
"Selamat datang di kediamanku, ini pertama kalinya kau kemari" ujar Shigeo merentangkan tangannya menyambut kedatangan Kenichi sambil tersenyum senang.
"Dimana Seika?" tanya Kenichi to the point.
Kenichi datang bersama dengan Akira, Kaede dan beberapa anak buahnya yang sebagian berjaga diluar rumah.
Shigeo tersenyum lebar.
"Kau begitu menyukai Seika sampai terbang langsung kemari dari Seoul, apa menyenangkan disana?" tanya Shigeo bercanda.
"Aku tanya dimana Seika?" tanya Kenichi kembali dengan menekan setiap kata-katanya.
Shigeo masih tersenyum senang.
"Dia ada didalam, masuklah. Aku akan menyunguhkan teh yang enak untukmu" jawab Shigeo sambil mempersilahkan Kenichi untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kenichi menatap tajam kepada Shigeo lalu berjalan masuk ke dalam rumah kelompok Sumiyoshi-kai, percuma ia bersikeras karena Shigeo akan semakin mempermainkannya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Kenichi langsung ke pokok permasalahan, tidak mungkin ia menyandera Seika jika tidak menginginkan sesuatu.
Shigeo tertawa pelan.
"Kau sangat mengenal diriku rupanya" komentar Shigeo.
Tatapan Shigeo berubah menjadi serius. Waktunya membicarakan bisnis, awalnya ia memang tidak ingin melepaskan Seika namun melihat kondisi kelompoknya yang terpojok oleh kelompok Komiyoshi-kai yang ingin menghancurkan kelompok yang ia pimpin membuat Shigeo menahan keinginan pribadinya.
"Aku menginginkan berkas tentang kepemilikan saham dan kekuasaan di daerah Suminoe-ku dan Taicho-ku" ujar Shigeo.
Kenichi tersenyum sinis, ia sudah menduga bahwa Shigeo pasti menginginkan berkas tersebut, karena kedua daerah tersebut berdekatan dengan wilayah kekuasaan kelompok Sumiyoshi-kai.
"Jadi kau yang menyuruh anak buahmu untuk mencuri berkas itu dariku?" tuduh Kenichi, Shigeo masih sama seperti dulu. Licik.
Shigeo menopang dagunya, berpikir sejenak lalu menyipitkan matanya.
"Aku tidak ada hubungan dengan pencurian berkas yang kau bicarakan, kau tau walaupun aku licik aku masih punya akal sehat, jadi tidak mungkin aku mencuri sesuatu yang berharga dari kelompok Yamaguchi-gumi" jelas Shigeo membantah tuduhan Kenichi.
Mana mungkin ia melakukan hal gila dengan mencuri properti kelompok Yamaguchi-gumi yang notebene adalah organisasi yakuza terbesar di jepang. Ia masih ingin kelompoknya tetap utuh.
Kenichi mengerutkan keningnya, melihat betapa seriusnya Shigeo berbicara, Kenichi yakin kalau bukan Shigeo pelakunya. Lalu siapa yang menyuruh laki-laki tua itu untuk mencuri koper?, tanya Kenichi dalam hati.
"Kembali ke permasalahan awal, apa kau mau menyerahkan berkas itu kepadaku Kenichi?" tanya Shigeo.
"Tentu saja, aku memang sudah mempersiapkannya. Aku sudah menduga kau akan meminta berkas itu dariku" jawab Kenichi tersenyum sinis.
Kenichi menoleh kepada Kaede, anak buahnya langsung menyerahkan sebuah amplop besar yang cukup tebal kepada Kenichi.
Shigeo tersenyum sembari menaikkan alisnya.
"Okay, deal" ujar Shigeo tersenyum menang.
"Aku menolak" teriak Seika yang sudah berdiri didepan pintu pembatas ruang tamu dengan ruang lainnya.
Disamping kiri kanannya terdapat dua orang laki-laki yang mencoba menahan lengannya. ia menghempas kasar tangan kedua orang laki-laki itu.
Baik Kenichi maupun dengan Shigeo terkejut dengan penuturan Seika.
"Aku tidak akan keluar dari rumah ini, jadi simpan saja berkasmu itu" ujar Seika kembali. Ia menatap penuh keyakinan, mengapa mereka menjadikannya seperti sebuah properti yang bisa ditukar dengan barang lainnya dan ia juga tau jika berkas itu jatuh ke tangan Shigeo maka anak buah Kenichi tidak akan selamat.
Seika tidak ingin hanya karena dirinya, Kenichi mengorbankan banyak anak buahnya, itu tidak sebanding. Jadi ini adalah keputusan yang tepat untuk saat ini.
"Jangan bercanda Seika" ujar Kenichi dengan nada rendah. Menunjukkan betapa tidak sukanya perkataan gadis di hadapannya.
"Aku tidak bercanda, mulai saat ini aku akan tinggal disini" ujar Seika tanpa berkedip sedikitpun menunjukkan bahwa ia sangat serius dengan perkataannya.
"Seika" panggil Kenichi memperingatkan.
"Pokoknya tidak ada pertukaran apapun, ini hidupku jadi aku berhak memutuskan sendiri aku akan tinggal dimana" ujar Seika lalu pergi meninggalkan ruang tamu.
Kenichi berdiri ingin mengejar Seika namun anak Shigeo mencegahnya, Kenichi yang sedang kesal segera mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jasnya dan mengacungkan ke arah laki-laki didepannya.
Gerakan Kenichi membuat anak buah Shigeo maupun anak buahnya ikut mengacungkan pistol mereka satu sama lain, suasana tegang tak terhindarkan, beberapa saat lamanya mereka saling menatap waspada satu sama lain dengan pistol teracung.
"Turunkan pistol kalian" perintah Shigeo terlebih dahulu. Ini tidak seperti skenario yang ia rencanakan.
"Aku akan membujuk Seika untuk mengubah keputusannya" ujar Kenichi sejenak.
"Kau tidak bisa Kenichi. Apa kau tidak melihat betapa seriusnya wajah Seika?" tanya Shigeo.
Kenichi terdiam. Memang benar, Seika sangat yakin akan ucapannya, baru kali ini gadis itu berbicara tanpa takut sedikit pun.
"Kalau begitu izinkan aku untuk bertemu dengannya" ujar Kenichi bernegosiasi.
Shigeo mengangguk lalu menyuruh salah satu anak buahnya untuk membawa Seika kembali. Seorang laki-laki langsung menjalani perintahnya.
"Sepertinya Aiko-san tidak mau menemui Kenichi-san waka (tuan muda) " lapor laki-laki tersebut yang telah kembali ke ruang tamu.
"See, I told you" ujar Shigeo seperti sudah menduga bahwa Seika tidak akan mau bertemu dengan Kenichi.
Kenichi diam sesaat. Pikirannya sedang kalut walaupun raut wajahnya tetap tenang. Sebenarnya Kenichi tau apa alasan Seika tidak ingin dibebaskan, gadis itu terlalu baik sampai mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan anak buahnya meskipun ia tidak mengenal anak buahnya yang bertugas di distrik Suminoe dan Taicho.
"Aku akan kembali lagi" ujar Kenichi kemudian setelah berpikir beberapa lama.
Dengan menahan kesal Kenichi berjalan keluar rumah Shigeo dan masuk ke dalam mobilnya.
"Shit , aku tidak mengerti cara berpikir gadis itu" gerutu Kenichi.
Mobil mercedes benz melaju di jalan raya Osaka dengan kecepatan sedang.
...&&&...
"Kenichi sudah pulang. Aku tidak menduga kau bakal menolak tawaran kebebasan dirimu sendiri" ujar Shigeo yang menyandar di sisi pintu kamar.
Seika terperanjat dengan suara Shigeo lalu menghapus cepat airmatanya. Ia hanya diam.
"Kau mengorbankan dirimu sendiri untuk kepentingan Kenichi? Kau sangat mencintai laki-laki itu ya?" tanya Shigeo sambil menatap kecewa kepada Seika.
Seika masih diam, ia memang mulai mencintai Kenichi namun alasannya melakukan ini bukan karena cintanya kepada Kenichi tapi karena nalurinya yang tidak tega akan ada orang yang terbunuh jika ia bebas dari tempat ini.
"Seandainya saja aku lebih dulu bertemu denganmu" gumam Shigeo pelan.
Seika menoleh bingung akan gumaman Shigeo yang tidak begitu jelas. Laki-laki itu hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa" ujar Shigeo lalu beranjak dari kamar tidur Seika.
...&&&...
Shigeo sedang berada di beranda kamarnya yang berada di lantai dua, ia duduk di sebuah kursi sambil memegang gelas yang berisi wine. Ia ingin menenangkan pikirannya dengan alkohol.
Shigeo tidak percaya bahwa ia merasakan jatuh cinta dan patah hati pada hari yang sama, matanya menatap jauh ke arah rumah penduduk Osaka dengan tatapan nanar.
Seika. Gadis biasa yang berhasil menyentuh hati gelapnya dan membuatnya mengalami patah hati untuk pertama kalinya secara bersamaan. Jika kenyataannya hanya Kenichi yang mencintai Seika, ia mungkin masih bisa mengambil gadis itu dari Kenichi namun berbeda ceritanya jika Seika sendiri yang jatuh cinta kepada Kenichi.
Shigeo menyisip pelan wine merah lalu menghela napas panjang.
"Waka" panggil anak buahnya.
Shigeo menoleh ke arah laki laki tersebut. "Apa kau sudah mengantar makan malam untuk Seika?" tanya Shigeo.
"Sudah waka. Anda juga harus makan malam waka" ujar laki-laki itu.
Shigeo hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran anak buahnya, pandangannya kembali kedepan.
"Apa kau pernah jatuh cinta dan patah hati bersamaan Takeshi?" tanya Shigeo sambil menatap menerawang.
"Belum pernah waka" jawab laki laki yang bernama Takeshi.
"Haha.. Kau laki-laki yang beruntung" ujar Shigeo terkekeh lalu menyisip kembali minuman beralkohol yang ada ditangannya.
"Waka" panggil Takeshi.
"Aku tidak mabuk jika itu yang ingin kau katakan, bisakah kau pergi? Aku ingin sendirian" ujar Shigeo pelan.
Takeshi membungkuk hormat lalu beranjak keluar dari kamar Shigeo. Laki laki itu menghela napas panjang.