
Seika membulatkan matanya, jantungnya berdetak di luar kewajaran. Ia bahkan tidak bisa menghitung berapa detak jantungnya perdetik. Tangannya bergetar pelan. Pelukan Kenichi, entah kenapa sangat familiar ditubuhnya, seperti merindukan tubuh atletis itu untuk waktu yang sangat lama.
Tanpa sadar tangan Seika membalas pelukan Kenichi, sentuhan hangat di punggung membuat Kenichi tersadar dan segera melepaskan pelukannya.
Kenichi membalikkan tubuhnya menyembunyikan tangannya yang terkepal kuat. “Maafkan aku. Aku memelukmu karena kau mirip dengan seseorang yang aku cintai”.
Seika sangat terkejut ketika mendengar perkataan Kenichi, tangannya bergetar pelan. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, tubuhnya bertindak diluar kontrolnya. Air mata wanita itu mengalir tanpa sadar, dadanya berdenyut sakit, ia tidak mengerti mengapa ia begitu sakit hati ketika mendengar bahwa Kenichi sudah mempunyai wanita yang laki-laki itu cintai.
Dengan air mata berlinang, Seika membungkukkan badannya ke arah Kenichi. “Aku permisi” Suara wanita itu terdengar tercekat.
Seika segera melangkah keluar sambil memeluk lengannya. Ia bertemu dengan beberapa anak buah Kenichi yang sedang berjaga atau bersantai di halaman depan. Mereka segera berdiri dan membungkukkan badan menyapa wanita itu namun Seika tidak memperdulikan sapaan mereka dan melangkah keluar pintu pagar.
“Astaga. Kau sangat memalukan Seika, ada apa denganmu sebenarnya?” gumam Seika terisak.
Kenichi yang masih berdiri di ruangan washitsu meninju dinding ruangan dengan kesal. Ia yakin dari suara tertahan yang ia dengar, Seika pasti tersinggung dengan ucapannya. Namun ketika mengingat apa yang sudah wanita itu lewati setahun yang lalu membuat Kenichi semakin mengepalkan tangannya.
“Kussou (sial). Lagi-lagi kau mengulangi kesalahan yang sama Kenichi, dasar brengsek” gumam Kenichi.
&&&
“Sensei” Panggil seorang wanita paruh baya.
“Ya” Jawab Seika spontan. Ia tersadar dari lamunan dan terkejut melihat pasiennya yang melihatnya dengan bingung.
“Maaf obaa-san. aku akan segera memeriksa keadaan anda” Seika segera memasang stetoskop ke telinga dan mulai memeriksa detak jantung sang nenek.
“Sensei, apa terjadi sesuatu?” tanya sang nenek.
Seika tersenyum lembut lalu menggelengkan kepala. Ia merasa bersalah dan kesal karena telah mencampur adukkan perasaan pribadinya ke dalam pekerjaan. Ia segera berdiri dan membungkukkan badannya.
“Saya minta maaf obaa-san”
“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu melakukan itu sensei” Sang nenek tertawa pelan, memaklumi suasana hati dokter di hadapannya.
&&&
“Tadaima(aku pulang) ” Ucap Seika sambil menghela napas lelah. Ia melepaskan sepatu dengan susah payah.
“Okaeri nasai onee-san (selamat datang kakak) . Kau ingin mandi dulu atau langsung makan malam?” tanya Michio yang duduk di sofa ruang tamu.
Seika tersenyum melihat adik yang sangat ia sayangi. “Michiooo” Wanita itu berlari ke arah adiknya, ingin memeluk adiknya yang begitu menenangkan di matanya.
Namun gerakan Seika terhenti ketika mengingat kembali suara yang terlintas di pikirannya. ‘tidak pakai pelukan’.
Michio bingung karena gerakan Seika yang terhenti. “Ada apa onee-san?”.
Sieka tersenyum lalu menggelengkan kepala. Ia duduk di samping Michio.
Michio menatap antusias kakaknya.“Bagaimana pertemuan onee-san dengan kumicho. Apa berjalan baik?”.
Michio belum menanyakan hal itu karena kemarin ia pergi ke klan Yamagi untuk mengurus sesuatu dan ketika ia pulang Seika sudah tertidur di kamarnya.
Seika menghela napas panjang, dadanya berdenyut sakit ketika mengingat kembali perkataan Kenichi yang sudah punya pujaan hati.
“Ya. Kami berbicara sebentar dan setelah itu aku langsung pamit pulang” Seika menjawab dengan tenang namun raut wajahnya menunjukkan hal yang sebaliknya.
Michio mengangguk mengerti.
“Michio” panggil Seika.
“Hm”
“Bisa kau ceritakan seperti apa Keni... maksudku Shinoda-san?”.
“Kumicho orang yang terbaik yang pernah aku temui, onee-san sudah tahu kan kalau sebagian dari anak buah yamaguchi-gumi di pungut oleh kumicho dari jalanan. Rata-rata dari mereka tidak memiliki tempat tinggal lalu kumicho mengajak mereka untuk bergabung di bawah sayap kekuasaannya” jelas Michio antusias.
Seika tersenyum mendengar penjelasan Michio walaupun penasaran dengan kata ‘onee-san sudah tahu kan’.
Mengapa Michio mengatakannya seperti aku sudah lama mengenal Kenichi?, Tanya. “Dia juga bukan tipe pemimpin yang memaksakan apapun kehendaknya. Oleh karena itu jarang sekali ada yang berani mengkhianatinya”.
Seika tersenyum lalu mengacak pelan rambut Michio. “Sepertinya kau sangat bangga dengan kumicho mu itu”.
Michio tersenyum lebar. “Tentu saja. Aku sangat mempunyai kakak seperti kumicho-san. kumicho-san semakin lembut ketika bertemu dengan an...” Michio tersadar dengan perkataannya
Sedangkan Seika masih menunggu kalimat selanjutnya dari adiknya.
“Bertemu dengan siapa?”.
Michio gugup lalu melihat ke arah lain mencari jawaban yang tepat. “Onee-san. Aku lapar. Ayo kita makan malam” Michio melangkah ke dapur dengan langkah cepat.
“Tapi Michio kau belum menjawab dengan siapa Kenichi berte...”
Ujaran Seika terputus ketika teringat kembali dengan perkataan terakhir Kenichi. Dadanya kembali berdenyut sakit.
Dasar bodoh, tentu saja setelah bertemu dengan kekasih yang sangat ia cintai, gerutu Seika dalam hati.
Tanpa bisa ia pungkiri, Seika cemburu dengan wanita yang Kenichi cintai, ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia cemburu dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenal.
Seika semakin tidak mengerti dengan perasaan yang ia rasakan dan itu membuatnya menjadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
&&&
Seika menatap pintu pagar rumah Kenichi dengan tekad yang mantap, ia kembali mencoba berbicara dengan laki-laki itu. Rasa penasarannya apakah Kenichi bagian dari masa lalunya belum menghilang dan ia memutuskan untuk kembali menemui Kenichi, setidaknya ia akan melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa ia hanya salah orang. Sangat keras kepala memang, tapi ia akan melakukan apapun supaya ingatannya yang hilang bisa kembali.
Seika mengetahui metode sederhana untuk dapat mengingat kembali. Salah satunya adalah memicu ingatan, bisa di lakukan dengan mengulang kembali apa yang pernah ia lakukan di masa lalu atau mengunjungi tempat yang berisi kenangan khusus bagi dirinya namun untuk melakukannya ia harus mendapat kesepakatan dari Kenichi dan itu mustahil terjadi, laki-laki itu pasti akan menolaknya.
Jadi pilihan kedua adalah dengan cara itu. Dan disinilah ia, di depan pagar pintu yang tertutup rapat. Ia menghela napas panjang lalu mengetuk pintu pagar dan menunggu. Beberapa detik kemudian Kenzo dan Botan membukakan pintu pagar. Seika langsung tersenyum.
“Tolong katakan pada Shinoda-san bahwa aku ingin bertemu dengannya” Ucap Seika dengan yakin.
“Baik nona” ujar Kenzo.
Botan hanya menundukkan kepalanya, ia tidak ingin terkena jitakan karena salah berbicara di depan Kenzo.
Seika tersenyum dan melangkah masuk, di halaman depan ia bertemu dengan beberapa orang laki-laki bersetelan jas yang sama. Mereka menatapnya bingung dan dilema pada saat bersamaan. Seika juga bingung dengan tatapan tersebut namun ia memilih untuk mengabaikannya.
Seika masuk ke dalam rumah, melewati lorong dan roka sebelum berhenti di depan sebuah ruangan.
“Kumicho” Panggil Kenzo dari luar ruangan.
“Ada apa?” tanya Kenichi heran, ia melirik Akira yang hanya diam saja dengan berkas di tangannya.
“Aiko-san ingin bertemu dengan anda” Jawab Kenzo.
Kenichi mematung sesaat lalu memejamkan mata, ia tidak menduga bahwa Seika masih berani menemuinya setelah ia memeluk paksa wanita itu.
“Persilahkan dia masuk”.
Pintu fusuma di geser dan pandangan Kenichi langsung bertemu dengan mata Seika. Akira mengangguk hormat kepada Seika dan segera keluar ruangan.
“Untuk apa kau kemari Aiko-san?” tanya Kenichi tanpa basa basi. Jantungnya mulai berdetak di luar kontrol.
Seika menegakkan kepalanya dan menatap yakin ke arah Kenichi. “Biarkan aku memelukmu sekali lagi”.
Kenichi terkejut dengan kata tidak terduga yang keluar dari mulut Seika.