
Seika keluar dari mobil Kenichi lalu tersenyum ke arah laki-laki itu.
“Hati-hati di jalan” ujar Seika.
Kenichi melambai tangannya, menyuruh Seika untuk mendekat ke jendela mobil. Seika menurut dan sedetik kemudian Kenichi mengecup lembut bibir Seika dan tersenyum.
“Aku berangkat” ujar Kenichi. Mobil pun berangkat.
Seika mematung di trotoar jalan sambil memegang bibir dengan wajah memanas, kemudian menggelengkan kepalanya mencoba untuk fokus kembali.
Seika melangkah masuk ke dalam kliniknya namun di tengah jalan ia menutup mulut karena mendadak mual, lagi-lagi ia mual tanpa sebab. Akhir-akhir ini Seika merasa cepat lelah dan mual tanpa sebab berarti.
Sebuah pemikiran membuat Seika membulatkan matanya, ia juga belum menstruasi bulan ini. Ia segera melangkah masuk ke klinik untuk mengetes sesuatu.
“Shinnen omedetou gozaimasu Aiko sensei, Tolong jaga aku untuk tahun ini juga” ujar Aoi membungkukkan badannya.
“Shinnen omedetou gozaimasu Aoi, Tolong jaga aku selama tahun ini juga” jawab Seika tersenyum.
Seika melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, mengambil alat test pack dan masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Seika keluar kamar mandi sambil memandangi warna merah di huruf C (Control) dan T (Test). Ia memandang tidak percaya.
“Aku hamil” gumam Seika masih tidak percaya. Sebelah tangannya memegang perutnya.
Seorang pasien masuk ke dalam ruangan membuat Seika tersadar dan segera menyimpan test pack tersebut.
Seika duduk di kursi, menghela napasnya sejenak mencoba untuk bersikap tenang.
“Ohayo gozaimasu obaa-san, apa yang bisa saya bantu?” tanya Seika tersenyum.
...&&&...
“Otsukaresama deshita (Terima kasih atas kerja kerasnya) ” ujar Seika kepada Aoi.
“Otsukaresama deshita Aiko sensei” jawab Aoi.
Seika melambaikan tangannya ke arah Aoi lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.
“Kita akan kemana anee-san?” tanya Kenzo.
“Kita langsung pulang” jawab Seika.
Mobil melaju di jalan raya Kobe dengan kecepatan sedang.
Teringat sesuatu Seika mengeluarkan teleponnya dan menekan lama angka satu. Jantungnya berdegup kencang menunggu teleponnya diangkat.
Bagaimana reaksi Kenichi jika mengetahui aku hamil, benak Seika.
“Moshi moshi Kenichi” ujar Seika.
“Apa kau sudah berada di rumah?” tanya Seika dengan nada senang.
“Belum. Aku masih harus mengurusi beberapa hal, ada apa ? kau tampak senang” jawab Kenichi di seberang telepon.
Seika menghela napas kecewa.
Lebih baik aku memberitahunya di rumah saja, putus Seika dalam hati.
“Apa sampai larut malam? Aku ingin memasak untukmu” ujar Seika senang.
“Ada apa Seika, kau ingin merayakan sesuatu?” tanya Kenichi di seberang telepon.
“Ya. Aku ingin merayakan sesuatu denganmu” ujar Seika pelan. Ia tersenyum senang.
“Hei, kau membuatku penasaran. Kau ingin merayakan apa?” tanya Kenichi.
“Nanti saja dirumah, kau pasti akan terkejut” ujar Seika penuh makna, jantungnya semakin berdegup kencang. Tidak sabar melihat raut wajah Kenichi jika mengetahui ia mempunyai janin di perutnya.
“Baiklah, aku akan pulang sebelum makan malam” ujar Kenichi.
“Baiklah” ujar Seika tenang.
“Ken..”
“Ya”
“Aku mencintaimu” ujar Seika pelan setengah berbisik.
“Aku juga mencintaimu Seika” ujar Kenichi lembut.
Seika memutuskan telepon lalu tersenyum senang sendiri, namun senyuman menghilang ketika mobil berhenti mendadak.
“Kenapa berhenti Kenzo?” tanya Seika.
“Sebaiknya anda di mobil saja anee-san” ujar Kenzo lalu mengangguk kepada Botan yang duduk disampingnya.
Mereka pun keluar mobil. Seika melihat ke kaca depan, menatap beberapa mobil berhenti menghalangi mobilnya.
Tanpa aba-aba mereka langsung menyerang Kenzo dan Botan dengan benda tajam, Eiji dan Gorou yang berada di mobil belakang segera keluar dan membantu Kenzi dan Gorou.
Mata Seika terbelalak melihat pertarungan tersebut, tanpa pikir panjang ia keluar mobil dan membantu pertarungan yang tidak seimbang tersebut.
Seorang laki-laki menyerang Seika, namun dapat di hindari oleh gadis itu. Seika langsung membalas serangan dengan menendang tinggi ke wajah laki-laki itu. Sang pria langsung jatuh terjerembab di aspal.
Perlahan-lahan, pertarungan yang semula tidak seimbang menjadi seimbang bahkan pihak lawan kewalahan menyerang anak buah Kenichi yang memang cukup terlatih.
Seika tidak banyak membantu karena setiap ada lawan yang ingin menyerang di hentikan oleh Kenzo ataupun Botan dengan sigap.
Door!!
Suara tembakan membuat Seika terkejut dan menghentikan serangannya, matanya membulat ketika melihat Botan yang roboh sambil memegang perutnya.
“Hei ojou-sama. Kau harus ikut dengan kami” ujar seorang laki-laki yang baru saja sampai. Ia memegang pistol yang mengacung ke arah Botan.
“Kalau kau tidak ingin melihat anak buahmu mati satu persatu, kau harus ikut denganku” ujar laki-laki itu.
Kenzo, Eiji dan Gorou yang ingin mengeluarkan pistol dari balik jas mereka mengurungkan niat mereka karena semua lawan mereka lebih dahulu mengeluarkan senjata tersebut.
Seika mengangkat kedua tangannya yang bergetar pelan. Wajahnya sekuat tenaga ia jaga supaya tetap tenang.
“Anee-san jangan dengarkan mereka” ujar Eiji.
Door!!
Sebuah tembakan bersarang di kaki Eiji membuat Seika memekik ketakutan, airmata yang sekuat tenaga ia tahan mengalir tanpa bisa cegah.
“Jangan melawan karena aku tidak akan segan membunuh kalian” peringat laki-laki berkumis tersebut.
Seika menelan ludah.
“Baiklah, aku akan ikut kalian. Tolong lepaskan mereka” ujar Seika dengan nada bergetar.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
“Anee-san jangan pedulikan kami. Jangan turuti mereka” ujar Eiji yang menahan sakit.
Seika menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin ia membiarkan keempat laki-laki itu mati hanya karena dirinya.
Seika melangkah gontai kepada laki-laki itu, dua orang laki-laki langsung mencengkeram lengan Seika dan menarik gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.
Beberapa mobil tersebut langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
...&&&...
Kenichi memukul Gorou dan Kenzo dengan kalap, pikirannya menggelap dan ia tidak bisa berpikir jernih.
“Mengapa kalian bisa sampai kehilangan Seika?” tanya Kenichi berteriak.
Napasnya terengah-engah karena kelelahan memukul Gorou dan Kenzo, kedua anak buahnya tersebut terbatuk-batuk dengan wajah babak belur. Sedangkan Eiji dan Botan yang terkena peluru segera di larikan ke rumah sakit.
“Maafkan kami kumicho, mereka sangat banyak” ujar Kenzo sambil berlutut.
Kenichi tidak mendengarkan perkataan Kenzo, ia mengeluarkan pistol dan mengacungkan ke kepala Kenzo dengan penuh emosi.
“Kenichi-san” ujar Akira dan Michio menghalangi.
“Jangan membela mereka, mereka hanya sampah tidak berguna. Menjaga wanitaku saja tidak becus” ujar Kenichi penuh amarah.
Kenzo dan Gorou hanya diam. Mereka sudah menduga bahwa kegagalan mereka menjaga Seika akan di balas dengan nyawa mereka sendiri.
Kenichi kembali mengacungkan pistolnya kepada Kenzo, lama laki-laki itu berposisi seperti itu sampai akhirnya ia melemparkan pistol kepada Kenzo dengan kesal. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. Berbagai pikiran buruk berputar-putar di kepalanya.
“Informasikan ke semua Shatei untuk mencari keberadaan Seika” ujar Kenichi.
“Baik kumicho” ujar Akira lalu segera berlalu dari halaman depan tersebut.
...&&&...
“Aku mengerti Akira-san. Aku akan segera mencari keberadaan Shinoda anee-san” ujar Yamagi di teleponnya.
“Ada apa sayang?” ujar Akane.
Yamagi menoleh ke arah Akane dan tersenyum.
“Shinoda anee-san di culik. Mereka cukup gila sampai berani menculik wanita dari pemimpin besar kita” ujar Yamagi menatap tajam.
Akane menutup mulutnya tidak percaya.
“Benarkah?” tanya Akane memastikan.
Yamagi menganggukkan kepalanya.
“Aku akan mengumumkan ke semua anggota supaya mereka segera mencari Shinoda anee-san” ujar Yamagi. Akane mengangguk setuju.
...&&&...
“Kami mengerti Akira-san. Kami segera menginformasikannya kepada anak buah kami untuk mencari Shinoda anee-san” ujar Kotoha, pemimpin klan Shizioka.
Laki-laki itu menutup teleponnya dan segera menekan beberapa nomor lalu menempelkan kembali telepon ke telinganya.
“Kumpulkan orang orang kepercayaan kita, beritahu untuk mencari keberadaan Seika Shinoda ke seluruh daerah kekuasaan kita, jangan sampai informasinya bocor kau mengerti?” perintahnya.
Kotoha mematikan sambungan telepon lalu menghela napas pelan.
Pihak lawan tentu saja akan menggunakan kesempatan ini untuk berbalik menyerang jika mereka sampai tahu, ucap Kotoha dalam hati.