Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 12 - Tempat yang ingin ia kunjungi



Seika keluar dari kamarnya, ia memakai kemeja pink dan celana kain berwarna silver, rambutnya di biarkan tergerai.


Seika berjalan lurus lalu berbelok ke kanan menuju pintu depan, namun di ruang tengah ia bertemu dengan Kenichi yang sedang duduk sambil membaca koran pagi. Ia selalu memakai yukata jika berada di rumah.


"Kau mau kemana?" tanya Kenichi sembari meletakkan koran di atas meja.


"Aku mau cari pekerjaan, sudah lama aku menganggur" jawab Seika.


"Kalau masalah pekerjaan, kau bisa kembali bekerja di klinik lamamu" jelas Kenichi.


Seika menatap curiga.


"Kau pikir semudah itu aku bisa kembali bekerja disana?" tanya Seika bingung.


"Aku sudah mengaturnya, jadi kau bisa kembali bekerja disana minggu depan" ujar Kenichi.


Seika terkejut. Semudah itu ia langsung bisa bekerja kembali?.


"Kalau begitu, aku bekerja hari ini saja" ujar Seika berpamitan kepada Kenichi.


"Siapa mengizinkanmu?" tanya Kenichi kesal.


Seika memutar bola matanya, laki-laki itu kembali bersikap arogan.


"Aku bukan NEET seperti mu, jadi aku tidak nyaman harus berada di rumah seharian tanpa melakukan apapun" ujar Seika sarkastis.


"Siapa yang kau sebut NEET? Aku mempunyai pekerjaan" bantah Kenichi.


"Pekerjaan membaca koran? Aku baru tau ada pekerjaan seperti itu" tanya Seika menyindir sambil melipat kedua tangan ke dadanya. Ketakutan akan Kenichi menghilang entah kemana.


"Kau..." ucap Kenichi tidak percaya.


"Aku mempunyai anak buah yang melakukan semua itu untukku, lalu untuk apa aku bekerja setiap hari? Aku cuma perlu memeriksa perkembangannya saja" jelas Kenichi.


"Wow, kau mempunyai hidup yang bahagia tuan" ujar Seika bertepuk tangan dengan wajah datar.


"Kalau begitu aku pergi" ujar Seika meninggalkan Kenichi.


"Kau gadis keras kepala, aku sudah bilang aku tidak mengizinkanmu" ujar Kenichi mencengkeram lengan Seika.


"Mengapa kau tidak mengizinkanku?" tanya Seika geram.


"Karena aku ingin kau tetap disini bersamaku" jawab Kenichi


"Apa hakmu melarangku?" tanya Seika kembali.


"Kau tinggal di rumah ini, jadi kau harus menuruti perintahku" jawab Kenichi


"Kalau begitu aku keluar dari rumah ini" ujar Seika keras kepala.


"Apa?" tanya Kenichi tidak percaya.


"Siapa yang mengizinkanmu?" tanya Kenichi kesal.


"Aku tidak butuh izinmu" jawab Seika tidak mau mengalah.


"Aku pulang~" ucap Michio yang memasuki ruangan lalu tersenyum senang kepada Seika dan Kenichi. Menginterupsi perdebatan sengit keduanya.


"Kalian sudah berbaikan?, aku sangat senang melihatnya" ujar Michio tersenyum lebar.


"Siapa yang berbaikan/bertengkar?" tanya mereka bersamaan.


Michio melongo. Ada apa dengan pasangan ini?.


"Pokoknya aku tidak mengizinkanmu. Titik" ujar Kenichi memulai kembali perdebatan.


"Kau sangat keras kepala, aku sudah bilang tidak butuh izinmu" ujar Seika kesal.


"Aku tidak tahan berada terus di rumah ini tanpa melakukan sesuatu yang berarti, kau pilih aku keluar dari rumah ini atau izinkan aku untuk bekerja hari ini" paksa Seika.


Kenichi menatap tajam kepada Seika, mencoba menakutinya.


"Aku tidak takut lagi dengan tatapanmu"


Kenichi semakin kesal ketika mendengar perkataan Seika.


"Kau pikir dengan siapa kau bernegosiasi?" tanya Kenichi dengan suara merendah.


"Oh, berarti kau mengizinkanku untuk memilihnya sendiri, aku lebih memilih opsi pertama" ujar Seika menantang.


Michio mencoba menghentikan perseteruan keduanya yang tampak seperti pertengkaran anak kecil.


"Hm.. aku pikir..."


"DIAM!!" ujar mereka setengah berteriak kepada Michio lalu tersadar dengan tingkah kekanakan mereka.


Seika dan Kenichi menghela napas lelah.


"Kau bilang, kau tidak tahan terus berada di rumah kan? Kita akan keluar" ujar Kenichi lalu pergi tanpa memberi Seika kesempatan untuk menolak.


"Kemana?" tanya Seika penasaran. Mereka lupa akan perseteruan mereka beberapa saat yang lalu.


"Ke tempat yang paling ingin kudatangi selama hidupku" ujar Kenichi menatap Seika dengan penuh arti.


...&&&...


Seika berjongkok di jalan aspal memegang perutnya yang kram karena menahan tawa, tangan satunya menutup mulut agar tidak tertawa terbahak-bahak, badannya terguncang pelan, bahkan ia hampir menangis karena terlalu banyak tertawa.


Mereka - Seika, Kenichi dan beberapa anak buah Kenichi - sedang berada di Harbor Land, wahana permainan yang berada di kota Kobe. Tempat yang sangat ingin didatangi oleh Kenichi. pfft.


"Jadi..." Ucapan Seika terputus karena tertawa.


"Jadi ini tempat yang paling ingin kau datangi selama hidupmu?" tanya Seika memukul lututnya seraya tertawa tidak percaya.


Kenichi menatap kesal kepada Seika. Apa salahnya menjadikan Harbor Land tempat yang sangat ingin aku datangi?, tanya Kenichi kesal dalam hati.


"Memangnya kenapa?" tanya Kenichi kesal.


"Kau bertingkah tidak sesuai dengan umurmu Ken" ujar Seika disela tawanya.


Seika terus tertawa untuk beberapa saat, tidak menyadari suasana disekitar mereka yang menatap horor kepadanya karena penampilan garang anak buah Kenichi, setelah puas tertawa, Seika berdiri dan mengelap airmata lalu tersenyum menatap Kenichi yang kesal.


"Aku belum pernah kesini jadi wajar kalau aku sangat ingin ke tempat ini, oyaji (ayah) tidak pernah sempat untuk bersamaku dan oka-san (ibu) juga tidak bisa karena sakit" jelas Kenichi.


"Baiklah, maafkan aku sudah menertawakan mimpimu" ujar Seika tersenyum.


Ia mengerti bagaimana rasanya menjadi Kenichi, karena ia juga tidak mempunyai kedua orang tua yang bisa ia ajak ke tempat yang ia inginkan.


"Ayo kita bersenang-senang" ujar Seika menarik tangan Kenichi.


Mereka melangkah menuju wahana roller coaster dan Seika baru menyadari penampilan yakuza milik Kenichi dan tiga anak buahnya ketika melihat orang-orang menatap waspada ke arah mereka, ia menghela napas sejenak lalu kembali tersenyum, mencoba mengabaikan tatapan takut dan panik milik orang-orang yang melewatinya. Itu bukan masalah baginya, karena ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.


Kenichi tersenyum lembut melihat genggaman Seika pada tangannya, ia menoleh ke belakang dan mengangkat tangan satunya ke arah ketiga anak buahnya untuk menjaga jarak dengannya, mereka membungkuk hormat dan mengatakan 'selamat bersenang senang kumicho'.


Seika berteriak dengan riang diatas kereta panjang yang melaju dengan sangat cepat, meliuk atau pun menekuk tajam ke bawah, ia tampak sangat menikmati wahana tersebut, berbeda dengan Kenichi yang melotot ngeri dengan kecepatan laju kereta.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Seika memastikan.


Kenichi berjongkok disamping wahana menahan mual.


"Aku tidak ap..." ucapan Kenichi terputus karena menahan mual di perutnya.


"Sebentar, aku beli minuman dulu" ujar Seika lalu berlari ke mesin minuman yang tidak jauh darinya.


"Minum ini, kau akan merasa lebih baik" ujar Seika memberikan sebotol minuman dingin.


Kenichi menerima botol tersebut dan langsung meneguknya beberapa kali.


"Haruskah kita akhiri saja? Kita bisa melanjutkannya lain kali" ujar Seika melihat muka pucat Kenichi.


Kenichi langsung berdiri ketika mendengar perkataan Seika.


"Aku tidak apa-apa, setelah ini kita akan menaiki apa lagi?. Ini kencan pertama kita jadi aku tidak ingin mengacaukannya" ujar Kenichi setelah berdeham beberapa kali.


Kenichi menggenggam tangan Seika, menariknya untuk melanjutkan 'kencan' mereka. Seika tertegun, jantungnya berpacu dengan cepat ketika melihat genggaman tangannya bersama Kenichi.


Mereka mencoba berbagai wahana mulai dari yang biasa saja sampai yang memacu adrenalin, setelah itu mereka berbelanja di Mall Umie Mozaic yang berada di Harbor Land, beberapa penjual menatap waspada ke arah mereka. Berpikir apa mereka hendak menagih hutang kepadanya.


Seika akhirnya menyerah dengan penampilan Kenichi, ia melepaskan kacamata hitam dan jas panjang yang dikenakan oleh pria itu.


"Begini lebih baik" ujar Seika ketika melihat Kenichi hanya memakai kemeja putih yang di balut oleh rompi kotak kotak dipadu dengan celana kain berwarna.


"Kenapa memang dengan penampilanku?" tanya Kenichi tidak mengerti.


"Penampilanmu seperti debt colector" jawab Seika kembali berjalan di dalam Mall Umie Mozaic.


"Aku ini pemimpin Yamaguchi-gumi, hah aku tidak percaya kau menyamakanku dengan pekerjaan rendahan seperti itu" bantah Kenichi tidak terima.


"Ya ya, aku tahu" ujar Seika tidak ingin berdebat.


"Ada barang bagus disana, ayo" ajak Seika tersenyum.


Kenichi ikut tersenyum melihat Seika yang sangat antusias dengan 'kencan' mereka, gadis itu sangat mudah menenangkan hatinya walaupun hanya dengan senyuman saja. Mereka membeli beberapa pakaian dan makanan yang terdapat dalam mall , beberapa dari barang-barang yang mereka beli mendapat potongan harga yang fantasis bahkan ada yang sampai gratis karena sang penjual mengenali wajah Kenichi sebagai penguasa kota Kobe.


Malam harinya mereka menaiki wahana terakhir yang ada di Harbor Land, sebuah Ferris Wheel yang tidak jauh dari Mall Umie Mozaic, berlahan gondola yang mereka naiki bergerak naik, Seika tersenyum melihat pemandangan malam Horbor Land yang sangat indah dihiasi oleh lampu.


"Kencan kita akan jadi sempurna kalau kita bisa berciuman ketika sampai di puncak" ujar Kenichi menatap penuh arti ke arah Seika.


"Simpan itu untuk wanita-wanitamu" ujar Seika mengacaukan suasana romantis yang tercipta diantara mereka.


"Tsk, aku sudah tidak melakukan one night stand lagi, mengapa kau terus mengungkit hal itu" ujar Kenichi dengan kesal.


Seika hanya mencibir tidak bersuara, mereka terdiam sejenak. Larut dengan pikiran masing-masing.


"Kau pernah kesini sebelumnya?" tanya Kenichi mengganti topik pembicaraan.


Seika mengangguk.


"Aku pergi bersama kakekku sekali, karena aku tidak pernah mempunyai teman untuk bisa aku ajak kemari" ujar Seika menatap jauh.


"kalau pacar?" tanya Kenichi penasaran.


Seika menggelengkan kepala.


"Aku belum pernah berpacaran, mana ada laki-laki yang menyukai gadis aneh sepertiku, gadis yang gak bisa di sentuh" jelas Seika.


"Ada, aku menyukaimu" ucap Kenichi serius.


Seika tersenyum malu bercampur senang yang tidak ia sadari.


"Itu karena kau juga aneh" jawab Seika.


"Jadi aku adalah pacar partamamu?" tanya Kenichi tersenyum senang.


"Itu keputusanmu sendiri" bantah Seika.


Kenichi tidak memperdulikan bantahan Seika, ia sangat senang karena ia adalah laki-laki pertama gadis impiannya.


"Tetapi terima kasih untuk tidak menjauhiku setelah mengetahui tentang kemampuanku, kau orang kedua yang tidak menjauhiku" ujar Seika tersenyum.


"Siapa yang pertama?" tanya Kenichi penasaran.


"Kakekku" jawab Seika.


Gondola berhenti ketika telah berada di puncak.


"Wah. Pemandangannya sangat menakjubkan. Aku bahkan bisa melihat Teluk Osaka dari sini" ujar Seika menatap takjub.


Kenichi memeluk Seika dari belakang sambil mengikuti arah pandangannya.


"Kau benar" gumam Kenichi.


Seika menjadi gugup, jantung yang tidak mau diajak berkompromi berdegup kencang bahkan ia bisa mendengarnya sendiri, Seika mencoba melepaskan pelukan Kenichi namun laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan seperti ini untuk sejenak" ujar Kenichi.


Mereka berpelukan beberapa saat, menikmati suasana romantis malam diatas gondola dengan degup jantung yang saling berpacu.