Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 11 - Menolong Kenichi



Pagi hari setelah sarapan bersama, Seika dan Kenichi berjalan menuju ke sebuah rumah kecil atau lebih tepatnya gudang yang jauh di halaman belakang. Seika sengaja hanya memakan sedikit sarapan karena nanti pasti ia akan memuntahkannya kembali. Anak buah Kenichi yang berjaga di depan gudang langsung membungkukkan badan mereka memberi hormat dan bingung melihat Seika yang berada di belakang pemimpin mereka.


"Bagaimana? Apa dia masih belum membuka mulutnya?" tanya Kenichi.


Akira yang duduk di kursi segera berdiri dan membungkuk hormat.


"Masih belum kumicho, dia sangat keras kepala" lapor Akira. Ia terkejut melihat Seika yang berdiri di belakang Kenichi.


Seika tersentak lalu menutup mulutnya melihat pemandangan mengerikan di depannya, ia mundur beberapa langkah ke belakang, seorang laki-laki diikat di sebuah tiang dalam keadaan pingsan, dengan darah yang mengenang di lantai. Tangannya di penuhi oleh luka bakar puntung rokok dan juga pahanya yang terluka seperti tertusuk benda tajam.


Kenichi berbalik badan dan langsung memeluk Seika, tinggi tubuhnya yang mencapai 190cm membuat kepala Seika tertutupi oleh dadanya


"Kau yakin akan melakukannya?" tanya Kenichi khawatir.


Ia memang sangat membutuhkan informasi tentang dimana koper itu berada namun melihat Seika yang ketakutan membuat Kenichi menjadi tidak tega.


Seika terdiam lama di dalam pelukan Kenichi. Pikirannya mencoba mengenyah pemandangan mengerikan yang baru saja ia lihat. Beberapa saat Seika menganggukkan kepala. Keputusan ini adalah hal yang paling tepat. Ia ingin membantu pria yang sedang memeluknya.


Kenichi menghela napas lalu melepaskan pelukannya, tetapi beberapa detik kemudian kembali memeluk Seika, ia masih ragu apakah ini keputusan yang tepat? tanyanya dalam hati.


Baik Akira maupun beberapa anak buah Kenichi yang juga berada di dalam gudang menatap bingung akan sikap bos mereka.


"Aku harus melakukannya, aku tidak apa-apa... mungkin?" ujar Seika tidak yakin.


"Apa kau bisa melakukannya tanpa melihat?" tanya Kenichi memastikan sesuatu.


Seika mengangguk. Walaupun tidak mengerti akan pertanyaan Kenichi.


"Tutup matamu" perintah Kenichi.


Seika menurutinya tanpa komentar.


Kenichi mengambil sepotong kain warna putih yang berada di kursi panjang, merobek lalu menutupi mata Seika.


"Aku akan menuntunmu" ujar Kenichi memegang lengan Seika dan menariknya untuk mengikuti langkah Kenichi.


"Kau siap?" tanya Kenichi memastikan.


"Sudah berapa lama laki-laki ini di sekap?" tanya Seika sejenak.


"Hampir satu minggu" jawab Kenichi.


Seika mengangguk tanda mengerti. Kenichi mendekatkan tangan Seika ke arah tangan laki laki pingsan tersebut.


Akira dan anak buah Kenichi menatap semakin heran. Apa yang sebenarnya terjadi?.


Seika tersentak ketika merasakan kulit dingin ditangannya lalu mulai menekan dan berkonsentrasi, ia bisa mempercerpat alur memori masa lalu orang yang disentuhnya jika ia berkonsentrasi tinggi, sehingga ia tidak begitu takut akan memori mengerikan yang masuk ke pikirannya, karena memori tersebut seperti kaset film yang dipercepat, kita mengetahui inti dari sebuah film namun tidak merasakan perasaan yang ingin disampaikan oleh film tersebut. Seperti itulah kira-kira yang dirasakan oleh Seika.


Seika bernapas susah payah, airmatanya mengalir karena sekelebat kejadian yang masuk ke pikirannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Kenichi cemas.


Seika mengangguk lalu berbalik badan dan melepaskan ikatan kain dari matanya kemudian menghapus airmata di pipinya.


"Aku meminta sesuatu sebagai balasan dari informasi yang aku berikan" ujar Seika menatap Kenichi.


"Tentu, kau boleh meminta apapun kecuali menjauh dari hidupku" janji Kenichi.


"Aku tidak akan meminta bebas darimu karena aku tau kau pasti akan menculikku lagi" ujar Seika kesal.


Kenichi tersenyum mendengar pengakuan Seika. "Jadi kau ingin apa?"


"Aku ingin kau membebaskan laki-laki ini dan lindungi dia dari orang yang menyuruhnya" ucap Seika.


Tatapan Kenichi berubah.


"Aku menolak" ujarnya sambil menatap tajam kepada Seika.


"Berarti kau tidak mendapatkan informasi apapun dariku" ujar Seika keras kepala.


Pandangannya bertemu dengan tatapan penasaran anak buahnya, mereka segera memalingkan wajah dengan cepat.


"Kalian boleh keluar" perintah Kenichi.


Para anak buah Kenichi termasuk Akira membungkuk hormat terlebih dahulu sebelum beranjak keluar gudang.


Sepeninggal anak buahnya, Kenichi kembali menoleh ke arah Seika.


"Mengapa kau membela laki laki itu?" tanya Kenichi dengan kesal. Apa-apaan dengan sikap perhatian itu?, gerutunya dalam hati.


"Dia melakukan semua itu bahkan sampai tidak membuka mulutnya, menahan siksaan dari kalian karena orang yang menyuruhnya mengatakan bahwa jika ia tidak melakukan semua itu maka keluarganya akan mati, jadi ini bukan kemauannya sendiri" jelas Seika.


Kenichi terkesima akan penjelasan Seika lalu tersenyum lembut, gadis itu masih sama dengan gadis yang ia temui dua tahun yang lalu, menolong orang tanpa pamrih, bahkan kepada orang yang tidak dikenalnya sekalipun.


...&&&...


Kenichi memerintahkan Akira dan beberapa anak buah lainnya untuk pergi ke lokasi yang Seika katakan, laki-laki si pencuri koper itu sudah di lepaskan dan dibawa ke rumah sakit. Para anak buah Kenichi bertanya-tanya mengapa kumicho mereka malah membebaskan tersangka dan bahkan sampai membawanya ke rumah sakit, ini baru pertama kalinya terjadi namun tentu saja mereka tidak berani mengutarakan perasaan mereka.


Kenichi berjalan masuk ke kamar Seika, senyumannya langsung mengembang melihat perempuan yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang sedang duduk di teras samping kamar. Ia memakai yukata hijau bermotif garis-garis.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Kenichi duduk disamping Seika.


Seika menatap horor ke arah Kenichi dan memutar bola matanya, sepertinya ia akan mati karena penyakit jantung jika terus berada di rumah ini, pikir Seika pasrah.


"Aku tidak memikirkan apapun" jawabnya lalu kembali memandang ke arah awan.


"Informasi yang kau katakan sangat tepat, aku masih tidak percaya kalau kau benar-benar bisa melihat masa lalu orang lain Seika" ujar Kenichi menopang kedua tangannya ke belakang dan menengadah melihat langit biru.


"Aku tau, memang mustahil mempercayainya. Tapi aku lega aku bisa berguna untukmu" ujar Seika tersenyum.


Kenichi terpana akan senyuman manis Seika.


Seika merasa malu di tatap dengan intens oleh Kenichi.


"Ma-maksudku kau bisa melindungi anak buahmu, ya seperti itu" jelas Seika gelagapan.


"Aku tau, aku cuma terpesona melihatmu tersenyum" ujar Kenchi sambil terus menatap Seika dengan lembut.


Pipi Seika memerah ketika mendengar rayuan gombal dari Kenichi, ia tidak terbiasa di rayu oleh laki-laki karena dari dulu ia memang menjaga jarak dengan makhluk berjenis laki-laki dan lagipula makhluk adam itu pun enggan mendekatinya karena perilaku anehnya. sembuan merah di pipi Seika menghilang ketika teringat sesuatu.


"Simpan rayuanmu kepada gadis-gadis yang ada di club malam " ujar Seika kesal, ia merasa seperti dipecundangi dengan mudah oleh Kenichi. Ia memang minim pengalaman tentang cinta namun jangan berpikir kalau dia bisa jatuh cinta dengan mudah.


Kenichi terdiam dan merutuki dirinya sendiri.


"Michio kemana? Aku tidak melihatnya dari tadi pagi?" tanya Seika mengalihkan topik pembicaraan.


"Dia sedang melakukan sesuatu" jawab Kenichi sekenanya.


"Kau melibatkannya ke dalam duniamu setelah apa yang ia alami dulu?" tanya Seika tidak percaya.


Kenichi tersenyum samar, Seika tau masa lalu Michio mungkin karena kemampuan yang ia miliki.


"Aku tidak melibatkannya, dia mengerjakan sesuatu tapi itu diluar dari bisnisku, mengapa kau selalu mencurigaiku?" tanya Kenichi sedikit kesal, semua orang di rumah ini mendapat perhatian dari Seika namun tidak untuknya.


Seika mengangkat bahu tak peduli. Salahkan kesan pertamamu yang buruk.


"Aku tidak mengenalmu jadi wajar aku mencurigaimu tapi sepertinya kau pria yang baik mengingat hal yang sudah kau lakukan kepada Michio dan anak buahmu" jawab Seika tersenyum.


"Kau melakukannya dengan baik" ujar Seika memuji dengan tulus.


Kenichi terkejut lalu menarik Seika ke pelukannya dan memeluknya dengan erat. Baru kali ini ada orang yang memujinya dengan tulus.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku" ujar Seika panik, jantungnya berdegup kencang, pipinya kembali memerah.


"Aku mencintaimu Seika, apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkanku, aku mohon" pinta Kenichi dengan suara lirih.


Seika tertegun dengan penuturan Kenichi, ia tidak tahu harus membalas apa pernyataan cinta Kenichi. jantungnya berdegup semakin cepat.