
Kenichi berjalan diringi oleh Michio, Akira, Arata, Daiki dan sepuluh orang anak buahnya yang memakai setelan jas warna hitam di kawasan Kabukicho. Mereka mengeluarkan pistol dan menggenggam erat sambil tetap berjalan.
Kenichi berjalan memasuki sebuah daerah kecil yang berada di Kabukicho, daerah tersebut begitu sunyi jika siang hari karena tempat itu adalah tempat prostitusi dan hanya beraktivitas di malam hari.
Door!!
Door!!
Door!!
Tiga laki-laki yang berjaga di depan gedung terkejut merasakan dada mereka dimasuki timah panas tanpa bisa mereka balas, beberapa detik kemudian mereka berjatuhan di lantai.
“Intrograsi semua anak buah Mark, jika tidak berguna. Bunuh mereka semua” perintah Kenichi dengan suara dingin.
“Baik kumicho” ujar mereka serempak.
Beberapa anak buah Kenichi mengikuti Daiki dan Arata dan beberapa lainnya mengikuti Akira, sedangkan Michio berjalan disamping Kenichi sambil menatap ke sekeliling.
Sebenarnya Kenichi melarang Michio terlibat namun pemuda itu mengatakan bahwa itu juga tugasnya karena Seika juga merupakan kakaknya. Kenichi pun menyetujui untuk Michio ikut dengannya.
Kenichi memasuki pintu depan gedung bertingkat lima yang merupakan markas Mark selama ia berada di Jepang.
Kenichi berjalan dengan tenang, walaupun pikirannya berkecamuk memikirkan Seika yang kini sedang ketakutan di tempat yang ia tidak ketahui.
Beberapa laki-laki yang berjaga di dalam gedung segera mengacungkan pistol ke arah Kenichi namun tidak menyangka akan tertembak dari pintu samping oleh Arata dan Daiki.
Pegangan pistol ditangan mereka terlepas, para lelaki itu memegang tangan kanan yang berdarah sambil meringis menahan sakit.
“Kalian tahu dimana Mark?” tanya Kenichi menatap tajam.
“Ka..kami tidak tahu. Terakhir bos bilang akan pulang ke Rusia mengurus beberapa hal disana” jawab salah satu dari terbata-bata.
Kenichi menatap Daiki dan menggerakkan wajahnya lalu melangkah menaiki tangga ke lantai dua.
Door!!
Door!!
Door!!
Door!!
Terdengar suara tembakan di belakang Kenichi. Namun ia tetap tenang berjalan di ikuti oleh Michio dan beberapa anak buahnya yang lain.
Tiba di lantai dua, Kenichi menatap dua orang laki-laki yang terbaring berlumuran darah dengan mata terbelalak. Kenichi melangkahi mayat seorang laki-laki yang terkapar di depan anak tangga.
Dilantai tiga dan empat tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain. Kenichi kembali melangkah naik ke lantai terakhir.
Di lantai lima, Akira dan dua orang anak buah Kenichi menunggu bos mereka sambil tetap menodongkan pistol kearah lima orang yang berbaris sambil berlutut tersebut. Kenichi masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Siapa yang bertanggung jawab di daerah ini?” tanya Kenichi.
“Pria ini kumicho” ujar Akira sambil menodongkan pistol tepat di kepala seorang laki-laki berambut jigrak. Laki-laki itu semakin menundukkan kepalanya.
“Kau tahu dimana Mark?” tanya Kenichi.
Laki-laki itu hanya diam.
Kenichi menatap ke arah Akira, laki-laki itu mengarahkan pistol ke paha laki-laki itu.
Pishuu!!
Laki-laki itu berteriak keras dan berbaring di lantai sambil memegang pahanya yang berlubang dan mengeluarkan banyak darah.
“Aku tanya sekali lagi kau tau dimana Mark?” tanya Kenichi sambil menekan kakinya di paha laki-laki yang sedang berbaring tersebut. Pria berambut jigkrak itu semakin berteriak kesakitan.
“Aku... aku hanya tau bahwa bos pergi bersama dengan laki-laki berambut panjang yang memakai pakaian tradisional china sambil membawa seorang wanita” jelas laki-laki itu.
“Kau tau mereka pergi kemana?” tanya Kenichi.
“Ti.. tidak tau. Bos bilang bahwa ia akan pergi untuk waktu yang lama” jawab laki-laki itu.
Rahang Kenichi mengeras. Ia mengeluarkan pistolnya dan menembaki dada laki-laki itu.
“Bajingan” maki Kenichi sangat emosi
...&&&...
Kenichi meneguk sake dengan cepat, sudah botol kelima yang ia habiskan namun masih belum bisa menumbangkannya.
Tangannya terkepal sambil bergetar pelan, sampai saat ini ia belum bisa menemukan Seika. Bahkan mereka tidak mendapatkan tanda-tanda keberadaan gadis itu, orang-orang yang menculik Seika beroperasi secara besar besar dan terorganisir. CCTV yang ada di daerah Seika di culik telah diretas dan diganti dengan rekaman sebelum kejadian itu dimulai.
“Bangsat kau Mark. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja” teriak Kenichi.
Kenichi melemparkan gelas kecil itu ke sembarang arah. Pikirannya sungguh kacau, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Seika yang mendapat siksaan dan itu semakin membuat Kenichi mengerang tidak karuan.
Sebuah pemikiran terlintas di kepala Kenichi membuatnya terdiam sejenak lalu segera meraih telepon lipatnya dan menekan beberapa nomor.
“Akira, sebaiknya kau mencari informasi di pelabuhan. Sepertinya Mark menggunakan dermaga untuk kabur ke Cina” ujar Kenichi.
Kenichi memutuskan telepon dan melempar telepon ke atas meja kecil yang berada disampingnya, ia meraih botol sake dan meneguknya langsung dari botol berharap sake dapat membuatnya lupa akan kehilangan Seika.
...&&&...
Michio mengetuk pelan pintu kamar Kenichi.
“Masuklah” ujar Kenichi.
“Letakkan saja di sana” ujar Kenichi parau.
Ia menatap ke halaman samping dari pintu shogi. Penampilannya berantakan dengan wajah kusut dan rambut yang acak acakan.
Michio menatap meja kecil berisi sarapan pagi yang masih utuh di sudut kamar. Ia menghela napas panjang.
“Makanlah sedikit kumicho-san” bujuk Michio.
“Aku akan memakannya nanti. Letakkan saja di sana” ujar Kenichi tanpa mengalihkan pandangannya.
Michio kembali menghela napasnya.
“Baiklah. Aku akan meletakkannya disini, kalau ada apa-apa tolong panggil aku” ujar Michio.
Kenichi mengangguk pelan. Michio kembali menatap Kenichi sejenak sebelum keluar dari kamar Kenichi.
“Dimana kau sebenarnya Seika” gumam Kenichi penuh kesedihan.
...&&&...
“Masuklah” ujar Kenichi ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya.
Akira menggeser pintu dan masuk ke dalam, matanya menatap meja kecil berisi makan siang yang masih utuh namun ia hanya diam saja.
“Bagaimana? Apa kau mendapatkan informasi mengenai keberadaan Seika?” tanya Kenichi menoleh ke arah Akira.
“Belum kumicho. Mereka bekerja sangat terorganisir. Saya sangat susah melacaknya” lapor Akira.
Kenichi meneguk sake dengan cepat.
“Si brengsek Mark. Aku akan menyiksanya sampai dia memohon mati kepadaku jika berani menyentuh Seika” gumam Kenichi penuh kebencian.
“Tapi seperti yang anda katakan, mereka menggunakan kapal pelabuhan untuk pergi ke Cina” lapor Akira kembali.
Kenichi meneguk kembali sake, kepalanya mulai berat pengaruh Alkohol. Ia menopang tangannya di meja kecil, memikirkan sesuatu.
Pria berambut panjang dan memakai pakaian Cheongsam.
“Apa kau sudah menghubungi Shao Chen?” tanya Kenichi menoleh ke arah Akira.
“Belum kumicho, saya akan segera menghubunginya” ujar Kenichi.
“Tidak perlu. Aku sendiri yang akan pergi ke Cina untuk menemuinya” ujar Kenichi
Kenichi mengerjap pelan karena alkohol mulai membuat pandangannya mengabur, ia mencoba berdiri dan berjalan namun badannya terhuyung sejenak. Akira hanya diam, ia tahu bahwa Kenichi tidak suka di kasihani.
Kenichi menghela napas sejenak lalu melanjutkan langkahnya. Percuma ia mabuk-mabukkan dan frustasi karena itu tidak membuat Seika kembali padanya, yang terpenting sekarang mencari cara untuk menemukan Seika secepatnya.
...&&&...
Kenichi berjalan keluar rumah bersama Akira malam itu juga.
“Anda ingin kemana kumicho-san?” tanya Michio.
“Aku akan pergi ke Cina” jawab Kenichi.
Michio terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya.
“Tenang saja. Aku akan membawa anee-san kembali ke rumah kita” ujar Kenichi mengacak pelan rambut Michio.
Michio menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecil.
Anda juga harus menjaga diri anda sendiri kumicho-san. Anda bahkan belum memakan apapun sejak dari pagi, benak Michio sedih.
...&&&...
Kenichi mengangkat telepon yang bergetar sedari tadi.
“Ada apa Shigeo?” tanya Kenichi.
“Apa kabar teman?” tanya Shigeo berbasa basi.
“Untuk apa kau menelponku?” tanya Kenichi lelah.
“Hei, ada apa dengan suaramu? Aku menelponmu karena penasaran mengapa klan dibawah naunganmu seperti sedang gelisah mencari sesuatu” jelas Shigeo.
Kenichi menghela napas panjang.
“Seika menghilang Shigeo” ucap Kenichi pelan.
“Apa maksudmu Seika menghilang?” nada Shigeo berubah serius.
“Mark menculiknya dan sekarang mereka menghilang ke Cina” ujar Kenichi.
Shigeo terdiam sejenak. Berita mengejutkan ini terlalu tiba-tiba untuknya.
“Kenichi, kau tidak bercanda kan?” tanya Shigeo memastikan. Hatinya berdegup kencang.
Kenichi memutuskan telepon lalu mengurut hidungnya dengan lelah. Beberapa hari ini menjadi hari yang panjang untuknya.
“Anda tidak apa-apa kumicho?” tanya Akira yang duduk disamping kemudi.
Kenichi tidak menjawab, matanya menatap ke samping jendela menatap bangunan-bangunan yang ia lewati dengan tatapan menerawang.