
Seika menatap ke sekeliling daerah Kabukicho yang tampak tidak terlalu ramai karena secara harfiah daerah Kabukicho hanya ramai pada malam hari.
Kabukicho dikenal juga dengan istilah red light district karena menjadi salah satu tempat prostitusi terbesar yang terkenal di Jepang.
Seika sengaja cuti kerja dan meminta dokter yang berada di klinik lain untuk menggantikannya, ia bahkan memohon untuk itu karena ada hal yang sangat mendesak yang ingin ia kerjakan.
Ia harus tau mengapa Michio memanggilnya anee-san dan siapa kumicho-san yang Michio bicarakan di telepon. Seika mengepal tanga dengan semangat.
Hari ini aku akan menemukan keganjilan itu. Maafkan aku Michio karena meragukanmu, putus Seika dalam hati.
“Sial, aku tidak tahu dimana sebenarnya Michio akan bertemu dengan orang itu” gumam Seika kesal.
Ia berdiri di depan sebuah gedung yang masih tutup sembari melihat ke sekelilingnya. Beberapa saat ia menunggu, ia melihat Michio yang sedang melangkah di seberang jalan, dengan panik Seika mencoba menyembunyikan dirinya di belakang papan iklan yang ada di depan gedung tersebut. Berharap Michio tidak menyadari kehadirannya.
“Astaga, apa yang kulakukan sebenarnya”gumam Seika merasa bersalah.
Seika mengintip dan melihat Michio yang sedang berdiri menunggu orang lain.
Sebuah mobil berhenti di depan Michio dan keluarlah dua laki-laki bersetelan jas dan bahkan salah satunya memakai kacamata hitam. Mata Seika membulat.
Kenapa Michio berhubungan dengan yakuza? Apa laki-laki itu adalah bosnya?, pikir Seika.
Seika membulatkan matanya ketika melihat laki-laki itu melepaskan kacamata hitamnya dan menoleh ke samping untuk memeriksa sesuatu.
"Masaka, kore wa...(jangan bilang itu) " ucap Seika terkejut.
Laki-laki itu adalah Kenichi yang Seika temui di restoran tempat biasanya ia makan beberapa hari yang lalu.
“Apa yang sedang kau lakukan nona?” tanya seorang laki-laki berpakaian berandalan yang memakai kalung rantai berwarna emas.
Seika kaget dan segera berpaling ke belakang.
“Ak.. aku hanya lewat di daerah sini” jawab Seika takut.
“Ada apa aniki?” tanya seorang laki-laki lainnya yang berbadan lebih kecil.
“Perempuan ini mencoba memata-matai kumicho kita” jawab laki-laki berpenampilan arogan tersebut.
“Tidak. Aku.. aku hanya lewat saja” ujar Seika semakin ketakutan. ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Seika melangkah cepat menjauhi kedua laki-laki itu. Laki-laki bertubuh besar langsung mencengkeram lengan Seika. Gerakan tiba-tiba tersebut membuat Seika reflek memegang lengan laki-laki itu dengan kedua tangannya lalu menikung kaki laki-laki itu dan membantingnya ke jalan setapak. Suara berdebam yang terdengar kuat memperlihatkan bahwa Seika sangat kuat membanting laki-laki itu, sang pria bertubuh besar itu pingsan seketika.
Seika terkejut dengan beladiri yang baru saja ia lakukan, ia melihat kedua tangannya dengan bingung.
Ini bukan beladiri Aikido, pikir Seika.
“Berani-beraninya kau membanting aniki. Kau ingin mati ya” bentak laki-laki bertubuh lebih kecil itu setengah berteriak.
Ia ingin memukul Seika tepat diwajahnya namun sebuah tangan menghentikan gerakannya.
“Cukup sampai di sini” ujar Kenichi seraya menatap tajam kepada anak buahnya.
“Kumicho” ujar laki-laki itu membungkuk rendah badannya.
Seika mematung di tempatnya berdiri, ia sangat tau laki-laki dibelakangnya adalah laki-laki yang pernah ia kejar beberapa hari yang lalu.
Mati sudah dirinya hari ini, ucap Seika dalam hati penuh ketakutan.
Ia tidak akan menyangka bahwa laki-laki yang ia kejar adalah pemimpin yakuza suatu kelompok. Karena terlalu terkejut Seika bahkan tidak berani membalikkan tubuhnya. Sebuah pemikiran ingin kabur tercipta di dalam kepalanya, ia segera melangkah cepat namun gerakan tertahan karena Kenichi sudah memegang lengannya terlebih dahulu.
Mau tidak mau Seika berbalik badan seraya menundukkan pandangannya, terlalu menakutkan melihat wajah seorang yakuza.
“Onee-san?, apa yang kau lakukan disini?” tanya Michio.
Seika mendongak dan menatap Michio yang menatap terkejut kepadanya. Ia hanya tersenyum bersalah, tidak tahu harus menjawab apa lalu melirik kepada Kenichi yang menatap datar kepadanya.
...&&&...
Mereka – Kenichi, Seika, Michio dan Akira – berpindah tempat menuju salah satu gedung milik Kenichi yang ada di daerah Kabukicho.
Michio menganggukkan kepalanya.
Seika menatap ke sekeliling ruangan yang terlihat seperti bar karena bangku dan meja-meja yang tersusun terbalik karena masih belum beroperasi. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam sebuah bar, walaupun bar tersebut begitu sunyi.
Seika sedikit terkejut dengan perubahan dirinya, ia teringat perkelahiannya dengan laki-laki bertubuh besar beberapa saat yang lalu dan sangat yakin kalau gerakan beladiri yang ia lakukan bukan Aikido melainkan Judo. Namun mengapa ia bisa melakukan beladiri yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya.
Dan sekarang ia sama sekali tidak merasa takut akan suasana di sekitarnya, walaupun ia duduk bersama dengan pemimpin yakuza suatu kelompok. Seika semakin bingung dengan dirinya sekarang ini. Ini terlalu berbeda dengan apa yang ia rasakan setahun yang lalu.
“Onee-san?” panggil Michio.
“Ya?” panggilan Michio membuat Seika tersadar dari pikiran seriusnya.
“Onee-san belum menjawab untuk apa kau berada di daerah ini? Bukankah onee-san pergi bekerja?” tanya Michio.
Seika tersenyum tidak enak.
“Aku.. Maafkan aku Michio. Tadi malam aku mendengar percakapanmu. Jadi aku hanya ingin memastikan kau tidak terlibat dengan yaku..” penjelasan Seika terputus ketika melihat ekspresi datar yang Kenichi perlihatkan.
Jaga mulutmu Seika. Apa kau ingin mati sekarang juga, dasar bodoh, umpat Seika dalam hati.
“Ahem.. Kita belum berkenalan. Kenalkan namaku Seika Aiko” ujar Seika mengalihkan pembicaraan. Ia membuka sarung tangannya dan mengulurkan tangannya ke arah Kencihi.
Kenichi menatap tangan Seika.
“Kenapa kau melepaskan sarung tanganmu?” tanya Kenichi.
Seika menatap tangannya. “Aku mencoba bersikap sopan. Ada yang salah?” tanya Seika tidak mengerti.
Lama Kenichi menatap tangan Seika lalu perlahan mengulurkan tangannya, berjabat tangan dengan Seika. Walaupun hanya sejenak.
“Namaku Kenichi Shinoda” ujar Kenichi dengan rahang mengeras.
Wajahnya memang terlihat tenang namun hatinya, hatinya memberontak ingin memeluk Seika saat itu juga. Ia bahkan kesusahan dalam meredam keinginan yang menggebu-gebu.
Seika membulatkan matanya.
Kenichi Shinoda? Ken..
“Kalau begitu aku permisi, aku harus melanjutkan pekerjaanku” ujar Kenichi lalu berdiri.
Tanpa sadar Seika mencekal lengan Kenichi membuatnya terkejut dan menepisnya dengan cepat. Seika tersadar akan gerakannya.
”Ada apa Aiko-san?” tanya Kenichi setelah mencoba tenang.
Terlalu beresiko jika Seika dapat melihat masa lalunya, walaupun Michio mengatakan bahwa kemampuan gadis itu menghilang seiring dengan hilang ingatannya namun ia tetap harus waspada .
Seika menyerngit ketika merasakan jantungnya berdetak sakit ketika mendengar Kenichi memanggilnya ‘Aiko-san’. Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya merasa sakit.
“Tidak ada” ujar Seika dengan nada kecewa tanpa ia sadar.
Kenichi menghela napas pelan berusaha menentramkan hatinya yang semakin ingin memeluk gadis yang begitu ia cintai sekarang juga. Ia melangkah pergi diikuti oleh Akira.
“Ayo kita pulang onee-san” ujar Michio yang sedari tadi hanya diam saja.
Seika menganggukkan kepalanya lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan.
Memanggilmu Aiko membuat hubungan kita seperti menjauh.
Seika menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang begitu familiar di kepalanya, tidak ada siapa pun di ruangan tersebut lalu mengapa ia seperti mendengar suara seseorang. Seika menghela napas panjang.
“Sepertinya aku memang harus memeriksa lagi kondisiku” gumam Seika.