
Kenichi mengumpat pelan, ia kesal kepada Seika dan dirinya sendiri. Mengapa gadis itu selalu memprioritaskan orang lain dibandingkan dirinya, gerutu Kenichi dalam hati.
Pintu digeser dari luar membuat Kenichi membuang pandangan ke arah taman samping rumahnya.
"Ken" panggil Seika.
Kenichi hanya diam.
Seika menghela napas panjang.
"Aku minta maaf karena sudah menyetujui permintaan Nishiguchi-san. Tapi aku melakukannya untukmu Ken" ujar Seika memberi penjelasan.
Kenichi menoleh ke arah Seika dan menatap jengkel kepadanya.
"Kau mengatakan kalau kau melakukannya untukku tapi aku tidak butuh itu" ujar Kenichi setengah bergerutu.
"Kau membutuhkannya, dia satu-satunya temanmu bukan?" tanya Seika.
"Jangan membaca masa laluku tanpa seizinku Seika" ujar Kenichi kesal.
Seika menghampiri Kenichi dan duduk disampingnya.
"Aku tidak membaca masa lalumu, Nishiguchi-san yang menceritakannya kepadaku" ujar Seika.
Kenichi menaikkan alisnya.
"Walaupun seperti itu, aku tetap marah karena kau lebih memilihnya dari pada aku" ujar Kenichi kembali membuang pandangannya.
"Aku sudah bilang kalau aku melakukan ini untukmu, dari cerita Nishiguchi-san aku tau kalau kau banyak mengorbankan kehidupan pribadimu demi kelompokmu Ken" jelas Seika.
Kenichi hanya diam mendengarkan.
"Dari dulu kau tidak mempunyai tempat untuk menjadi dirimu sendiri, teman satu-satunya yang kau punya malah menjadi musuhmu, jadi aku ingin kau berbaikan dengan Nishiguchi-san" lanjut Seika.
Seika menggenggam tangan Kenichi dengan lembut.
"Dan aku ingin menjadi tempat dimana kau bisa bernapas lega Ken, Bolehkah?" tanya Seika memandang lembut laki-laki disampingnya.
Kenichi menatap Seika dan menghela napas pasrah, sikap keras kepala yang ia perlihatkan beberapa saat yang lalu menghilang entah kemana. Kenichi luluh karena perkataan Seika. Gadis ini benar-benar berhati malaikat. Ia sungguh beruntung dapat bertemu dan mencintai Seika.
Tanpa kata Kenichi merengkuh Seika ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa berpikir akan jadi seperti apa hidupnya tanpa Seika karena semakin hari cintanya semakin besar kepadanya.
"Jadi kau mengizinkannya?" tanya Seika kembali ke permasalahan awal.
Kenichi hanya diam, sangat sulit mengizinkan Seika untuk berkencan dengan Shigeo. Rasa cemburu yang datang membuat Kenichi mengumpat kesal dalam hati. Belum apa-apa ia sudah dilanda cemburu yang amat dalam apalagi jika Seika pamit kepadanya untuk berkencan dengan Shigeo. Kenichi tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya melepaskan Seika untuk berkencan dengan laki-laki lain.
"Sebagai balasannya, bagaimana kalau kita pergi ke festival kembang api? Beberapa hari lagi akan ada festival kembang api bukan?" tanya Seika memberi penawaran.
Kenichi melepaskan pelukan, sedikit tergoda dengan tawaran Seika.
"Hanya berdua?" tanya Kenichi memastikan.
Seika menganggukkan kepalanya.
"Hanya berdua" jawab Seika meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu" ujar Kenichi dengan wajah senang.
"Jadi kau mengizinkannya?" tanya Seika.
"Tidak. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk berkencan dengan siapapun kecuali aku" ujar Kenichi keras kepala.
Seika menghela napasnya.
"Tapi kalau itu kemauanmu mau bagaimana lagi" gumam Kenichi tidak rela.
Seika tersenyum lebar.
"Suki desu Kenichi (Aku menyukaimu) " ujar Seika memeluk Kenichi.
Kenichi terkejut dengan penuturan Seika.
"Kau bilang apa? Coba ulangi sekali lagi" ujar Kenichi penasaran.
Seika juga terkejut dengan ucapannya sendiri, ia berdeham dan memalingkan wajahnya.
"Apa? Memang aku bilang apa?" tanya Seika pura-pura tidak mengerti.
"Kata yang barusan kau ucapkan. Coba kau ulangi sekali lagi" pinta Kenichi antusias. Tidak mungkin ia salah dengar, pikirnya dalam hati.
"Jadi kau mengizinkannya?" jawab Seika mengulangi perkataannya. Pipinya mulai memanas.
"Setelah kata-kata itu Seika" ujar Kenichi.
"Kata yang mana? Aku tidak berkata apapun" ujar Seika dengan muka memerah.
"Kau pura-pura bodoh, kata-kata yang barusan kau katakan" ujar Kenichi geram. Mereka seperti bermain permainan tebak kata.
"Mengapa kau mengatakan aku bodoh? Aku tidak bodoh" bantah Seika yang naik pitam. Ia berdecak kesal. Mengapa mereka kembali berdebat.
"Aku tidak mengatakan kau bodoh, aku cuma bilang kau pura-pura bodoh" ujar Kenichi memberi penjelasan.
"Sudahlah, aku jadi badmood karenamu" ujar Seika berdiri dan keluar dari kamar Kenichi.
"Seika, mengapa kau yang marah Sekarang, seharusnya aku yang marah" ujar Kenichi meninggikan suaranya.
"Seika" panggil Kenichi kembali.
seika tidak memperdulikan Kenichi dan berlalu meninggalkannya.
Mengapa suasana romantis yang tercipta beberapa saat yang lalu malah menjadi pertikaian kembali?, tanya Kenichi dalam hati.
Kenichi akhirnya berdecak kesal.
...&&&...
Suasana makan malam terasa begitu dingin karena aura yang dipancarkan oleh kedua orang yang duduk bersampingan, Kenichi dan Seika. Anak buah Kenichi bahkan kesusahan menelan makanan mereka.
Beberapa anak buah Kenichi saling menyikut dan menatap satu sama lain, menanyakan apa yang terjadi dengan mata mereka.
"Hm.. Kumicho-san, anee-san" panggil Michio yang juga terganggu dengan aura hitam keduanya. Sedangkan Akira tetap melanjutkan makan malamnya, walaupun ia terganggu dengan aura keduanya namun ia memilih diam dan tetap memasang ekspresi datarnya.
"Ya" sahut mereka bersamaan.
Seika dan Kenichi menatap satu sama lain lalu membuangkan pandangan mereka ke arah lain.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Michio pelan.
"Tidak" ujar Seika dan Kenichi bersamaan kembali.
Seika menjadi speechless. Ia merasa seperti anak kecil setiap kali berdebat dengan Kenichi.
"Kami tidak ada masalah apa-apa Michio, maaf sudah membuat suasana menjadi canggung" ujar Seika tersenyum kaku. Ia terlihat bodoh karena terus-terusan bertengkar dengan Kenichi.
Serve you right Seika, kau sudah berusia 24 tahun. Apa-apaan dengan sikap merajuk seperti itu, omel Seika kepada dirinya sendiri dalam hati.
"Bagaimana dengan Kabukicho, Daiki?, beberapa hari yang lalu aku dengar terjadi kerusuhan disana" tanya Kenichi mengalihkan pembicaran.
"Semuanya aman terkendali kumicho, hanya para yankee yang sok menunjukkan kekuatan mereka" jelas Daiki.
Kenichi menganggukkan kepalanya.
"Apa aku harus menambahkan anggota di daerah Kabukicho? Sepertinya kelompok Nagatagumi-kai merencanakan sesuatu, mungkin mereka akan menunjukkan taring mereka di Kabukicho" ujar Kenichi berpikir.
"Aku rasa tidak perlu kumicho, mereka hanya mengertak kosong. Kelompok baru itu belum mengenal siapa anda" ujar Daiki.
Kenichi membelai dagunya sambil menyeringai.
"Beri mereka pelajaran jika macam-macam dengan wilayah kekuasan kita" perintah Kenichi dengan nada remeh.
"Baik kumicho" ujar Daiki lalu tertawa yang diikuti oleh anak buahnya.
Kenichi hanya tersenyum menyeringai. Sementara Seika kebingungan dengan perbincangan antara Kenichi dan Daiki. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan.
"Aku jadi ingin melihat bagaimana suasana di Kabukicho" gumam Seika pelan sambil memainkan lauk di piringnya dengan sumpit.
"Kau tidak boleh ke sana" ujar Kenichi yang mendengar gumaman pelan Seika.
"Kenapa?" tanya Seika bingung.
Ia tau bahwa wilayah Kabukicho adalah tempat hiburan malam. Ia pernah mendengar rumor-rumor tidak baik tentang tempat itu, namun ia penasaran bagaimana suasana tempat itu yang sekarang dibawah kekuasaan Kenichi. Karena ia memang tidak pernah ke club malam sebelumnya.
"Itu bukan tempat yang baik bagimu" ujar Kenichi.
Seika mengangguk tanda mengerti walaupun ia penasaran seperti apa Kabukicho itu namun mendengar Kenichi berkata pelan membuat Seika mengabaikan rasa penasarannya.
"Kumicho, mengenai pembatalan pertemuan dengan tuan Lee minggu lalu, tuan Lee mengatakan bahwa dia sendiri yang akan bertemu dengan anda" ujar Akira yang sedari tadi hanya diam saja.
"Baiklah, sambut tuan Lee dengan baik" ujar Kenichi lalu melanjutkan kembali makan malamnya.