Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 14 - Bawakan Pedangku



Akira berjalan masuk ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Namun matanya membesar ketika melihat Seika yang sedang mempersiapkan makan siang dengan telaten.


"Selamat siang" sapa Seika tersenyum. Ia sangat jarang berbicara dengan pria yang satu ini karena sikap diam dan misterius yang selalu ia perlihatkan.


Bukannya menjawab sapaan Seika, Akira malah berbalik badan dan keluar dari cepat setengah berlari.


"Hei, kenapa?" tanya Seika yang melongokan kepalanya ke lorong rumah dan bingung ketika tidak mendapati Akira.


Seika mengangkat bahu tidak peduli lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Michi-chan, apa menu makan siang kita hari ini?" tanya seorang laki-laki yang Seika kenal bernama Daiki.


Daiki melototkan matanya ke arah Seika lalu menutup matanya dan berbalik badan.


"Aku tidak melihat apa apa" ujar Daiki beberapa kali.


Seika kembali menjadi bingung. Ada apa dengan mereka?.


Seika memakai shirt hitam berlengan pendek dipadu dengan hotpans berwarna abu-abu namun tertutupi oleh apron yang sedang ia pakai.


Namun Seika tidak mengetahui bahwa wanita milik sang pemimpin yakuza tidak boleh berpakaian terbuka di hadapan para anak buahnya.


Seika menghela napas lalu kembali menyiapkan makan siang.


"Astaga" teriakan seorang anak buah Kenichi membuat Seika tersentak dan hampir menjatuhkan piring ditangannya.


"Ada apa. Ada apa?" tanya Seika panik.


"Aku tidak melihat apapun" ujar laki laki itu membalikkan badannya dan berlari.


"Aku tidak mel... kumicho tolong potong kelingkingku. Aku sudah melakukan kesalahan fatal. Tidak tidak. Kelingking saja tidak cukup. Tolong potong tanganku juga" teriak laki-laki itu panik di lorong.


"Ada apa sebenarnya? Mengapa kau berteriak seperti orang kesurupan?" teriak Seika yang mulai kesal. Ia benar benar tidak mengerti. Mengapa mereka bereaksi seperti itu? Apa karena melihatnya memasak?. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran Seika.


"Mengapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Kenichi yang muncul dari tikungan lorong rumah dengan membawa kain hiori lalu memakainya ke bahu Seika dengan pelan.


"Ada apa dengan pakaianku? Ini wajar untuk dipakai di dalam rumah ketika musim panas" bantah Seika kesal.


"Kau tidak sadar, semua orang yang tinggal disini berkelamin laki laki?" tanya Kenichi sambil merangkul bahu Seika.


"Aku tahu. Tapi mereka bereaksi berlebihan" gerutu Seika kesal. Ia merasa seperti perempuan nakal yang sedang merayu para laki-laki yang tidak berdosa.


"Wajar mereka merespon seperti itu, namanya juga laki laki dan kau.. kau tidak boleh berpakaian seperti ini kecuali di depanku" ujar Kenichi memeluk Seika dari belakang.


Seika terkejut dengan pelukan Kenichi lalu menikung sikunya ke perut Kenichi mencoba melepaskan pelukan darinya


"Aku juga tidak akan berpakaian seperti ini di depanmu" ujar Seika dengan pipi yang memanas. Demi tuhan, laki-laki ini sangat berbahaya Seika, sadarlah dirimu. Jangan terpesona hanya karena ia tampan. Gerutu Seika kepada dirinya.


Kenichi terkekeh lalu melepaskan pelukan dan menatap ke arah miso suop dengan antusias.


"Sepertinya enak" celutuk Kenichi


"Sudah jangan mengangguku, sebentar lagi ini akan selesai" ujar Seika sambil mendorong tubuh Kenichi untuk keluar dari dapur.


"Baiklah baiklah, kau tidak perlu mengusirku seperti ini" ujar Kenichi dengan nada dibuat kesal.


Seika terus mendorong tubuh Kenichi sampai keluar dapur tanpa memperdulikan kata-kata Kenichi.


"Akira bawakan pedangku, aku akan memotong tangan orang yang berani melihat tubuh wanitaku" teriak Kenichi sambil tersenyum samar.


Seika yang ingin kembali melanjutkan aktivitas yang beberapa kali tertunda kembali melonggokkan kepalanya ke lorong rumah.


"Hei!!" teriak Seika emosi menghentikan candaan Kenichi yang dibalas dengan tertawa.


...&&&...


Shigeo duduk di ruang kerjanya sambil membaca beberapa berkas di tangan, seorang laki-laki masuk dan membungkuk hormat kepadanya dan meletakkan sebuah amplop coklat diatas meja.


Shigeo mengeluarkan isi dalam amplop dan melihat beberapa photo Kenichi yang tersenyum bersama Seika yang berada di Harbor Land, beberapa photo bahkan menunjukkan bahwa mereka sedang menggandengan tangan. Seringaian muncul wajah Shigeo.


"Sepertinya aku bisa bermain sebentar dengan milikmu Kenichi" gumam Shigeo tersenyum evil.


"Ya. Ini akan menjadi sangat menarik" gumamnya kembali.


"Kerja bagus" ujar Shigeo kepada bawahan yang berdiri tegap di hadapannya. Sang laki laki itu hanya membungkuk hormat menyikapi pujian Shigeo.


...&&&...


Seika menghirup napas dalam-dalam seraya tersenyum, akhirnya ia bisa kembali bekerja, sangat tidak menyenangkan harus terus berada di rumah tanpa melakukan apapun.


Seika berjalan keluar rumah dengan langkah mantap. Beberapa laki laki yang berdiri di depan rumah langsung menyambut Seika dan mengatakan 'hati hati di jalan'.


Kenichi yang berdiri tidak jauh dari halaman depan menghampiri Seika sambil tersenyum.


"Mengapa kau masih menyediakan pengawal untukku?" tanya Seika tidak puas ketika melihat dua laki-laki yang berbeda dari pengawal sebelumnya.


"Aku hanya mengantipasi sesuatu" jawab Kenichi.


"Aku tidak akan mencoba kabur lagi kalau itu yang kau maksud" sungut Seika memasukkan bibirnya.


Kenichi tersenyum.


"Aku pergi" ujar Seika kesal menuju mobil yang telah menunggunya di luar pagar.


"Hati hati di jalan" ujar Kenichi tersenyum.


...&&&...


"Terima kasih sudah datang kesini, semoga lekas sembuh" ujar Seika berdiri dan membungkuk ke arah pasien lalu duduk kembali dan mencatat sesuatu di kertas diatas meja.


"Selamat sore, ada yang bisa saya ban..." ujaran Seika terputus ketika melihat Kenichi yang masuk ke ruangan. Seika menghela napas lelah.


"Apa apaan dengan reaksimu itu?" tanya Kenichi sedikit kesal melihat reaksi Seika.


"Mengapa kau kemari? Ini bukan tempat untuk menghabiskan waktu luangmu" jawab Seika malas.


"Aku kesini tentu saja untuk berobat" ujar Kenichi lalu memperlihatkan tangannya yang dibalut dengan kain putih yang ternodai darah.


Seika panik melihat darah ditangan Kenichi dan langsung memeriksa apakah luka tersebut parah atau tidak.


"Astaga, kenapa dengan tanganmu?" tanya Seika cemas.


"Tergores oleh pedang ketika latihan tadi" jawab Kenichi santai.


Seika mengambil botol alkohol, kapas dan perban dari lemari obat dan menyuruh Kenichi untuk duduk.


"Mengapa kau tidak berhati-hati?" omel Seika sambil membersihkan darah ditangan Kenichi dengan kapas berisi alkohol.


"Mungkin karena memikirkanmu?" jawab Kenichi bercanda.


"Itu tidak lucu Ken" ujar Seika kesal.


Kenichi tersenyum lembut menatap Seika yang sibuk membersihkan lukanya.


"Kau benar benar tidak mengingat bahwa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Kenichi pelan.


Seika menatap Kenichi lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Untuk apa aku berbohong, aku sungguh tidak ingat kita pernah bertemu dua tahun yang lalu" ujar Seika memberi penjelasan.


"Mungkin karena bukan peristiwa penting yang harus diingat" ujar Seika dengan nada bercanda namun tersirat sedih di dalamnya.


Kenichi tersenyum kecewa, mungkin peristiwa itu tidak penting bagi Seika namun baginya, itu adalah peristiwa besar yang tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya.


"Coba kau ceritakan bagaimana kita bertemu? mungkin aku bisa mengingatnya" ujar Seika sambil memperban tangan Kenichi.


Kenichi tersenyum. "Akan lebih baik jika kau mengingatnya sendiri, lagian itu bukan peristiwa yang besar jadi wajar kau melupakannya"


Seika menatap Kenichi sejenak, dari nada bicara laki-laki itu terdengar seperi ia kecewa karena Seika tidak mengingatnya. Namun berapa kali pun ia mencoba menginga. Ia tidak mendapatkan gambaran apapun di dalam pikirannya mengenai peristiwa itu.


"Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu kan?" tanya Kenichi mengalihkan topik pembicaraan.


"Sepertinya sudah, tidak ada pasien lagi yang datang" jawab Seika sambil menatap pintu ruangan.


"Kalau begitu kita akan pulang bersama" ujar Kenichi lalu mengenggam tangan Seika, menarik untuk ikut bersamanya.


"Aku masih belum mengecek obat apa saja yang perlu ditambah kuantitinya" ujar Seika sambil menarik tangannya.


"Apa perawatmu tidak bisa melakukannya?" tanya Kenichi sejenak.


"Dia bertugas untuk merekap total pasien yang berkunjung dan pemasukan hari ini, tidak banyak yang bekerja disini" jelas Seika.


Kenichi berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya mengerti.


"Baiklah, aku akan tunggu di luar, lakukan dengan cepat" perintah Kenichi lalu melangkah keluar dari ruangan Seika. Gadis itu hanya mencibir mendengar nada perintah Kenichi.


Beberapa saat kemudian Seika menyelesaikan pekerjaannya, lalu menyusul Kenichi yang sudah berada di dalam mobil.


"Apa Michio mengerjakan misi darimu lagi? Aku tidak melihatnya dari tadi pagi" Tanya Seika memulai pembicaraan.


"Dia sedang berada di klan Yamagi, anggota Yamagi begitu menyukainya" jelas Kenichi sambil menatap ke depannya.


Seika tersenyum, Michio memang sangat mudah bergaul jadi wajar jika banyak orang yang suka kepadanya.


"Ohya, besok aku akan terbang ke Seoul karena keperluan bisnis" ujar Kenichi menoleh ke arah Seika.


"Berapa hari kau akan disana?" tanya Seika


Kenichi menyipit matanya, menatap Seika dengan curiga.


"Kau sepertinya terlihat senang dengan kepergianku? Jangan coba untuk kabur lagi karena aku akan menemukanmu dimana pun kau berada" ujar Kenichi sambil menatap menyelidik.


"Aku tidak akan mencoba kabur, percayalah sedikit kepadaku" bantah Seika.


Kenichi tetap menatap Seika dengan seksama, memastikan apakah gadis di hadapannya berbohong atau tidak.


"Aku akan mempercayai yang kau katakan ketika aku pulang nanti kau masih berada di rumahku" ujar Kenichi.


Seika menghela napas pelan, sedikit mengerti mengapa Kenichi masih belum mempercayainya.