
Seika berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan wajah cemas, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun tidak-ada tanda tanda kemunculan Michio di rumah Shigeo.
Ia sudah memakai kemeja dan celana kain yang ia pakai saat Shigeo menculiknya.
"Apa aku salah tempat?" tanya Seika kepada dirinya sendiri.
Karena sangat panik, Seika jadi tidak bertanya apapun kepada Michio mengenai pelarian dirinya, ia merutuki dirinya karena begitu bodoh tidak menanyakan hal sepenting itu.
Seika melirik ke arah pintu kamarnya dengan waspada, semenjak siang tadi ia tidak bertemu dengan Shigeo, sepertinya ia sedang tidak berada di rumah karena Takeshi yang notabene anak buah kepercayaannya juga tidak menemuinya. Hal itu membuat Seika menjadi sedikit lega karena tidak harus berhadapan dengan Shigeo jika melarikan diri nantinya.
Sebenarnya Seika tidak enak hati melarikan diri karena selama berada di rumah ini, Shigeo memperlakukannya dengan baik. Tapi walaupun seperti itu. Tempatnya adalah di sisi Kenichi.
Senyuman Seika mengembang ketika mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan bertemu dengan Kenichi. Tidak terbantahkan bahwa ia memang sangat merindukan laki-laki itu.
Suara ketukan di jendela membuat lamunan Seika tersadar, mata terkejut ketika melihat Michio yang melambaikan tangannya di luar jendela. Ia langsung membukakan jendela.
"Maaf tidak tepat waktu, anee-san apakah kau sudah siap?" tanya Michio berbisik.
Seika menganggukkan kepalanya lalu melirik pintu kamar sejenak sebelum melompat keluar jendela.
Mereka berlari ke arah pintu pagar samping rumah yang tidak jauh dari kamar Seika. Michio mengeluarkan kawat kecil dan mulai membuka gembok pintu pagar. Seika menunggu dengan panik.
"Berhenti sampai di situ" teriak seorang laki-laki yang berada di belakang sambil mengacungkan pistolnya.
Seika terkejut dan membulatkan matanya, ia bahkan hampir tidak bisa bernapas.
"Angkat tangan kalian dan berbaliklah, jangan berpikir untuk melawan karena aku tidak segan-segan menembak kalian" perintah sang lelaki.
Shit, gerutu Michio pelan.
Berlahan Michio berbalik dan menatap datar kepada laki laki yang memakai jas dengan pistol ditangannya. Menghela napas kesal, tidak ada ketakutan sedikitpun yang terpencar dari matanya.
Laki-laki tersebut berjalan dengan waspada ke arah Seika yang masih berdiri mematung, baru beberapa langkah dia melangkah sebuah pipa besi menghantam kepalanya dari belakang.
"Akira-san, kau terlambat" ujar Michio bernapas lega.
"Maaf, mereka tidak mau melepaskanku begitu saja" jawab Akira dengan wajah datar lalu melirik ke sekelilingnya dan menganggukkan kepalanya kepada Michio. Mengisyaratkan bahwa keadaan sudah aman sekarang.
"Ayo anee-san"
Michio menarik tangan Seika ketika gadis itu masih shock dengan apa yang terjadi, mereka membuka gembok dan berlari ke arah mobil yang sudah menunggu mereka di ujung jalan.
"Berhenti" teriak seorang laki-laki di belakang mereka sambil melepaskan tembakan ke arah Seika namun meleset.
Langkah Seika tiba-tiba terhenti mendengar letusan pistol yang sangat dekat dengannya, kakinya bergetar hebat. Ia begitu takut walaupun hanya untuk menggerakan tangannya saja. Michio mengambil pistol dari balik kantong celananya dan balik menembak beberapa orang yang mengejarnya.
Ditarik tangan Seika dengan cepat, mereka berbelok ke sebuah lorong sempit dan terus berlari keluar dari lorong kecil dan masuk ke lorong lainnya. Anak buah Shigeo masih mengejar mereka.
Para lelaki itu tidak menembak lagi karena mereka sudah memasuki kota yang terdapat pos-pos polisi di daerah tersebut.
Michio dan Seika terus berlari ke arah lorong kecil diantara gedung-gedung namun di pertengahan jalan Seika terjatuh karena tidak sanggup lagi berlari. Napasnya terengah-engah. Wajahnya memerah karena kesusahan dalam bernapas.
"Anee-san tidak apa apa?" tanya Michio cemas yang juga terengah-engah.
Seika tidak mampu menjawab pertanyaan Michio, ia bernapas dengan susah payah bahkan terbatuk-batuk karena terlalu lelah berlari.
Michio melihat ke sekeliling sejenak lalu menarik Seika untuk berdiri.
"Ayolah anee-san, kita akan ketahuan kalau berhenti disini" ujar Michio ketika mendapati Seika kembali terjatuh tidak bertenaga.
Michio terus menarik tangan Seika untuk berdiri, dengan susah payah Seika mencoba berdiri dan berjalan pelan ke sebuah tempat sampah yang berukur besar lalu duduk bersembunyi.
"Anee-san kau harus tetap disini, jangan kemana-mana apapun yang terjadi, mengerti?" tanya Michio memastikan.
Seika mengangguk lemah, ia masih belum tenang dari lelahnya berlari.
Michio meninggalkan Seika dan berlari ke ujung lorong untuk mengecoh anak buah Shigeo yang mengikutinya.
Seika bernapas tersendat-sendat, airmatanya mengalir pelan tanpa isakan, ia terlalu takut untuk bersuara, ia berjongkok disamping tempat sampah dan menunggu untuk waktu yang cukup lama.
Beberapa saat setelah ia merasa tenang walaupun masih menangis, Seika menggerakkan badannya untuk mengintip ke ujung lorong dari balik tempat sampah, tidak ada seorang pun dilorong tersebut kecuali dirinya, ia kembali bersandar di dinding sambil menangis.
Suara seperti orang terjatuh ke tanah membuat Seika terkejut dan mengintip dari balik persembunyiannya lalu panik ketika melihat Michio lah yang terjatuh, ia berlari menghampiri Michio untuk memeriksa napas serta detak jantung pemuda tersebut.
Namun jantungnya yang berdegup sangat keras membuatnya kesusahan memastikan keadaan Michio dan tiba-tiba kepalanya yang didera sakit yang sangat hebat membuatnya terjatuh berlutut. Ia memegang kepalanya yang terasa seperti mau pecah.
Sekelebat kejadian muncul di dalam pikirannya, menghantamnya bertubi-tubi, membuat Seika pingsan disamping Michio.
...&&&...
2 Tahun yang lalu
Seika merutuk dan memaki pelan sepanjang jalan, lagi-lagi ia mengalami pelecehan di kereta api membuatnya memutuskan untuk turun di stasiun selanjutnya walaupun stasiun selanjutnya bukan tempat tujuan pemberhentiannya.
"Dasar ossan (paman) gila, sudah tua masih juga mesum, sial" gerutu Seika emosi.
Tugasnya hanya memeriksa dan memberikan resep kepada pasien tanpa bergabung di meja operasi, tapi hari ini ia mendapat banyak pasien yang mengeluh diare dan penyakit lambung membuatnya baru mendapat jatah pulang larut malam.
Seika berhenti di jalan raya yang biasa ia lewati, butuh waktu lebih lama jika ia melewati jalan besar dan itu berarti ia harus memotong jam tidurnya barang satu atau dua jam. Tidak. Ia sudah sangat kelelahan jadi ia tidak ingin menambahkan lelahnya.
Seika menghela napas panjang akhirnya ia memilih lorong sempit itu yang merupakan jalan pintas ke apartemennya walaupun lorong sempit itu terkenal berbahaya karena keberadaan yakuza atau para yankee yang akan mencegat orang-orang yang berjalan ke lorong tersebut.
Seika melirik jam ditangannya, sudah hampir tengah malam. Mau tidak mau ia memberanikan diri untuk masuk ke lorong sambil merapalkan sugesti-sugesti yang menenangkan pikirannya.
Seika terus berjalan dan melihat waspada ke arah sekelilingnya, lorong sempit tersebut memiliki cahaya temaram karena hanya beberapa lampu kecil yang bergantung di dinding.
Langkah Seika terhenti ketika melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di tanah sambil bersandar di dinding gedung, Seika semakin terkejut karena laki-laki itu memegang sepucuk pistol di tangan kanannya.
Tubuh Seika bergetar lalu dengan gerakan pelan, ia berbalik badan dengan cepat mencoba untuk menjauh dari laki-laki tersebut, ia menoleh sedikit ke belakang memastikan bahwa laki-laki itu tidak menyadari kehadirannya namun mata Seika terbelalak melihat laki-laki itu malah jatuh berbaring di tanah.
Seika segera mmenghampirnya dan mulai memeriksa tubuhnya. Seika menutup mulutnya ketika melihat darah yang membasahi kemeja putih sang lelaki.
Seika langsung membuka kancing kemeja untuk melihat luka di dada laki-laki tersebut, namun tangan sang lelaki menggenggamnya secara tiba-tiba membuat Seika memekik ketakutan dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Laki-laki itu membuka matanya, ia bernapas berat dan pelan karena menahan sakit di dadanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya sang lelaki.
"Ak... Aku hanya mencoba menolongmu" ujar Seika dengan nada bergetar. Keterkejutannya membuat tubuhnya semakin bergetar.
"Tidak usah, pergilah" jawab laki-laki itu pelan. Napasnya semakin berat karena sakit dan darahnya terus keluar dari dadanya.
"Ta.. tapi" ujar Seika
"Pergilah, aku tidak membutuhkan bantuanmu" ujar laki-laki itu menaikkan volumenya.
Seika terkejut lalu langsung meninggalkan sang lelaki yang bersimbah darah. Ia takut jika ia mencoba memaksa untuk menolong. Sang lelaki akan langsung menembaknya.
Di ujung lorong Seika menghentikan langkah lalu berbalik badannya menatap laki-laki yang membentaknya masih berbaring di tanah membuatnya mendecak pelan lalu nekad kembali menghampiri sang lelaki seraya mengeluarkan peralatan medisnya.
"Bukankah aku sudah bilang aku tidak butuh bantuanmu, mengapa kau kembali?" tanya laki-laki dengan suara berbisik.
"Simpan emosimu jika kau sudah sembuh" ujar Seika dengan nada bergetar.
Ia membuka kancing kemeja dengan cepat lalu panik melihat luka yang dihasilkan oleh peluru.
"Bagaimana cara mengeluarkan peluru ini?" tanya Seika kepada dirinya sendiri.
Ia belum pernah mengeluarkan sebuah peluru dari seseorang sebelumnya, walaupun ia tahu bagaimana cara melakukannya.
"Aku harus bagaimana?" tanya Seika pelan. Sebuah ide terlintas di pikirannya.
Seika langsung meronggoh saku jas panjangnya lalu mulai menekan beberapa nomor dan menempelkan telepon genggamnya di telinga, namun laki-laki itu malah menepis telepon genggam tersebut membuat telepon terlempar jauh.
"Mengapa kau malah membuang teleponku, aku sedang mencoba menolongmu tuan" ujar Seika kesal.
"Aku tidak ingin... berhubungan dengan polisi" ujar laki-laki itu berbisik.
Seika mendecak kesal. Apa laki-laki ini begitu ingin mati sampai tidak mau ditolong olehnya.
Seika menutupi luka yang telah ia bersihkan dengan kain kasa supaya pendarahannya berhenti lalu menyuntik cairan penghilang rasa sakit di lengan laki laki itu.
Setelah selesai, Seika membereskan peralatan medisnya lalu berdiri.
"Aku hanya memberi pertolongan pertama selanjutnya terserah padamu" ujar Seika.
Seika tidak berani mengambil resiko dengan melakukan operasi untuk mengangkat peluru di dada sang lelaki ditempat yang kotor pula, walaupun persentase keberhasilan yang ia perkiraan cukup tinggi melihat luka yang tidak terlalu dalam. Namun Seika memilih untuk tidak mengambil resiko apapun.
Seika berjalan beberapa langkah namun membalikkan badannya kembali, membuka jas panjangnya, berjongkok lalu menyelimuti laki-laki itu.
Aku sudah melakukan apa yang bisa aku lakukan, ucap Seika dalam hati berulang ulang.
Namun hatinya tetap tidak nyaman jika meninggalkan laki-laki itu disini. Seika menggelengkan kepalanya mencoba mengenyah pikiran ragunya.
Seika juga melepaskan sarung tangannya, akan sangat aneh jika memakai sarung tangan sedangkan sekarang ini ia memakai kemeja lengan pendek. Ketika Seika mencoba berdiri, tangan laki-laki itu memegang tangan Seika dan mencoba mengatakan sesuatu namun Seika segera menepis kasar tangan pria itu.
Sekelebat memori tentang apa yang laki-laki itu alami sampai terluka seperti ini masuk ke dalam pikiran Seika membuatnya merangkak mundur, tubuhnya kembali bergetar hebat, kejadian mengerikan itu terus berulang-ulang di kepalanya membuat Seika menjerit ketakutan.
Seika berlari sekuat tenaga keluar dari lorong kecil tanpa memperdulikan kondisi laki-laki itu.
Keesokan harinya, Seika termenung memikirkan kejadian tadi malam, ia sudah mulai tenang walaupun masih takut dengan kenangan masa lalu di kepalanya yang bukan miliknya, ia kembali ke lorong sempit itu untuk mencari sang lelaki namun tidak menemukan siapapun. Membuat Seika mulai berpikir buruk.
Bagaimana kalau laki-laki itu mati? Seharusnya ia melakukan operasi pada pria itu? Seharusnya ia menolong sampai akhir, berbagai kata seharusnya tergiang-giang di kepala Seika membuatnya merasa bersalah kepada laki laki yang bahkan ia tidak tau namanya.
Seika mencari informasi tentang sang lelaki namun nihil, laki-laki itu sepertinya bukan penduduk Kobe karena tidak ada satu pun informasi mengenai dirinya. Seika sudah menanyakan beberapa rumah sakit apakah ada laki-laki yang terluka karena tertembak yang berkunjung ke sana, mereka mengatakan tidak ada.
Kalaupun ada pasti sudah diberitakan di koran atau televisi, benak Seika.
Seika menjalani harinya dengan hati yang semakin merasa bersalah dari hari ke hari, ia merutuki dirinya karena telah gagal menjadi seorang dokter, seharusnya ia lebih memprioritaskan laki-laki itu daripada rasa takutnya, lama kelamaan Seika menjadi depresi karena rasa bersalahnya yang membuatnya mengalami 'Disasociation'. Pembekuan pikiran atau perasaan karena trauma atau rasa bersalah yang mendalam yang membuat ingatan Seika terhenti sebelum ia bertemu dengan laki laki tersebut.