumlah obat melebihi dari kesepatan. Dasar keparat" rutuk Kenichi dengan wajah dingin.


"Sepertinya tuan Mark berpikir anda sedang lengah, karena dia hanya berani dengan kelompok kecil saja selama ini. Apa saya harus bertindak?" tanya Akira.


Kenichi menggelengkan kepalanya.


"Baik kumicho" jawab Akira.


Tak berapa mereka sampai di sebuah Hotel berbintang yang terdapat di daerah Roppongi yang notebene adalah kawasan elit di Tokyo.


Kenichi keluar dari mobilnya, mengancingkan kembali jasnya dan memakai kacamata hitam. Ia terlihat sangat tampan.


"Mannaseo bangapseummnida hyungnim (Senang bertemu denganmu)" ujar Kenichi menjabat tangan seorang laki laki paruh baya yang sudah beruban.


"Kau tidak perlu memanggilku hyungnim" ujar Yundae sambil tertawa pelan.


"Anniyo hyungnim (Tidak), anda pantas di panggil seperti itu" ujar Kenichi.


Yundae tertawa senang lalu mempersilahkan Kenichi untuk duduk.


"Maafkan saya karena telah menunda pertemuan kita di Seoul" ujar Kenichi yang sudah mengambil tempat duduknya.


"Tidak apa-apa. Aku paham kau punya urusan penting mendadak" ujar Yundae mengibaskan tangannya tidak memperdulikan.


Kenichi membungkukkan kepalanya.


"Khamsahamnida hyungnim (Terima kasih)" ujar Kenichi


"Apa yang ingin anda bicarakan hyungnim?" tanya Kenichi to the point.


"Ah.. aku sampai lupa dengan niatku karena melihatmu sudah sebesar ini, Makoto pasti sangat bangga denganmu. Kau sudah menjadi pemimpin yang kuat Kenichi" ujar Yundae bernostalgia.


"Anda juga semakin sukses hyungnim" ujar Kenichi tersenyum.


"Aku bertemu denganmu karena ingin meminta bantuanmu Kenichi" ujar Yundae yang masuk ke inti pembicaraan. Ekspresinya berubah menjadi serius.


"Anda ingin meminta bantuan apa hyungnim?" tanya Kenichi.


"Aku tau kalau Mark hanya takut kepadamu. Baru-baru ini ia mencoba memanipulasi saham milikku" jelas Yundae.


Sudah kuduga, pikir Kenichi.


"Jadi anda ingin meminta bantuan apa hyungnim?" tanya Kenichi.


"Beri peringatan kepada Mark untuk tidak bercampur tangannya dengan urusan perusahaanku. Keadaan perusahaan sedang kacau karena adanya masalah intern ditambah sahamnya yang menurun drastis karena di manipulasi oleh Mark" ujar Yundae.


"Aku mohon padamu Kenichi" mohon Yundae sambil membungkukkan badannya.


Kenichi berdiri dan memegang kedua bahu Yundae, mencegah pria paruh tersebut untuk membungkukkan badan kepadanya.


"Anda tidak perlu memohon seperti ini hyungnim, aku akan menolong apapun yang anda minta" ujar Kenichi.


"Sebagai teman Mokoto, aku sangat bangga kepadamu" ujar Yundae memegang tangan Kenichi dengan erat.


"Terima kasih hyungnim. Anda adalah sahabat ayah saya. Jadi saya juga sangat menghargai anda hyungnim" ujar Kenichi.


Yundae menepuk punggung Kenichi dengan tatapan bangga.


...&&&...


Kenichi bersandar di sisi pintu dengan memakai yukata yang dibalut dengan hiori di belakang punggungnya. Ia sedang menatap bulan yang berbentuk seperempat pertama sambil menunggu kepulangan Seika.


"Apa saja yang mereka lakukan sampai melewatkan makan malam" gerutu Kenichi kesal.


Angin dingin menerpa hiori dan wajah Kenichi dengan pelan. Tidak berapa lama Seika masuk ke dalam halaman rumah dan berhenti ketika melihat Kenichi yang bersandar di pintu, menatap bulan sambil melipatkan kedua tangannya.


Sial, dia sangat tampan, pikir Seika. Ia menahan senyum senangnya.


"Sepertinya kau cukup bersenang-senang sampai melewatkan makan malam bersamaku" ujar Kenichi menyindir.


Senyuman Seika menghilang mendengar kata sarkasme dari Kenichi, ia mencibir pelan.


"Nishiguchi-san mengajakku makan malam, aku tidak bisa menolaknya" jelas Seika.


Kenichi berdecak kesal lalu berjalan ke arah Seika dan memegang tangan Seika dan menarik untuk ikut bersamanya.


Seika tersentak merasakan dinginnya tangan Kenichi.


Sudah berapa lama Kenichi menunggunya di luar?, tanya Seika dalam hati.


"Aku akan mengambil imbalan atas kesabaranku hari ini" ujar Kenichi berjalan masuk dan membawa Seika ke kamarnya.


"Untuk apa aku kemari?" tanya Seika tidak mengerti.


"Tentu saja kau akan tidur disini" ujar Kenichi.


Seika membelalakan matanya. Tercengang dengan perkataan Kenichi.


Apa maksudnya ia harus bermalam di kamar Kenichi?, ini tidak seperti yang ia pikirkan bukan?, pikir Seika waspada.